Perjalanan Adibio: Perjalanan Rasa | Kelana Lara Perjalanan Adibio: Perjalanan Rasa

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Perkara Runyam di Tengah Malam

Malam telah jatuh tepat saat manusia sudah tidak lagi merasakan peluh. Kerja kerasnya selama satu hari telah terbayar penuh dengan melihat orang-orang yang disayangnya tersenyum sembari berbagi cerita tentang apa saja yang sudah dilakukan seharian ini. Dunia serasa damai, tak ada pertikaian yang berani menghinggapi suasana seperti itu. Sementara pada sudut kota lain, pertikaian nyatanya hinggap kepada sepasang kekasih yang sedang meributkan tentang hubungan mereka akhir-akhir ini. Chat seringkali tak pernah berbalas dengan cepat padahal sang perempuan telah menunggu cukup lama. Si perempuan mengira bahwa kekasihnya sedang chat-an dengan orang lain sehingga si perempuan langsung marah terhadap kekasihnya pada waktu itu. Pertikaian memang tidak pernah indah, namun akan tetap berakhir dengan kedamaian apabila diselesaikan dengan kepala dingin. Malam telah jatuh ketika manusia berdamai dan bertikai--memunculkan sumringah dan gundah di hati.

Malam belum jatuh kepada seorang pemuda yang sibuk menertawakan kertas kosong dihadapannya. Sedari tadi pukul 11 malam si pemuda sudah menggenggam pena di tangan kanannya dan kopi di tangan kirinya, katanya sudah bersiap-siap untuk membuat sebuah mahakarya yang akan menggemparkan dunia melalui aksara. Fokusnya pun sudah tidak main-main. Panggilan dari temannya untuk bermain Mobile Legend pun ia hiraukan. Tak peduli dengan rank nya yang saat ini masih Epic dan teman-temannya sudah Legend. Sangking fokusnya terhadap karya, pikirannya masih tertuju kepada sesuatu yang semu, sementara sang pena telah siap untuk berlaga.

Kini jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Pikirannya masih kosong begitu juga dengan kertas  yang ada dihadapannya. Waktu sudah berjalan selama 3 jam namun tak ada satu  pun aksara yang hinggap di atas kertasnya. Beberapa kali si pemuda tersebut mencoba untuk menggerakkan pena namun ia hentikan sekejap karena tatanan kata yang akan diuraikan masih melayang-layang di udara. Kalimat pun tidak pernah jadi dan ia masih termangu kepada televisi yang menayangkan FTV. 

Ah, andaikata menyusun skrip semudah menyusun obrolan di dalam adegan FTV, tentu aku sudah menyelesaikan karya ini menjadi sebuah cerpen. batin pemuda dalam hatinya.

Nyatanya, ia pun kalah dengan FTV yang berhasil membuat skrip dan menyelesaikannya. Berbeda dengan pemuda ini yang sedari tadi hanya mutar-mutar tak tentu arah, lalu pada akhirnya balik lagi ke tempat yang sama. Tak pernah ada kata selesai di dalam kamus pemuda itu malam ini. Pikirannya masih runyam tentang kata apa yang harus disusun untuk sebuah karyanya. Apakah kata pertamanya harus memakai "pada dahulu kala", "pada suatu hari", atau "malam telah jatuh". Pertanyaan-pertanyaan berdatangan seiring pikirannya yang masih semrawut.

Kini si pemuda tersebut berusaha untuk menangkap suatu hal yang tiba-tiba terlintas di pikirannya. Ia memikirkan bagaimana seandainya apabila manusia dapat melakukan time travel persis seperti yang dilakukan di dalam film Avengers: Endgame?. Mungkin tidak akan ada lagi perasaan seorang laki-laki yang patah hati karena tidak diterima oleh sang pujaan hati. Ia tinggal melakukan time travel menuju 5 atau 6 tahun sebelumnya dan mempelajari apa saja yang membuat sang pujaan hati dapat memberikan kasih sayang kepadanya. Mencari tahu tentang barang kesukaannya, ceritanya di masa lalu, dan apa saja yang harus dilakukan agar tidak ditolak. Setelah tahu tentang semuanya, maka ia tinggal kembali ke masa sekarang dan kembali menyatakan perasaan. 

Pikirannya masih terbang kemana-mana dan kali ini hinggap ke pembahasan yang agak serius. Sebelumnya pemuda ini sempat bertanya-tanya tentang bagaimana dunia ini jikalau tidak ada agama? Apakah dunia ini akan berjalan damai dan tidak ada pertikaian dimana-mana yang mengatasnamakan agama? Apakah hanya kasih sayang yang tersebar dan tiada kebencian sesama manusia? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang kali ini menguasai pikiran seorang pemuda tersebut. Maklum saja, belakangan ini kerapkali terjadi pertikaian yang mengatasnamakan agama. 

Padahal kalau hematku, namanya agama ya tidak ada yang mengajarkan permusuhan satu sama lain. Sesama manusia ya harusnya saling menyayangi wong kita sama-sama diciptakan dari tanah masa ndak bisa rukun. ungkap si pemuda ketika terjebak di dalam diskusi agama dan manusia bersama teman tongkrongannya.

Lelah, pemuda ini pun terasa berat sekali otaknya. Sedari tadi berpikir namun masih saja kertasnya kosong dan sang pena yang dijadwalkan berlaga pada pukul 11 malam tadi harus ditunda dalam waktu yang tidak ditentukan. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 dini hari dan akhirnya sang pemuda ini terlelap di dalam mimpi. 

Malam jatuh di saat sang fajar sedang menanti-nanti sang pujaan untuk menjemputnya. Direkamnya segala runyam yang terjadi di tengah malam, lalu dilaporkannya ketika sang fajar sudah bertugas di pagi hari. Malam tak pernah jatuh kepada seseorang yang terus berusaha untuk menangkap apa saja yang direkam oleh sang fajar pada tengah malam.

Bangun-bangun, sang pemuda langsung  dapat menuliskan sebuah kalimat yang menurutnya sangat bagus setelah semalaman dipikirkan,

"Tetaplah bermimpi walaupun yang lainnya sudah terlelap dalam mimpi".

gambar dari unsplash.com

Kritis Waktu

Waktu berlalu sedang kita masih menatap masa lalu. Tak tahu hendak kemana layar kapal akan mengadu. Terdiam saja, terombang-ambing oleh sang ombak yang kian gerutu. Kini, cakrawala surgaloka hanya dongeng belaka. Tangisan demi tangisan terus mengalir dan bersatu dengan samudera yang menciptakan ombak begitu deras. Sedang di dalam kapal, segerombolan manusia sedang mengadu nasib hendak menentukan arah mereka kemana. Kini, angin bertiup kencang dari arah barat membawa kabar berita bahwa tak akan ada lagi impian yang tersisa di tengah samudera yang penuh dengan omong kosong belaka. Terjebak, terperangkap dalam sesak langkah sendiri, sehingga menuju ke ruang gelap tanpa ada lentera satu pun yang menerangi. Kau tahu, impian yang tak diperjuangkan dan hanya mengapung di atas samudera adalah impian yang hina.

------

Melangkah tanpa gerak, hanya suara detik jarum jam yang kian gemertak. Waktu kian berjalan, sedang langkahku tetap saja terhenti di suatu jalan, tepatnya jalan Pahlawan. Terpaku dengan dunia yang sudah aku lewati bertahun-tahun dengan pikiran yang entah kemana arahnya. Sedang mata ini menatap beberapa pedagang yang berusaha banting tulang untuk mendapatkan nafkah demi menghidupi anak dan istri. Entah berjualan apa saja, tahu gimbal hingga jagung susu keju (jasuke). Ku biarkan langit malam melunakkan hatiku sejenak untuk memikirkan tentang apa saja yang telah aku lalui bertahun-tahun. Barangkali selama ini aku melakukan hal-hal yang tidak berarti, atau mungkin ada satu hal atau beberapa hal yang mempunyai arti. Ku simpan segala hal yang pernah ku lalui, lalu aku mencoba untuk meresapi semuanya, ditemani hangatnya sinar rembulan.

Melihat ke belakang sebelum menatap masa depan adalah sesuatu hal yang aku lakukan malam itu. Sebelum pada akhirnya aku menyadari bahwa tak semua manusia mampu memalingkan wajah mereka langsung tatkala menatap masa lalu. Ada juga beberapa manusia yang terjebak dalam masa lalu sehingga mereka tidak bisa memalingkan mukanya ke masa depan. Yang terjadi, ia akan terus menetap di satu tempat, dan tidak akan bergerak sama sekali. Ia akan terlihat seperti orang yang bingung menentukan arah langkahnya ke depan, lalu hanya meratapi masa lalu dengan segelintir kemenangan yang telah ia miliki. Barangkali, aku termasuk ke dalam orang seperti itu. Malam itu, tepat di tengah kota, langkahku mencoba bergerak namun dihentikan oleh pikiranku yang berpijak di masa lalu. Waktu terus berjalan, dan aku dihipnotis olehnya.

Setiap manusia kerapkali menyalahkan waktu, mungkin saja termasuk aku. Ia dengan kejamnya membiarkan manusia meratapi segala penyesalannya. Dan pada akhirnya, banyak sekali manusia yang menyerah pada waktu. Terdiam, merenungi, tidak melakukan apa-apa, dan tetap saja, waktu akan terus berjalan tanpa menunggu manusia semacam itu. Malam itu, tentu saja aku sangat menyalahkan waktu. Bagaimana tidak, aku belum mengarahkan layar kapalku hendak kemana, sedang waktu tidak memberikan kesempatan bagiku. Persetan dengannya, biarkan saja aku terombang-ambing di tengah kejamnya malam tanpa sinar rembulan. Aku tersiksa, terperangkap oleh jebakan diriku sendiri.

Aku tetap berusaha untuk memalingkan wajahku kepada masa depan. Menatap masa lalu terlalu lama tentu tidak baik untuk manusia. Bukankah banyak yang bilang, kalau hidup ini seperti menaiki mobil? Kaca spion hanya berbentuk kecil, sedang kaca di depan sangat besar. Kita harus melihat ke belakang, namun jangan terlalu banyak. Sebab, kamu harus fokus ke depan agar tidak menabrak. Itulah, barangkali perumpamaan yang kerapkali kau dengar di pinggir jalanan. 

