Review Film Bumi Manusia: Antara Kata dan Visual - Perjalanan Adibio Review Film Bumi Manusia: Antara Kata dan Visual

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Review Film Bumi Manusia: Antara Kata dan Visual

Sontak para penonton sangat kaget karena sebelum menikmati film harus berdiri terlebih dahulu untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia: Indonesia Raya. Jantung pun berdegup kencang dan gemetar hingga menuju kepala. Getaran rasa bangga menyelimuti seluruh tubuh saat mendengar lagu Indonesia Raya bergema di dalam studio bioskop. Walaupun begitu, ada satu dua penonton yang terlihat tidak bangga akan diputarnya lagu Indonesia Raya. Terlihat sekali bahwa ia malas untuk berdiri, namun pada akhirnya ia ikut berdiri untuk menghormati yang lainnya. Mungkin dalam hatinya berbunyi seperti ini, "Alah ngapain sih mau nonton bioskop doang pake harus nyanyi-nyanyi segala? berdiri lagi orang udah enak duduk".

Film pun diputar dan kita semua terhanyut dalam cerita karya sastrawan besar kita, Pramoedya Ananta Toer yang dikemas dalam sebuah film karya Hanung Bramantyo. Sungguh aneh rasanya harus melihat secara visualisasi tentang diksi Pram yang sangat indah di dalam imajinasi masing-masing setiap pembacanya. Pram menggambarkan dengan sangat indah ketika Minke terlihat pucat karena harus berada di rumah seorang Eropa yang sangat besar. Annelies pun bertanya kenapa Minke terlihat pucat. Mendapat pertanyaan tersebut Minke langsung berucap bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang dewi cantik, kemudian Annelies berpura-pura bertanya siapa yang dimaksud dewi oleh Minke. Lalu tanpa ragu Minke mengucap bahwa dewi yang ia maksud adalah Annelies. Annelies pun kembali bertanya kepada Minke sebagai bentuk penegasan bahwa ia memang dibilang cantik oleh Minke. Tanpa ragu, Minke pun menjawab dengan dua kata yang sangat indah, "tanpa tandingan". Tiba-tiba saja Annelies memanggil mamanya dan membuat Minke terkejut, takut akan dimarahi oleh mamanya Annelies, yaitu Nyai Ontosoroh. Terbayang begitu indah jika kita memandangnya dengan imajinasi yang tidak ada batasnya. Terlebih hal ini terjadi ketika masa kolonial, saat bangsa Indonesia sedang dijajah dan rasanya sulit untuk mendekati seorang Indo apabila kamu seorang Pribumi. 

Dalam film Bumi Manusia digambarkan bahwa Minke yang diperankan oleh Iqbal menatap dalam-dalam sosok Annelies yang diperankan oleh Mawar Eva de Jongh. Saat Iqbal mengatakan bahwa Mawar merupakan sosok orang yang secantik dewi, kedua orang tersebut saling bertatapan satu sama lain. Namun saat Iqbal bilang tanpa tandingan, ia mendekatkan kepalanya di telinga sebelah kanan Mawar dan mengatakan kalimat tersebut dengan cara berbisik. Sontak imajinasi kita yang telah terbangun sebelumnya akan hancur seketika dengan penggambaran seperti itu. Karena kita tahu, membaca kata selalu membawa kita kepada ruang-ruang yang berbeda. 

Tidak hanya pada scene itu saja, scene yang lainnya seperti ketika Robert Mellema tidak menerima seorang Pribumi seperti Minke datang ke rumahnya, Herman Mellema yang memarahi Minke saat sedang makan malam bersama Annelies, Robert Suurhof, Robert Mellema dan Nyai Ontosoroh serta scene ketika Minke sedang berdebat dengan Sarah de La Croix dan Miriam de La Croix. Bahkan peristiwa ketika Robert Mellema sedang berbicara dengan Minke tentang keinginan Robert untuk pergi dari rumah dengan berlayar tidak tertuang dalam film. Aku rasa ketika orang banyak yang berkata bahwa Iqbal tidak pantas memerankan Minke, justru aku bertanya-tanya tentang peran Robert Mellema yang dimainkan oleh Giorgino Abraham. Rasanya imajinasiku benar-benar hancur tentang peran Robert Mellema yang seharusnya terlihat sangat garang dan ganas. Sayangnya, ekspresi Giorgino saat pertama kali melihat Minke terlihat biasa saja, yang kuingat hanya ia meludah ke kiri.

