Sebuah Kisah di Pasar Bubrah Part 3 - Perjalanan Adibio Sebuah Kisah di Pasar Bubrah Part 3

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Sebuah Kisah di Pasar Bubrah Part 3

Udara dingin kian merambat ke dalam badanku. Walaupun badanku sudah tertutup rapat oleh sleeping bag namun badanku tak kuasa bergetar karena dinginnya udara di pasar bubrah. Ku dapati jam tanganku, pukul 03:30. Sebentar lagi mentari akan menyapa semesta, atau lebih tepatnya, pada pagi ini aku akan menyambut sapaan mentari dari pasar bubrah. Setelah mimpi semalam, tidurku begitu pulas. Entah angin yang menina bobokanku atau suara gamelan yang sampai saat ini masih terngiang walau datang dari mimpi. Yang jelas, aku sangat bersyukur bisa mendapati tidur nyenyak selama beberapa jam di gunung. Bahkan, jika sedang beruntung, aku dapat berjam-jam tidur di antara dinginnya udara dan nyamannya tenda.

Aku membangunkan temanku. Memberitahu dia bahwa sebentar lagi cakrawala langit akan dihiasi oleh garis horizontal keemasan. Setelah ia berusaha mengumpulkan nyawanya dan mengucek-ngucek matanya, tiba-tiba dia bertanya kepadaku :

"Gek bengi koe ngerungokke suara gamelan rak?jelas banget ik, aku ngantek nyumpel kupingku karo tisu". Ucap dia sambil gemeteran karena memang udara menjelang pagi hari cukup dingin.

Dalam batinku, apakah benar suara-suara yang terdengar semalam serta sosok makhluk yang berperawakan tinggi tersebut bukan hanya sekadara mimpi? Bagaimana mungkin temanku juga mendengarkan suara tersebut dengan jelas tanpa perantara mimpi?.

"Suara gamelan opo? orak ono ndes! ngimpi yak e koe". Aku terpaksa berpura-pura kepadanya agar suasana tidak semakin keruh.

"He eh yo paling cuman mimpi,  tapi kok lumayan jelas ya suarane?" Batin temanku sambil meletakkan tangannya ke bawah dagu, persis seperti orang sedang berpikir.

"Wis, saiki mending metu tendo. Siap-siap. Delok kas sunrise e bakal metu" Ucapku untuk menenangkan suasana pagi itu.

Setelah membuka tenda dan melihat sekitar, sudah banyak sekali para pendaki yang siap menyambut sang mentari. Mereka pun menyambutnya dengan bermacam-macam. Ada yang sedang menyiapkan tripod serta kamera DSLR/Mirrorlesnya untuk mengabadikan kedatangan sang mentari dengan sebuah timelapse, ada yang sudah mencari spot terbaiknya untuk berfoto bersama sang mentari, ada yang mempersiapkan secangkir kopi serta menyalakan api untuk merokok, dan ada yang hanya berdiam diri sambil  menunggu garis horizontal tersebut tampak keemasan di langit sana. Mentari tampak menuai sambutan yang hangat dari para manusia di pasar bubrah saat ini. Kedatangannya membawa penuh kedamaian pada semesta, kehangatannya membuat para pendaki akan sedikit kehilangan rasa dinginnya. Bagaimanapun juga, menikmati mentari terbit di gunung merupakan salah satu hal yang patut kamu coba sekali seumur hidup.

Garis horizontal tersebut sudah menampakkan cahaya keemasan. Di sebelah timur, tepat di kiri pasar bubrah garis itu mulai menunjukkan sosoknya. Begitu damai menatapnya, seakan-akan kamu terbawa masuk oleh cerita yang sebentar lagi akan disampaikan oleh garis horizontal tersebut. Mataku cukup jelas melihat bagaimana gradasi warna yang terjadi ; hitam menyusut setengah lalu cahaya keemasan hidup dan pandangan manusia tak akan luput. Pasar bubrah menjadi saksi bagaimana mataku tak henti-henti menatap keajaiban alam tersebut. Sembari menghembuskan napas dan menahan udara dingin pagi itu, hatiku terasa hangat dengan hadirnya sang mentari.

Tanpa sengaja, mataku menangkap tonjolan lingkaran yang muncul di antara garis horizontal tersebut. Begitu bulat, begitu sempurna. Para penangkap momen tentu sangat menunggu hal tersebut ;mengabadikannya lewat lensa kamera. Sedang aku, hanya duduk di atas batu sembari mengambil kertas dan pena yang sedari tadi aku masukkan ke dalam saku kemejaku.

Kau adalah titisan semesta
Datang dengan hangat lalu kian dekat
Manusia melupakan perpecahan
Esok akan penuh kejutan

Di datanginya bumi dengan embun
Tergerai kata-kata di antara lekukan cakrawala
Tiap  pagi akan selalu berbeda cerita
Muntup mentari, hidup, surup untuk hinggap di pelupuk
Bola mata siapa yang indah
Mentari tetap akan merekah

Malam telah menua
Pagi kian menggoda
Maukah kamu bersandar di atas batu bersamaku di pasar bubrah?
Lalu kita akan membuat sebuah kisah, bersama. sampai tua.

Kertas itu aku masukkan kembali ke dalam saku kemejaku. Setelah itu aku sengaja ingin berjalan di sekitar pasar bubrah, ingin melihat keadaan pagi itu. Beberapa langkah saja, para pendaki lain selalu menawari kopi ataupun makan bersama di tenda mereka. Selain pemandangan, kebersamaan sesama pendaki merupakan hal yang indah dari sebuah pendakian. Di gunung, semuanya adalah saudara, tak ada perpecahan, melainkan persatuan. Indonesia adalah tempat terbaik yang aku tinggali selama ini. Terima kasih ibu pertiwi.

Sudah banyak para pendaki yang menawari minum kopi bersama, juga menawari makanannya. Aku selalu tergoda kepada pendaki yang membawa stok makanan lengkap. Mulai dari sosis hingga tempe. Ah, kenikmatan yang tiada tara. Hingga tiba-tiba saja ada segerombolan pendaki yang menghampiriku dengan sangat panik, lalu bertanya kepadaku.

"Mas, mas tahu gak kalau semalam ada suara gamelan yang sangat nyaring di pasar bubrah? Saya takut sekali mas semalem" Ujar pendaki tersebut.

"Ah masa mas, mungkin di mimpi mas kali" Ucapku dengan santai.

"Enggak mas, suara itu beneran nyata. Dan saya bertanya kepada mas soal itu karena ada suatu alasan" Pendaki tersebut tampak sangat gugup sekali.

"Alasan?maksudnya gimana mas?" Tanyaku dengan heran.

"Iya mas, semalem waktu saya mendengar suara gamelan yang nyaring saya langsung keluar dari tenda. Kemudian secara tidak sengaja saya melihat mas keluar dari tenda kemudian jalan ke ujung kanan pasar bubrah itu mas" Ucap pendaki tersebut sambil menunjuk tempat yang dituju.

Bersambung....



Labels: Sastra

Thanks for reading Sebuah Kisah di Pasar Bubrah Part 3. Please share...!

0 Komentar untuk "Sebuah Kisah di Pasar Bubrah Part 3"

Back To Top