Layar kapal sudah berkibar, nahkoda hendak memutar setirnya. Sedang otakku masih saja terpaut dengan masa lalu yang kian menghantui. Bukankah seharusnya menatap masa depan adalah hal yang sangat mudah? Lalu mengapa waktu tetap membiarkan aku terjebak di dalam perangkapnya?. Langkah masih saja bergerak tak tahu arah, mata masih saja menatap para pedagang, sedang tangan mencoba meraih sesuatu, entah apa itu, namun tangan ini terus bergerak di antara angin;hendak mencari sesuatu.

Pikiranku sangat kacau malam ini. Andaikan saja roda pengendali waktu dapat aku temukan. Namun tak kunjung jua. Aku akhirnya menyerah kepada waktu dan berdiam diri mematung, tak tahu apa harus melangkah kemana untuk menuju masa depan.

-------

Waktu begitu kejam, kehidupan kian temaram. Lalu mengapa kau terus berdiam? Bukankah masih ada impian-impian lain yang masih mengambang di tengah samudera sana? Bukankah kamu seharusnya mengibarkan layar kapalmu, merumuskan segala sesuatunya, lalu menjemput impianmu? Lalu mengapa kamu terus mengiba-iba kepada sang waktu, seolah-olah ialah yang lebih mengetahui segalanya ketimbang pikiranmu?. Ah, dunia tetap saja berputar, mengikuti perintah dari sang waktu. 


Semarang, 05 April 2019

Gambar dari google





Dua Jenis Manusia Saat Hujan

Ada dua jenis manusia tatkala hujan: yang satu sedang menatap hujan dari jendela, yang satunya lagi sedang bermain hujan-hujanan dengan mata yang sembap. Keduanya sama-sama pintar dalam menyembunyikan kesedihan.

Barangkali kesedihan tak melulu soal air mata dan rapuh. Di dalamnya, terdapat berbagai macam keindahan warna yang dapat dilihat dari segi yang berbeda, seakan-akan kita akan melihat bahwa kesedihan juga patut dirayakan seperti halnya kebahagiaan. Air mata yang jatuh dari pelupuk matamu dapat menyuburkan tanah kenangan, membasuh rasa lelahmu, dan pada akhirnya akan memunculkan sosok pelangi yang berada di bola matamu, seperti kata Jamrud dalam lagunya. Tak hanya perpaduan hujan serta sinar matahari saja yang mampu memunculkan pelangi, perpaduan air mata dan cahaya mata pun juga dapat memunculkan pelangi. Merayakan kesedihan tentu adalah ritual yang terdengar sangat anomali. Tak pernah ada kesedihan yang menyenangkan; ia selalu membuat hati manusia remuk. Kehilangan adalah salah satu kesedihan yang teramat sangat membungkam raga dan rasa. Ikhlas adalah salah satu cara bagaimana menyikapi sebuah kehilangan itu sendiri. Merelakan yang pergi, berdoa yang terbaik untuknya, dan berharap suatu saat nanti dapat mengenangnya dengan sangat khidmat. 

Kesedihan patut di sama ratakan dengan kebahagiaan. Sudah banyak sekali orang-orang yang mencari kebahagiaan dengan definisi-definisinya masing-masing. Namun, tak ada satu pun di dunia ini yang mencari kesedihan. Kesedihan seakan-akan dilupakan begitu saja. Kebahagiaan selalu dikenang, sedangkan kesedihan selalu dikekang. Hingga suatu hari, saat masa kekangnya sudah habis, kesedihan itu akan keluar dari kandangnya dan mengetuk pintu hati manusia, seraya berkata.

"Saat lelah mencari kebahagiaan, aku disini, di ujung sepi, menanti".

Aku hendak merayakan kesedihan hari ini. Di jantung kota, aku lihat orang-orang sedang sibuk beraktifitas. Hingga akhirnya hujan turun. Orang-orang sibuk berlarian untuk menghindari hujan. Kesana kemari mencari tempat yang dapat dijadikan naungan. Aku pun yang tadinya hendak melantunkan bait-bait kesedihan akhirnya merapat terlebih dahulu di sebuah kedai kopi, kemudian memesan espresso dan menyeduhnya dengan sangat khidmat. Menyeduh kopi ketika hujan tentu merupakan pilihan yang tepat bagi para penikmat patah hati juga perindu suara hati. Ku seduh kopiku secara perlahan, dan tak sengaja aku melihat satu orang berjalan begitu santai di bawah hujan sembari memaksakan sebuah senyuman teruntai di bibirnya. Ia berjalan seakan-akan tak terjadi apa-apa. Dibiarkannya hujan untuk menghapus langkahnya serta segala hal yang telah ia lewati. Aku pun sempat bingung, apa yang ia lakukan di tengah hujan deras seperti ini?.

Kopi espresso masih nikmat seperti biasanya. Sedikit hambar namun berasa melengkapi hatiku yang baru saja patah akibat ulah seseorang. Aku mungkin tak perlu hari perayaan patah hati, sebab, merayakan patah hati bisa kapan saja. Merayakan kesedihan merupakan hal yang menyenangkan bagiku. Berdamai dengan diri sendiri, lalu sesekali merangkai aksara, dan tak lupa menghirup udara serta bersyukur karena Tuhan telah menciptakan kebahagiaan dan kesedihan. Tanpa kesedihan, manusia akan terlampau buruk karena hanya kesenangan tanpa perenungan dalam kehidupan. Tanpa kebahagiaan, manusia akan berdiam diri saja karena terus menerus menitikkan air mata tanpa berjuang untuk kehidupan yang nyata. 

Ku seruput lagi kopiku, dan sesekali memperhatikan keadaan sekitar. Ku lihat di pojok kedai kopi ada seseorang yang menatap hujan dari jendela dengan melamun. Ia sangat khidmat menikmati rintikan  demi rintikan yang jatuh dari bumi. Hanya menatap, tanpa melakukan hal yang lainnya. Entahlah apa yang ia lakukan, aneh sekali. Aku biarkan saja orang itu, tak peduli juga. Aku mulai fokus kepada perayaan kesedihanku dengan menuliskan berbagai kata di atas kertas. Masih teringat jelas sewaktu seseorang yang aku cintai hilang begitu saja tanpa ada kabar. Sesak dalam gelap, berteriak dalam terang. Hancur rasanya kehilangan sesuatu yang kita cintai. Merayakan kesedihan adalah salah satu cara agar dapat kembali mengumpulkan puing-puing hati yang telah hancur. Berdisko sesuka ria dengan kata-kata dan berpesta di ujung pelangi. Sudah selesai aku menuliskan sajak patah hati, aku hendak keluar dari kedai kopi walau hujan masih turun ke bumi. Saat hendak keluar, aku memperhatikan orang di pojok kedai kopi itu yang masih saja menatap hujan dari balik jendela. Sudah berapa lama ia seperti itu? Aneh.

Lantas aku coba menerjang hujan untuk pergi ke sebuah supermarket, membeli beberapa makanan untuk malam nanti. Seketika saat keluar dari supermarket ada sesuatu yang aneh dalam pandanganku. Ialah sosok manusia yang berada di pojok kedai kopi dengan sosok manusia yang bermain hujan-hujanan tadi saling berhadapan lalu saling berpelukan di bawah derasnya hujan.

Mari sebarkan kesedihan di muka bumi ini. Agar air mata berfungsi sebagaimana mestinya. Agar awan tak sendiri meneteskan air ketika hujan turun. Agar bumi dapat menghapus air matamu dengan senandung manisnya. Agar kamu tahu, ada senyumku yang dapat menjadi pelipur laramu.


Ketika Imajinasi Tak Lagi Indah

Malam ini, aku tak menyempatkan diri ke dalam sebuah jurang imajinasi bersama para bajingan di pinggiran kota. Hampir setiap hari mereka selalu menyudutkan rasa yang tak berbalas, menyumpah serapahi segala yang bagi mereka hanya omong kosong belaka, serta sesekali mengumpat para wakil rakyat yang selalu tidur di kala rapat. Bagi mereka, tidur hanyalah ketika di dalam ruang kelas kuliah serta di kamar saja, selebihnya hanyalah omong kosong belaka. Di pinggiran kota, mereka menyenandungkan lagu-lagu pelipur lara dengan nada-nada khas dari masing-masing orang. Walau terlihat berbeda-beda nadanya, namun dari situ seolah-olah mereka menunjukkan bahwa walau berbeda nada mereka tetap satu jua--dalam irama satu lagu yang sama. Tak peduli siapa, tak peduli apa pangkatnya, sesekali orang-orang yang lewat dihadapannya diajak bersenandung bersama. Mereka tahu, hanya musik yang mampu menyembuhkan diri tatkala merasa lelah setelah beraktifitas seharian penuh. 

Aku masih saja berdiam diri dihadapan kertas kosong sembari memikirkan apa yang harus aku tuliskan untuk hari esok. Ya, aku memiliki kebiasaan untuk sebisa mungkin menyiapkan tulisan untuk bumi ini esoknya, dan esoknya lagi. Hal itu aku lakukan supaya bumi ini tak hanya memakan omong kosong, perpecahan, kemungkaran, serta kebencian saja. Bumi butuh kata-kata yang harus ia cerna agar tetap terjaga dalam kewarasannya. Tanganku baru saja hendak mengambil pena dan mulai menulis di atas kertas kosong. 

Imajinasiku kemana-mana, berterbangan ke daerah satu ke daerah lainnya. Melihat berbagai kejadian yang ada, mulai dari indahnya kebersamaan para bajingan di pinggiran kota hingga wakil rakyat yang sudah tidak merakyat. Lalu tiba-tiba saja, ada yang aneh dengan imajinasiku. Ia terlihat sangat terkejut ketika melihat di depannya ada sosok besar yang membawa borgol, kemudian imajinasiku diborgol dan dimasukkan ke dalam sebuah ruang berukuran 2x3 meter. Apa ini? Tempat apakah ini? Batin imajinasiku dalam hatinya.

Seketika itu juga pikiranku kosong. Imajinasiku terkekang dalam sebuah ruangan. Tatapan mataku entah mengarah kemana, tanganku tak bergerak sama sekali. Di atas kertas hanya masih bertuliskan kata "cinta" tanpa ada imbuhan di depannya. Ada apa ini? Mengapa tiba-tiba saja imajinasiku menuju ke dalam sebuah ruangan gelap tanpa cahaya sedikit pun. Ah, aku benci sekali dengan keadaan ini. Seketika itu juga, kurobek-robek kertas yang ada di depanku, kemudian aku buang di tong sampah. Tak ada tulisan untuk hari ini. Tak ada kata-kata untuk bumi cerna hari ini.

