Perjalanan Adibio: Sastra | Kelana Lara Perjalanan Adibio: Sastra

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Review Film Bumi Manusia: Antara Kata dan Visual

Sontak para penonton sangat kaget karena sebelum menikmati film harus berdiri terlebih dahulu untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia: Indonesia Raya. Jantung pun berdegup kencang dan gemetar hingga menuju kepala. Getaran rasa bangga menyelimuti seluruh tubuh saat mendengar lagu Indonesia Raya bergema di dalam studio bioskop. Walaupun begitu, ada satu dua penonton yang terlihat tidak bangga akan diputarnya lagu Indonesia Raya. Terlihat sekali bahwa ia malas untuk berdiri, namun pada akhirnya ia ikut berdiri untuk menghormati yang lainnya. Mungkin dalam hatinya berbunyi seperti ini, "Alah ngapain sih mau nonton bioskop doang pake harus nyanyi-nyanyi segala? berdiri lagi orang udah enak duduk".

Film pun diputar dan kita semua terhanyut dalam cerita karya sastrawan besar kita, Pramoedya Ananta Toer yang dikemas dalam sebuah film karya Hanung Bramantyo. Sungguh aneh rasanya harus melihat secara visualisasi tentang diksi Pram yang sangat indah di dalam imajinasi masing-masing setiap pembacanya. Pram menggambarkan dengan sangat indah ketika Minke terlihat pucat karena harus berada di rumah seorang Eropa yang sangat besar. Annelies pun bertanya kenapa Minke terlihat pucat. Mendapat pertanyaan tersebut Minke langsung berucap bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang dewi cantik, kemudian Annelies berpura-pura bertanya siapa yang dimaksud dewi oleh Minke. Lalu tanpa ragu Minke mengucap bahwa dewi yang ia maksud adalah Annelies. Annelies pun kembali bertanya kepada Minke sebagai bentuk penegasan bahwa ia memang dibilang cantik oleh Minke. Tanpa ragu, Minke pun menjawab dengan dua kata yang sangat indah, "tanpa tandingan". Tiba-tiba saja Annelies memanggil mamanya dan membuat Minke terkejut, takut akan dimarahi oleh mamanya Annelies, yaitu Nyai Ontosoroh. Terbayang begitu indah jika kita memandangnya dengan imajinasi yang tidak ada batasnya. Terlebih hal ini terjadi ketika masa kolonial, saat bangsa Indonesia sedang dijajah dan rasanya sulit untuk mendekati seorang Indo apabila kamu seorang Pribumi. 

Dalam film Bumi Manusia digambarkan bahwa Minke yang diperankan oleh Iqbal menatap dalam-dalam sosok Annelies yang diperankan oleh Mawar Eva de Jongh. Saat Iqbal mengatakan bahwa Mawar merupakan sosok orang yang secantik dewi, kedua orang tersebut saling bertatapan satu sama lain. Namun saat Iqbal bilang tanpa tandingan, ia mendekatkan kepalanya di telinga sebelah kanan Mawar dan mengatakan kalimat tersebut dengan cara berbisik. Sontak imajinasi kita yang telah terbangun sebelumnya akan hancur seketika dengan penggambaran seperti itu. Karena kita tahu, membaca kata selalu membawa kita kepada ruang-ruang yang berbeda. 

Tidak hanya pada scene itu saja, scene yang lainnya seperti ketika Robert Mellema tidak menerima seorang Pribumi seperti Minke datang ke rumahnya, Herman Mellema yang memarahi Minke saat sedang makan malam bersama Annelies, Robert Suurhof, Robert Mellema dan Nyai Ontosoroh serta scene ketika Minke sedang berdebat dengan Sarah de La Croix dan Miriam de La Croix. Bahkan peristiwa ketika Robert Mellema sedang berbicara dengan Minke tentang keinginan Robert untuk pergi dari rumah dengan berlayar tidak tertuang dalam film. Aku rasa ketika orang banyak yang berkata bahwa Iqbal tidak pantas memerankan Minke, justru aku bertanya-tanya tentang peran Robert Mellema yang dimainkan oleh Giorgino Abraham. Rasanya imajinasiku benar-benar hancur tentang peran Robert Mellema yang seharusnya terlihat sangat garang dan ganas. Sayangnya, ekspresi Giorgino saat pertama kali melihat Minke terlihat biasa saja, yang kuingat hanya ia meludah ke kiri.