Setiap novel yang dijadikan film seringkali membuat kecewa para penonton yang telah membaca novel tersebut. Bagiku, aku memang sebenarnya kecewa karena imajinasiku benar-benar dimainkan begitu saja oleh sebuah visualisasi. Namun di sisi lain, aku juga sangat mengapresiasi adanya film Bumi Manusia ini karena akan memperkenalkan dunia sastra kepada negara Indonesia yang katanya minat literasinya rendah. Dengan dimulainya film ini, tentu akan ada banyak orang yang penasaran akan cerita aslinya di novel. Terbukti, akhir-akhir ini sebelum film Bumi Manusia rilis banyak sekali toko-toko buku online ataupun offline yang memperbanyak stok buku Bumi Manusia demi memuaskan hasrat masyarakat Indonesia.

Dari semua pemeran yang ada di film Bumi Manusia, rasanya aku sangat menyukai sosok Nyai Ontosoroh yang diperankan oleh Sha Ine Febriyanti. Ine Febriyanti berhasil mencampur adukkan perasaanku sedari awal film hingga akhir film. Menurutku ia sukses memerankan Nyai Ontosoroh dengan baik. Aktingnya ketika memarahi balik Herman Mellema ketika mengatai Minke sebagai monyet benar-benar emosional. Tatapan mata Ine Febriyanti sangat tajam dan suaranya sangat parau, persis seperti yang digambarkan oleh Pram di novel. Terlebih akting Ine Febriyanti di akhir film ketika sedang menjalani persidangan Eropa. Ia benar-benar sangat ekspresif dalam menggambarkan penindasan orang Eropa terhadap Pribumi. Ia bahkan juga ikhlas menerima kekalahan ketika sudah tidak ada harapan atas semua masalah yang ia hadapi. Sampai pada akhirnya, kalimat pamungkas Pram yang beliau taruh di akhir novel benar-benar ngena ketika dimainkan oleh Ine Febriyanti. 

Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Ringkasannya, pada awal film ini memang sempat membuat aku ngantuk karena terlihat seperti roman picisan antara Iqbal dan Mawar. Bahkan ada adegan yang sebenarnya terlihat sedih saat di buku namun ketika melihat ekspresi Iqbal justru penonton tertawa. Satu lagi, rasanya adegan antara Jean Marais dan Minke terlihat kurang. Harusnya percakapan antara kedua sahabat tersebut terdengar intim. Pada akhir film ceritanya baru menegangkan dan hampir membuat air mataku jatuh ketika melihat perjuangan Minke dan Nyai Ontosoroh melawan hukum Eropa.

Terlepas dari semua itu, adegan yang sangat aku favoritkan sejauh ini adalah adegan ketika flashback menceritakan bagaimana Nyai Ontosoroh atau Sanikem bisa menjadi gundik dan berada dalam genggaman Herman Mellema. Flashback terlihat sangat rapi dan menyenangkan. Juga adegan ketika Minke berdiskusi dengan Miriam de La Croix dan Sarah de La Croix. Aku kira adegan tersebut tidak akan dituangkan ke dalam film seperti halnya adegan percakapan antara Robert Mellema dengan Minke. Namun tak disangka-sangka, adegan tersebut dibuat flashback oleh sang sutradara, Hanung Bramantyo.

Aku rasa, orang yang tadi malas berdiri ketika lagu Indonesia Raya berkumandang akan merasa malu setelah melihat fim Bumi Manusia.

Kalau boleh aku menilai film ini, rasanya aku akan menilainya dengan 7,5/10. Terima kasih.


Labels: Sastra

Thanks for reading Review Film Bumi Manusia: Antara Kata dan Visual. Please share...!

0 Komentar untuk "Review Film Bumi Manusia: Antara Kata dan Visual"

Back To Top