Aku pun berjalan mengitari kota dengan perasaan yang tak karuan. Meniti langkah demi langkah dengan tatapan kosong akibat tak menciptakan sebuah tulisan pada hari ini. Pikirku, sebagai hiburan di kala imajinasi yang terkekang di dalam ruangan gelap, aku hendak mengunjungi para bajingan yang di pinggiran kota sembari menyanyikan lagu-lagu dengan penuh kedamaian. Sesaat setelah hendak sampai di pinggiran kota, tak kulihat sama sekali para bajingan  yang biasanya bernyanyi bersuka ria di pinggiran kota. Aku telusuri lebih dalam, barangkali para bajingan berpindah ke tempat lain demi menciptakan suasana baru, nyatanya tak kutemukan sama sekali. Hingga tak kusangka, aku melihat selembaran kertas yang bertengger di ranting pohon di pojok sana. Aku coba membacanya dan seketika aku terhuyung lemas.

"Kau pikir wakil rakyat hanya tidur saat rapat? tidak. kami sedang memikirkan bagaimana bangsa ini maju dengan baik. Anda jangan semena-mena menuduh kami seperti itu. Ada baiknya anda harus memperhatikan apa yang anda tuliskan di lirik lagu yang anda nyanyikan. Mulai saat ini imajinasi anda akan kami kekang, dan ucapkan selamat tinggal kepada ruang pinggiran kota".

Dan aku sempat mengerti, mengapa di sebuah kedai kopi tadi imajinasiku terkekang di sebuah ruangan 2x3 meter.

#TolakRUUPermusikan





Sibuk Memikirkan Perasaan Dan Merasakan Pikiran

Jam dinding berdetak detik demi detik. Berjalan dengan suara jarum yang sangat khas di telingaku malam ini. Sembari menunggu pesanan takdir yang aku pesan dari seorang barista di sebuah kedai kopi, aku sedang melamunkan hal-hal yang sepatutnya tidak aku pikirkan. Berdiam terus berdiam tanpa ada ucap kata yang keluar dari mulut. Sedari tadi pikiran ini melayang-layang tak tentu arah, tanpa komando, tanpa perintah. Semua berjalan apa adanya, tanpa ada paksaan dan segala halnya. Andai kata pikiran ini dapat aku kekang dan aku masukkan ke dalam jeruji besi, mungkin aku tidak akan melamun tak tentu arah seperti ini. Pikiran hanya berdiam diri di pojokan jeruji besi, sembari menyeduh kopi atau menulis selama ia di balik jeruji besi tersebut. Namun tak bisa, pikiran ini selalu memikirkan hal-hal yang di luar dugaan. Sesekali muncul pikiran tentang hari kemarin, saat aku tak sengaja melihat seorang gadis pujaanku yang sedang lewat di hadapanku ketika ia baru saja selesai dari kuliahnya. Jantungku seketika langsung berdegup kencang, bumi ini seakan berguncang, dan tatapan mataku tak lepas dari seorang gadis yang sedang mengenakan kemeja hitam serta tangannya yang dihiasi dengan banyak gelang. Rasanya seperti jatuh hati yang membuat hari-hari akan berjalan indah. Tak peduli apa yang akan terjadi di depan. Yang aku rasakan adalah saat itu--tatap mataku yang tak sengaja di balas tatap mata olehnya.

Takdir yang aku pesan belum juga datang. Jemariku mengetuk-ngetuk meja seraya melihat jam dinding. Jam terus berubah, sementara rasaku terhadap kejadian kemarin sama sekali tak berubah. Entahlah, pikiran ini tak pernah terlepas dari perasaan itu. Barangkali, manusia memang ahli dalam menangkap perasaan senang yang masuk ke dalam sukmanya, atau barangkali sibuk memikirkan perasaan?

Di hadapannya tak tahu apa yang akan terjadi. Sedang disini manusia di kedai kopi tersebut tak henti-hentinya menunggu takdir yang ia pesan seraya memikirkan perasaan yang entah akan bermuara ke pelabuhan yang mana. Dengan secuil senyum yang terlintas di bibirnya, serta pandangan mata bahagia, manusia itu tak henti-hentinya memikirkan sesuatu yang belum pasti, namun sangat membahagiakan hati.

----------

Hujan sedang mesra-mesranya bercumbu dengan tanah bumi. Sedari tadi pagi hingga menjelang senja, rintikan hujan tak henti-hentinya menggaungkan rasa puasnya kepada sang bumi sehabis diizinkan oleh sang Pencipta untuk menumpahkan segala isinya. Orang-orang tak peduli dengan perasaan yang dirasakan oleh hujan ketika itu, yang mereka pikirkan hanya bagaimana caranya supaya dapat membeli pasokan makan sebelum datang hujan, atau berusaha secepat mungkin untuk dapat sampai ke rumah sebelum hujan menyapa. 

Barangkali kamu mau duduk bersamaku di sudut kota ini? Sembari meminum secangkir teh atau kopi lalu berbicara tentang hal apa saja yang terjadi di muka bumi ini? Baiklah, akan aku ceritakan sesuatu hal yang menarik bagiku akhir-akhir ini.

Barangkali sebagian kita pernah merasakan pikiran secara berlebihan. Dengan mendewakan kejadian-kejadian yang akan terjadi di depannya tanpa mengambil keputusan dengan tegas sehingga yang terjadi hanya omong kosong belaka dan pulang dengan tidak membawa apa-apa. Kemungkinan-kemungkinan yang akan mengakibatkan sesuatu rencana akan gagal selalu menghantui dirimu di setiap kamu hendak menjalankan sesuatu yang bagi kamu sangat menyenangkan dan dapat memuaskan hasrat kamu. Terlalu merasakan pikiran dengan segala logika yang menurut kamu adalah segalanya. 

Logika adalah nomor satu, sedang progres hanya omong kosong belaka. 

Di atas sana, awan sedang menari-nari di atas penderitaan kamu yang sedari tadi terlalu sibuk dengan pikiran kamu. Hanya diam saja, termenung, menyalahkan segalanya, hingga akhirnya kamu lelah dengan semua dan persetan. Aku sering mendengar bahwa seorang pebisnis selalu mengambil keputusan tanpa banyak pikiran. Terlalu banyak pikiran, bisnis itu tidak akan jalan sehingga yang terjadi kamu kembali kepada pemikiran kamu sendiri, yang entah bermuara kemana. Sungguh hal yang merugi bagi orang yang hanya ingin mendapatkan keuntungan di awal tanpa mau melakukan berbagai macam proses yang menghadang di depan. Percayalah terhadap mimpi serta langkah yang kamu ambil saat ini. Tatap kedepan, dan lakukan segala proses yang akan dijalani sehingga dapat berada di tempat mimpi kamu berada. Memikirkan terlebih dahulu memang sangat penting, namun terlalu banyak memikirkan tentu akan membuat suasana menjadi genting.

--------

Ah, ya, baru saja takdir yang aku pesan hinggap di atas mejaku. Sudah hampir beberapa jam aku menunggu namun tidak datang-datang jua. Hendak aku seruput takdir tersebut, namun tiba-tiba ada seseorang menghampiriku dengan sangat manis, lalu duduk dihadapanku.

"Maukah kamu berkompromi denganku?"ujar seseorang di depan dengan tatapan mata yang sangat kosong, serta rambut yang cukup berantakan. Entahlah, barangkali ia kekurangan tidur.


Semarang, 20 Januari 2019.




Kenangan dan Kemenangan

Ketika hujan sedang turun membasahi bumi, ingatanku berlarian ke arah kenangan yang telah kita jalani bersama. Aku masih ingat bagaimana kamu mengusap hidung kamu dengan jari-jari lentikmu, aku masih ingat bagaimana tatapan matamu mengarah tepat ke dalam mataku sehingga terekam jelas di dalam memori ingatanku. Hujan tampaknya selalu berhasil menunjukkan kenangan-kenangan semua manusia, atau mungkin hanya aku saja, entahlah. Sebab, setiap kali hujan banyak sekali  manusia-manusia yang dilanda kenangan yang begitu luar biasa, terutama diriku ini, yang sedang mengenangmu dengan dalam.

Kenangan menghidupkan manusia atau manusia yang menghidupkan kenangan?

Bertahun-tahun aku hidup di dunia ini, beribu langkah telah aku ayunkan, berbagai macam manusia telah aku temui, kenangan selalu hadir menjelma dengan berbagai bentuk rupa. Di setiap pertemuan dan kesempatan, kenangan selalu datang menghampiri untuk sekadar bertegur sapa kepada manusia yang telah menjejakkan kakinya di bumi ini. Entahlah, mungkin ini hanya imajinasiku saja. Barangkali saat Tuhan sedang menciptakan manusia dengan akal dan ruh yang ditaruh di atas langit sana, Tuhan juga menyelipkan kenangan kepada manusia yang hendak ditiupkan ruhnya untuk berada di muka bumi ini. Sehingga saat kita telah keluar dari perut ibu kita, kita langsung merekam kenangan bagaimana tangis haru orang tua kita saat melahirkan kita. Bagaimana kita berusaha untuk berjalan di atas kaki kita sendiri dengan dibantu oleh orang tua kita. Tentu saja, kita sangat sulit merekam kenangan tersebut sebab saat masih kecil daya kenangan kita belum terlalu besar. Kita dapat mengenang momen tersebut melalui perantara seorang bayi saat kita sudah berumur dewasa.

Apa mungkin kenangan yang menghidupkan manusia?

Hujan masih terus membasahi bumi. Sedang aku disini sedari tadi dihujam dengan berbagai kenangan yang telah aku lewati. Aku tak bisa menangkis begitu saja hadirnya kenangan, terlebih di saat hujan. Seringkali aku beranggapan, bahwa adanya kenangan justru semakin membuat langkah kita akan semakin perlahan untuk berjalan kedepan. Berdiam diri begitu saja dengan asyiknya, sehingga lupa bahwa ada tantangan yang harus dihadapi di depan. Asyik dengan kenangannya tanpa melihat kemenangannya. 

Ah aku baru saja menemukan sesuatu yang baru. 