Setiap novel yang dijadikan film seringkali membuat kecewa para penonton yang telah membaca novel tersebut. Bagiku, aku memang sebenarnya kecewa karena imajinasiku benar-benar dimainkan begitu saja oleh sebuah visualisasi. Namun di sisi lain, aku juga sangat mengapresiasi adanya film Bumi Manusia ini karena akan memperkenalkan dunia sastra kepada negara Indonesia yang katanya minat literasinya rendah. Dengan dimulainya film ini, tentu akan ada banyak orang yang penasaran akan cerita aslinya di novel. Terbukti, akhir-akhir ini sebelum film Bumi Manusia rilis banyak sekali toko-toko buku online ataupun offline yang memperbanyak stok buku Bumi Manusia demi memuaskan hasrat masyarakat Indonesia.

Dari semua pemeran yang ada di film Bumi Manusia, rasanya aku sangat menyukai sosok Nyai Ontosoroh yang diperankan oleh Sha Ine Febriyanti. Ine Febriyanti berhasil mencampur adukkan perasaanku sedari awal film hingga akhir film. Menurutku ia sukses memerankan Nyai Ontosoroh dengan baik. Aktingnya ketika memarahi balik Herman Mellema ketika mengatai Minke sebagai monyet benar-benar emosional. Tatapan mata Ine Febriyanti sangat tajam dan suaranya sangat parau, persis seperti yang digambarkan oleh Pram di novel. Terlebih akting Ine Febriyanti di akhir film ketika sedang menjalani persidangan Eropa. Ia benar-benar sangat ekspresif dalam menggambarkan penindasan orang Eropa terhadap Pribumi. Ia bahkan juga ikhlas menerima kekalahan ketika sudah tidak ada harapan atas semua masalah yang ia hadapi. Sampai pada akhirnya, kalimat pamungkas Pram yang beliau taruh di akhir novel benar-benar ngena ketika dimainkan oleh Ine Febriyanti. 

Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Ringkasannya, pada awal film ini memang sempat membuat aku ngantuk karena terlihat seperti roman picisan antara Iqbal dan Mawar. Bahkan ada adegan yang sebenarnya terlihat sedih saat di buku namun ketika melihat ekspresi Iqbal justru penonton tertawa. Satu lagi, rasanya adegan antara Jean Marais dan Minke terlihat kurang. Harusnya percakapan antara kedua sahabat tersebut terdengar intim. Pada akhir film ceritanya baru menegangkan dan hampir membuat air mataku jatuh ketika melihat perjuangan Minke dan Nyai Ontosoroh melawan hukum Eropa.

Terlepas dari semua itu, adegan yang sangat aku favoritkan sejauh ini adalah adegan ketika flashback menceritakan bagaimana Nyai Ontosoroh atau Sanikem bisa menjadi gundik dan berada dalam genggaman Herman Mellema. Flashback terlihat sangat rapi dan menyenangkan. Juga adegan ketika Minke berdiskusi dengan Miriam de La Croix dan Sarah de La Croix. Aku kira adegan tersebut tidak akan dituangkan ke dalam film seperti halnya adegan percakapan antara Robert Mellema dengan Minke. Namun tak disangka-sangka, adegan tersebut dibuat flashback oleh sang sutradara, Hanung Bramantyo.

Aku rasa, orang yang tadi malas berdiri ketika lagu Indonesia Raya berkumandang akan merasa malu setelah melihat fim Bumi Manusia.

Kalau boleh aku menilai film ini, rasanya aku akan menilainya dengan 7,5/10. Terima kasih.


Kebangkitan Emo di Era Sekarang

Sore hari tak ada lagi senja kopi senja kopi dengan deretan kata-kata yang membentuk puisi. Sembari menuliskan beberapa artikel, aku lebih memilih untuk memutar album Fresh Start From Something New dari Killing Me Inside. Suara Sansan yang melengking dengan teriakannya yang memekakkan telinga selalu berhasil membuat para pendengarnya kembali ke zaman 2000 an, ketika zaman itu catok rambut  dan dandan ala anak emo menjadi trend. Sesekali Onad ikut nimbrung suara teriakan Sansan sambil memegang bassnya yang menawan. Sementara itu di sudut panggung lainnya Josaphat dan Raka berusaha untuk melakukan guitar spinning untuk memanjakan mata para penonton. Rendy dengan tangannya yang perkasa memukul drum sekenanya dan membentu pola pukulan drum yang membuat musik mereka semakin liar. Sesekali double pedal ia mainkan serta hit-hat yang lebih sering dibiarkan. 

