Perjalanan Adibio: Sastra | Kelana Lara Perjalanan Adibio: Sastra

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Resensi: Pee Wee Gaskins - Lonely Boys, Lonely Girls

Artist: Pee Wee Gaskins
Single 2019

Berbicara sebuah karya memang terkadang identik dengan sebuah proses  pendewasaan dari waktu ke waktu. Setiap orang yang berkarya sudah dipastikan akan mengalami pendewasaan dari setiap karya yang ia keluarkan. Tepat pada tanggal 15 Februari 2019 lalu, aku terkesima ketika mendengar salah satu single yang dikeluarkan oleh band pop punk asal Indonesia, Pee Wee Gaskins. Single yang berjudul Lonely Boys, Lonely Girls berhasil menghibur dunia musikku di kala sedang bosan mendengarkan akustikan ataupun musik-musik EDM yang tersebar di Indonesia. Synthesizer dari Omo sudah tidak terlalu melengking lagi seperti di lagu pertamanya, Di balik Hari Esok. Suara Synth nya berhasil membawa kita ke dalam sebuah dimensi yang berbeda. Aldy Kumis memadukan tom dan senar dalam waktu yang bersamaan ketika sedang intro. Beatnya cenderung berjalan dengan tempo sedang dan lebih santai dibandingkan dengan Satir Sarkas. Gitar Ayi dan Sansan saling padu pandan melantunkan nada yang indah di dalam intro. Tak lupa sontekan dari bassnya Dochi berhasil membuat intro Lonely Boys, Lonely Girls terasa lengkap.

Lagu ini bercerita tentang mencoba untuk menulis lagu namun bukan lagu cinta untuk kalian yang dirilis tepat sehari setelah hari Valentine. Walaupun resensi yang aku buat sudah terlalu lama karena hari Valentine jatuh di bulan Februari, namun lagu ini menarik perhatianku akhir-akhir ini. Liriknya yang begitu dalam membuat aku merasa sangat terinspirasi dengan lirik yang dibuat oleh Dochi Sadega. Dochi memang terkenal dengan kepiawaiannya dalam menulis lirik lagu. Seseorang yang sulit untuk membuat lagu love sucks. Di akhir lirik pada reff tertulis 'i dedicate this song to well, not me'. Jelas bahwa Dochi menulis ini bukan untuk dirinya sendiri.

Terlepas dari makna lagu tersebut, Lonely Boys Lonely Girls menjadi salah satu lagu favortiku selain single-single PWG yang dirilis pada tahun 2019 ini.

Berikut lirik dari lagu Lonely Boys, Lonely Girls.

Verse 1
05.40 and I can't sleep
Too many coffee, I've been trying to write a song but
I can't think of anything or anyone 'cus you and I are doing fine
07.28 wide awake and you're still with me in my bed
So I take a walk outside, oh
Your face is such a gorgeous sight

Reff

If this is a sad song for the broken hearted
Young rebels sick of valentine's song
Lonely boys and lonely girls
I dedicate this song to well, not me
The sad song for the broken hearted
Young rebels sick of valentine's song
Lonely boys and lonely girls
I dedicate this song to well, not me

Verse 2
7.45 you made me breakfast
So I sit down at a table set for 2
We talked and learned the truth
I know I'm being sure
That at this point we're being so happy (so happy)
Make this last another day


Back to reff

gambar dari google


Review Film Bumi Manusia: Antara Kata dan Visual

Sontak para penonton sangat kaget karena sebelum menikmati film harus berdiri terlebih dahulu untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia: Indonesia Raya. Jantung pun berdegup kencang dan gemetar hingga menuju kepala. Getaran rasa bangga menyelimuti seluruh tubuh saat mendengar lagu Indonesia Raya bergema di dalam studio bioskop. Walaupun begitu, ada satu dua penonton yang terlihat tidak bangga akan diputarnya lagu Indonesia Raya. Terlihat sekali bahwa ia malas untuk berdiri, namun pada akhirnya ia ikut berdiri untuk menghormati yang lainnya. Mungkin dalam hatinya berbunyi seperti ini, "Alah ngapain sih mau nonton bioskop doang pake harus nyanyi-nyanyi segala? berdiri lagi orang udah enak duduk".

Film pun diputar dan kita semua terhanyut dalam cerita karya sastrawan besar kita, Pramoedya Ananta Toer yang dikemas dalam sebuah film karya Hanung Bramantyo. Sungguh aneh rasanya harus melihat secara visualisasi tentang diksi Pram yang sangat indah di dalam imajinasi masing-masing setiap pembacanya. Pram menggambarkan dengan sangat indah ketika Minke terlihat pucat karena harus berada di rumah seorang Eropa yang sangat besar. Annelies pun bertanya kenapa Minke terlihat pucat. Mendapat pertanyaan tersebut Minke langsung berucap bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang dewi cantik, kemudian Annelies berpura-pura bertanya siapa yang dimaksud dewi oleh Minke. Lalu tanpa ragu Minke mengucap bahwa dewi yang ia maksud adalah Annelies. Annelies pun kembali bertanya kepada Minke sebagai bentuk penegasan bahwa ia memang dibilang cantik oleh Minke. Tanpa ragu, Minke pun menjawab dengan dua kata yang sangat indah, "tanpa tandingan". Tiba-tiba saja Annelies memanggil mamanya dan membuat Minke terkejut, takut akan dimarahi oleh mamanya Annelies, yaitu Nyai Ontosoroh. Terbayang begitu indah jika kita memandangnya dengan imajinasi yang tidak ada batasnya. Terlebih hal ini terjadi ketika masa kolonial, saat bangsa Indonesia sedang dijajah dan rasanya sulit untuk mendekati seorang Indo apabila kamu seorang Pribumi. 

Dalam film Bumi Manusia digambarkan bahwa Minke yang diperankan oleh Iqbal menatap dalam-dalam sosok Annelies yang diperankan oleh Mawar Eva de Jongh. Saat Iqbal mengatakan bahwa Mawar merupakan sosok orang yang secantik dewi, kedua orang tersebut saling bertatapan satu sama lain. Namun saat Iqbal bilang tanpa tandingan, ia mendekatkan kepalanya di telinga sebelah kanan Mawar dan mengatakan kalimat tersebut dengan cara berbisik. Sontak imajinasi kita yang telah terbangun sebelumnya akan hancur seketika dengan penggambaran seperti itu. Karena kita tahu, membaca kata selalu membawa kita kepada ruang-ruang yang berbeda. 

Tidak hanya pada scene itu saja, scene yang lainnya seperti ketika Robert Mellema tidak menerima seorang Pribumi seperti Minke datang ke rumahnya, Herman Mellema yang memarahi Minke saat sedang makan malam bersama Annelies, Robert Suurhof, Robert Mellema dan Nyai Ontosoroh serta scene ketika Minke sedang berdebat dengan Sarah de La Croix dan Miriam de La Croix. Bahkan peristiwa ketika Robert Mellema sedang berbicara dengan Minke tentang keinginan Robert untuk pergi dari rumah dengan berlayar tidak tertuang dalam film. Aku rasa ketika orang banyak yang berkata bahwa Iqbal tidak pantas memerankan Minke, justru aku bertanya-tanya tentang peran Robert Mellema yang dimainkan oleh Giorgino Abraham. Rasanya imajinasiku benar-benar hancur tentang peran Robert Mellema yang seharusnya terlihat sangat garang dan ganas. Sayangnya, ekspresi Giorgino saat pertama kali melihat Minke terlihat biasa saja, yang kuingat hanya ia meludah ke kiri.

Setiap novel yang dijadikan film seringkali membuat kecewa para penonton yang telah membaca novel tersebut. Bagiku, aku memang sebenarnya kecewa karena imajinasiku benar-benar dimainkan begitu saja oleh sebuah visualisasi. Namun di sisi lain, aku juga sangat mengapresiasi adanya film Bumi Manusia ini karena akan memperkenalkan dunia sastra kepada negara Indonesia yang katanya minat literasinya rendah. Dengan dimulainya film ini, tentu akan ada banyak orang yang penasaran akan cerita aslinya di novel. Terbukti, akhir-akhir ini sebelum film Bumi Manusia rilis banyak sekali toko-toko buku online ataupun offline yang memperbanyak stok buku Bumi Manusia demi memuaskan hasrat masyarakat Indonesia.

Dari semua pemeran yang ada di film Bumi Manusia, rasanya aku sangat menyukai sosok Nyai Ontosoroh yang diperankan oleh Sha Ine Febriyanti. Ine Febriyanti berhasil mencampur adukkan perasaanku sedari awal film hingga akhir film. Menurutku ia sukses memerankan Nyai Ontosoroh dengan baik. Aktingnya ketika memarahi balik Herman Mellema ketika mengatai Minke sebagai monyet benar-benar emosional. Tatapan mata Ine Febriyanti sangat tajam dan suaranya sangat parau, persis seperti yang digambarkan oleh Pram di novel. Terlebih akting Ine Febriyanti di akhir film ketika sedang menjalani persidangan Eropa. Ia benar-benar sangat ekspresif dalam menggambarkan penindasan orang Eropa terhadap Pribumi. Ia bahkan juga ikhlas menerima kekalahan ketika sudah tidak ada harapan atas semua masalah yang ia hadapi. Sampai pada akhirnya, kalimat pamungkas Pram yang beliau taruh di akhir novel benar-benar ngena ketika dimainkan oleh Ine Febriyanti. 

Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Ringkasannya, pada awal film ini memang sempat membuat aku ngantuk karena terlihat seperti roman picisan antara Iqbal dan Mawar. Bahkan ada adegan yang sebenarnya terlihat sedih saat di buku namun ketika melihat ekspresi Iqbal justru penonton tertawa. Satu lagi, rasanya adegan antara Jean Marais dan Minke terlihat kurang. Harusnya percakapan antara kedua sahabat tersebut terdengar intim. Pada akhir film ceritanya baru menegangkan dan hampir membuat air mataku jatuh ketika melihat perjuangan Minke dan Nyai Ontosoroh melawan hukum Eropa.