Barangkali saat hujan tak melulu soal kenangan, melainkan soal kemenangan. Manusia terlalu sibuk dengan apa yang telah ia jalani, sampai ia lupa dengan apa yang harus ia jalani. Kemenangan tentu menjadi sebuah kata yang paling menarik untuk manusia yang sedang berjuang demi sesuatu yang ia inginkan. Memberikan usaha terbaiknya, berdoa kepada Tuhan, lalu berharap kata kemenangan tersebut akan muncul di hadapannya. Setiap kita tentu mempunyai target-target tersendiri untuk meraih kemenangan tersebut. Seperti misalnya, saat ini aku sedang mengalami masa-masa akhir mahasiswa, tentu kemenangan yang aku inginkan adalah sebuah prosesi wisuda. Proses yang dilalui tentu harus menyelesaikan skripsi serta melakukan sidang. Kemenangan terkadang lebih indah untuk dijalani ketimbang kenangan itu sendiri. Di saat hujan, cobalah sesekali mengatur kemenanganmu sendiri agar tak melulu terpendam dalam sebuah kenangan.

Jadi, manusia yang menghidupkan kenangan?

Rintik hujan masih senantiasa membasahi bumi. Di jalanan, orang-orang sedang lalu lalang untuk sekadar membeli makanan atau minuman untuk mengisi perut mereka. Ada juga yang menyediakan jasa ojek payung untuk kebutuhan perut mereka. Sedang aku, di pojok kedai kopi ini sedang berusaha menyusun aksara yang sedari tadi berkeliaran di luar sana kala hujan. Aku ingin mengabadikan apa saja yang telah terekam dalam ingatan. Pikiran ini tak henti-hentinya menangkap segala kenangan yang hadir di masa lalu. Sedang mata ini menuju kepada arah yang mengaburkan pandangan, namun berusaha untuk fokus kepada langkah kemenangan.

Sebab, hidup tak selalu tentang kenangan yang harus diingat, melainkan ada sebuah kemenangan yang harus jadi pengingat.

Gunung Merbabu

Perjalanan di Tahun 2018

Berteman dengan sunyi bukan hanya membantu kamu menjauh dari gelegarnya bunyi kembang api, melainkan mampu membuatmu mempelajari diri sendiri.

Sedari tadi sore aku berkutat dengan laptop dan microsoft word hanya untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan sebelum datangnya malam pergantian tahun baru. Bukan, bukannya aku ingin merayakan tahun baru pada malam harinya, melainkan karena deadline pekerjaanku hari ini sehingga secepatnya harus ku selesaikan. Sebab, bagiku, perayaan tahun baru tidak ada gunanya di saat usiamu sudah menginjak kepala dua. Menikmati kasur serta berteman dengan kesunyian adalah salah satu refleksi diri untuk menyambut datangnya tahun 2019 yang sudah siap menunggu di depan matamu. Sembari beristirahat dari capeknya mengetik tulisan dengan ratusan kata, aku berbaring sejenak untuk membuka instagram story yang telah aku buat sepanjang tahun 2018.

Terlalu banyak kenangan yang telah aku rangkai dari awal Januari hingga detik ini. Langkah ini sudah semakin jauh menapak tanpa henti. Berbagai perjalanan telah aku lewati, beribu pelajaran telah aku dapati. Hingga terkadang aku lupa bahwa sejauh apapun langkah ini mengayun, selalu ada tempat singgah yang harus dijamah--rumah. Rumah ada untuk langkah yang mengenal lelah, rumah ada untuk mengganti senyummu yang kian pudar, dan rumah selalu ada untuk hati-hati yang sempat terkena patah hati. Sempatkanlah dirimu untuk selalu menyapa orang tua meski kamu sedang terburu-buru hendak melangkah pergi jauh. Ceritakan rencana mimpimu kepadanya, biarkan telinga yang sedari dulu mendengar tangismu kini akan mendengar rangkaian mimpimu yang luar biasa. Biarkan matanya menatap matamu yang sedari dulu terus mengeluarkan air mata di pertengahan malamnya. Hingga kemudian, kamu akan mengayunkan kaki dengan perasaan lega ketika keluar rumah. Sebab, orang tuamu tahu kamu akan menaklukkan dunia dengan caramu. Sebab, orang tuamu tahu bahwa anaknya suatu hari nanti akan menjadi  orang yang berguna bagi masyarakat.

Belajar mengenal rasa tentu belajar berbagi cerita. Tahun ini, aku mengenal tangis dan bengis secara bersamaan. Tahun ini, aku belajar memendam ego dengan segala noda buruk yang membuntutinya. Tahun ini, rasanya aku baru mengenal sebagian rasa yang sama sekali belum aku ketahui sebelumnya. Tahun depan, mari kita belajar apa arti dari rasa.

Waktu terus berjalan tanpa henti, sedang langkahku terhenti tepat di depan senyum manismu. Pertengahan tahun itu, tepatnya saat musim hujan sedang berganti ke musim kemarau, aku membiarkan sang waktu terus berjalan tanpa memikirkannya. Masa bodo terhadap waktu, sedang disini aku ditemani dengan senyummu, senyum yang akan aku kenang hingga suatu saat nanti. Merebahkan aksara di atas hamparan sabana adalah hal terbaikku saat itu, membiarkan waktu terus berjalan adalah hal terburukku saat itu. Bagaimana tidak, inginnya aku menghentikan waktu saat tatapan mataku terbius oleh paras cantikmu yang bersinar terang di antara pekat patah hati yang aku terima pada masa lalu. Lubang nostalgia tertutup begitu saja tanpa memperbolehkan aku menangis mengingat tragedi patah hati. Ya, patah hati memang tidak mengenakkan. Namun, adakalanya patah hati membuatmu ingin kembali menoleh kepadanya. Di temaram lampu kota, tepat di jantung kota, cerita menguar bersama rintik hujan yang turun dari atas bumi. Langit terlihat begitu pucat seakan memaksaku untuk menyelimutinya dengan goresan aksara. Namun sekali lagi, kala itu aku tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitarku, bahkan keadaan semesta yang seringkali aku jaga. Sebab, disini, di tengah kota yang dihiasi gemerlap lampu dan udara yang syahdu, tanganku menemukan jalannya untuk meraih mimpi-mimpi yang sempat kabur.

Andaikan kaki ini tidak melangkah lebih dari biasanya, mungkin, di malam yang sebentar lagi akan berganti tahun 2019, aku masih melukiskan indahnya patah hati tanpa mengerti arti jatuh hati.

Alam selalu mengerti akan manusia yang sedang membutuhkan ruang. Dibiarkannya aku yang sedang berada di dalam ruang hampa dengan beribu pesonanya sehingga aku sedikit melupakan suasana alam. Ya, tahun ini aku hanya sedikit saja menyapa alam dan semesta lewat kabut-kabut dan juga hangatnya sinar mentari. Merapi dan Merbabu masih menjadi favoritku pada tahun ini. Kedua gunung yang saling berdekatan, saling memancarkan kebahagiaan, tidak akan pernah aku lupakan keindahan yang tercipta di dalamnya. Sesekali aku merindukan masa saat bercengkrama dengan alam tanpa mengkhawatirkan hal duniawi lainnya. Tahun ini, rasanya sangat sedikit sekali obrolanku bersama alam. Ah, semoga saja, pada tahun depan, aku dapat meningkatkan intensitas obrolanku bersama alam.

Selain rumah yang menjadi tempat singgah, aku rasa alam adalah tempat singgah terindah untuk menumpahkan segala cerita tentang masalah dunia.

Segalanya akan terlihat tampak buram dari sekarang, masa depan tidak ada yang pernah tahu bentuknya. Sebab, kita berada di masa sekarang dan belajar di masa lalu. Menatap masa depan adalah hal semu yang seringkali dilakukan oleh kebanyakan manusia. Entah bagaimana ceritamu di tahun 2018, 1 menit lagi tahun akan berganti. Mari kita sama-sama mengheningkan cipta untuk saudara-saudara kita yang terkena bencana. Setelah itu, mari tatap 2019 dengan membangun bangsa Indonesia melalui kesadaran kita masing-masing.

Salam hangat,
Adieb Maulana.

fotoku waktu di merbabu

Friksi Menggelitik

Ketika emosi sedang bergema di ruang hati, ketika luapan amarah lebih megah ketimbang gedung-gedung yang ada di ibukota. Tak ada yang lebih buruk daripada termakan emosi diri dan tenggelam di dalam lautan ego. Bertubi-tubi cacian, makian, hingga kata-kata sumpah serapah yang tidak seharusnya diucapkan lambat laun menjadi suatu kebiasaan. 

Marah tidak menyelesaikan masalah, katamu.
Sudahlah, manusia memang besar ego, kamu tidak salah, dia yang salah, kata pemuja benci
Hati-hati pada setiap perkataanmu. Sebab tak ada yang lebih tajam ketimbang lidah yang digunakan sembarangan, kata pemuja cinta.

Perlahan-lahan, ragaku terbang mengudara bersama burung merpati. Melihat dari kejauhan seseorang yang sedari tadi menyesal atas apa yang telah dia lakukan. Mengais-ngais sisa kata-kata yang berserakan, mengumpulkannya menjadi sebuah tulisan, lalu memajangnya di dinding ataupun di dunia maya. Aku tak tahu apa yang sedang ia tuliskan, barangkali kata-kata penyesalan yang begitu mendalam. Entahlah. 

-------------

Di bawah naungan persatuan, di cakrawala bangsa, terjadi pertikaian di berbagai sudut negara. Masalah-masalah selalu membuat resah rakyatnya, terutama bagi sang presiden sendiri. Di setiap harinya, muncul satu masalah yang bisa dijadikan bahan perbincangan bagi semua rakyat. Masalah-masalah tersebut berbagai macam bentuknya, mulai dari masalah mengenai bu Sumiyati yang mencuci di sungai namun bajunya sering kelintir, mengenai tukang jual dawet yang memakai kata 'anying' di setiap promosinya, hingga masalah yang sangat sepele seperti kenapa rambut Atta Halilintar sering berganti warna. Masalah terus berganti seperti warna rambut Atta Halilintar, hingga sampai akhirnya tak ada yang peduli dengan masalah yang terjadi karena sudah terbiasa. Bahkan tak jarang banyak sekali kalimat-kalimat "Ayo bertengkar, saya tidak suka diselesaikan secara kekeluargaan", atau "saya haus akan keributan" terlontar di sosial media. 

