April: Bermuram Durja

Parang Tritis dari sang maestro Didi Kempot menggema di telinga saat aku mencoba untuk menangkap inspirasi. Rasanya sangat sedih mendengarkan karya dari seseorang yang begitu sederhana. Suaranya yang khas terngiang-ngiang sampai menelusuk ke relung hati. Kelak, saat aku membaca tulisan ini aku akan selalu mengenang bahwa di setiap katanya terselip karya Didi Kempot yang bertebaran dari sudut ke sudut, mewarnai tulisanku yang terlihat hitam putih, sehingga membuatnya terasa seperti pelangi di tengah pandemi seperti ini. Tak apa hanya muncul sejenak, asalkan berhasil membuat hati terenyuh di tengah virus corona yang kian membuat jenuh. Ah, terpaksa aku menyebutkan keyword itu di sini. Padahal rencananya aku tidak mau memasukkannya. Namun, tak apa, hitung-hitung menjadi keyword utama agar bisa dicari orang lewat halaman Google.

Berbicara mengenai karya, rasanya sangat tidak lega apabila belum menumpahkannya ke dalam bentuk apapun, seperti misalnya tulisan, video, maupun musik seperti yang dilakukan oleh Alm. Didi Kempot dan musisi-musisi tanah air lainnya. Karya selalu aku pandang seperti air terjun yang mengalir dari atas dengan sangat deras; suara gemericiknya terdengar sangat menyejukkan serta pemandangan airnya terasa sangat menyenangkan. Maka, malam ini aku memutuskan untuk kembali menuangkan cerita perjalananku (walau sebenarnya hanya di rumah aja) agar dapat menjadi sebuah karya. Tak mengapa walau terlihat tidak bagus atau bagaimana, sebab memulai adalah salah satu cara untuk menciptakan karya demi karya, lagi dan lagi. 

Sudah selama tiga bulan aku menuangkan satu tulisan per bulannya pada tahun ini. Mulai dari Januari, Februari, hingga Maret kemarin. Tahun ini tidak seproduktif tahun kemarin yang selalu menuangkan tulisan perjalanan ke dalam blog. Tidak apa, keadaan tidak harus selalu disalahkan. Kan, berkarya bisa dari mana saja? Yasudah, mari ikut ke dalam dimensiku dalam cerita bulan keempat pada tahun ini.

--------

Aku meratapi jiwa-jiwa yang merana dikarenakan nada elegi yang kian mencekam dari waktu ke waktu. Pagi hari mentari tak seperti biasanya menyapaku dengan manis. Aku tak melihat orang bercengkrama di sudut taman dengan canda tawa yang indah. Aku tak melihat sekumpulan anak remaja yang berjalan di pinggir kota, menyanyikan lagu-lagu kebersamaan untuk menciptakan suasana yang hangat. Aku tidak melihat senyumanmu selebar dahulu kala saat kita berbincang di tengah kota sembari bercerita mengenai indahnya hari-hari yang telah kita lewati. Semuanya tampak semu, hitam pekat, tanpa warna. Barangkali aku sudah tidak bisa lagi bercengkrama dengan aksara seperti yang aku lakukan dahulu kala di penghujung senja. Aku takut masa itu tiba. Aku belum siap hidup di tengah-tengah kerumunan orang kota yang mementingkan kepentingan semata tanpa adanya hati nurani yang berperan di dalamnya. Aku takut kegelapan yang lebih mencekam. Tak ada gemerlap bintang dan cahaya kota. Hanya gelap di mataku.

Aku masih ingin berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Bercerita tentang apa yang aku lihat, mendengarkan suara-suara alam, menari-nari di atas putihnya awan, menerka-nerka di balik pekatnya kabut. Tumbuh dewasa bukanlah hal yang menyenangkan, namun beginilah kehidupan. Setiap kenangan yang telah terjadi hanya bisa dibingkai lewat kata-kata. Maka beruntunglah bagi siapapun yang pintar dalam menyimpan kenangannya dari tahun ke tahun. Suatu saat, mereka akan tertawa bersama di teras rumah sembari menatap hijaunya sawah dan birunya langit;mengenang masa-masa indah.

Tak pernah aku setakut ini sebelumnya. Kehilangan hal yang aku rasa adalah satu-satunya yang bisa membuatku tenang di dalam kehidupan adalah suatu malapetaka. Mau ke mana diriku berlabuh jika kapal saja sudah hanyut ditelan oleh ombak? Rasa takut menggerogoti hari-hariku belakangan ini. Kehilangan dan ketakutan selalu menghantuiku, bahkan sampai detik ini saat aku berusaha untuk melepaskannya melalui kata-kata. Seperti berdiri di pinggir laut yang deras ombaknya, aku hanya menunggu untuk diterpa ombak yang besar; tanpa berbuat apa-apa hanya duduk semata.

Memasuki bulan keempat rasanya aku sudah muak dengan cerita-ceritaku tiga bulan yang lalu. Berbicara mengenai mimpi dan mimpi, lantas sampai saat ini aku masih berdiam diri, sepi, tanpa adanya rasa yang membuatku agar terus berkarya lagi dan lagi. Ah, memaki diri sendiri rasanya sangat enak sekali dalam suasana seperti ini. April sudah datang, namun aku masih saja berbual mengenai impian. Bangunlah dari tidurmu wahai anak manusia. Kelak, kau akan menyesali perbuatanmu saat ini.

Terkadang aku bertanya-tanya sendiri terkait impianku yang sudah aku bangun di tengah perjalanan. Apa iya ini impianku? Apa betul ini yang aku inginkan sedari dulu? Rasanya pertanyaan-pertanyaan itu menikamku secara perlahan-lahan dan memaksaku untuk menjawabnya pada saat itu juga.

Lantas, bagaimana dengan sunyinya malam yang selalu kau damba-dambakan dahulu? Mencari secercah aksara yang masih berkeliaran dengan imajinasi yang terbang dari satu tempat ke tempat lain. 
Lalu, bagaimana dengan dinginnya angin di ketinggian yang membuat dirimu menggigil? Memaksamu untuk menutup sleeping bag rapat-rapat agar tidak terasa dingin.

Tahun 2020, begitu banyak nestapa yang kau kirimkan di peradaban manusia. Nelangsa dan duka beriringan di samping kanan dan kiri manusia. Hanya dapat bermuram durja dan memaksa untuk menciptakan kesenangan lewat perantara gawai.

Tak ada harapan di tahun ini, hanya sedikit senyuman yang aku butuhkan hinggap di wajahmu.

---------

Lagu Parang Tritis dari Didi Kempot telah selesai berputar di Spotify. Ku tutup handphone-ku lantas aku kembali menatap atap kamar dengan penuh tatapan kosong.

Didi Kempot tak pernah pergi, karyanya selalu ada di hati.

Tribute to Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart.




Post a comment

0 Comments