Seiring berkembangnya zaman, scene emo tidak lagi diminati oleh orang. Orang-orang lebih memilih mendengar lagu easy listening yang berbalut EDM atau menikmati musik folk dengan liriknya yang menawan. Siapa yang sekiranya sudi mendengarkan lagu-lagu teriak yang dibilang tidak jelas sehingga dapat merusak telinga? Tidak ada. Gitar akustikan serta suara lirih yang jernih tentu akan mendatangkan massa yang banyak. Namun akhir-akhir ini scene Emo yang sempat hilang kembali hadir di tengah-tengah masyarakat. Tak jarang saat ini sudah banyak acara Emo Night yang bertebaran di seluruh daerah. Menyanyikan lagu-lagu Emo, diiriingi oleh DJ set yang memutarkan lagu-lagu emo populer era 2000-an seperti Saosin, My Chemical Romance, Taking Back Sunday, Story Of The Year, Finch dan lain-lain. 

Tidak hanya bernuansa DJ set saja, baru-baru ini salah satu festival musik di Indonesia, Synchronize Fest mengadakan pre event yang bertempat di Beer Garden SCBD dengan bernuansa Emo Night. Acara tersebut menghadirkan The Side Project, salah satu band emo di Indonesia, & friends. Tidak hanya TSP & friends, juga ada Dieunderdogg yang turut meramaikan. Dalam event tersebut TSP & friends memainkan musik-musik emo langsung dengan format full  band sehingga atmosfir emonya pun semakin terasa. Ditambah dengan adanya suara khas scream Sansan dan Dochi serta Ferron yang berhasil mengisi ruangan dengan padat.

Kebangkitan emo tidak hanya ditandai dengan banyaknya acara Emo Night, melainkan hadirnya kembali Killing Me Inside dengan nama Killing Me Reunion yang akan diisi oleh Sansan, Onad dan Raka. Kabarnya, Onad tidak akan mengajak Josaphat  dalam Killing Me Reunion karena seperti yang kita ketahui Onad memiliki masalah pribadi terhadap Josaphat. Onad bahkan berkata di youtube Suaradotcom bahwa Josaphat orangnya ribet sehingga ia tidak ingin melibatkan Josaphat dalam Killing Me Reunion. Killing Me Reunion pun sudah memiliki akun instagram, yaitu @killingmereunion. Kabarnya Onad akan mengaransemen ulang semua lagu Killing Me Inside yang dahulu menjadi musik yang baru ditambah dengan adanya visual yang tajam. Dan kabar baiknya, Killing Me Reunion akan tampil di  Synchronize Fest 2019 yang akan berlangsung pada tanggal 4,5,6 Oktober 2019.

Blessed By The Flower of Envy kali ini berhasil membuat telingaku dimanjakan dengan suara khas Sansan dan Onad. Hadirnya emo akan menjadi sejarah yang menarik dalam dunia musik, terutama dalam kancah permusikan di Indonesia.

gambar dari insertlive.com

Perkara Runyam di Tengah Malam

Malam telah jatuh tepat saat manusia sudah tidak lagi merasakan peluh. Kerja kerasnya selama satu hari telah terbayar penuh dengan melihat orang-orang yang disayangnya tersenyum sembari berbagi cerita tentang apa saja yang sudah dilakukan seharian ini. Dunia serasa damai, tak ada pertikaian yang berani menghinggapi suasana seperti itu. Sementara pada sudut kota lain, pertikaian nyatanya hinggap kepada sepasang kekasih yang sedang meributkan tentang hubungan mereka akhir-akhir ini. Chat seringkali tak pernah berbalas dengan cepat padahal sang perempuan telah menunggu cukup lama. Si perempuan mengira bahwa kekasihnya sedang chat-an dengan orang lain sehingga si perempuan langsung marah terhadap kekasihnya pada waktu itu. Pertikaian memang tidak pernah indah, namun akan tetap berakhir dengan kedamaian apabila diselesaikan dengan kepala dingin. Malam telah jatuh ketika manusia berdamai dan bertikai--memunculkan sumringah dan gundah di hati.

Malam belum jatuh kepada seorang pemuda yang sibuk menertawakan kertas kosong dihadapannya. Sedari tadi pukul 11 malam si pemuda sudah menggenggam pena di tangan kanannya dan kopi di tangan kirinya, katanya sudah bersiap-siap untuk membuat sebuah mahakarya yang akan menggemparkan dunia melalui aksara. Fokusnya pun sudah tidak main-main. Panggilan dari temannya untuk bermain Mobile Legend pun ia hiraukan. Tak peduli dengan rank nya yang saat ini masih Epic dan teman-temannya sudah Legend. Sangking fokusnya terhadap karya, pikirannya masih tertuju kepada sesuatu yang semu, sementara sang pena telah siap untuk berlaga.