Yang fana hanyalah persatuan, pertikaian yang abadi. Begitu jika boleh mengutip dari kata-kata sastrawan terkemuka. Bangsa kita haus akan pertikaian, tidak heran apabila persatuan saat ini menjadi barang langka. Pertikaian itu tidak hanya datang dari skala yang besar seperti negara, bahkan sepasang kekasih yang tinggal di negara tersebut kerapkali mengalami pertikaian. Tak sedikit pertikaian yang terjadi dari sepasang kekasih, hampir setiap hari ada 1697 hati yang tersiksa akibat pertikaian yang terjadi dari sepasang kekasih di negara ini. Sudah terjadi pertikaian di antara rakyat, juga terjadi pertikaian di antara sepasang kekasih. Habis sudah negeri ini dimakan oleh ego masing-masing rakyatnya. 

-------------

Jelas sudah, aku menuliskan serangkaian kata penyesalan yang begitu mendalam. Aku memahami, bahwa ego tak seharusnya menguasai jalan pikiran kita. Ego memakan apa saja yang selama ini telah kita bangun, menghancurkan apa saja yang selama ini kita impikan. Sadarlah, bahwa ego hanya akan membawa kita kepada kehancuran. Tenanglah, bahwa ada yang lebih indah dari mengedepankan ego, yaitu sebuah persatuan. Apa yang kita tanam, itulah yang kita petik. Apa yang kita impikan saat ini, suatu hari nanti akan terwujudkan. Junjung tinggi persatuan, tanamkan rasa persaudaraan. Sebab, manusia tak ada artinya jika hanya memberi makan ego saja.



Semarang, 11 November 2018
Adibio

gambar hanya untuk thubmnail saja, representasi dari santai

Katakan Rindu

Jangan katakan rindu pada saat bintang sedang semu. Sebab pada banyaknya bintang di alam semesta aku menaruh rindu kepadamu.

Jauhnya jarak membentang acapkali membuat intensitas rindu kian tinggi. Hanya saja aku tak sempat menikmati kabut di gunung terlebih dahulu sebelum rindu mencekamku, dingin dan ingin saling beradu ; dinginnya rindu selalu menciptakan ingin untuk bertemu. Barangkali rindu singgah di setiap harinya saat kamu sedang tak mengisi hari-hariku, berduyun-duyun datang menerpa pemikiran kosongku, mengais kata-kata yang berserakan di pojok kamarku. Aku selalu menyebut namamu dengan nama yang berbeda saat sedang rindu. Belajar dari bisikan malam yang merindukan angin, setiap bisikan malam berbeda saat sedang rindu dengan angin. Malam selalu berbisik tentang hal yang indah di alam semesta, tentang dirinya yang dihiasi  oleh bintang-bintang. Rasanya merindukanmu adalah hal terbaik yang aku miliki saat ini, saat kamu sedang jauh dariku. 

Barangkali kata kangen yang kita ucapkan jumlahnya lebih banyak dari bintang di malam hari.

Hari-hariku dilalui tanpa bersamamu. Adalah hal yang menyebalkan apabila menghitung hari-hari saat sedang tidak bersamamu, terasa lama sekali. Ah, memang selalu saja, penghitungan tak membuatku kian tenang, justru membuatku semakin gamang. Sebaliknya, menunggu hari-hari saat bersamamu adalah hal yang menyenangkan bagiku. Tak ada hari-hari yang lebih indah saat menunggu kehadiran seorang kekasih. Ia selalu membayangkan saat nantinya akan jumpa lagi, mengisi waktu bersama, bermain dan bercanda tawa, sedang waktu hanya tersenyum melihat sepasang dua insan saling beradu rasa. 

Waktu tak mungkin begitu kejam mempercepat pertemuan dua insan tersebut. Siapa yang dengan teganya membiarkan sepasang kekasih hanya berbahagia sebentar dan kembali merasakan rindu di dalam kamar? Ah, alangkah egoisnya sang waktu. Nyatanya, sepasang kekasih tersebut terpaksa digiring oleh waktu terhadap pertemuannya yang pertama setelah sekian lama tak jumpa, digiring dengan sangat cepat dan merasakan rindu kembali dengan sangat lambat. Bukankah hal yang paling menyiksa adalah merasakan sesuatu dengan sangat lambat?.

Di tengah-tengah kesibukan malam kota, tepatnya di jantung kota sepasang kekasih sedang menikmati kata-kata dan merangkainya agar dapat dikenang untuk selamanya.

Ruang dan waktu menjadi musuh terbesar saat ini, saat kita sedang berada pada tempat yang berbeda namun merasakan waktu yang sama. Aku berharap teori ruang-waktu benar-benar ada, kita dapat hidup pada beberapa minggu yang lalu dan mengulang kembali kenangan-kenangan yang telah kita lalui. Namun betapa naifnya diriku apabila hal itu benar terjadi, bukankah lebih indah apabila melakukan hal yang lebih baik pada minggu kedepannya? membuat kisah lagi dan menceritakannya menjadi sebuah paragraf? Walau begitu, aku tetap membenci keadaan ruang dan waktu yang sedang menguasai. 

Bodohnya manusia yang menyalahkan waktu jika kebahagiaan saja hanya terpaku dalam satu waktu.

Setidaknya kamu masih dapat menikmati rangkaian kataku saat aku sedang rindu. Dokter manapun tak akan menemukan obat rindu. Untuk itu, aku menulis tentangmu agar dapat kamu baca dan mengobati rasa rindu, barang satu menit.

Jangan katakan rindu pada saat bintang sedang semu, katakanlah setiap waktu. 

Kabut telah mengajariku satu hal penting : Walau rindu terasa dingin dan pekat seperti kabut, namun tetap saja hal itu menciptakan rasa ingin untuk bertemu kembali.




Patah Hati Akan Terobati

Tepat saat benderang lampu kota meredup, bayang senyumanmu masih derup ; membangkitkan malamku yang terasa sunyi.

Semenjak kamu hadir di dalam hidupku, segalanya terasa begitu menyenangkan. Kebahagiaan tak pernah aku definisikan sekian rupa, kesenangan selalu hinggap begitu saja, dan kesengsaraan tak berani menunjukkan wujudnya. Kamu menjelma bagai adagium yang tak sempat aku artikan, hingga pada akhirnya aku menikmati setiap larik kata yang tercipta dari adagium tersebut. Entahlah, sejak kapan aku menyukai susunan kata yang terangkai dengan suasana hati yang tenang, sedang biasanya aku merangkai kata dalam keadaan muram. Patah hati selalu mengajarkanku bagaimana kehidupan hanya tentang yang pergi dan tak kembali, yang hilang dan yang tersisa hanyalah sebuah bayang. Hingga waktu terus menganggapku bagai manusia yang sia-sia, aku belajar tentang arti kata patah hati. Bahwa patah hati hanya tentang memahami kepergian dan tak menyalahkan perpisahan, memaknai kehidupan dengan sebuah tulisan, hingga mengabadikan seseorang yang telah berbagi cerita dengan kita.

Dan saat bintang bercengkrama tanpa arah, saat kabut menunjukkan arah, aku tersadar bahwa melihat dari perspektif lain adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dibanding hanya satu perspektif saja.

Kamu datang membawa secangkir cerita yang penuh tawa, aku mencoba merangkainya menjadi sebuah kalimat demi kalimat hingga cerita kita akan terabadikan. Senyumanmu menghiasi sela-sela larik kata yang sengaja aku buat jeda. Di pelupuk matamu, aku sengaja menaruh rindu agar setiap kali kita bertatapan aku membiarkan rindu menjadi juru bicara perasaan. Memang sulit rasanya beranjak dari kebiasaan muram yang selalu menjadi inspirasiku saat malam, namun aku terus mencoba bagaimana merangkai kata dalam keadaan tenang, seperti saat ini, saat lampu kota mulai meredup.

Aku selalu ingat bagaimana kamu mulai menyunggingkan senyum di bibirmu. 
Aku selalu ingat saat kamu baru saja lupa hal yang baru saja aku ceritakan.
Aku selalu ingat apapun yang kamu lakukan.

Bagi seseorang yang kerapkali menerima patah hati, hal seperti ini tentu saja menjadi sebuah hal baru yang menghiasi hidupnya. Canda tawa yang melebur bersama angin malam, cerita tentang kehidupan, dan bintang yang selalu menghangatkan bumi pada malam hari. Entah sudah berapa kali kamu merasa patah hati, suatu hari nanti akan ada seseorang yang bersedia mengisi hari-harimu. Kehidupan memang sulit untuk ditebak, kapan kamu akan tertawa terbahak-bahak dan kapan tangismu akan tersibak. 

Kamu adalah jeda kalimatku yang terangkai indah dengan tenang. Jika boleh bilang, hadirmu lebih terang dan menghangatkan dibandingkan bintang pada malam hari. Malam-malamku tak lagi berhias dinding ratapan dan bayang-bayang kenangan, karena kali ini lemariku sudah siap  menampung segala cerita yang menyenangkan. Tolong ingatkan aku, bahwa ada satu hari saat hembusan angin dan suara-suara bising kota telah menyadarkan aku bahwa kamu ada di bumi ini, aku bersyukur kepada Tuhan. Terima kasih.

Lalu, cerita-cerita kedepannya akan selalu tertuang lewat kalimatku dengan tenang. Tak ada lagi muram, atau malam yang kejam. Setiap hari, kamu akan terabadikan lewat kata-kata.



Di Suatu Tempat Saat Bintang Meredup.

