Perkara Runyam di Tengah Malam

Malam telah jatuh tepat saat manusia sudah tidak lagi merasakan peluh. Kerja kerasnya selama satu hari telah terbayar penuh dengan melihat orang-orang yang disayangnya tersenyum sembari berbagi cerita tentang apa saja yang sudah dilakukan seharian ini. Dunia serasa damai, tak ada pertikaian yang berani menghinggapi suasana seperti itu. Sementara pada sudut kota lain, pertikaian nyatanya hinggap kepada sepasang kekasih yang sedang meributkan tentang hubungan mereka akhir-akhir ini. Chat seringkali tak pernah berbalas dengan cepat padahal sang perempuan telah menunggu cukup lama. Si perempuan mengira bahwa kekasihnya sedang chat-an dengan orang lain sehingga si perempuan langsung marah terhadap kekasihnya pada waktu itu. Pertikaian memang tidak pernah indah, namun akan tetap berakhir dengan kedamaian apabila diselesaikan dengan kepala dingin. Malam telah jatuh ketika manusia berdamai dan bertikai--memunculkan sumringah dan gundah di hati.

Malam belum jatuh kepada seorang pemuda yang sibuk menertawakan kertas kosong dihadapannya. Sedari tadi pukul 11 malam si pemuda sudah menggenggam pena di tangan kanannya dan kopi di tangan kirinya, katanya sudah bersiap-siap untuk membuat sebuah mahakarya yang akan menggemparkan dunia melalui aksara. Fokusnya pun sudah tidak main-main. Panggilan dari temannya untuk bermain Mobile Legend pun ia hiraukan. Tak peduli dengan rank nya yang saat ini masih Epic dan teman-temannya sudah Legend. Sangking fokusnya terhadap karya, pikirannya masih tertuju kepada sesuatu yang semu, sementara sang pena telah siap untuk berlaga.

Kini jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Pikirannya masih kosong begitu juga dengan kertas  yang ada dihadapannya. Waktu sudah berjalan selama 3 jam namun tak ada satu  pun aksara yang hinggap di atas kertasnya. Beberapa kali si pemuda tersebut mencoba untuk menggerakkan pena namun ia hentikan sekejap karena tatanan kata yang akan diuraikan masih melayang-layang di udara. Kalimat pun tidak pernah jadi dan ia masih termangu kepada televisi yang menayangkan FTV. 

Ah, andaikata menyusun skrip semudah menyusun obrolan di dalam adegan FTV, tentu aku sudah menyelesaikan karya ini menjadi sebuah cerpen. batin pemuda dalam hatinya.

Nyatanya, ia pun kalah dengan FTV yang berhasil membuat skrip dan menyelesaikannya. Berbeda dengan pemuda ini yang sedari tadi hanya mutar-mutar tak tentu arah, lalu pada akhirnya balik lagi ke tempat yang sama. Tak pernah ada kata selesai di dalam kamus pemuda itu malam ini. Pikirannya masih runyam tentang kata apa yang harus disusun untuk sebuah karyanya. Apakah kata pertamanya harus memakai "pada dahulu kala", "pada suatu hari", atau "malam telah jatuh". Pertanyaan-pertanyaan berdatangan seiring pikirannya yang masih semrawut.

Kini si pemuda tersebut berusaha untuk menangkap suatu hal yang tiba-tiba terlintas di pikirannya. Ia memikirkan bagaimana seandainya apabila manusia dapat melakukan time travel persis seperti yang dilakukan di dalam film Avengers: Endgame?. Mungkin tidak akan ada lagi perasaan seorang laki-laki yang patah hati karena tidak diterima oleh sang pujaan hati. Ia tinggal melakukan time travel menuju 5 atau 6 tahun sebelumnya dan mempelajari apa saja yang membuat sang pujaan hati dapat memberikan kasih sayang kepadanya. Mencari tahu tentang barang kesukaannya, ceritanya di masa lalu, dan apa saja yang harus dilakukan agar tidak ditolak. Setelah tahu tentang semuanya, maka ia tinggal kembali ke masa sekarang dan kembali menyatakan perasaan. 

Pikirannya masih terbang kemana-mana dan kali ini hinggap ke pembahasan yang agak serius. Sebelumnya pemuda ini sempat bertanya-tanya tentang bagaimana dunia ini jikalau tidak ada agama? Apakah dunia ini akan berjalan damai dan tidak ada pertikaian dimana-mana yang mengatasnamakan agama? Apakah hanya kasih sayang yang tersebar dan tiada kebencian sesama manusia? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang kali ini menguasai pikiran seorang pemuda tersebut. Maklum saja, belakangan ini kerapkali terjadi pertikaian yang mengatasnamakan agama. 

Padahal kalau hematku, namanya agama ya tidak ada yang mengajarkan permusuhan satu sama lain. Sesama manusia ya harusnya saling menyayangi wong kita sama-sama diciptakan dari tanah masa ndak bisa rukun. ungkap si pemuda ketika terjebak di dalam diskusi agama dan manusia bersama teman tongkrongannya.

Lelah, pemuda ini pun terasa berat sekali otaknya. Sedari tadi berpikir namun masih saja kertasnya kosong dan sang pena yang dijadwalkan berlaga pada pukul 11 malam tadi harus ditunda dalam waktu yang tidak ditentukan. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 dini hari dan akhirnya sang pemuda ini terlelap di dalam mimpi. 

Malam jatuh di saat sang fajar sedang menanti-nanti sang pujaan untuk menjemputnya. Direkamnya segala runyam yang terjadi di tengah malam, lalu dilaporkannya ketika sang fajar sudah bertugas di pagi hari. Malam tak pernah jatuh kepada seseorang yang terus berusaha untuk menangkap apa saja yang direkam oleh sang fajar pada tengah malam.

Bangun-bangun, sang pemuda langsung  dapat menuliskan sebuah kalimat yang menurutnya sangat bagus setelah semalaman dipikirkan,

"Tetaplah bermimpi walaupun yang lainnya sudah terlelap dalam mimpi".

gambar dari unsplash.com

Post a Comment

0 Comments