Kini jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Pikirannya masih kosong begitu juga dengan kertas  yang ada dihadapannya. Waktu sudah berjalan selama 3 jam namun tak ada satu  pun aksara yang hinggap di atas kertasnya. Beberapa kali si pemuda tersebut mencoba untuk menggerakkan pena namun ia hentikan sekejap karena tatanan kata yang akan diuraikan masih melayang-layang di udara. Kalimat pun tidak pernah jadi dan ia masih termangu kepada televisi yang menayangkan FTV. 

Ah, andaikata menyusun skrip semudah menyusun obrolan di dalam adegan FTV, tentu aku sudah menyelesaikan karya ini menjadi sebuah cerpen. batin pemuda dalam hatinya.

Nyatanya, ia pun kalah dengan FTV yang berhasil membuat skrip dan menyelesaikannya. Berbeda dengan pemuda ini yang sedari tadi hanya mutar-mutar tak tentu arah, lalu pada akhirnya balik lagi ke tempat yang sama. Tak pernah ada kata selesai di dalam kamus pemuda itu malam ini. Pikirannya masih runyam tentang kata apa yang harus disusun untuk sebuah karyanya. Apakah kata pertamanya harus memakai "pada dahulu kala", "pada suatu hari", atau "malam telah jatuh". Pertanyaan-pertanyaan berdatangan seiring pikirannya yang masih semrawut.

Kini si pemuda tersebut berusaha untuk menangkap suatu hal yang tiba-tiba terlintas di pikirannya. Ia memikirkan bagaimana seandainya apabila manusia dapat melakukan time travel persis seperti yang dilakukan di dalam film Avengers: Endgame?. Mungkin tidak akan ada lagi perasaan seorang laki-laki yang patah hati karena tidak diterima oleh sang pujaan hati. Ia tinggal melakukan time travel menuju 5 atau 6 tahun sebelumnya dan mempelajari apa saja yang membuat sang pujaan hati dapat memberikan kasih sayang kepadanya. Mencari tahu tentang barang kesukaannya, ceritanya di masa lalu, dan apa saja yang harus dilakukan agar tidak ditolak. Setelah tahu tentang semuanya, maka ia tinggal kembali ke masa sekarang dan kembali menyatakan perasaan. 

Pikirannya masih terbang kemana-mana dan kali ini hinggap ke pembahasan yang agak serius. Sebelumnya pemuda ini sempat bertanya-tanya tentang bagaimana dunia ini jikalau tidak ada agama? Apakah dunia ini akan berjalan damai dan tidak ada pertikaian dimana-mana yang mengatasnamakan agama? Apakah hanya kasih sayang yang tersebar dan tiada kebencian sesama manusia? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang kali ini menguasai pikiran seorang pemuda tersebut. Maklum saja, belakangan ini kerapkali terjadi pertikaian yang mengatasnamakan agama. 

Padahal kalau hematku, namanya agama ya tidak ada yang mengajarkan permusuhan satu sama lain. Sesama manusia ya harusnya saling menyayangi wong kita sama-sama diciptakan dari tanah masa ndak bisa rukun. ungkap si pemuda ketika terjebak di dalam diskusi agama dan manusia bersama teman tongkrongannya.

Lelah, pemuda ini pun terasa berat sekali otaknya. Sedari tadi berpikir namun masih saja kertasnya kosong dan sang pena yang dijadwalkan berlaga pada pukul 11 malam tadi harus ditunda dalam waktu yang tidak ditentukan. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 dini hari dan akhirnya sang pemuda ini terlelap di dalam mimpi. 

Malam jatuh di saat sang fajar sedang menanti-nanti sang pujaan untuk menjemputnya. Direkamnya segala runyam yang terjadi di tengah malam, lalu dilaporkannya ketika sang fajar sudah bertugas di pagi hari. Malam tak pernah jatuh kepada seseorang yang terus berusaha untuk menangkap apa saja yang direkam oleh sang fajar pada tengah malam.