Kabut telah sengaja menutupi sebagian penglihatanku sedari tadi. Sementara aku terus berjalan menelusuri pekatnya malam tanpa ada gemerlap bintang yang menerangi jalanku. Tapak demi tapak telah aku lalui, pendakian gunung selalu menyajikan hal-hal baru yang tak aku sangka-sangka. Setiap langkah menghadirkan beribu pengalaman dan kenangan yang siap untuk disimpan dalam memori ingatan. Barangkali di setiap pendakian tak pernah ada cerita yang ingin dituntaskan, segala cerita selalu berkepanjangan seiring menjalani kehidupan. Senja sedari tadi telah larut bersama ganasnya cakrawala, siluetnya tak nampak sedikit saja, aku tak tahu tentang itu. Mungkin saja, senja selalu pergi agar ia dicari oleh seluruh pengagumnya. Apa kau tak setuju? bukankah setiap hari senja memang begitu, sengaja pergi agar ia dicari?. Mataku terpaku oleh jalanan yang ingin ku lalui di  depan, aku takut jikalau salah langkah, bisa saja aku kehilangan arah dan terjebak bersama halusinasi semesta yang membuatku buta. Peneranganku hanya sebatas senter dan sesekali sinar rembulan yang menelusup masuk ke dalam hutan-hutan, selebihnya aku mengutamakan insting malam hariku. Kau tahu, gunung tak melulu soal ketakutan di tiap pandangan mata, ia terlihat lembut dan manis jika kita berhasil menyatu dengan iringan melodinya. Malam hari pun, gunung nampak bersahabat, semesta nampak lekat. Kita hanya takut akan hal yang belum pernah kita lalui, sama halnya seperti seseorang yang belum pernah mencoba. Ku langkahkan kaki demi kaki, pemandangan di bawah sana begitu menyegarkan pandangan mata--rentetan lampu kota, pendarnya menyilaukan mata. Aku takjub, barangkali aku masuk ke dalam dimensiku sendiri. Setelah itu, aku beristirahat sejenak sembari ditemani oleh pemandangan kota yang indah dan juga angin yang berhembus lumayan kencang. Sayangnya, tak ada bintang di langit sana, barangkali mereka sedang berperang memperebutkan kekuasaan.

Di bawah cakrawala langit malam dan di atas pendarnya cahaya kota yang temaram, diriku berdamai dengan suasana sekitar, seolah-olah menyatu dengan nyanyian semesta. Entah apa  yang aku rasakan, jika boleh aku katakan, saat itu aku sedang belajar berdamai dengan diri sendiri, dengan dibantu oleh semesta. Menikmati setiap alunan angin yang berhembus, hembusan tersebut seolah-olah mengeluarkan alunan musik kesukaanmu. Tanpa kamu minta, semesta tahu apa yang kamu inginkan. Hingga perlahan, ragamu lebur bersama nyanyian semesta, lebih dalam lagi, lebih dalam lagi, lalu tak terasa kau sedang belajar  berdamai dengan diri sendiri--bayangan hitam lenyap, ragamu senyap.

Kini, kau tak perlu cemas dengan segala hal yang membuat pikiranmu terkuras. Hilangkan saja, berdamailah dengan dirimu terlebih dahulu--entah dengan cara apapun. Jika sudah, maka selesaikan perpecahan yang terjadi di luar sana, tak perlu berlama-lama, karena ragamu telah berdamai, rasanya sudah pasti tak perlu repot-repot untuk menyelesaikan masalah yang ada di sekitar. Yang salah dari kebanyakan orang sekarang adalah, mereka lupa bahwa masih ada perpecahan yang terjadi dalam tubuh mereka, sehingga saat mereka sedang ingin menyelesaikan masalah di luar sana, justru yang ada bukan masalahnya yang terselesaikan, melainkan perpecahan yang terjadi di dalam tubuhnya menjadi berkepanjangan. Selanjutnya, maka permasalahan yang ingin ia selesaikan akan menjadi runyam, ia pun akan menjadi lebih suram. Dampak yang terjadi bukan hanya untuk dirinya saja, melainkan untuk orang-orang di sekitarnya. Salah sedikit berkata di media sosial akibat belum berdamai dengan dirinya sendiri, hujatan demi hujatan pasti sudah siap untuk di lemparkan. Yang terjadi, perpecahan bukan hanya terjadi di dalam dirinya saja, melainkan di seluruh nusantara. Betapa mirisnya kejadian ini sering terulang berkali-kali di negara Indonesia. Perpecahan dimana-mana, persatuan sudah langka. Indonesia lama kelamaan akan hancur persatuannya kalau begini jadinya. Hanya karena engkau belum bisa berdamai dengan dirimu sendiri, bukan berarti engkau melampiaskannya ke semua orang yang ada di sekitarmu. Menyendirilah terlebih dahulu, rasakan apa perpecahan yang sedang terjadi di dalam dirimu. Rasakan, rasakan, dan selesaikan perpecahan tersebut. 

Berdamailah dengan dirimu sendiri terlebih dahulu, barangkali masih ada peperangan di dalam sana.

Bintang-bintang di langit belum juga menampakkan dirinya. Sudah lama aku ingin melihatnya dari gunung, melihat sirius mungkin,  atau canopus mungkin, atau rigel sekalipun. Aku tak terlalu paham akan bintang, namun aku ingin sekali mendalaminya satu per satu. Aku tak ingin kehilangan terangnya bintang saat senyumanmu sedang memudar, atau mungkin saja terang senyumanmu sudah pindah kepada bintang-bintang. Entahlah. Mataku menyapu sekitar, di atas masih ada jalur tinggi yang harus aku daki sebelum aku mendirikan tenda di sana. Ku mantapkan lagi langkah kakiku, mengayun bersama alunan angin, hingga tak terasa, sedikit demi sedikit diriku merasa damai--entah sesaat atau selamanya, aku tak peduli. Manusia selalu berusaha untuk berdamai dengan dirinya sendiri, percayalah padaku. 

Di atas sini, segala hal yang mencemaskan tak tampak. Hilang bersama kabut. Mengapung entah pada galaksi mana, lalu aku tak peduli keberadaannya. Hingga tak sadar, kecemasan selalu saja menjadi awal dari penghalang kebahagiaan. Kamu tak percaya? Marilah duduk bersamaku di atas sini, menikmati indahnya pemandangan di sekitar alam. Matahari terbit, kicauan burung, rerumputan syahdu, irama semesta, seduhan kopi, selalu belum sempurna tanpa adanya senyuman manismu.


Semarang, 11 April 2018
Adibio




Perpisahan Itu Biasa Saja

Secangkir kopi telah aku teguk. Malam ini nampaknya tak ada yang spesial. Tak ada bintang-bintang di langit, tak ada nyanyian merdu sang angin, juga tak ada hujan yang membasahi bumi. Hanya kopi dan kertas yang mendampingi diriku sejak sang senja telah pergi dari cakrawala. Sedari tadi, aku hanya melamun, tak mengerti harus melakukan apa dengan kertas kosong yang berada di depanku. Pikiranku terbuai oleh berbagai rasa yang harus aku tuangkan di atas kertas, namun apa daya, hatiku selalu saja tak bisa diajak bekerja sama setelah menuai berbagai perpisahan. Ya, aku sedang tak ingin menulis sesuatu di atas kertas tentang perpisahan, aku tak tahu harus mulai dengan kata apa, atau harus mengganti dengan kata apa untuk kata perpisahan. Aku memutuskan untuk membuat secangkir kopi lagi, lalu duduk di teras rumah sembari melamun, entah memikirkan apa.

Kau tahu, tak pernah ada pertemuan yang harus disesali, setiap pertemuan selalu membuahkan kesenangan, kebahagiaan, dan juga kenangan. Pertemuan sengaja diciptakan Tuhan untuk manusia agar saling berbagi rasa, bercanda dan tertawa, dan mungkin saja berduka lara bersama, saling mendengarkan keluh kesah dan kisah resah. Pertemuan tak pernah menghianati  manusia, baginya manusia merupakan hal  yang berharga saat manusia menyambutnya. Hingga sang mentari bersinar terang di langit bumi sampai kembali lagi ditelan bumi, banyak sekali pertemuan yang terjadi di bumi ini, bisa kau bayangkan, pertemuan tak pernah menolak tentang keberadaan manusia, ia sangat ramah menyambut hadirnya manusia. Bukankah mentari dan bumi pun mengalami pertemuan? Tentu saja, bumi ini sangat luas untuk menampung satu kata pertemuan yang bercabang menjadi berjuta kata. Pertemuan bahkan seringkali berkata,

"Adakah ruang untuk aku masuk ke dalam kehidupan manusia?aku ingin mengenal lebih jauh tentangnya, tentang makhluk yang luar biasa"

Hingga manusia mengalami banyak pertemuan. Berbagi cerita dengan siapa saja yang ia sapa, mengenal suka dan duka bersama, bercanda sesukanya, seterusnya hingga mereka saling bahagia satu sama lain. Aku sendiri, baru saja mengalami pertemuan yang sangat luar biasa. Beberapa bulan yang lalu, atau tepatnya dua bulan yang lalu aku mengalami sebuah mata kuliah yang biasa disebut oleh banyak mahasiswa KKN, iya KKN merupakan kepanjangan dari Kuliah Kerja Nyata. Pertemuan itu tentu seperti pertemuan-pertemuan pada umumnya, kita bertemu, bertegur sapa, berkenalan bersama, lalu berbagi rasa satu sama lain. Setiap hari kita bertemu, menuangkan beribu kisah di atas kanvas putih yang telah tersedia di langit malam. Begitu hari mulai tutup, kami berbagi cerita dan menumpahkannya di atas kanvas tersebut. Entah itu kisah suka, maupun duka. Bagi kami, langit malam pun terlihat indah walau tanpa bintang karena kanvas-kanvas yang berisi cerita kami telah terlihat begitu jelas setelah hari demi hari telah kita isi dengan berbagai cerita. Jadi, apabila kami butuh sebuah wadah untuk menuangkan keluh kesah, tinggal menatap langit malam, maka kanvas tersebut akan dengan senang hati membuka dirinya. Walau kami tahu, setiap malamnya selalu saja mendung dan turun hujan. Namun, tak menghalangi kami untuk tetap berbagi cerita di atas kanvas.

Pertemuan itu seperti halnya otak kita yang berpikir tentang batas alam semesta. Tak terduga dan selalu banyak kejutan.

Selain pertemuan dengan beberapa kawan KKN, pertemuan dengan warga masyarakat desa sekitar membuat kanvas kami lebih terisi banyak cerita. Para ibu-ibu PKK yang senantiasa membuat kami tertawa, murid-murid SD dengan tingkah lakunya yang sudah sedikit dewasa, dan seluruh warga desa yang bersedia menopang bahagia dan sedih kami di tempat mereka. Alangkah bersyukurnya kami pada waktu itu, pertemuan yang membuahkan sebuah kebahagiaan. Tak pernah terpikirkan, bagaimana pertemuan selalu menyenangkan.

Hingga datanglah sosok hitam pekat tersenyum halus, merayu pertemuan untuk segera hilang dalam peradaban manusia. Sosok tersebut diketahui bernama perpisahan.