Terlepas dari semua itu, adegan yang sangat aku favoritkan sejauh ini adalah adegan ketika flashback menceritakan bagaimana Nyai Ontosoroh atau Sanikem bisa menjadi gundik dan berada dalam genggaman Herman Mellema. Flashback terlihat sangat rapi dan menyenangkan. Juga adegan ketika Minke berdiskusi dengan Miriam de La Croix dan Sarah de La Croix. Aku kira adegan tersebut tidak akan dituangkan ke dalam film seperti halnya adegan percakapan antara Robert Mellema dengan Minke. Namun tak disangka-sangka, adegan tersebut dibuat flashback oleh sang sutradara, Hanung Bramantyo.

Aku rasa, orang yang tadi malas berdiri ketika lagu Indonesia Raya berkumandang akan merasa malu setelah melihat fim Bumi Manusia.

Kalau boleh aku menilai film ini, rasanya aku akan menilainya dengan 7,5/10. Terima kasih.


Kebangkitan Emo di Era Sekarang

Sore hari tak ada lagi senja kopi senja kopi dengan deretan kata-kata yang membentuk puisi. Sembari menuliskan beberapa artikel, aku lebih memilih untuk memutar album Fresh Start From Something New dari Killing Me Inside. Suara Sansan yang melengking dengan teriakannya yang memekakkan telinga selalu berhasil membuat para pendengarnya kembali ke zaman 2000 an, ketika zaman itu catok rambut  dan dandan ala anak emo menjadi trend. Sesekali Onad ikut nimbrung suara teriakan Sansan sambil memegang bassnya yang menawan. Sementara itu di sudut panggung lainnya Josaphat dan Raka berusaha untuk melakukan guitar spinning untuk memanjakan mata para penonton. Rendy dengan tangannya yang perkasa memukul drum sekenanya dan membentu pola pukulan drum yang membuat musik mereka semakin liar. Sesekali double pedal ia mainkan serta hit-hat yang lebih sering dibiarkan. 

Seiring berkembangnya zaman, scene emo tidak lagi diminati oleh orang. Orang-orang lebih memilih mendengar lagu easy listening yang berbalut EDM atau menikmati musik folk dengan liriknya yang menawan. Siapa yang sekiranya sudi mendengarkan lagu-lagu teriak yang dibilang tidak jelas sehingga dapat merusak telinga? Tidak ada. Gitar akustikan serta suara lirih yang jernih tentu akan mendatangkan massa yang banyak. Namun akhir-akhir ini scene Emo yang sempat hilang kembali hadir di tengah-tengah masyarakat. Tak jarang saat ini sudah banyak acara Emo Night yang bertebaran di seluruh daerah. Menyanyikan lagu-lagu Emo, diiriingi oleh DJ set yang memutarkan lagu-lagu emo populer era 2000-an seperti Saosin, My Chemical Romance, Taking Back Sunday, Story Of The Year, Finch dan lain-lain. 

Tidak hanya bernuansa DJ set saja, baru-baru ini salah satu festival musik di Indonesia, Synchronize Fest mengadakan pre event yang bertempat di Beer Garden SCBD dengan bernuansa Emo Night. Acara tersebut menghadirkan The Side Project, salah satu band emo di Indonesia, & friends. Tidak hanya TSP & friends, juga ada Dieunderdogg yang turut meramaikan. Dalam event tersebut TSP & friends memainkan musik-musik emo langsung dengan format full  band sehingga atmosfir emonya pun semakin terasa. Ditambah dengan adanya suara khas scream Sansan dan Dochi serta Ferron yang berhasil mengisi ruangan dengan padat.

Kebangkitan emo tidak hanya ditandai dengan banyaknya acara Emo Night, melainkan hadirnya kembali Killing Me Inside dengan nama Killing Me Reunion yang akan diisi oleh Sansan, Onad dan Raka. Kabarnya, Onad tidak akan mengajak Josaphat  dalam Killing Me Reunion karena seperti yang kita ketahui Onad memiliki masalah pribadi terhadap Josaphat. Onad bahkan berkata di youtube Suaradotcom bahwa Josaphat orangnya ribet sehingga ia tidak ingin melibatkan Josaphat dalam Killing Me Reunion. Killing Me Reunion pun sudah memiliki akun instagram, yaitu @killingmereunion. Kabarnya Onad akan mengaransemen ulang semua lagu Killing Me Inside yang dahulu menjadi musik yang baru ditambah dengan adanya visual yang tajam. Dan kabar baiknya, Killing Me Reunion akan tampil di  Synchronize Fest 2019 yang akan berlangsung pada tanggal 4,5,6 Oktober 2019.

Blessed By The Flower of Envy kali ini berhasil membuat telingaku dimanjakan dengan suara khas Sansan dan Onad. Hadirnya emo akan menjadi sejarah yang menarik dalam dunia musik, terutama dalam kancah permusikan di Indonesia.

gambar dari insertlive.com

Perkara Runyam di Tengah Malam

Malam telah jatuh tepat saat manusia sudah tidak lagi merasakan peluh. Kerja kerasnya selama satu hari telah terbayar penuh dengan melihat orang-orang yang disayangnya tersenyum sembari berbagi cerita tentang apa saja yang sudah dilakukan seharian ini. Dunia serasa damai, tak ada pertikaian yang berani menghinggapi suasana seperti itu. Sementara pada sudut kota lain, pertikaian nyatanya hinggap kepada sepasang kekasih yang sedang meributkan tentang hubungan mereka akhir-akhir ini. Chat seringkali tak pernah berbalas dengan cepat padahal sang perempuan telah menunggu cukup lama. Si perempuan mengira bahwa kekasihnya sedang chat-an dengan orang lain sehingga si perempuan langsung marah terhadap kekasihnya pada waktu itu. Pertikaian memang tidak pernah indah, namun akan tetap berakhir dengan kedamaian apabila diselesaikan dengan kepala dingin. Malam telah jatuh ketika manusia berdamai dan bertikai--memunculkan sumringah dan gundah di hati.

Malam belum jatuh kepada seorang pemuda yang sibuk menertawakan kertas kosong dihadapannya. Sedari tadi pukul 11 malam si pemuda sudah menggenggam pena di tangan kanannya dan kopi di tangan kirinya, katanya sudah bersiap-siap untuk membuat sebuah mahakarya yang akan menggemparkan dunia melalui aksara. Fokusnya pun sudah tidak main-main. Panggilan dari temannya untuk bermain Mobile Legend pun ia hiraukan. Tak peduli dengan rank nya yang saat ini masih Epic dan teman-temannya sudah Legend. Sangking fokusnya terhadap karya, pikirannya masih tertuju kepada sesuatu yang semu, sementara sang pena telah siap untuk berlaga.

Kini jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Pikirannya masih kosong begitu juga dengan kertas  yang ada dihadapannya. Waktu sudah berjalan selama 3 jam namun tak ada satu  pun aksara yang hinggap di atas kertasnya. Beberapa kali si pemuda tersebut mencoba untuk menggerakkan pena namun ia hentikan sekejap karena tatanan kata yang akan diuraikan masih melayang-layang di udara. Kalimat pun tidak pernah jadi dan ia masih termangu kepada televisi yang menayangkan FTV. 

Ah, andaikata menyusun skrip semudah menyusun obrolan di dalam adegan FTV, tentu aku sudah menyelesaikan karya ini menjadi sebuah cerpen. batin pemuda dalam hatinya.

Nyatanya, ia pun kalah dengan FTV yang berhasil membuat skrip dan menyelesaikannya. Berbeda dengan pemuda ini yang sedari tadi hanya mutar-mutar tak tentu arah, lalu pada akhirnya balik lagi ke tempat yang sama. Tak pernah ada kata selesai di dalam kamus pemuda itu malam ini. Pikirannya masih runyam tentang kata apa yang harus disusun untuk sebuah karyanya. Apakah kata pertamanya harus memakai "pada dahulu kala", "pada suatu hari", atau "malam telah jatuh". Pertanyaan-pertanyaan berdatangan seiring pikirannya yang masih semrawut.

Kini si pemuda tersebut berusaha untuk menangkap suatu hal yang tiba-tiba terlintas di pikirannya. Ia memikirkan bagaimana seandainya apabila manusia dapat melakukan time travel persis seperti yang dilakukan di dalam film Avengers: Endgame?. Mungkin tidak akan ada lagi perasaan seorang laki-laki yang patah hati karena tidak diterima oleh sang pujaan hati. Ia tinggal melakukan time travel menuju 5 atau 6 tahun sebelumnya dan mempelajari apa saja yang membuat sang pujaan hati dapat memberikan kasih sayang kepadanya. Mencari tahu tentang barang kesukaannya, ceritanya di masa lalu, dan apa saja yang harus dilakukan agar tidak ditolak. Setelah tahu tentang semuanya, maka ia tinggal kembali ke masa sekarang dan kembali menyatakan perasaan. 

Pikirannya masih terbang kemana-mana dan kali ini hinggap ke pembahasan yang agak serius. Sebelumnya pemuda ini sempat bertanya-tanya tentang bagaimana dunia ini jikalau tidak ada agama? Apakah dunia ini akan berjalan damai dan tidak ada pertikaian dimana-mana yang mengatasnamakan agama? Apakah hanya kasih sayang yang tersebar dan tiada kebencian sesama manusia? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang kali ini menguasai pikiran seorang pemuda tersebut. Maklum saja, belakangan ini kerapkali terjadi pertikaian yang mengatasnamakan agama. 

Padahal kalau hematku, namanya agama ya tidak ada yang mengajarkan permusuhan satu sama lain. Sesama manusia ya harusnya saling menyayangi wong kita sama-sama diciptakan dari tanah masa ndak bisa rukun. ungkap si pemuda ketika terjebak di dalam diskusi agama dan manusia bersama teman tongkrongannya.

