Januari: Awal Dari Segalanya?

Bagi sebagian orang, terutama aku, awal adalah suatu hal yang sulit untuk ditemukan. Mungkin untuk menemukan awal aku harus menyelami samudera terdalam terlebih dahulu dan menerka-nerka apa yang akan aku dapatkan nantinya. Di kedalaman samudera tak ada yang dapat aku lihat selain cahaya headlamp yang ada di kepala. Entah apa yang akan aku dapatkan, yang jelas aku memiliki keyakinan terhadap pencarian tersebut. Ya, awal memang rumit, berbahagialah bagi kamu yang terus mencari awal untuk mendapatkan hal-hal selanjutnya di kemudian hari. Tanpa mencari, mungkin kita tidak akan menemukan harta karun yang sedang menunggu kita, bukan?.

-----

Langit sore sedang tidak terlihat senang kala aku sedang duduk di sebuah kedai kopi. Ia tampak murung dan hendak meluapkan perasaannya saat itu juga. Jika saja aku dapat berdialog dengannya pada saat itu, mungkin aku akan berusaha menghiburnya supaya Bumi tidak kehilangan senyumannya. Namun tidak pada waktu itu. Kesedihan langit saat itu merambat ke dalam diriku dengan cepat. Tak jauh berbeda dengannya, aku juga sedang sangat murung. 

Awal tahun menjadi awal yang berat bagiku. Sendu melagu dengan indah seperti kata Asteria dan Iga. Hari demi hari aku merasa kehilangan sesuatu di dalam diri. Setiap langkah yang aku tapaki, selalu ada batu yang menghambat lajur pikiranku. Perlahan demi perlahan semua menumpuk menjadi satu, dan pada akhirnya aku hanya termangu di bawah langit yang sedang sendu. Tak ada yang terlintas satu pun di dalam pikiranku. Bahkan aksara yang senantiasa menemaniku beberapa tahun belakangan ini seketika lenyap sudah ditelan oleh rasa kegelisahanku. Bagi sebagian orang, rasa gelisah memang dapat menjadi komoditas. Lihat saja para komika, mereka dapat menuangkan rasa kegelisahannya menjadi sebuah materi yang dapat membuat orang lain tertawa melihatnya. Sedangkan aku, aku sendiri bahkan tidak tahu mau dibawa ke mana kegelisahan ini. Barangkali aku menyia-nyiakannya dan membiarkannya terbuang di antara laju air di jalanan. Entahlah, aku tidak tahu pasti. 

Awal tahun menggema begitu keras di sela-sela suara hatiku, mencoba untuk membangun sesuatu yang sedang tertidur lelap di dalam sukmaku. Barangkali ia berusaha untuk membantuku menemukan sesuatu yang aku cari selama ini. Namun, setiap aku mencari, saat itu juga aku tidak mendapatkannya. Resah, resah, dan resah. Hanya kabut gelap yang menutupi pandangan mataku dengan kilatan petir yang tiba-tiba mengagetkanku dengan keras.

Awal tahun menawarkan berbagai pilihan ke dalam kehidupan. Kata orang, hidup adalah tentang bagaimana kita menentukan pilihan. Terlambat saja kita menentukan pilihan, maka saat itu juga kita akan kehilangan kesempatan. Kesempatan tidak akan datang dua kali, namun menentukan pilihan tidak semudah berkicau di Twitter.

Suatu hari nanti, entah esok, lusa atau tahun depan, apa yang akan aku lakukan saat ini akan menjadi investasi yang penting nantinya. Aku percaya dengan itu. Jikalau tidak, aku mungkin tidak akan menuangkan kegelisahanku saat ini juga di dalam blog. Seperti halnya mentari, ia selalu tahu jalan pulang di saat segalanya terasa lelah untuk dijalani. 

Mungkin saja awal tahun ini merupakan awal dari segalanya, atau bisakah awal tahun ini menjadi awal dari segalanya? Semua tergantung terhadap diri masing-masing. Semoga jalan yang saat ini sedang kamu lewati merupakan jalan yang sesuai dengan tujuanmu. Jikalau tidak, bukankah kita masih bisa balik kepada suara hati?

-----

Jemariku sedang asyik menari di atas keyboard laptop. Mataku sedang tertegun melihat keadaan di sekitar kedai kopi. Sedang pikiranku, seperti biasa, mengembara entah ke mana.

saat itu di merbabu

Post a comment

0 Comments