Bangun-bangun, sang pemuda langsung  dapat menuliskan sebuah kalimat yang menurutnya sangat bagus setelah semalaman dipikirkan,

"Tetaplah bermimpi walaupun yang lainnya sudah terlelap dalam mimpi".

gambar dari unsplash.com

Aku Pengelana: Kilas Balik Dunia

2014, Bumiku yang berwarna

Tiada yang mengetahui apa yang akan terjadi puluhan tahun kedepan terhadap Bumi. Semua berjalan begitu saja. Matahari muncul di bagian Timur dengan sinarnya yang memberikan banyak harapan kepada manusia. Kicauan burung sangat merdu saling berbalas seakan merayakan indahnya alam semesta hari ini. Embun senantiasa membasahi tanah Bumi yang kering, menyegarkan jiwa bagi setiap raga yang haus akan cinta dan kasih sayang. Segerombolan manusia saling berlomba-lomba pada pagi hari untuk mengais rezeki dari berbagai jalannya sendiri. Mungkin saat ini, bagiku kemacetan di jalan raya adalah suatu anugerah dari Tuhan yang sangat indah. Kejadian tersebut akan sangat indah jika dikenang walau harus mengorbankan rasa emosi dan sabar saat ini. Di kemudian hari, kemacetan di jalan raya akan sangat dirindukan oleh para manusia. Sebab, ada dua cara bagaimana kamu mengenang suatu kejadian: mengenang karena rasa cinta dan mengenang karena rasa kesal. Semua di dunia ini tidak ada yang percuma. Setiap sudutnya selalu dapat disyukuri dengan berbagai cara;semua akan dapat dinikmati dengan caranya sendiri. Bagiku, semua berjalan dengan indah dan aku bersyukur dengan hal tersebut. Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya terhadap Bumi. 

Jarum jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Aku masih terbaring di atas kasur dengan rasa takut yang sangat tinggi. Bagaimana tidak, semalam aku bermimpi tentang sosok perempuan yang aku cintai. Ia tiba-tiba saja mendorongku ke dalam jurang yang memiliki kedalaman sekitar 20 meter, lalu aku terperosok masuk ke dalamnya dan tiba-tiba saja aku hilang, tersesat di sebuah tempat yang aku sendiri tidak mengenalinya. Pikiranku masih kacau akibat perlakuan sosok perempuan tersebut. Namun tidak beberapa lama kemudian ada suara yang menggema di sudut ruangan ini. Dengan samar-samar aku mendengarnya. Kurang lebih suara tersebut berkata seperti ini:

"Wahai manusia, ketahuilah bahwa tiada yang abadi di dunia ini kecuali aku dan pasukanku. Hapuskanlah rasa penderitaanmu dan bangkitlah seraya menatap dunia dengan berani. Sebab waktumu hanya sementara, sedangkan waktuku adalah selamanya".

Lalu seketika ragaku terperosok ke dalam dimensi lain yang dipenuhi dengan cahaya samar-samar dengan warna yang berbeda. Suara tadi sepintas saja masuk ke dalam otakku, namun kalimat yang ia ucapkan berbekas dalam ingatanku. Sampai aku sudah tersadar, kalimat tersebut masih menghantuiku. Ah, bodo amat. Aku tidak peduli. Lagian itu kan hanya mimpi. Bergegas aku menuju kamar mandi, membersihkan diri. Sebab, hari ini aku akan merayakan hari dengan menuju ke kampus. 

---000---

Langit pagi hari memang selalu syahdu. Udara masih belum tercemar oleh asap-asap kendaraan. Sangat sejuk dan segar untuk dihirup. Di atas sana, langit berwarna keemasan menemani perjalananku menuju kampus. Di setiap jalan, aku menemui berbagai aktifitas yang dilakukan oleh manusia: berdagang pecel, mengatur rambu-rambu lalu lintas di perempatan, bersiap-siap untuk menuju ke sekolah, dan masih banyak hal lainnya yang dilakukan oleh manusia. Tidak ada yang merayakan pagi hari dengan kesedihan. Semua menyambutnya dengan kegembiraan dan suka cita. Barangkali ada segelintir manusia yang merayakannya dengan kesedihan, namun tidak terlintas di depan penglihatanku. Pagi hari selalu mengajarkanku tentang bagaimana memulai hari dengan penuh semangat. Sebab, hampir seluruh manusia melakukan hal yang sama. Energi positif tentu akan tertular di lingkungan sekitar. Ah, pagi hari selalu memiliki ceritanya sendiri.