Lelah, pemuda ini pun terasa berat sekali otaknya. Sedari tadi berpikir namun masih saja kertasnya kosong dan sang pena yang dijadwalkan berlaga pada pukul 11 malam tadi harus ditunda dalam waktu yang tidak ditentukan. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 dini hari dan akhirnya sang pemuda ini terlelap di dalam mimpi. 

Malam jatuh di saat sang fajar sedang menanti-nanti sang pujaan untuk menjemputnya. Direkamnya segala runyam yang terjadi di tengah malam, lalu dilaporkannya ketika sang fajar sudah bertugas di pagi hari. Malam tak pernah jatuh kepada seseorang yang terus berusaha untuk menangkap apa saja yang direkam oleh sang fajar pada tengah malam.

Bangun-bangun, sang pemuda langsung  dapat menuliskan sebuah kalimat yang menurutnya sangat bagus setelah semalaman dipikirkan,

"Tetaplah bermimpi walaupun yang lainnya sudah terlelap dalam mimpi".

gambar dari unsplash.com

Aku Pengelana: Kilas Balik Dunia

2014, Bumiku yang berwarna

Tiada yang mengetahui apa yang akan terjadi puluhan tahun kedepan terhadap Bumi. Semua berjalan begitu saja. Matahari muncul di bagian Timur dengan sinarnya yang memberikan banyak harapan kepada manusia. Kicauan burung sangat merdu saling berbalas seakan merayakan indahnya alam semesta hari ini. Embun senantiasa membasahi tanah Bumi yang kering, menyegarkan jiwa bagi setiap raga yang haus akan cinta dan kasih sayang. Segerombolan manusia saling berlomba-lomba pada pagi hari untuk mengais rezeki dari berbagai jalannya sendiri. Mungkin saat ini, bagiku kemacetan di jalan raya adalah suatu anugerah dari Tuhan yang sangat indah. Kejadian tersebut akan sangat indah jika dikenang walau harus mengorbankan rasa emosi dan sabar saat ini. Di kemudian hari, kemacetan di jalan raya akan sangat dirindukan oleh para manusia. Sebab, ada dua cara bagaimana kamu mengenang suatu kejadian: mengenang karena rasa cinta dan mengenang karena rasa kesal. Semua di dunia ini tidak ada yang percuma. Setiap sudutnya selalu dapat disyukuri dengan berbagai cara;semua akan dapat dinikmati dengan caranya sendiri. Bagiku, semua berjalan dengan indah dan aku bersyukur dengan hal tersebut. Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya terhadap Bumi. 

Jarum jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Aku masih terbaring di atas kasur dengan rasa takut yang sangat tinggi. Bagaimana tidak, semalam aku bermimpi tentang sosok perempuan yang aku cintai. Ia tiba-tiba saja mendorongku ke dalam jurang yang memiliki kedalaman sekitar 20 meter, lalu aku terperosok masuk ke dalamnya dan tiba-tiba saja aku hilang, tersesat di sebuah tempat yang aku sendiri tidak mengenalinya. Pikiranku masih kacau akibat perlakuan sosok perempuan tersebut. Namun tidak beberapa lama kemudian ada suara yang menggema di sudut ruangan ini. Dengan samar-samar aku mendengarnya. Kurang lebih suara tersebut berkata seperti ini:

"Wahai manusia, ketahuilah bahwa tiada yang abadi di dunia ini kecuali aku dan pasukanku. Hapuskanlah rasa penderitaanmu dan bangkitlah seraya menatap dunia dengan berani. Sebab waktumu hanya sementara, sedangkan waktuku adalah selamanya".

Lalu seketika ragaku terperosok ke dalam dimensi lain yang dipenuhi dengan cahaya samar-samar dengan warna yang berbeda. Suara tadi sepintas saja masuk ke dalam otakku, namun kalimat yang ia ucapkan berbekas dalam ingatanku. Sampai aku sudah tersadar, kalimat tersebut masih menghantuiku. Ah, bodo amat. Aku tidak peduli. Lagian itu kan hanya mimpi. Bergegas aku menuju kamar mandi, membersihkan diri. Sebab, hari ini aku akan merayakan hari dengan menuju ke kampus. 

---000---

Langit pagi hari memang selalu syahdu. Udara masih belum tercemar oleh asap-asap kendaraan. Sangat sejuk dan segar untuk dihirup. Di atas sana, langit berwarna keemasan menemani perjalananku menuju kampus. Di setiap jalan, aku menemui berbagai aktifitas yang dilakukan oleh manusia: berdagang pecel, mengatur rambu-rambu lalu lintas di perempatan, bersiap-siap untuk menuju ke sekolah, dan masih banyak hal lainnya yang dilakukan oleh manusia. Tidak ada yang merayakan pagi hari dengan kesedihan. Semua menyambutnya dengan kegembiraan dan suka cita. Barangkali ada segelintir manusia yang merayakannya dengan kesedihan, namun tidak terlintas di depan penglihatanku. Pagi hari selalu mengajarkanku tentang bagaimana memulai hari dengan penuh semangat. Sebab, hampir seluruh manusia melakukan hal yang sama. Energi positif tentu akan tertular di lingkungan sekitar. Ah, pagi hari selalu memiliki ceritanya sendiri.

Untung saja, kampusku terletak di sebelah danau yang sangat luas dengan berbagai hewan yang berada di dalamnya, sehingga aku tidak akan bosan untuk duduk di samping danau sembari menikmati indahnya kebersamaan antar makhluk hidup. Di setiap jeda kelas, aku selalu melakukan ritual tersebut sembari menuliskan tentang apa saja yang aku lihat pada pagi ini. Aku selalu berpegang teguh kepada kalimatku mengenai "pagi hari selalu mempunyai ceritanya tersendiri". Oleh karena itu, aku akan menuangkannya ke dalam tulisan saat jeda kelas di sebelah danau. 

Tidak hanya danau saja yang akan memanjakan mataku ketika aku duduk disampingnya. Di depan sana gunung menjulang tinggi dengan sangat gagah dan perkasa, seolah-olah ia memanggilku untuk berkunjung kesana. Ah, alangkah indahnya hidup. Aku dapat dengan bebas menikmati keindahan ini dengan sangat khidmat. Sebelum aku menuangkan tulisanku di atas kertas putih, salah satu temanku duduk di sampingku sembari berkata kepadaku:

"Hei. tidak bosan juga ternyata kau duduk di sini" Ucapnya. Temanku bernama Ferry. Ia merupakan salah satu teman terdekatku saat ini.
"Tentu tidak bosan, Fer. Aku akan selalu disini menikmati indahnya alam yang telah tersaji."kataku.
"Ah benar juga. Hidup akan selalu berjalan, namun terkadang kita tetap diam". ujarnya dengan sok bijak.
"Bisa saja kamu, Fer" godaku.
"Memang benar. Terkadang aku merasa bahwa aku selalu diam. Sedangkan hidup terus berjalan. Aku masih disini, sedangkan dia sudah berada di Sydney" candanya  sembari mengingat perempuan yang ia suka.
"Hahaha. Sudahlah Fer, lupakan. Ohya, aku hendak menulis sesuatu disini. Kamu mau mencoba memberiku kata pembuka?" Aku selalu meminta saran dari temanku untuk soal ini.
"Hmm, apa ya. Ah aku tahu. Bumi sedang menjerit di atas kaki indah manusia" ia menambahkan kalimat dengan cepat.
"Ide yang bagus Fer. Kau keren juga" Tambahku.
"Bukan begitu, aku hanya merasa ada yang tidak beres dalam dunia ini. Aku selalu berpikir bagaimana Bumi ini akan hancur" Ferry berkata dengan sangat serius.
"Sudahlah sob, lanjutkan saja tulisanmu itu, aku akan pergi ke kantin sejenak karena lapar" Lanjut dia, lalu pergi ke kantin dengan cepat.

Pemikiran Ferry tentang Bumi benar juga. Apakah semua keindahan ini akan menemui kehancuran?Sembari berpikir tentang hal tersebut, tanganku mencoba untuk menggerakan pena di atas kertas putih. Secara perlahan-lahan, tangan ini bergerak semaunya dengan goresan aksara. Pikiranku kemana-mana sedang raga masih duduk di atas kursi di samping danau. Beberapa menit kemudian, aku sudah tenggelam dalam duniaku sendiri.

---000---

Sore hari kemacetan masih melanda di tengah jalan. Aku sendiri hendak menepi dari keramaian kota dan mencari tempat yang pas untuk menikmati senja. Kau tahu, hidup ini tentu harus seimbang. Pada awalnya pagi hari telah menghiasinya dengan semangat yang menggebu-gebu. Sedang sore ini, aku akan menghabiskan hari dengan merenungi segala hal yang telah aku lewati dengan menatap senja yang akan pergi dari semesta. Di sebuah tempat duduk di sudut kota ini, di tengah perenungan yang aku lalui bersama sang senja, aku masih kepikiran tentang tulisan yang aku buat di samping danau tadi pagi. 

Dunia ini sungguh sangat indah. Di dalamnya terdapat warna-warni yang senantiasa mewarnai pandangamu. Bumi memberikan manusia sebuah kehidupan, sebuah harapan, semua impian dan segalanya. Di dalamnya aku dapat menikmati keindahan tersebut dengan cara bersyukur tentang apa yang telah diberikan kepada Bumi. Aku tidak tahu apakah pemberian Bumi terhadap manusia akan bertahan lama. Namun saat ini aku mensyukuri apa yang ada. Aku belajar bersyukur dari banyak hal; dari seorang penjual koran yang sudah menjejakkan kakinya di pinggir jalan, dari seorang karyawan yang sedang pergi ke kantornya, dari seorang siswa SMP dan SMA yang bergegas menuju sekolahnya, dari para pedagang yang sudah membuka kedainya di pagi hari hingga larut malam. Banyak sekali hal-hal yang membuatku bersyukur mengenai kehidupan. 