Bumi ini sangat luas untuk menampung pertemuan, namun tak  bisa dipungkiri bahwa bumi terlalu sempit untuk sekadar diisi dengan pertemuan. Perpisahan hadir untuk menyeimbangkan itu, perpisahan hadir untuk mengajarkan manusia bahwa ada satu kata yang akan membuat hari-harinya menjadi sendu, yaitu rindu.

Perpisahan  ada bagi seluruh manusia yang meracik zat rindunya sendiri menjadi sedemikian rupa. 

Perpisahan tak  pernah disesali, seperti halnya pertemuan. Bukankah perpisahan sudah menjadi sahabat baik pertemuan semenjak dahulu kala?aku tahu itu saat sosok hitam pekat itu tersenyum halus seakan-akan tidak mau menyakiti sang pertemuan. Aku tahu itu, karena bagiku, perpisahan mengajariku banyak hal, tak terkecuali soal bagaimana merelakan tanpa harus rela, melepaskan tanpa harus lepas, dan menangisi tanpa harus menangis.

Jika boleh mengutip judul lagu dari Efek Rumah Kaca, bagiku perpisahan itu biasa saja. Kita tetap akan melewati berbagai perpisahan saat menemui pertemuan. Seperti halnya mentari, ia selalu bertemu dengan bumi dan berpisah dengan bumi di setiap harinya.

Malamku akhirnya sudah menunjukkan pukul  00.00 WIB. Kuputar lagu-lagu  Dialog Dini Hari, lagu oksigen menjadi favoritku saat itu. Lalu bergegas aku menuju kertas kosong tersebut, aku tulis beberapa kata agar kertas itu tidak merasa dihiraukan begitu saja.

Kata Pidi Baiq, "Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. 
Kataku, Perpisahan adalah waktu untuk manusia bergegas menjadi barista sendu, lalu meracik zat-zat rindu setiap waktu. Tak perlu meracik kopi, bagi barista sendu, rindu adalah hal terpahit sekaligus termanis dalam satu waktu.

Adibio,
Semarang, 15 Maret 2018.

bersama pak Kukuh, kepala desa idola kita semua



Waktu Hanya Ilusi

“Jejak-jejak bergemuruh kala datangnya malaikat pencatat kebaikan dan keburukan. Dihindarinya segala hal yang fana, lalu masuk ke dalam waktu yang nyata. Ah, betapa naïf nya dirimu menganggap waktu adalah nyata”. Tukas sang cakrawala jingga. Sembari disapunya langit-langit dari gelap gulita yang hendak menguasainya, cakrawala jingga rela bertuah sejenak kepadaku menjelang datangnya tahun baru. Katanya, agar tahun baruku berbeda dengan yang lainnya. Ah, bisa saja kamu cakrawala jingga, ada atau tanpanya petuahmu itu tahun baruku akan sama seperti yang lainnya ; berubah dari 17 menjadi 18. Tak mungkin ada yang langsung beranjak pada 19, kecuali ia memiliki doraemon.

Memang, semenjak perdebatanku dengan bintang Vega mengenai waktu, aku selalu beranggapan bahwa waktu itu adalah nyata. Entah, atas dasar apa aku berucap seperti itu pada bintang Vega, padahal Uskup Berkeley berpendapat bahwa waktu hanyalah ilusi. Mungkin saja, petuah cakrawala jingga sedikit menyinggungku soal opini yang sembrono mengenai waktu yang nyata. Setelah gema suara dari cakrawala jingga menghilang ditelan oleh pekatnya malam, aku mulai berpikir ulang mengenai perdebatanku  dengan bintang Vega.

Masih teringat tentunya, awal 2017 lalu aku memulainya dengan petualangan, yakni pendakian gunung andong. Dan sekarang, saat aku mengetikkan tulisan ini aku menyadari  bahwa sepertinya baru minggu kemarin atau bulan kemarin aku memulai tahun 2017. Seperti :

“Lah perasaan baru kemarin dah 2017 mulai”

Waktu memang ilusi, yang nyata hanyalah penyesalan-penyesalan yang kau buat sendiri melalui rayuan sang waktu. Ah, betapa bodohnya hidup di bawah rayuan sang waktu. Ketimbang rayuan sang waktu, aku lebih memilih merayu sang ratu, begitu ujar kata hatiku yang tak sempat merayumu kala itu—saat waktu sengaja mengulur-ngulur perpisahan atau mempercepat pertemuan.

Lantas, setiap jejak-jejak yang tertinggal di 2017 akan menjadi debu-debu yang berterbangan di luar angkasa, menyatu dengan bintang-bintang atau galaksi sekali pun. Jejak langkahku tak pernah terekam secara baik oleh ingatanku, terkadang ada yang terlepas begitu saja sebab waktu yang tak pernah mengerti aku. Cih, memang waktu tak pernah mengerti keadaanku, ia egois, sama seperti dirimu kala meninggalkanku.

Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berlalu. Aku tetap saja mengarungi lautan yang sama. Berputar-putar mencari kehidupan di luasnya lautan. Entah pulau seperti apa yang akan aku diami. Apakah akan ada penduduk sekitar yang akan mengeksekusiku seperti dalam film Pirates Of The Carribean? atau akan ada banyak pohon kelapa yang bisa diminum air kelapanya sembari menikmati pulau tersebut? Entahlah, aku hanya terus berputar-putar mengarungi lautan, sembari belajar bagaimana menjadi seorang pelaut yang handal. Mungkin saja, suatu saat aku akan menjadi bajak laut sekaliber Jack Sparrow. Sang penipu ulung, pengadu domba yang handal.

Tunggu sejenak, suara kembang api di luar rumah mengingatkanku pada hari lebaran. Apakah besok akan ada hari raya part 2? Tidak. Kembang api itu tanda datangnya tahun baru, yang jika dihitung dari saat aku menuliskan ini tinggal 16 menit lagi. Ah ternyata tahun sudah akan berubah menjadi 2018, waktu memang ilusi, dasar!. Aku tak bisa apa-apa saat ditawan olehnya. Harusnya, aku harus melakukan sesuatu saat ditawan, Pram saja dapat menuliskan buku-bukunya di pulau buru.

Dengarkan aku kekasih, akhir tahun tak melulu tentang perayaan. Barangkali kamu butuh kesunyian, datanglah kepadaku. Akan aku ceritakan bagaimana mentari hendak menyapa tahun baru esok hari. Mungkin, embun-embun nan mungil akan senantiasa melingkupi dataran tinggi, atau mungkin kabut lembut menyapu merbabu dan merapi yang sedang bermesraan. Kau akan tahu, kekasih, saat kita bertemu di dalam mimpi akan aku ceritakan itu semua—keindahan mentari menyambut tahun baru.

Cakrawala jingga sedari tadi memang sudah terlelap dalam tidurnya. Katanya, tidak penting merayakan malam tahun baru, lebih baik ia membaca Lelucon Para Koruptor karya Agus Noor, agar nanti saat ia menyambut tahun baru, ia akan menyambutnya dengan penuh tawa. Dan aku, masih saja teringat tentang petuah cakrawala jingga tadi, pikiranku tak bisa lepas olehnya. Bahkan, lagu-lagu Fourtwnty yang biasanya menenangkanku kali ini gagal melakukan tugasnya.

Entahlah, aku hanya sedang ingin mempersiapkan pacul, untuk menggali lubuk hatimu saat engkau tertidur, kekasih. Seperti kata Sujiwo Tejo.


Semarang, 31 Desember 2017.


Apakah Kita Benar-Benar Rela Soal Yang Terlewatkan?

Pagi kali ini sedang tidak menyapa elegi. Lantaran sunyiku terjerembab ke dalam alunan musik folk, malam itu aku tak sempat menitihkan tinta menjadi sebuah cerita. Hingga pada akhirnya, malam hanya terlewat sepersekian detik dan membuatku tak berkutik. Cahaya kuning berpendar di seluruh belahan semesta, mentari menyapaku dengan sebuah kata, mataku tak tahan untuk membuka cerita. Pagi itu, aku sedang berada dalam sebuah mobil menuju ke kota Kuningan, tempat bersemayamnya seribu kenangan. Ku buka mata ini lebar-lebar, menyaksikan pemandangan yang telah aku simpan baik-baik di dalam ingatanku. Aku tak mau terlewatkan sedetik pun untuk  menikmati indahnya Kuningan, aku tak mau. Sebab, di tiap langkahku di kota ini menjadi sebuah cerita sampai saat ini—mengukir harmoni tak terlupakan. Barangkali ragaku masih terperangkap di dalam mobil, namun jiwaku telah berterbangan ke seluruh penjuru kota Kuningan—Mengintai segala kenangan yang telah terlewatkan. Kata demi kata terurai di langit cakrawala, ku tangkap sedemikian rupa agar tertanam abadi dalam kanvas kosongku.

Terapung, tak tenggelam
Seakan-akan jiwaku melayang di  antara putihnya awan dan birunya langit
Resahku tak tahu kemana, hanya kalimat sederhana yang fana.
Menyapu seluruh pandanganku, di kota itu

Tak tahu perasaan macam apa
Saat ragaku berpesta  di sorabi cibulan
Atau ketika jiwaku hendak menyegarkan nafas di kolam renang cibulan
Entah, aku hanya berharap berdiam di sudut stadion ewangga
Menikmati langkah-langkah  manusia yang mencari bahagia

Tolong aku untuk  mengerti apa itu rindu
Saat bertamu di kota itu
Kota Kuningan penuh kenangan
Apa aku tak rela dengan yang telah terlewatkan?

Pikiranku benar-benar tak dapat bekerja secara baik. Jika saat itu aku ditanya 1+1, maka aku akan kebingungan menjawabnya. Karena fokusku hanya pada kota itu. Di seluruh sudutnya seakan menjadi sebuah hal yang patut untuk direkam. Terlebih saat aku masuk ke dalam sebuah tempat yang mengajariku banyak hal, tentang agama, tentang kebersamaan, tentang tanggung jawab, tentang apa saja yang mungkin tak akan ku dapatkan di luar sana. Di kota itu, aku belajar banyak hal. Namun, aku belum terlalu belajar banyak hal mengenai senyuman-senyuman manismu. Syukurlah.