Untung saja, kampusku terletak di sebelah danau yang sangat luas dengan berbagai hewan yang berada di dalamnya, sehingga aku tidak akan bosan untuk duduk di samping danau sembari menikmati indahnya kebersamaan antar makhluk hidup. Di setiap jeda kelas, aku selalu melakukan ritual tersebut sembari menuliskan tentang apa saja yang aku lihat pada pagi ini. Aku selalu berpegang teguh kepada kalimatku mengenai "pagi hari selalu mempunyai ceritanya tersendiri". Oleh karena itu, aku akan menuangkannya ke dalam tulisan saat jeda kelas di sebelah danau. 

Tidak hanya danau saja yang akan memanjakan mataku ketika aku duduk disampingnya. Di depan sana gunung menjulang tinggi dengan sangat gagah dan perkasa, seolah-olah ia memanggilku untuk berkunjung kesana. Ah, alangkah indahnya hidup. Aku dapat dengan bebas menikmati keindahan ini dengan sangat khidmat. Sebelum aku menuangkan tulisanku di atas kertas putih, salah satu temanku duduk di sampingku sembari berkata kepadaku:

"Hei. tidak bosan juga ternyata kau duduk di sini" Ucapnya. Temanku bernama Ferry. Ia merupakan salah satu teman terdekatku saat ini.
"Tentu tidak bosan, Fer. Aku akan selalu disini menikmati indahnya alam yang telah tersaji."kataku.
"Ah benar juga. Hidup akan selalu berjalan, namun terkadang kita tetap diam". ujarnya dengan sok bijak.
"Bisa saja kamu, Fer" godaku.
"Memang benar. Terkadang aku merasa bahwa aku selalu diam. Sedangkan hidup terus berjalan. Aku masih disini, sedangkan dia sudah berada di Sydney" candanya  sembari mengingat perempuan yang ia suka.
"Hahaha. Sudahlah Fer, lupakan. Ohya, aku hendak menulis sesuatu disini. Kamu mau mencoba memberiku kata pembuka?" Aku selalu meminta saran dari temanku untuk soal ini.
"Hmm, apa ya. Ah aku tahu. Bumi sedang menjerit di atas kaki indah manusia" ia menambahkan kalimat dengan cepat.
"Ide yang bagus Fer. Kau keren juga" Tambahku.
"Bukan begitu, aku hanya merasa ada yang tidak beres dalam dunia ini. Aku selalu berpikir bagaimana Bumi ini akan hancur" Ferry berkata dengan sangat serius.
"Sudahlah sob, lanjutkan saja tulisanmu itu, aku akan pergi ke kantin sejenak karena lapar" Lanjut dia, lalu pergi ke kantin dengan cepat.

Pemikiran Ferry tentang Bumi benar juga. Apakah semua keindahan ini akan menemui kehancuran?Sembari berpikir tentang hal tersebut, tanganku mencoba untuk menggerakan pena di atas kertas putih. Secara perlahan-lahan, tangan ini bergerak semaunya dengan goresan aksara. Pikiranku kemana-mana sedang raga masih duduk di atas kursi di samping danau. Beberapa menit kemudian, aku sudah tenggelam dalam duniaku sendiri.

---000---

Sore hari kemacetan masih melanda di tengah jalan. Aku sendiri hendak menepi dari keramaian kota dan mencari tempat yang pas untuk menikmati senja. Kau tahu, hidup ini tentu harus seimbang. Pada awalnya pagi hari telah menghiasinya dengan semangat yang menggebu-gebu. Sedang sore ini, aku akan menghabiskan hari dengan merenungi segala hal yang telah aku lewati dengan menatap senja yang akan pergi dari semesta. Di sebuah tempat duduk di sudut kota ini, di tengah perenungan yang aku lalui bersama sang senja, aku masih kepikiran tentang tulisan yang aku buat di samping danau tadi pagi. 

Dunia ini sungguh sangat indah. Di dalamnya terdapat warna-warni yang senantiasa mewarnai pandangamu. Bumi memberikan manusia sebuah kehidupan, sebuah harapan, semua impian dan segalanya. Di dalamnya aku dapat menikmati keindahan tersebut dengan cara bersyukur tentang apa yang telah diberikan kepada Bumi. Aku tidak tahu apakah pemberian Bumi terhadap manusia akan bertahan lama. Namun saat ini aku mensyukuri apa yang ada. Aku belajar bersyukur dari banyak hal; dari seorang penjual koran yang sudah menjejakkan kakinya di pinggir jalan, dari seorang karyawan yang sedang pergi ke kantornya, dari seorang siswa SMP dan SMA yang bergegas menuju sekolahnya, dari para pedagang yang sudah membuka kedainya di pagi hari hingga larut malam. Banyak sekali hal-hal yang membuatku bersyukur mengenai kehidupan. 