Keindahan di dalam kehidupan akan terekam jelas di dalam ingatan. Saat ini, kehidupan mengajariku tentang indahnya kebersamaan di dalam naungan cakrawala Bumi. Saat ini, aku masih memiliki segudang harapan untuk kedepannya. Terhadap semesta, terhadap manusia, terhadap segalanya.

gambar dari google

Aku Pengelana

Merampas jiwa, mengitari sanubari rasa, mengarungi luasnya samudera benci. Kau bersemi di ujung musim hujan dengan sisa terik matahari yang menembus pelupuk mata. Hati tidak tahu hendak berkata apa, sedang langkah terus meronta merayakan kemenangan yang aku tidak tahu apa. Tergontai-gontai mengais butiran cinta yang bertebaran di sudut semesta. Aku tidak sedang mencari hormat ataupun rasa takut, hanya hendak mengisi ruang kosong dengan cahaya kasih sayang yang masih berjuntai di antara ruang dan waktu. Mungkin kamu demikian, sedang merasa kosong akan hal-hal fana yang terjadi di dunia, lalu berpikiran bahwa tak ada apapun yang istimewa kecuali rasa yang terus membara di antara hangatnya fajar mentari. Kemudian pada ujung hari termenung kaku hendak merayakan atau merenungi segala hal yang telah dilewati. Entahlah. Aku masih terpaku dengan seonggok harapan yang terbujur indah di atas darah malaikat yang rela berkorban demi terciptanya kedamaian. Barangkali aku akan terus melangkah walau tanpa arah.

Lolongan ayam di pagi hari menyadarkan lamunanku. Hari sudah memasuki dini hari, sedang aku masih asyik dengan duniaku sendiri. Rasanya aku tidak ingin membuka hati melawan dunia. Berdiam saja tanpa tujuan atau tetap memupuk harapan pada luasnya ladang impian. Mimpiku tak lagi indah sejak kehidupan selalu mengajariku tentang bagaimana harus bertahan di atas jeritan Bumi. Bau tanah kering masih menghantui penciumanku. Rasanya aku rindu dengan bau tanah sehabis hujan pada sore hari, lalu senja hadir menemani ujung hari dengan segerombolan pikiran yang harus diolah menjadi sebuah tulisan. Menikmati senja tanpa harus khawatir akan kehabisan kata-kata. Hidup memang selalu mengajari kita tentang menjaga sesuatu, namun aku selalu lupa setelah pelajaran berharga tersebut. Hingga pada akhirnya, tak ada lagi yang harus dijaga, bahkan harapan sekalipun. Aku masih berharap bahwa ada kehidupan lain di  luar angkasa sana agar aku masih dapat berdiskusi tentang apapun bersama makhluk lain. Berbicara kesana kemari sembari menyesap kopi. Ah, keindahan akan selalu menemui kehancuran.

Aku mencoba mengingat langkah kakiku sudah beranjak kemana saja. Sebelum dini hari habis, rasanya sangat sayang bila tidak mengenang segala hal yang telah aku lewati. Menyusuri hijaunya rumput, lalu mata dimanjakan dengan birunya langit dengan hiasan awan yang menenangkan hati dan pikiran. Sedang di depan ombak menerpa sang batu karang sehingga menimbulkan irama yang meneduhkan mata. Air laut menjilati kaki indahku, lantas aku senang dibuatnya. Tidak ada keresahan yang muncul  di dalam diri pada saat itu. Alam selalu mengajariku cara bagaimana menenangkan diri. Berbaur dengan percakapan ghaib antara batu karang dengan butiran pasir. Tenggelam di dalam dekapan semesta. Hingga pada akhirnya, aku tersadar bahwa aku telah tersesat di suatu ruang yang tiada ujungnya.

Indah sekali rasanya mengingat hal tersebut. Seraya menunggu fajar tiba, aku meratapi tanah  kering di luar sana. Tak ada hijaunya sawah di depan mata. Hanya segerombolan debu yang sewaktu-waktu dapat menusuk hidung. Langkahku terhenti di sebuah gubuk tepat di pinggir sungai. Di sini, aku menghabiskan sisa hidupku dengan menikmati akhir yang indah dari tempat tinggal kita. Aku tak tahu bagaimana akhirnya, hanya saja aku sering membayangkan bahwa akhir dari segalanya adalah tak ada sesuatu pun yang dapat dimakan kecuali harapan. Ya, harapan selalu ada dari jutaan tahun sebelumnya. Hingga sampai saat ini aku masih percaya bahwa harapan itu ada.

Filantropi Bumi sudah mendekati akhir. Mungkin inilah saatnya aku harus melangkahkan kaki lagi sebelum aku tetap disini mengenang segala hal yang tidak pasti. Ku tenggak air putih di mejaku. Debu-debu masih menghiasi meja kotak yang ada di ruang tengah. Tak ada niatan akan aku bersihkan, sebab beberapa menit lagi mungkin debu itu akan kembali lagi. Aku keluar rumah, membuka pintu, dan pemandangan yang ada di depan mataku benar-benar sangat indah; aurora hijau mengelilingi langit, bintang-gemintang masih bertebaran dengan cahayanya, sedang matahari belum menampakkan diri. Aku usap dahiku sejenak menghirup udara yang kotor, dan memejamkan mata. Barangkali itu caraku untuk menikmati hidup saat ini.

Semua berawal dari sini, ketika aku sedang mengenang kejadian indah sebelumnya dan berusaha menggapai harapan setelahnya. Ya, barangkali hanya satu yang aku miliki saat ini; harapan.


gambar dari google

Polemik Fans Blink 182: Antara Tom DeLonge dan Matt Skiba

Tepat tanggal 1 Juli 2016 lalu, tampaknya menjadi ajang buka puasa bagi fans Blink 182 di seluruh dunia. Band punk rock asal California tersebut merilis sebuah album berjudul California, sesuai nama kota yang telah melahirkan Blink 182. Kota California jelas memiliki peran yang sangat besar untuk sebuah nama Blink 182. Tempat penuh sejarah, tepatnya di Poway, ketika Mark Hoppus memutuskan untuk memenuhi hasratnya untuk memiliki sebuah band. Hasrat tersebut tampaknya terwujud dengan begitu saja. Tak perlu ada konspirasi atau apapun, barangkali takdir telah menggariskan kejadian seperti ini: Anne Hoppus, adik dari Mark Hoppus, memiliki seorang teman yang bernama Thomas  Mathew DeLonge Jr atau biasa dipanggil Tom DeLonge yang kebetulan juga ingin memiliki band. Bulan Agustus 1992, Anne memperkenalkan Tom DeLonge kepada Mark Hoppus. Tak butuh waktu lama, kedua orang yang sampai saat ini memiliki peran penting dalam terbentuknya Blink 182 itu saling bermain bersama selama berjam-jam di garasi, lalu saling bertukar ide untuk menciptakan sebuah karya dan bahkan kedua orang tersebut menulis lagu bersama. Salah satunya lagu yang mereka tulis dan sangat terkenang hingga sekarang adalah Carousel. Sebuah pertemuan yang suci andaikata bisa dibilang.

Rasanya sungguh khidmat mendengarkan album baru Blink 182 yang berjudul California sembari mengenang kembali sejarah terbentuknya band ini. Namun tunggu dulu, dalam album California ini kamu tidak akan menemukan petikan gitar Tom DeLonge yang sangat menusuk telinga serta suara aksennya yang sangat khas. Pada album California kamu akan menemukan nuansa baru dari distorsi gitar serta pekikan suara tinggi dari seorang Matt Skiba, vokalis sekaligus gitaris dari Alkaline Trio. 

Pertama kali mendengarkan, rasanya aku seperti tidak bisa membedakan mana suara Mark Hoppus dan mana suara Matt Skiba. Setelah telinga ini terbiasa dengan kontras dari suara Hoppus dan DeLonge, rasa-rasanya sangat aneh apabila suara Hoppus disandingkan dengan suara Skiba. Kamu akan mendengar suara yang bergonta-ganti dalam lagu Bored to Death, salah satu lagu dari album California. Dalam lagu tersebut pada awalnya Hoppus mengambil alih suara, dengan suara bassnya yang sedikit mendatar. Lalu pada reff Skiba mengambil alih dan langsung mengeluarkan suara tingginya. Itu terlihat berbeda. Namun, dengarkan lagi pada lirik kedua. Skiba langsung menyambar pada lirik selanjutnya setelah reff, lalu kemudian Mark Hoppus mengambil suara tinggi ketika memasuki reff. Pada awalnya, aku sulit membedakan mana suara Hoppus dan Skiba.

California tentu bukan menjadi sajian buka puasa terbaik bagi fans Blink 182. Aku sebagai salah satu fans Blink 182 merasa kehilangan harapan ketika Neighborhoods menjadi album terakhir Blink 182 setelah vakum cukup lama dari tahun 2005-2009. Hingga pada akhirnya Blink 182 memunculkan harapan baru dengan keluarnya album California di tahun 2016, di sisi lain sekaligus memunculkan rasa rindu kepada sosok Tom DeLonge. Memang, pria yang tergila-gila dengan kehidupan luar angkasa tersebut memiliki persona yang sangat kharismatik di atas panggung dengan gayanya bermain gitar yang seolah-olah meninggikan satu bahunya.

Kini, setelah keluarnya album California yang diisi oleh Skiba, banyak sekali yang merindukan sosok Tom DeLonge untuk berada di Blink 182 lagi. Kerapkali ketika Tom DeLonge mengunggah sesuatu di akun Instagramnya mengenai Blink 182 maupun punk, banyak sekali warganet yang meminta Tom DeLonge untuk kembali ke Blink 182 lagi, berkarya bersama dua sahabat lamanya, Mark Hoppus dan Travis Barker. Namun apa daya, saat ini Tom DeLonge sedang sibuk dengan projek yang sesuai ambisinya, yaitu kehidupan luar angkasa, serta band yang bisa dibilang sangat fenomenal, yaitu Angels and Airwaves.

