Maret: Introduksi Penuh Amarah

Awal tahun yang penuh derita. Di ambang rasa amarah dan kasih sayang, di tengah-tengah haru tangis dan luapan emosi. Kegelisahan tiada ujung, cahaya yang kian remang-remang, manusia yang tidak terlihat dari kejauhan. Pernah berharap sedikit bahwa semua ini hanya fana belaka, terbangun dari mimpi, tiba-tiba saja sudah berada di antara pelangi yang menghiasi langit cakrawala. Namun kenyataannya harapan itu semu dan fana, kejadian saat ini adalah sebuah realita. Amarah dan air mata terus meluap di hingar-bingarnya kota, di sunyinya desa, di antara kata-kata yang terucap namun tak pernah tertangkap oleh ingatan. Jiwa kian meronta-ronta hendak berteriak hingga terdengar sampai ujung dunia. Semua meluap, seperti derasnya air terjun yang menghujam bebatuan di bawah.

----

Dari atas sini, gemerlap cahaya kota Jakarta terlihat dengan sangat jelas, begitu indah, dan berhasil memanjakan mata. Di sela-sela suara dentuman keyboard laptop yang sedari tadi bergema di telinga,  aku menyempatkan diri untuk melihat pemandangan malam dengan gemerlap lampu kota. Ketika menengok sebentar ke bawah, kendaraan-kendaraan berlalu lalang entah sedang menuju ke mana. Mungkin sehabis kerja dan hendak bertemu keluarga, atau bahkan baru memulai kerja dan meninggalkan keluarga?

Terlintas di dalam pikiranku untuk tetap di sini saja, di Pondok Indah Office Tower lantai 15, tepatnya di GoWork, namun tidak bisa. Sebab, tempat ini akan ditutup pada jam delapan malam dan mau tidak mau aku harus turun dari sini, yasudahlah. Lantas, setelah menikmati sejenak hiruk pikuk ibukota, aku bergegas merapikan laptop dan barang-barangku, lalu menuju lift untuk turun ke lobby lantai 1.

Gembira tentu saja bisa berada di tengah-tengah ibukota yang dikenal dengan kota yang tidak pernah mati. Setiap hari, dari pagi sampai malam dipenuhi manusia-manusia yang berjuang untuk mencari nafkah, entah untuk keluarganya atau untuk dirinya sendiri. Gedung pencakar langit bertebaran di mana-mana, mall-mall berjejeran siap memanjakan manusia yang konsumtif. Stasiun KRL maupun MRT selalu dipenuhi oleh orang-orang yang hendak pergi atau pulang dari kerja. TransJakarta selalu beroperasi dari halte ke halte lain lalu mengangkut penumpang dengan tujuannya masing-masing.

Aku sedang mencoba menikmati Jakarta dengan caraku sendiri; berjalan kaki di pinggir Pondok Indah Mall. Bukannya ingin melihat kemegahan dari mall yang biasa disingkat PIM tersebut, namun lebih kepada menghemat ongkos ojek online agar murah sampai ke Fatmawati, tempat kosku berada.

Sekuat apapun aku mencoba, tak pernah sampai kepada pemahaman untuk dapat menikmati Jakarta. 

----

Pertengahan Maret, aku memang benar-benar tak sempat menikmati Jakarta. Entah apa yang salah terhadap caraku, atau mungkin caraku sudah benar namun Jakarta bukanlah tempat untuk dinikmati. Sedang virus corona telah menghantui di setiap rumah-rumah orang di sekitaran Jakarta. Berita-berita mengharukan kerapkali datang dari berbagai media. Haru tangis tak terbendung sepersekian detik, amarah kian meluap dari detik ke detik. Mungkin, belum saatnya bagiku untuk menikmati kota Jakarta.

Banyak orang yang bilang bahwa sebenarnya siapa virus yang sebenarnya di muka Bumi ini, manusia atau corona? Sebab, adanya corona membuat langit Jakarta terlihat selalu indah tanpa adanya polusi.

Mari, coba lain kali. Menikmati sesuatu bukan tentang merasakan keindahan dalam jangka pendek, melainkan menjalani proses, entah baik atau buruk.

semeru



Post a comment

0 Comments