Gunung ciremai tersenyum kepadaku, seolah-olah  hendak menyambutku dengan riang gembira. Husnul Khotimah membuka hatinya begitu lebar kala aku hendak menyelami luasnya samudera. Suasana sendu yang membuatku betah sekali disana, mendung yang  tak kunjung  turun hujan, angin sejuk  yang memanjakan tubuh seakan-akan menumbuhkan harapan. Pada akhirnya, hatiku berlabuh di sebuah tempat yang begitu nyaman, ragaku tak terbantahkan—menyita seluruh lintas cakrawala. Jumat berkah begitu merekah lewat gendang telinga para manusia yang mendengarkan lantunan ayat suci Al-quran. Seperti biasa, Husnul Khotimah begitu nyaman untuk ditinggali. Selain suasananya yang menyejukkan badan, juga hati yang senantiasa melantunkan alunan kedamaian. Ah, saat ini saja aku  sedang terbang kembali pada Jumat yang lalu. Ribuan langkah-langkah kecil santri bergemuruh menuju masjid Al-Husna 1, gamis putih melekat indah dalam tubuh. Kadang, murojaah hafalan menjadi aktifitas sebelum menunggu Jumatan, terlebih bagi kelas 3 Aliyah.

Masih melekat betul setiap sudut Husnul Khotimah dalam benakku. Kenangan demi kenangan telah aku lalui di tempat tersebut. Barangkali aku terisak tangis ataupun tergelak tawa saat menuliskan ini, entahlah. Terlalu banyak tangis dan tawa yang tercipta. Jika Eratosthenes selalu dijuluki Beta karena banyak yang iri kepadanya, padahal ia layak mendapat julukan Alfa, maka aku sangat begitu iri jika Husnul tak sengaja aku juluki sebagai Alfa, sebelum rumahku sendiri yang ku juluki sebagai Beta. Semarang tempat kelahiranku, namun Kuningan menjadi tempat tumbuh kembangku.


Hingga senjaku tak sengaja berpapasan dengan pekatnya awan hitam, rintikan hujan menutup hariku yang begitu merdu. Lantas, langkahku tergontai-gontai masuk ke dalam mobil, masih  tak rela dengan kenangan yang telah terlewatkan.

Foto sehabis UN Aliyah
Semarang, 10 Desember 2017


Tertanda,
Adibio, manusia yang bercita-cita membeli supreme


Ketakutan dan Keberanian

2007, tepat sepuluh tahun yang lalu aku mulai memahami arti dari kata merantau. Aku mulai meraba-raba tentang arti dari kata tersebut. Hanya dari KBBI aku mengerti arti kata merantau. Dalam KBBI merantau adalah : v berlayar (mencari penghidupan) di sepanjang rantau (dari satu  sungai ke sungai lain dan sebagainya). Begitu sekiranya arti dari merantau dalam KBBI. Namun kali ini aku akan mencari arti kata merantau lewat kamus hatiku sendiri. Tahun 2007 menjadikan tahun pertamaku memaknai arti dari merantau dalam kehidupanku.

Juli, 2007. Diriku di ambang sebuah kebimbangan antara kesenangan dan ketakutan. Kesenangan karena akan menemukan hidup baru, teman-teman baru, dan juga suasana baru. Pondok Pesantren Husnul Khotimah  adalah tempat pesantren yang menjadi tempat rantauanku. Terlebih tempat rantauanku berada di Kuningan, Jawa Barat, tepat terletak di kaki gunung Ciremai, tentu cuacanya pun akan berbeda jauh dengan tempatku tinggal, yaitu Semarang. Tentu aku akan senang sekali menyambut perbedaan yang sangat signifikan terjadi dalam hidupku untuk beberapa tahun ke depan, atau kurang lebih 6 tahun. Namun dibalik itu, tercipta juga rasa takut yang muncul dalam diriku, entah semenjak kapan rasa itu muncul saat rasa senangku telah aku tanam, aku tidak mengerti. Yang jelas, rasa takut itu tiba-tiba saja ada, merenggut sejenak kesenanganku. Takut jika aku tidak akan betah akan semua ini, takut jika teman-temanku tidak menyenangkan, juga takut akan di tinggal jauh oleh orang tuaku. Kesenangan dan ketakutan sejenak merajai seluruh diriku kala itu, kala ibuku membantu membereskan barang-barangku, dan dengan bergulirnya waktu, tentu ibuku akan pergi meninggalkanku sendiri disini, di tempat yang sama sekali belum aku ketahui. Tak apa, laki-laki setidaknya harus berani dalam menepis segala rasa takut yang tumbuh di dalam dirinya. Saat tanganku menggengggam erat tangan ibuku, lalu tangan ibuku melambai-lambai sembari  mengucapkan selamat tinggal, serta mobil yang membawanya berjalan menjauh dariku, saat itu juga segala rasa takut kutepis begitu keras masuk dalam diriku. Keberanian adalah modal utamaku kala itu. Tentu saja.

Setelah segala rasa nyamanku pergi—ibu dan  semua yang pergi mengantarkanku, aku mulai menciptakan zona nyamanku kembali. Berkenalan dengan teman-teman baruku satu kamar, berbincang-bincang mengenai hal-hal yang dilakukan oleh orang yang baru saja kenal.

“hai, kamu dari mana?”

“kamu namanya siapa?”

“tempat tidurmu di mana?”

Mungkin percakapan pendek saja yang tercipta kala itu. Oh iya, aku tinggal  sekamar bersama 26 temanku, juga 2 pemandu kamarku, yaitu kakak kelas yang biasa dipanggil musyrif. Ya, alangkah beruntungnya aku tinggal bersama orang banyak di dalam satu kamar, terlebih letak ranjangnya pun sangat unik, yaitu ada tingkatnya. Tidak butuh waktu lama aku untuk mengenal lebih dalam kepada teman-teman sekamarku, karena kebetulan kami tinggal sekamar, tentu intensifitas percakapan akan terjadi sesering mungkin. Dari percakapan pendek yang hanya tercipta, lalu cerita-cerita panjang yang memunculkan tawa.

“eh, aku mau dong digambarin gajah ditangaku”

“ah masa gak berani sih ke kamar mandi sendiri”

“ayo makan bareng  ke dapur, sekalian beli jajan di koperasi”

“kerjain si itu yuk, ini ada kapur barus bilang aja permen mentos hahaha”

Dan percakapan lainnya yang mungkin masih terngiang dalam diriku saat ini, saat menuliskan segala kenanganku  di  dalam sana—kota kenangan bernama Kuningan.

Hari demi hari berlalu, nampaknya ketakutanku  sudah hilang di telan oleh rasa  keberanianku. Lingkungan di  sekitar sini membuatku  merasa nyaman dan aman. Setiap hari kami bersama-sama, dari bangun tidur hingga  tidur lagi. Mulai menjalankan aktifitas di  pagi  hari,  bangun  untuk menunaikan sholat shubuh berjamaah di Masjid Al-Husna 1. Lalu setelah itu  kami makan bersama, dalam satu nampan. Dengan aktifitas makan bersama itu, kami berhasil menumbuhkan benih-benih kebersamaan yang  melekat di  dalam hati  dan mengalir  dalam urat nadi. Berbagai canda dan tawa selalu  menghiasi pagi kami. Sebelum bergegas mandi, biasanya kami mandi dengan budaya  antri. Sembari  mengantri pula, kami  masih dapat menciptakan  canda dan  tawa. Ah alangkah manisnya kehidupan santri ku kala itu—tempat rantauanku. Setelah itu, kami menuju ke kelas masing-masing untuk mencari ilmu. Terlebih hal-hal konyol lain yang selalu berhasil kami ciptakan, tentu akan menjadi suatu kenangan terindah saat semua tak lagi bersama dalam satu atap—terbang pada ruas-ruas cakrawala, lalu menaburkan benih-benih rasa rindu.

2007 tampaknya menjadi saksi yang penuh arti dalam kehidupanku. Saksi saat aku bisa memaknai arti kata rantau lebih dari yang tertera dalam KBBI. Setelah hampir 6 tahun aku merantau di Kuningan, Jawa Barat, semesta memberikanku arti rantau lebih dari satu definisi. Entah ribuan, atau bahkan  miliran definisi yang tertanam dalam hati saat diriku berhasil melepaskan rasa takutku kala itu.  Tapi, aku ingin menuliskan satu definisi rantau yang menurutku sangat indah pada detik ini.

Bepergianlah
Jejak langkah kan selalu terarah
Setiap yang menampung lelah dan bertemu orang-orang ramah
Disitulah tempat bernama rumah

Lepas dari itu, merantau bagiku berbicara tentang menciptakan jarak dan juga rindu. Terbukti, saat aku jauh dari ibuku, rasa rinduku terus menggebu-gebu di dalam hatiku. Berbagai macam rasa kala itu berhasil membuat diriku memaknai arti kehidupan yang sebenarnya. Tidak heran jika setelah tahun 2007 aku berhasil membungkam rasa takutku sendiri. 2008,2009 hingga 2013 aku bersemayam dalam sebuah tempat yang bagiku indah sekali. Bertapa dalam ketenangan yang abadi, melukiskan senyum di tiap hari—tanpa melukis awan di malam hari. 6 tahun sudah aku merantau dalam genggaman ukhuwah, kebersamaan yang senantiasa menularkan energi positif hingga sekarang. 10 tahun sudah aku melukis sebuah rasa ke dalam kanvas kosong, merangkai cerita dalam senang. Aku sungguh beruntung pernah merantau ke tempat tersebut. Kuningan selalu  jadi  kota  penuh kenangan bagiku. Jikalau suatu hari ragaku sudah tak lagi kuat untuk menuliskan kalimat-kalimat tentang Kuningan, maka isi kepalaku akan terus merangkai cerita menjadi sebuah pelangi  yang selalu menghiasi hari-hari. Malamku tak akan lagi sepi, langit  mengantuk tak akan membiarkan dirinya terlelap dalam kejamnya nada elegi. Diriku tetap akan merangkai kalimat tentang Kuningan sampai nanti tak ada lagi hal yang bisa diceritakan terkait kota tersebut—barangkali itu sangat mustahil. 

Lekas saja, kubaringkan diriku di  atas sabana hijau. Memandang langit dengan sendu, mencoba menangkap kata-kata yang berkeliaran di malam hari. Tepat saat kutangkap kata-kata itu, kutemukan Kuningan sebagai  tempat rantauanku yang telah kutuangkan aksara-aksara ke dalam secarik kertas.

Adibio
Semarang, 31 Oktober 2017
 Untuk Kuningan yang penuh kenangan

Foto diambil saat selesai PPM (Praktek Pengabdian Masyakarat)
Back To Top