Saat Blink 182 vakum pada tahun 2005-2009, Tom DeLonge memutuskan untuk membuat side project band yang bernama Angels and Airwaves atau biasa disingkat dengan AVA. Tepat tanggal 15 September 2005, Tom DeLonge mengumumkan bahwa ia akan mendirikan band bernama Angels and Airwaves dan ia menjanjikan revolusi rock n roll terbaik dalam generasi ini. Terbukti, setelah album pertama Angels and Aiwaves keluar, We Don't Need To Whisper tahun 2006 dan album kedua keluar pada tahun 2007 dengan judul I-Empire, Angels and Airwaves benar-benar memunculkan suara musik yang khas dan sangat enak untuk didengar telinga. Pertama kali mendengar, aku seperti mendengar ada suara-suara khas luar angkasa yang memang menjadi ciri khas dari Tom DeLonge.

Sampai saat ini, Tom DeLonge masih berkarya bersama AVA dan kabarnya akan mengeluarkan album baru mereka pada tahun ini. Fans Blink 182 tentu mau tidak mau harus mengakui kecerdasan Tom DeLonge dalam membuat lagu bersama AVA. Tom DeLonge meraciknya dengan sangat baik dalam sentuhan luar angkasa yang khas dalam setiap lagu dari AVA, bersama para personil lainnya, David Kennedy, Matt Wachter dan Ilan Rubin. Aku pribadi sebagai fans Blink 182 benar-benar mengagumi sebuah karya Tom DeLonge walau tidak bersama Blink 182. Tom DeLonge benar-benar memenuhi janjinya.

Di sisi lain, Blink 182 tetap berjalan dengan Matt Skiba, Mark Hoppus dan Travis Barker. Mereka kabarnya akan mengeluarkan album baru lagi pada tahun ini dan akan dirilis sebelum konser Vans Warped Tour. Entah apakah masih akan memunculkan rasa rindu kepada Tom DeLonge, namun aku yakin rasa itu akan terus muncul ketika lagu Blink 182 sedang berputar di telingaku. Namun, bukankah sejauh ini, hingga album California rilis, Travis Barker menjadi salah satu sosok yang selalu menghidupkan Blink 182 dengan ketukan drumnya yang sangat khas?.

Gambar dari google


Resensi Novel Bumi Manusia: Pribumi Tidak Layak Di Mata Eropa

Berbicara mengenai buku Bumi Manusia tentu  tidak terlepas dari sang maestro sastra Indonesia, Pramoedya Anata Toer. Sastrawan terkemuka yang saat ini sangat melegenda di Indonesia bahkan  di dunia ini masih hidup di antara deretan aksara yang diciptakannya walau raganya sudah tiada. Beliau pernah berkata "orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian". Benar saja, kalimat yang pernah beliau katakan langsung semasa hidup tersebut saat ini benar-benar menginsipirasi semua orang. Beliau menulis, beliau tak pernah hilang dari masyarakat bahkan sejarah sekalipun.

Bumi Manusia merupakan salah satu karya beliau yang sampai saat ini selalu menjadi perbincangan para pegiat sastra di seluruh Indonesia. Bumi Manusia tergabung dalam tetralogi pulau buru yang berisi Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, serta Rumah Kaca. Empat buku tersebut ditulis oleh Pram ketika beliau berada di pulau Buru. Pria kelahiran Blora, 6 Februari 1925 tersebut menyajikan cerita yang menarik mengenai masa kolonial yang ia kemas dengan kata-kata yang lugas serta nyaman untuk dibaca hingga zaman sekarang. Berbagai quote serta gagasan pemikirannya yang cerdas dituangkan dengan bijak lewat tulisan yang secara tidak langsung melawan bangsa Eropa pada masa kolonial.

Di dalam novel Bumi Manusia yang diceritakan oleh Pram terdapat sosok Pribumi yang memiliki derajat tinggi sebagai seorang anak Bupati. Ia biasa dikenal sebagai Minke. Dikarenakan ia adalah seorang anak Bupati, maka ia diperbolehkan untuk menempuh pendidikan di sekolah H.B.S (Hogere Burger School). Bagi yang belum mengetahui, H.B.S merupakan pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa, ataupun Elit Pribumi.

Tidak heran apabila Minke cukup fasih dalam berbahasa Eropa, ia bahkan sangat mengenal sekali budaya Eropa. Namun tetap saja, Pribumi hanyalah Pribumi, di mata orang Eropa seorang Pribumi tidak ada gunanya. Hingga suatu ketika Minke diajak ke sebuah rumah oleh temannya di sekolah, Robert Suurhof, dan ternyata rumah tersebut adalah rumah milik Tuan Herman Mellema yang tinggal bersama gundik yang ia beli, Nyai Ontosoroh, serta menghasilkan dua anak keturunan Pribumi Eropa atau biasa disebut Indo. Dua anak tersebut adalah Robert Mellema serta Annelies Mellema.

Cerita begitu berbeda ketika Minke mengenal keluarga Mellema tersebut. Sebagai seorang Pribumi yang memiliki pendidikan Eropa, ia tahu persis bagaimana kinerja seorang Pribumi seperti Nyai Ontosoroh yang hanya bisa membereskan rumah saja. Nyatanya, anggapan tersebut salah besar. Nyai Ontosoroh, Pribumi yang hanya gundik seorang Tuan Mellema tersebut bisa baca tulis serta mengerti bahasa Eropa dengan bagus. 

Dalam hal ini, Pram benar-benar menggambarkan bagaimana seorang Pribumi yang ia hidupkan di dalam novel Bumi Manusia mengalami hibriditas budaya yang sering kita kenal sebagai percampuran budaya.  Pribumi pada masa kolonial hanya tahu urusan rumah saja tanpa mengerti pendidikan dan semacamnya. Pram, dalam novelnya seakan-akan membuat perlawanan dengan sangat halus lewat seorang Pribumi yang mendalami kebudayaan serta ilmu Eropa, dalam hal ini melalui perantara dari tokoh Minke dan Nyai Ontosoroh. Terlebih Minke merupakan seorang jurnalis yang kerapkali menulis tentang apa saja yang ia alami semasa hidupnya. Lewat tulisan tersebut, Minke kerapkali mengkritik kebijakan-kebijakan bangsa Eropa pada saat masa kolonial.

Sayangnya, Pribumi selalu tidak layak di mata Eropa. Hukum seakan-akan membuat kekuatan seorang Pribumi tidak berdaya walau dengan segenap tenaga melawan kebengisan Eropa. Di akhir cerita Bumi Manusia tersebut Minke harus rela melepas Annelies Mellema, istrinya, yang terjerat hukum Eropa sehingga harus kembali lagi ke Belanda. Hukum pernikahan sah antara seorang Pribumi seperti Minke serta seorang Indo seperti Annelies Mellema tidak ada harganya dihadapan hukum Eropa pada masa kolonial tersebut. Pram benar-benar menggambarkan kisah tragis cinta dari dua orang yang terpisah akibat strata sosial yang mereka dapatkan. Pribumi tidak mendapatkan haknya sama sekali.

Di akhir, Nyai Ontosoroh berkata sangat halus kepada Minke, "Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.".

Membaca novel Bumi Manusia tentu kamu akan dituntun dengan pelik kehidupan pada masa kolonial. Selain itu, ketidak adilan dalam kelas sosial benar-benar digambarkan antara Pribumi dan Eropa. 

Gambar dari gramedia.com

Film Keluarga Cemara: Bukan Hanya Sekadar Drama, Melainkan Nilai-Nilai Berharga Dari Sebuah Keluarga

Awal tahun ini dunia perfilman Indonesia sedang dihebohkan dengan berbagai film yang sangat bagus untuk menjadi hiburan awal tahun. Salah satu film yang membuat aku sangat tergugah untuk menontonnya langsung di bioskop adalah film Keluarga Cemara. Jujur saja, pada awalnya aku tidak terlalu mengikuti serial TV Keluarga Cemara yang hadir pada era 90an lalu, sebab aku memang belum mengetahui serial TV tersebut saat masih di era 90an he he. Namun, saat serial TV tersebut akan dibuatkan menjadi sebuah film layar lebar pada awal tahun ini, aku sangat tergugah untuk menontonnya langsung. Kata hatiku mengatakan, ada sesuatu yang harus aku telusuri lebih dalam mengenai makna dari keluarga. Lewat film Keluarga Cemara, barangkali aku dapat menelusurinya langsung lewat mata dan hatiku.

Berbicara mengenai keluarga tentu kita akan dihadapkan oleh sepasang kekasih yang menjelma sebagai orang tua juga anak-anak yang bersuka cita turut meramaikan adanya keluarga. Memang, sebuah kalimat "harta yang paling berharga adalah keluarga" merupakan dorongan bagi kita semua untuk selalu menjaga dan menghargai keluarga kita, selagi masih utuh dan dapat menjalin kebersamaan satu sama lain. Dalam film Keluarga Cemara yang disutradari oleh Yandy Laurens ini, aku sangat kagum dengan Abah yang diperankan oleh Ringgo Agus Rahman. Ringgo memang sangat lihai dalam memerankan peran ayah. Namun dibalik semua itu, tersimpan cerita bagaimana Ringgo merupakan seorang ayah yang benar-benar rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk menghidupi keluarganya. Setelah melewati berbagai macam rintangan yang menimpa keluarganya, Ringgo sebagai abah selalu berusaha melalui caranya agar mampu membuat keluarganya bahagia di tengah-tengah kesengsaraan yang menimpanya. Memainkan peran ayah yang peduli terhadap anak dengan nasihat-nasihat serta kemarahannya yang mencerminkan kepeduliannya terhadap dua anaknya Ara (Widuri Putri Sasono) dan Euis (Adhisty Zara).

Peran Ringgo sebagai abah hampir membuatku menumpahkan air mata pada saat itu.