Keindahan di dalam kehidupan akan terekam jelas di dalam ingatan. Saat ini, kehidupan mengajariku tentang indahnya kebersamaan di dalam naungan cakrawala Bumi. Saat ini, aku masih memiliki segudang harapan untuk kedepannya. Terhadap semesta, terhadap manusia, terhadap segalanya.

gambar dari google

Aku Pengelana

Merampas jiwa, mengitari sanubari rasa, mengarungi luasnya samudera benci. Kau bersemi di ujung musim hujan dengan sisa terik matahari yang menembus pelupuk mata. Hati tidak tahu hendak berkata apa, sedang langkah terus meronta merayakan kemenangan yang aku tidak tahu apa. Tergontai-gontai mengais butiran cinta yang bertebaran di sudut semesta. Aku tidak sedang mencari hormat ataupun rasa takut, hanya hendak mengisi ruang kosong dengan cahaya kasih sayang yang masih berjuntai di antara ruang dan waktu. Mungkin kamu demikian, sedang merasa kosong akan hal-hal fana yang terjadi di dunia, lalu berpikiran bahwa tak ada apapun yang istimewa kecuali rasa yang terus membara di antara hangatnya fajar mentari. Kemudian pada ujung hari termenung kaku hendak merayakan atau merenungi segala hal yang telah dilewati. Entahlah. Aku masih terpaku dengan seonggok harapan yang terbujur indah di atas darah malaikat yang rela berkorban demi terciptanya kedamaian. Barangkali aku akan terus melangkah walau tanpa arah.

Lolongan ayam di pagi hari menyadarkan lamunanku. Hari sudah memasuki dini hari, sedang aku masih asyik dengan duniaku sendiri. Rasanya aku tidak ingin membuka hati melawan dunia. Berdiam saja tanpa tujuan atau tetap memupuk harapan pada luasnya ladang impian. Mimpiku tak lagi indah sejak kehidupan selalu mengajariku tentang bagaimana harus bertahan di atas jeritan Bumi. Bau tanah kering masih menghantui penciumanku. Rasanya aku rindu dengan bau tanah sehabis hujan pada sore hari, lalu senja hadir menemani ujung hari dengan segerombolan pikiran yang harus diolah menjadi sebuah tulisan. Menikmati senja tanpa harus khawatir akan kehabisan kata-kata. Hidup memang selalu mengajari kita tentang menjaga sesuatu, namun aku selalu lupa setelah pelajaran berharga tersebut. Hingga pada akhirnya, tak ada lagi yang harus dijaga, bahkan harapan sekalipun. Aku masih berharap bahwa ada kehidupan lain di  luar angkasa sana agar aku masih dapat berdiskusi tentang apapun bersama makhluk lain. Berbicara kesana kemari sembari menyesap kopi. Ah, keindahan akan selalu menemui kehancuran.

Aku mencoba mengingat langkah kakiku sudah beranjak kemana saja. Sebelum dini hari habis, rasanya sangat sayang bila tidak mengenang segala hal yang telah aku lewati. Menyusuri hijaunya rumput, lalu mata dimanjakan dengan birunya langit dengan hiasan awan yang menenangkan hati dan pikiran. Sedang di depan ombak menerpa sang batu karang sehingga menimbulkan irama yang meneduhkan mata. Air laut menjilati kaki indahku, lantas aku senang dibuatnya. Tidak ada keresahan yang muncul  di dalam diri pada saat itu. Alam selalu mengajariku cara bagaimana menenangkan diri. Berbaur dengan percakapan ghaib antara batu karang dengan butiran pasir. Tenggelam di dalam dekapan semesta. Hingga pada akhirnya, aku tersadar bahwa aku telah tersesat di suatu ruang yang tiada ujungnya.

Indah sekali rasanya mengingat hal tersebut. Seraya menunggu fajar tiba, aku meratapi tanah  kering di luar sana. Tak ada hijaunya sawah di depan mata. Hanya segerombolan debu yang sewaktu-waktu dapat menusuk hidung. Langkahku terhenti di sebuah gubuk tepat di pinggir sungai. Di sini, aku menghabiskan sisa hidupku dengan menikmati akhir yang indah dari tempat tinggal kita. Aku tak tahu bagaimana akhirnya, hanya saja aku sering membayangkan bahwa akhir dari segalanya adalah tak ada sesuatu pun yang dapat dimakan kecuali harapan. Ya, harapan selalu ada dari jutaan tahun sebelumnya. Hingga sampai saat ini aku masih percaya bahwa harapan itu ada.

