Resensi Novel Bumi Manusia: Pribumi Tidak Layak Di Mata Eropa - Perjalanan Adibio Resensi Novel Bumi Manusia: Pribumi Tidak Layak Di Mata Eropa

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Resensi Novel Bumi Manusia: Pribumi Tidak Layak Di Mata Eropa

Berbicara mengenai buku Bumi Manusia tentu  tidak terlepas dari sang maestro sastra Indonesia, Pramoedya Anata Toer. Sastrawan terkemuka yang saat ini sangat melegenda di Indonesia bahkan  di dunia ini masih hidup di antara deretan aksara yang diciptakannya walau raganya sudah tiada. Beliau pernah berkata "orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian". Benar saja, kalimat yang pernah beliau katakan langsung semasa hidup tersebut saat ini benar-benar menginsipirasi semua orang. Beliau menulis, beliau tak pernah hilang dari masyarakat bahkan sejarah sekalipun.

Bumi Manusia merupakan salah satu karya beliau yang sampai saat ini selalu menjadi perbincangan para pegiat sastra di seluruh Indonesia. Bumi Manusia tergabung dalam tetralogi pulau buru yang berisi Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, serta Rumah Kaca. Empat buku tersebut ditulis oleh Pram ketika beliau berada di pulau Buru. Pria kelahiran Blora, 6 Februari 1925 tersebut menyajikan cerita yang menarik mengenai masa kolonial yang ia kemas dengan kata-kata yang lugas serta nyaman untuk dibaca hingga zaman sekarang. Berbagai quote serta gagasan pemikirannya yang cerdas dituangkan dengan bijak lewat tulisan yang secara tidak langsung melawan bangsa Eropa pada masa kolonial.

Di dalam novel Bumi Manusia yang diceritakan oleh Pram terdapat sosok Pribumi yang memiliki derajat tinggi sebagai seorang anak Bupati. Ia biasa dikenal sebagai Minke. Dikarenakan ia adalah seorang anak Bupati, maka ia diperbolehkan untuk menempuh pendidikan di sekolah H.B.S (Hogere Burger School). Bagi yang belum mengetahui, H.B.S merupakan pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa, ataupun Elit Pribumi.

Tidak heran apabila Minke cukup fasih dalam berbahasa Eropa, ia bahkan sangat mengenal sekali budaya Eropa. Namun tetap saja, Pribumi hanyalah Pribumi, di mata orang Eropa seorang Pribumi tidak ada gunanya. Hingga suatu ketika Minke diajak ke sebuah rumah oleh temannya di sekolah, Robert Suurhof, dan ternyata rumah tersebut adalah rumah milik Tuan Herman Mellema yang tinggal bersama gundik yang ia beli, Nyai Ontosoroh, serta menghasilkan dua anak keturunan Pribumi Eropa atau biasa disebut Indo. Dua anak tersebut adalah Robert Mellema serta Annelies Mellema.

Cerita begitu berbeda ketika Minke mengenal keluarga Mellema tersebut. Sebagai seorang Pribumi yang memiliki pendidikan Eropa, ia tahu persis bagaimana kinerja seorang Pribumi seperti Nyai Ontosoroh yang hanya bisa membereskan rumah saja. Nyatanya, anggapan tersebut salah besar. Nyai Ontosoroh, Pribumi yang hanya gundik seorang Tuan Mellema tersebut bisa baca tulis serta mengerti bahasa Eropa dengan bagus. 

Dalam hal ini, Pram benar-benar menggambarkan bagaimana seorang Pribumi yang ia hidupkan di dalam novel Bumi Manusia mengalami hibriditas budaya yang sering kita kenal sebagai percampuran budaya.  Pribumi pada masa kolonial hanya tahu urusan rumah saja tanpa mengerti pendidikan dan semacamnya. Pram, dalam novelnya seakan-akan membuat perlawanan dengan sangat halus lewat seorang Pribumi yang mendalami kebudayaan serta ilmu Eropa, dalam hal ini melalui perantara dari tokoh Minke dan Nyai Ontosoroh. Terlebih Minke merupakan seorang jurnalis yang kerapkali menulis tentang apa saja yang ia alami semasa hidupnya. Lewat tulisan tersebut, Minke kerapkali mengkritik kebijakan-kebijakan bangsa Eropa pada saat masa kolonial.

Sayangnya, Pribumi selalu tidak layak di mata Eropa. Hukum seakan-akan membuat kekuatan seorang Pribumi tidak berdaya walau dengan segenap tenaga melawan kebengisan Eropa. Di akhir cerita Bumi Manusia tersebut Minke harus rela melepas Annelies Mellema, istrinya, yang terjerat hukum Eropa sehingga harus kembali lagi ke Belanda. Hukum pernikahan sah antara seorang Pribumi seperti Minke serta seorang Indo seperti Annelies Mellema tidak ada harganya dihadapan hukum Eropa pada masa kolonial tersebut. Pram benar-benar menggambarkan kisah tragis cinta dari dua orang yang terpisah akibat strata sosial yang mereka dapatkan. Pribumi tidak mendapatkan haknya sama sekali.

Di akhir, Nyai Ontosoroh berkata sangat halus kepada Minke, "Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.".

Membaca novel Bumi Manusia tentu kamu akan dituntun dengan pelik kehidupan pada masa kolonial. Selain itu, ketidak adilan dalam kelas sosial benar-benar digambarkan antara Pribumi dan Eropa. 

Gambar dari gramedia.com

Labels: Sastra

Thanks for reading Resensi Novel Bumi Manusia: Pribumi Tidak Layak Di Mata Eropa. Please share...!

0 Komentar untuk "Resensi Novel Bumi Manusia: Pribumi Tidak Layak Di Mata Eropa"

Back To Top