Dibalik sosok laki-laki yang luar biasa selalu ada wanita luar biasa di belakangnya. Nirina Zubir sebagai Emak mencerminkan bagaimana seorang wanita benar-benar menjadi penenang serta penguat bagi seorang suami yang hidup bersamanya. Nirina dengan kelembutannya serta keteguhannya selalu menenangkan Ringgo dikala Ringgo sedang menghadapi pikiran-pikiran berat mengenai masalah yang dihadapi Keluarga Cemara. Melalui Nirina, Ringgo yang selalu keras kepala dengan keputusan yang diambilnya perlahan-lahan mulai memikirkan apa yang telah ia lakukan, sehingga membuat Ringgo berpikir bahwa sebuah keluarga tidak hanya berbicara soal sosok ayah saja, melainkan ada sosok ibu yang berdiri di belakangnya.

Barangkali, ibu kita memang selalu ada untuk menenangkan kita dikala kita sedang putus asa terhadap dunia. 

Sosok anak memang tidak terlepas dari tanggung jawab orang tua. Peran anak dalam Keluarga Cemara yang dimainkan oleh Adhisty Zara JKT 48 serta Widuri Putri Sasono membuat film ini seakan-akan sangat berwarna dan membuat ceria. Terlebih peran Widuri, putri dari seorang aktor Dwi Sasono yang terlihat sangat menggemaskan dengan leluconnya yang selalu membuat keluarga cemara tertawa. Maklum saja, dalam film ini Ara diceritakan sebagai seorang umur 7 tahun yang baru menginjak sekolah dasar sehingga terlihat masih polos dan sangat lucu. Sedang Euis yang diperankan oleh Zara JKT 48 merupakan seorang anak yang telah menginjak usia 14 tahun dan sudah menempuh pendidikan SMP. Dalam hal ini, anak seusia tersebut tentu memiliki pola pemikiran yang sedang menuju kepada proses pendewasaan. Euis yang cukup membangkang saat mendengar nasihat dari orang tua akhirnya mulai menyadari bahwa nasihat tersebut ada benarnya. Ia bahkan berperan sebagai kakak yang luar biasa di saat ekonomi keluarga sedang merosot serta saat emaknya hendak melahirkan anak ketiga.

Ada saatnya anak-anak harus diajarkan bagaimana memahami pola hidup yang sedang dialami keluarganya walau dengan bentakan sekalipun.

Rating yang aku berikan dalam film ini: 9/10. Tontonlah film Keluarga Cemara selagi masih mengudara di bioskop. Sebab dalam film ini aku benar-benar memahami apa arti dari kalimat "harta yang paling berharga adalah keluarga". Ohya selain filmnya yang bagus, soundtracknya juga bagus karena ada lagu Dialog Dini Hari-Tentang Rumahku he he. 

Sekian ulasan film dariku, semoga bermanfaat.

Sumber foto dari id.bookmyshow.com

Sebuah Kisah di Pasar Bubrah Part 3

Udara dingin kian merambat ke dalam badanku. Walaupun badanku sudah tertutup rapat oleh sleeping bag namun badanku tak kuasa bergetar karena dinginnya udara di pasar bubrah. Ku dapati jam tanganku, pukul 03:30. Sebentar lagi mentari akan menyapa semesta, atau lebih tepatnya, pada pagi ini aku akan menyambut sapaan mentari dari pasar bubrah. Setelah mimpi semalam, tidurku begitu pulas. Entah angin yang menina bobokanku atau suara gamelan yang sampai saat ini masih terngiang walau datang dari mimpi. Yang jelas, aku sangat bersyukur bisa mendapati tidur nyenyak selama beberapa jam di gunung. Bahkan, jika sedang beruntung, aku dapat berjam-jam tidur di antara dinginnya udara dan nyamannya tenda.

Aku membangunkan temanku. Memberitahu dia bahwa sebentar lagi cakrawala langit akan dihiasi oleh garis horizontal keemasan. Setelah ia berusaha mengumpulkan nyawanya dan mengucek-ngucek matanya, tiba-tiba dia bertanya kepadaku :

"Gek bengi koe ngerungokke suara gamelan rak?jelas banget ik, aku ngantek nyumpel kupingku karo tisu". Ucap dia sambil gemeteran karena memang udara menjelang pagi hari cukup dingin.

Dalam batinku, apakah benar suara-suara yang terdengar semalam serta sosok makhluk yang berperawakan tinggi tersebut bukan hanya sekadara mimpi? Bagaimana mungkin temanku juga mendengarkan suara tersebut dengan jelas tanpa perantara mimpi?.

"Suara gamelan opo? orak ono ndes! ngimpi yak e koe". Aku terpaksa berpura-pura kepadanya agar suasana tidak semakin keruh.

"He eh yo paling cuman mimpi,  tapi kok lumayan jelas ya suarane?" Batin temanku sambil meletakkan tangannya ke bawah dagu, persis seperti orang sedang berpikir.

"Wis, saiki mending metu tendo. Siap-siap. Delok kas sunrise e bakal metu" Ucapku untuk menenangkan suasana pagi itu.

Setelah membuka tenda dan melihat sekitar, sudah banyak sekali para pendaki yang siap menyambut sang mentari. Mereka pun menyambutnya dengan bermacam-macam. Ada yang sedang menyiapkan tripod serta kamera DSLR/Mirrorlesnya untuk mengabadikan kedatangan sang mentari dengan sebuah timelapse, ada yang sudah mencari spot terbaiknya untuk berfoto bersama sang mentari, ada yang mempersiapkan secangkir kopi serta menyalakan api untuk merokok, dan ada yang hanya berdiam diri sambil  menunggu garis horizontal tersebut tampak keemasan di langit sana. Mentari tampak menuai sambutan yang hangat dari para manusia di pasar bubrah saat ini. Kedatangannya membawa penuh kedamaian pada semesta, kehangatannya membuat para pendaki akan sedikit kehilangan rasa dinginnya. Bagaimanapun juga, menikmati mentari terbit di gunung merupakan salah satu hal yang patut kamu coba sekali seumur hidup.

Garis horizontal tersebut sudah menampakkan cahaya keemasan. Di sebelah timur, tepat di kiri pasar bubrah garis itu mulai menunjukkan sosoknya. Begitu damai menatapnya, seakan-akan kamu terbawa masuk oleh cerita yang sebentar lagi akan disampaikan oleh garis horizontal tersebut. Mataku cukup jelas melihat bagaimana gradasi warna yang terjadi ; hitam menyusut setengah lalu cahaya keemasan hidup dan pandangan manusia tak akan luput. Pasar bubrah menjadi saksi bagaimana mataku tak henti-henti menatap keajaiban alam tersebut. Sembari menghembuskan napas dan menahan udara dingin pagi itu, hatiku terasa hangat dengan hadirnya sang mentari.

Tanpa sengaja, mataku menangkap tonjolan lingkaran yang muncul di antara garis horizontal tersebut. Begitu bulat, begitu sempurna. Para penangkap momen tentu sangat menunggu hal tersebut ;mengabadikannya lewat lensa kamera. Sedang aku, hanya duduk di atas batu sembari mengambil kertas dan pena yang sedari tadi aku masukkan ke dalam saku kemejaku.

Kau adalah titisan semesta
Datang dengan hangat lalu kian dekat
Manusia melupakan perpecahan
Esok akan penuh kejutan

Di datanginya bumi dengan embun
Tergerai kata-kata di antara lekukan cakrawala
Tiap  pagi akan selalu berbeda cerita
Muntup mentari, hidup, surup untuk hinggap di pelupuk
Bola mata siapa yang indah
Mentari tetap akan merekah

Malam telah menua
Pagi kian menggoda
Maukah kamu bersandar di atas batu bersamaku di pasar bubrah?
Lalu kita akan membuat sebuah kisah, bersama. sampai tua.

Kertas itu aku masukkan kembali ke dalam saku kemejaku. Setelah itu aku sengaja ingin berjalan di sekitar pasar bubrah, ingin melihat keadaan pagi itu. Beberapa langkah saja, para pendaki lain selalu menawari kopi ataupun makan bersama di tenda mereka. Selain pemandangan, kebersamaan sesama pendaki merupakan hal yang indah dari sebuah pendakian. Di gunung, semuanya adalah saudara, tak ada perpecahan, melainkan persatuan. Indonesia adalah tempat terbaik yang aku tinggali selama ini. Terima kasih ibu pertiwi.

Sudah banyak para pendaki yang menawari minum kopi bersama, juga menawari makanannya. Aku selalu tergoda kepada pendaki yang membawa stok makanan lengkap. Mulai dari sosis hingga tempe. Ah, kenikmatan yang tiada tara. Hingga tiba-tiba saja ada segerombolan pendaki yang menghampiriku dengan sangat panik, lalu bertanya kepadaku.

"Mas, mas tahu gak kalau semalam ada suara gamelan yang sangat nyaring di pasar bubrah? Saya takut sekali mas semalem" Ujar pendaki tersebut.

"Ah masa mas, mungkin di mimpi mas kali" Ucapku dengan santai.

"Enggak mas, suara itu beneran nyata. Dan saya bertanya kepada mas soal itu karena ada suatu alasan" Pendaki tersebut tampak sangat gugup sekali.

"Alasan?maksudnya gimana mas?" Tanyaku dengan heran.

"Iya mas, semalem waktu saya mendengar suara gamelan yang nyaring saya langsung keluar dari tenda. Kemudian secara tidak sengaja saya melihat mas keluar dari tenda kemudian jalan ke ujung kanan pasar bubrah itu mas" Ucap pendaki tersebut sambil menunjuk tempat yang dituju.

Bersambung....



Sebuah Kisah di Pasar Bubrah Part 2

Telingaku bergaung, suara gamelan berbalas-balasan meramaikan suasana pasar bubrah. Aku paksakan badanku untuk bergegas berdiri dan keluar dari tenda, memeriksa apa yang sedang terjadi di luar sana. Ku buka resleting tenda paviliun secara perlahan, lalu ku perhatikan keadaan sekitar. Suara gamelan tadi tidak terdengar sama sekali, yang ada hanya ruang kosong yang dipenuhi bebatuan dan hamparan pasir. Hatiku semakin kalut bersamaan dengan turunnya kabut yang menyelimuti pandanganku. Suara gamelan tadi, apakah seperti misteri yang terjadi di pasar bubrah?Entahlah. Aku memang memercayai  adanya misteri yang ada di tempat ini, namun suara tadi benar-benar membuat hatiku semakin kalut. 

