Review Film Story of Kale: When Someone's in Love, Antara Cerita dan Derita

Bulan Januari lalu, film besutan Angga Dwimas Sasongko yang berjudul Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini berhasil membuka awal tahun yang baik untuk perfilman Indonesia. Diambil dari buku Marchella FP, film tersebut mampu membuat penikmat film di Indonesia menyadari bahwa kesedihan yang ditutupi untuk menciptakan kebahagiaan justru malah menimbulkan kekecewaan bagi seseorang, khususnya bagi Awan, Aurora, dan juga Angkasa.

Terlepas dari cerita itu, ada satu karakter yang berhasil menyita perhatian banyak orang. Karakter Kale yang dimainkan oleh Ardhito Pramono cukup sukses kala itu. Sebab, di dalam film tersebut Kale berperan menjadi seorang laki-laki brengsek yang menolak cinta Awan setelah mereka sempat berciuman di salah satu konser Hindia. Di tengah-tengah Baskara yang sedang sendu-sendunya melantunkan lagu Secukupnya, tiba-tiba saja Awan dan Kale berciuman layaknya seorang pasangan yang sedang dimabuk asmara.

Nah, dari cerita tersebut, banyak yang mengasumsikan bahwa Kale mempunyai cerita buruk di masa lalunya mengenai cinta. Dari situ, maka munculah film yang berjudul Story of Kale: When Someone's in Love.

Tepat tanggal 23 Oktober, film Story of Kale bisa dinikmati oleh seluruh pencinta film di Indonesia melalui bioskoponline.com. Dengan hanya membayar Rp.10.000 saja, kamu bisa menikmati adegan Kale melalui layar laptop atau handphone tanpa perlu pergi ke bioskop.

Jika di film NKCTHI lawan main Ardhito Pramono adalah Aurora Amanda (Awan), kali ini di Story of Kale ia bermain dengan Aurelie Moeremans (Dinda). 

Dalam tulisan ini, aku tidak akan banyak membahas mengenai cerita filmnya. Selain tidak mau spoiler, kamu juga berhak mengutarakan pendapat mengenai film ini sehingga nantinya kita bisa diskusi bersama-sama.

Pertama kali melihat film ini, pikiranku seolah-olah dikembalikan oleh Angga Dwimas Sasongko kepada adegan di mana Kale sedang memainkan piano, lalu Aurora bertanya kepada Kale mengenai status hubungan mereka berdua.

Dalam film Story of Kale, Kale juga sedang bermain piano, bedanya di salah satu sudut ada Aurelie (Dinda) yang duduk di belakang Kale, kemudian tiba-tiba dia berkata, "Le, sebaiknya kita putus".

Dari sini, aku melihat bahwa sutradara sangat cerdik dalam memainkan imajinasi audiens ketika menggabungkan cerita dari dua film. Sebab, menurutku ini adalah salah satu hal jenius yang dilakukan untuk membuat benang merah dari NKCTHI dan Story of Kale. Bukan berarti kamu harus menonton NKCTHI dulu untuk mengerti alur cerita Story of Kale. Melainkan, ada value atau nilai yang diberikan sutradara kepada audiens supaya tertarik untuk mengikuti universe dari NKCTHI.

Jika di NKCTHI Aurora meminta kelanjutan status hubungan, justru di Story of Kale Dinda meminta untuk memutuskan sebuah hubungan. Ini menurutku adalah awal jenius yang dibuat oleh sang sutradara atau siapapun itu.

Selebihnya, film ini hanya bercerita mengenai seorang perempuan yang menemukan kenyamanan bukan dari pacarnya sendiri, melainkan dari selingkuhannya. Akan tetapi, di sisi lain, cowo itu tidak bisa menerima kenyataan bahwa cewenya selingkuh. Sampai pada akhirnya, saat cewenya ingin pergi, cowo tersebut terus menahannya karena tidak mau kebahagiaannya hilang begitu saja. 

Naasnya, cowo tersebut adalah Kale. Kale sepenuhnya menyerahkan kebahagiannya kepada Dinda. Sayangnya, Dinda harus pergi karena dirinya sudah menemukan 'kebebasan' yang lain. Ia menemukan kenyamanan yang tidak diberikan oleh Kale dari selingkuhannya. Alhasil, kebahagiaan Kale musnah seketika. Ia tidak berdaya, ia menganggap semua ini tidak adil.

Cerita intinya memang seperti itu. Tetapi, sutradara mengemasnya dengan sangat baik. Alur maju mundur dipilih untuk mengemas cerita tersebut menjadi sangat menarik untuk diikuti. Alur mundur menceritakan bagaimana Dinda dan Kale sama-sama saling berusaha untuk saling membahagiakan. Kale berjuang mati-matian untuk mendapatkan perhatian Dinda. Di sisi lain, Dinda berjuang untuk terlepas dari masa lalunya. Masa lalu di mana ibunya selalu diperlakukan dengan keras oleh ayahnya, tetapi ibunya tidak pernah pergi meninggalkan ayahnya. 

Satu hal yang menarik dari film ini adalah masa lalu dari Kale dan Dinda mempengaruhi mereka dalam menjalani kehidupan yang sekarang, khususnya dalam menjalani hubungan. Jika Dinda masa lalunya seperti itu, Kale memiliki masa lalu yang tidak kalah pedih; ayahnya ditinggalkan ibunya, kemudian ayahnya menjadi tidak berdaya dan meninggalkan dirinya juga.

Dialog antara Kale dan Dinda berlangsung sangat rapat. Dialog mengenai hubungan, kebahagiaan, dan lain-lain terangkum indah dari mulut mereka berdua. Tidak hanya itu saja, adegan-adegan kekerasan pun juga tidak terelakan dalam film ini. Argo, pacar Dinda yang muncul di awal film menunjukkan bahwa toxic relationship itu benar-benar nyata adanya. Kata-kata keras, umpatan, bahkan kontak fisik dengan pacar langsung ditunjukkan di awal film ini. 

Terlepas dari semua itu, satu hal yang membuatku terpukau dari film ini adalah alunan musik yang dimainkan oleh Arah. Arah, band yang di manajeri oleh Kale di film NKCTHI memegang peran penting dalam film Story of Kale. Bisa dibilang, Arah menjadi tokoh yang mencairkan suasana panas yang terjadi antara Kale dan Dinda. 

Inti dari review ini bisa dibilang adalah masa lalu dapat mempengaruhi bagaimana kita menjalani kehidupan yang sekarang.

Terakhir, aku ingin mengutip quotes dari Dinda yang kira-kira berbunyi seperti ini, "ga ada orang yang bisa bertanggung jawab atas kebahagiaan di hidup kita selain diri kita sendiri".

Sumber: Hipwee.com




Post a comment

0 Comments