Udara dingin Merapi kembali membuat bulu tubuhku bergidik setelah mendengar suara gamelan yang tadi melantunkan musik. Aku kembali masuk ke dalam tenda. Membuat mie instant tampaknya akan sangat menyenangkan ditambah perutku yang sangat lapar. Suara gamelan tadi bisa jadi karena perutku sedang kosong, sehingga imajinasiku terbawa kemana-mana. Ku ambil kompor portable serta nesting ke dalam teras tenda, lalu kumasukkan gas ke dalam kompor portable tersebut. Sambil menunggu airnya mendidih, aku berdiam diri sembari menikmati alam Merapi yang sangat sejuk. Tiba-tiba suara gamelan tadi terdengar lagi, kali ini lebih nyaring. Sontak aku pun terkaget, suara gamelan tersebut benar-benar memecah konsentrasiku saat itu. Misteri pasar bubrah memang benar adanya, bahwa acapkali pada tiap malam para pendaki akan mendengar kebisingan yang terjadi di pasar bubrah. Entah itu suara gamelan atau suara bising seperti yang terjadi di pasar, pasar bubrah menyimpan banyak cerita. 

Kali ini, suara gamelan tersebut benar-benar nyaring, aku tak berani untuk keluar dari tenda. Air di atas nesting telah mendidih, sementara suara gamelan kali ini diiringi dengan seorang sinden yang bernyanyi tembang Jawa. Mendengar sinden lewat youtube saja aku merinding, apalagi mendengarnya secara langsung saat ini. Seketika itu juga aku lupakan mie instant yang sedari tadi telah menggerogoti pikiranku, ku matikan kompor portablenya lalu aku keluar untuk melihat keadaan di sekitar pasar bubrah. Benar saja, di ujung sana, tepat di ujung kanan pasar bubrah dari pandanganku, seorang sinden sedang bernyanyi, di belakangnya ada sekumpulan orang yang bermain kendang, gamelan, serta berbagai alat musik jawa lainnya. Baru aku melangkahkan kaki sebentar, sesosok makhluk dengan perawakan yang tinggi serta rambut yang terurai panjang hingga menutupi punggung menghampiriku seraya berkata, 

"Muliha kami ring lemah, mahuripa kami ing swargaloka, tan hana ikang amrta, matemwa ta kami ri kita". 

Hingga tiba-tiba suara sinden dan gamelan tadi semakin nyaring membuncah pikiranku. Perlahan demi perlahan pasar bubrah yang sunyi berubah  menjadi ramai seketika. Suara dentuman tapal kuda berirama begitu cepat, mantra yang diucap oleh sosok makhluk berperawakan tinggi tersebut kian merasuki pikiranku.  Pandanganku kunang-kunang, puncak garuda tak terlihat lebih jelas, hamparan pasir dan bebatuan pasar bubrah hilang begitu saja. Ragaku terhuyung tak tentu arah, hingga terbang di atas hamparan awan dan menuju entah kemana.

Tiba-tiba saja mataku terbelalak kaget. Nafasku tersenggal tak beraturan. Aku melihat sekitar, ragaku masih di dalam tenda. Ku perhatikan jam tanganku, masih menunjukkan pukul 02:30. Udara dini hari di gunung biasanya melukiskan rindu dengan tinta dan kuas serta cat yang tidak sembarangan. Diabadikannya udara dingin tersebut sedemikian rupa, hingga tertanam menjadi kenangan dalam pikiran. Aku coba menenangkan diriku setelah mimpi yang terjadi padaku barusan. Ku buka resleting tenda paviliun dan keluar dari tenda. Di atas sana, gemintang masih setia menghiasi langit walau sesekali ada bintang yang jatuh dan meninggalkan semesta. Sementara di bawah sini, aku berusaha mengatur napas di atas  batu yang ada di pasar bubrah. Menikmati udara gunung dini hari saat cuaca sedang cerah adalah hal yang paling menyenangkan bagiku. Ku pandangi sekitar pasar bubrah, lalu aku tertuju pada mimpi tadi.

Misteri pasar bubrah begitu nyata adanya.

Bersambung...



Sebuah Kisah di Pasar Bubrah Part 1

Malam ini aku putuskan untuk menyeduh kopi di antara angin pasar bubrah Merapi yang kian dingin. Menikmati secangkir kopi sambil menatap gagahnya puncak garuda dari sang Merapi adalah salah satu impianku yang sedang terwujud malam ini. Dahulu, puncak garuda hanya terngiang dalam ingatanku selepas melihatnya lewat foto-foto yang bersebaran di sosial media. Kini, mataku tak perlu dibatasi oleh layar handphone untuk menatap puncak garuda tersebut. Pikiranku mulai mengumpulkan aksara yang berceceran di pasar bubrah, hatiku cukup merekah. Ku taruh secangkir kopiku di sebelahku, lalu aku ambil secarik kertas dan pena. Jam masih menunjukkan pukul 20:00, langit di atas sana terlihat cerah dari pasar bubrah. Gemintang menunjukkan parasnya yang sejuk, cakrawala malam mengaduk zat kerinduan serta kenangan secara bersamaan. Dia tahu bahwa suatu saat nanti aku akan mengenang momen ini, duduk di pasar bubrah sembari menyusun aksara. Kau tahu, bahwa aku suka tempat ini. Dinginnya, kumpulan batu-batunya, serta hamparan awan yang memanjakan mata membuatku tak segan untuk mengabadikannya lewat tulisan.

Bebatuan tak menghalangi pandangan
Pasar Bubrah memelukku erat tanpa syarat
Aku menyaksikan puncak garuda 
Secara bersamaan aku melihat seonggok senyuman
Entah milik siapa
Kabut menggiring imajiku 

Merelakan kenangan bukan pekerjaanku
Hanya saja kian menggerutu
Hatiku tertambat di antara pasir Merapi
Hamparan rumput hijau tak ada
Hamparan pasir tak kalah mempesona

Apakah kau akan mendekapku di antara kabut Merapi?
Digiringnya aku ke dalam dimensinya
Aku susah untuk berkata-kata
Terbata-bata langkahku menapaki pasir Merapi
Mengeja setiap kenangan
Melukis di antara hamparan awan.

Apakah kau masih mengingatku dengan jelas?
Sejelas aku mengingat puncak garuda saat ini

Secarik kertas tersebut aku lipat dan kumasukkan ke dalam saku kemeja. Mengingat Merapi lewat tulisan adalah caraku mengabadikan keindahannya. Merapi yang diidam-idamkan oleh semua pendaki lokal  maupun interlokal, pada malam ini aku mendekapmu dengan aksaraku. Tak akan aku biarkan kau terlelap di antara dinginnya semesta. Aku selimuti dengan aksara, hingga dekapku dapat menghangatkanmu.  

Pandanganku masih tertuju kepada puncak garuda. Rasanya aku ingin berada di atas sana, namun sisi lainku berkata tidak. Batas pendakian hanya sampai pasar bubrah serta plang peringatan dilarang naik puncak tersebar dimana-mana. Menatap puncak garuda dari sini saja aku sudah puas, batinku.  Ku lihat sekitar, banyak sekali bebatuan dan hamparan pasir di setiap pandanganku. Merapi bagiku bukan tentang kehijauan, melainkan tentang kedamaian tanpa merujuk pada warna. 

Malam kian kejam, memaksaku untuk masuk ke dalam tenda dan bersiap-siap untuk memejam. Di luar tenda, angin masih rusuh memorak-porandakan tenda para pendaki. Di bawah tenda, pasir merapi begitu terasa walau matras sudah menjadi perantara. Tanah Merapi memang begitu sulit untuk didirikan tenda. Pasak saja kadang harus menancap sedemikian rupa agar dapat tertanam di tanah Merapi. Jika tidak bisa, terpaksa harus menggunakan batu besar dan berbekal tali rafia untuk dijadikan pengganti pasak.

Ragaku sudah berbaring, di sampingku teman-temanku sudah tertidur pulas, menandakan bahwa pasar bubrah memang seperti rumah. Perlahan mataku terpejam bersama desiran angin yang lembut namun dingin. Biar kutuangkan cerita malam pasar bubrah ini ke dalam zona mimpi. Hingga tak sadar, aku sudah masuk ke alam sadarku, kemudian aku bermimpi.....

Bersambung...



Resensi Buku Hijrah Bang Tato Karya Fahd Pahdepie


Judul : Hijrah Bang Tato
Penulis : Fahd Pahdepie
Penerbit : Bentang Pustaka, Oktober 2017
Tebal : 246 hlm


Barangkali kita tersesat, mencari-cari jalan keluar dari hutan yang begitu lebat—rumput-rumput yang liar, juga lintah yang menerka. Kau tak tahu, kapan kau bisa keluar dari sana, hanya meratap pada nasib yang membawamu ke tempat itu. Lantas, tanpa dinyana, saat engkau berjalan tiba-tiba ada sosok orang penuh cahaya, membantumu keluar dari ketakberdayaan  dirimu dalam hutan yang liar tersebut—merangkul pundakmu, mengulurkan tangannya. Hingga kau sadar, bahwa tersesat di tempat tersebut malah membuat dirimu semakin lemah hari demi hari—bisikan-bisikan dari sosok cahaya tersebut. Walaupun kamu tahu, disitu merupakan tempat yang cukup liar untuk mengasah dirimu menjadi lebih kuat—lemah iman, kuat badan. Pada akhirnya, kamu keluar dari hutan tersebut dan menjadi sosok manusia seutuhnya. Menghirup udara segar dengan pertolongan Tuhan lewat sosok orang yang penuh cahaya disampingmu.

Fahd Pahdepie, sosok manusia yang begitu humanis menolong orang yang membutuhkannya. Disaat orang itu telah melihat kegelapan dunia dalam setengah hidupnya, Fahd mencoba memberikan penerangan dalam kehidupan seseorang, seseorang yang merasa bahwa kehidupan tak lagi berpihak padanya. Lalan, atau kerap dipanggil Bang Tato adalah orang yang mencicipi sekelebat atau bahkan hampir banyak kekejaman dunia, mulai dari tawuran, dunia preman, hingga masuk penjara. Kerasnya hidup melatih dirinya untuk menjadi pribadi yang digdaya. Hingga pada suatu hari ia meraih puncaknya, memiliki beberapa geng yang ia pimpin, memiliki sebuah band. Tak cukup dari itu, Lalan dengan banyaknya tato di tubuhnya, ia pun juga mendapat pekerjaan menjadi tukang tato. Penghasilan yang ia  dapat cukup untuk mengirimkan beberapa receh uang untuk keluarganya—kakek dan neneknya. Karena ia di besarkan oleh kakeknya, ayah dan ibu nya cerai. Dengan kehidupan yang ia jalani waktu itu, tentu tak harus  ada yang dirubah dalam hidupnya. Memiliki beberapa geng dan band, menjadi seorang tukang tato dan mendapatkan penghasilan yang cukup. Namun, ada satu hari yang membuat ia ingin keluar dari kehidupannya itu, hari saat semua tak lagi cerah—gelap menerka tubuhnya.

Saat dirinya pulang ke kontrakannya, ia mencoba memejamkan matanya. Namun naas, saat tertidur ia bermimpi tentang kematian. Saat raganya tertinggal sendirian di dalam kuburan, dalam tumpukan tanah yang memisahkan dirinya dengan berbagai orang yang ia sayangi. Saat kejamnya malaikat menanyakan pertanyaan, saat raga ini tak bisa lagi meminta kehidupan yang kedua. Lalan terbangun dari mimpinya dengan keringat basah—saat itu ia ingin melepas kehidupannya yang dulu. Lantas, yang ada dipikirannya saat itu hanyalah Sholat. Sayangnya, tak begitu mudah bagi Bang tato untuk mencoba hijrah dengan sholat, ketika ia  sampai di depan masjid, tak satupun orang yang membolehkannya sholat, terutama para ustadz. Hingga ustadz tersebut bilang, “percuma juga kalau kamu shalat, tidak akan di terima sama Allah”. Namun dengan seperti itu Lalan tak pernah menyerah dalam perjalananya menuju hijrah, hingga pada akhirnya ia bertemu seseorang ustadz yang memperbolehkannya sholat.

Uniknya lagi, dalam perjalanan hijrahnya, ia dipertemukan oleh sosok orang yang kita kenal sebagai penulis buku Tak Sempurna, Perjalanan Rasa, Hidup Berawal Dari Mimpi, hingga Jodoh yang telah menjadi best seller. Sebuah keunikan tanpa adanya kebetulan, karena saya terkadang percaya, bahwa kebetulan itu tidak ada, pasti ada skenario dibalik semua itu—skenario Allah. Ialah Fahd Pahdepie, sosok yang kerap dikenal dengan prestasinya, juga karyanya. CEO inspirasi.co sekaligus pemilik Father and Son Barberspace ini dipertemukan oleh sosok Lalan, Bang Tato. Alih-alih Bang Tato ingin mencari pekerjaan waktu itu, karena waktu itu ia telah memiliki istri dan juga satu anak, anak dari istrinya. Dan ia juga berjanji kepada istrinya untuk tidak kembali ke kehidupannya yang kelam. Ia dipertemukan oleh sosok Fahd, sang pencerita. Pertemuan itu tak hanya menghasilkan pekerjaan bagi Bang Tato, lebih dari itu. Fahd yang memang kerap mendengarkan cerita dari Bang Tato paham betul dengan masa lalunya. Fahd pun juga percaya, bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, tak peduli seberapa kelamnya masa lalu. Bukankah setiap orang juga memiliki masa depan yang patut ia perjuangkan?. Mereka berdua pun tenggelam dalam tumpukan cerita-cerita—yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah novel oleh Fahd.

Lalan yang makin hari makin nyaman dengan kondisi hijrahnya, karena ia pun akhirnya mendapatkan pekerjaan menjadi barista di tempatnya Fahd. Walaupun pada awalnya, ia sempat kikuk menghadapi keadaan yang tak biasa ia hadapi. Bertemu dengan orang-orang pada umumnya, tanpa kekerasan, memakai pakaian rapi, juga bertegur sapa dengan sopan. Waktu telah membawa Lalan dengan begitu nyaman dalam kehidupan barunya. Fahd yang melihat nya pun menjadi senang, karena ia sebagai manusia sudah sepatutnya membantu sesama manusia lain yang sedang mengalami kesusahan, entah dari segi rezeki maupun dari segi iman. Fahd begitu sangat humanis kala membantu Bang Tato keluar dari kehidupan masa lalunya. Tidak heran jika beliau kerap menyabet berbagai prestasi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Terbukti, mahasiswa Monash University, Australia ini baru saja kemarin menghadiri Singapore Writers Festival 2017.

Novel ini berdasarkan kisah nyata. Dikemas dalam bahasa yang ringan oleh Fahd Pahdepie, sehingga nyaman untuk dibaca. Tentu saja, narasumbernya langsung dari orang yang mengalaminya, yaitu Bang Tato. Pada awalnya, Fahd hanya mencoba iseng menuliskan cerita-ceritanya bersama Bang Tato lewat platform yang ia bangun, yaitu inspirasi.co (jika kamu ingin membacanya, cobalah saja buka inspirasi.co/fahdpahdepie). Hingga pada akhirnya, salah satu penerbit ternama, yaitu Bentang Pustaka meliriknya dan mencoba untuk membukukannya. Beruntunglah bagi kalian yang sudah mendapatkan buku Hijrah Bang Tato karya Fahd Pahdepie.

Fahd juga percaya, selain adanya kesempatan kedua untuk setiap orang, juga masih banyak orang-orang seperti Lalan yang terjebak dalam kehidupan gelapnya, orang-orang yang menyana bahwa kehidupan sudah tak ada artinya bagi mereka. Sehingga yang mereka lakukan hanyalah membuang hidupnya sia-sia dengan melakukan tindakan bodoh. Hidup selalu mengarahkan kita, tak peduli seberapa tersesatnya kita. Tak peduli seberapa buruk perlakuan yang telah kita berikan kepada kehidupan. Barangkali, kita selalu berprasangka bahwa tak ada lagi jalan bagi orang-orang yang telah melakukan kejahatan, carilah jalan lain!. Tidak mungkin Allah memberikan ujian melewati batas kemampuan manusia. Karena selalu ada jalan bagi mereka yang ingin berusaha. Berusaha untuk keluar dari kehidupan gelapnya, berusaha dari segala apapun. Tak pernah ada sesuatu yang mencoba menghambat kita selagi kita mau mencoba untuk berusaha.

Dan Bang Tato membuktikan bahwa setiap orang yang memiliki masa lalu yang kelam berhak  untuk mendapatkan masa depan. Bang Tato membuktikan bahwa jalan selalu ada bagi mereka yang mau berusaha. Lewat tulisan Fahd, kita tahu tentang cerita Bang Tato dalam mengarungi kerasnya kehidupan yang sempat berpaling darinya.




Resensi Buku Konspirasi Alam Semesta Karya Fiersa Besari

Judul   : Konspirasi Alam Semesta
Penulis : Fiersa Besari
Penerbit : mediakita, 2017
Tebal   : 235 hlm

Akankah alam semesta yang kita tinggali diam saja terhadap aktifitas yang kita lakukan sehari-hari? Tentu saja tidak. Alam semesta selalu ikut andil dalam setiap langkah yang kita ambil. Begitu pula dengan apa yang dirasakan oleh kedua insan ini, yaitu Juang Astrajingga dan Ana Tidae. Pertemuan mereka yang pertama, dilatari dengan toko buku dan siluet senja yang merdu, begitu menggoyahkan hati seorang Juang untuk mengetahui lebih dalam tentang Ana. Juang pun hanya diam setelah pertemuan itu, berharap ada pertemuan lagi dengannya— bintang pujannya.

Selang beberapa hari, alam semesta ternyata memang sangat baik. Pertemuan dua insan itu terjadi lagi. Juang yang bekerja sebagai jurnalis ditugaskan untuk meliput Shinta Aksara, seorang sinden yang pernah mengharumkan nama bangsa di mancanegara. Dikarenakan Shinta sudah meninggal, maka Juang ditugaskan untuk mewawancarai anaknya. Dan tak disangka-sangka, anak dari Shinta Aksara  ternyata adalah Ana Tidae. Konspirasi macam apa yang telah dilakukan oleh alam semesta sehingga mempertemukan mereka kembali? Semenjak itulah, Juang tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh alam semesta—untuk Ana Tidae dari alam semesta.

Namun, alam semesta masih saja menyimpan berbagai banyak hal tentang mereka berdua. Banyak hal yang benar-benar tidak pernah disangka akan datang begitu saja. Pada Juang seorang Jurnalis yang kebetulan mencintai petualangan, dan juga pada Ana seorang mahasiswi yang berjuang menggapai mimpi-mimpinya.

Konspirasi macam apa lagi yang akan diberikan semesta kepada mereka berdua?Sila beli buku bung Fiersa Besari ini di gramedia terdekat maupun toko buku online yang kalian percaya dan temukan konspirasi-konspirasi apalagi yang akan dihadapi oleh Juang dan Ana.


Selain tulisan yang  disajikan, juga ada musik yang dapat didengarkan di setiap bab nya melalui bar code. Saranku, bacalah buku ini sambil mendengarkan album konspirasi alam semesta, maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

gambar dari bukukita

Back To Top