Filantropi Bumi sudah mendekati akhir. Mungkin inilah saatnya aku harus melangkahkan kaki lagi sebelum aku tetap disini mengenang segala hal yang tidak pasti. Ku tenggak air putih di mejaku. Debu-debu masih menghiasi meja kotak yang ada di ruang tengah. Tak ada niatan akan aku bersihkan, sebab beberapa menit lagi mungkin debu itu akan kembali lagi. Aku keluar rumah, membuka pintu, dan pemandangan yang ada di depan mataku benar-benar sangat indah; aurora hijau mengelilingi langit, bintang-gemintang masih bertebaran dengan cahayanya, sedang matahari belum menampakkan diri. Aku usap dahiku sejenak menghirup udara yang kotor, dan memejamkan mata. Barangkali itu caraku untuk menikmati hidup saat ini.

Semua berawal dari sini, ketika aku sedang mengenang kejadian indah sebelumnya dan berusaha menggapai harapan setelahnya. Ya, barangkali hanya satu yang aku miliki saat ini; harapan.


gambar dari google

Polemik Fans Blink 182: Antara Tom DeLonge dan Matt Skiba

Tepat tanggal 1 Juli 2016 lalu, tampaknya menjadi ajang buka puasa bagi fans Blink 182 di seluruh dunia. Band punk rock asal California tersebut merilis sebuah album berjudul California, sesuai nama kota yang telah melahirkan Blink 182. Kota California jelas memiliki peran yang sangat besar untuk sebuah nama Blink 182. Tempat penuh sejarah, tepatnya di Poway, ketika Mark Hoppus memutuskan untuk memenuhi hasratnya untuk memiliki sebuah band. Hasrat tersebut tampaknya terwujud dengan begitu saja. Tak perlu ada konspirasi atau apapun, barangkali takdir telah menggariskan kejadian seperti ini: Anne Hoppus, adik dari Mark Hoppus, memiliki seorang teman yang bernama Thomas  Mathew DeLonge Jr atau biasa dipanggil Tom DeLonge yang kebetulan juga ingin memiliki band. Bulan Agustus 1992, Anne memperkenalkan Tom DeLonge kepada Mark Hoppus. Tak butuh waktu lama, kedua orang yang sampai saat ini memiliki peran penting dalam terbentuknya Blink 182 itu saling bermain bersama selama berjam-jam di garasi, lalu saling bertukar ide untuk menciptakan sebuah karya dan bahkan kedua orang tersebut menulis lagu bersama. Salah satunya lagu yang mereka tulis dan sangat terkenang hingga sekarang adalah Carousel. Sebuah pertemuan yang suci andaikata bisa dibilang.

Rasanya sungguh khidmat mendengarkan album baru Blink 182 yang berjudul California sembari mengenang kembali sejarah terbentuknya band ini. Namun tunggu dulu, dalam album California ini kamu tidak akan menemukan petikan gitar Tom DeLonge yang sangat menusuk telinga serta suara aksennya yang sangat khas. Pada album California kamu akan menemukan nuansa baru dari distorsi gitar serta pekikan suara tinggi dari seorang Matt Skiba, vokalis sekaligus gitaris dari Alkaline Trio. 

Pertama kali mendengarkan, rasanya aku seperti tidak bisa membedakan mana suara Mark Hoppus dan mana suara Matt Skiba. Setelah telinga ini terbiasa dengan kontras dari suara Hoppus dan DeLonge, rasa-rasanya sangat aneh apabila suara Hoppus disandingkan dengan suara Skiba. Kamu akan mendengar suara yang bergonta-ganti dalam lagu Bored to Death, salah satu lagu dari album California. Dalam lagu tersebut pada awalnya Hoppus mengambil alih suara, dengan suara bassnya yang sedikit mendatar. Lalu pada reff Skiba mengambil alih dan langsung mengeluarkan suara tingginya. Itu terlihat berbeda. Namun, dengarkan lagi pada lirik kedua. Skiba langsung menyambar pada lirik selanjutnya setelah reff, lalu kemudian Mark Hoppus mengambil suara tinggi ketika memasuki reff. Pada awalnya, aku sulit membedakan mana suara Hoppus dan Skiba.

California tentu bukan menjadi sajian buka puasa terbaik bagi fans Blink 182. Aku sebagai salah satu fans Blink 182 merasa kehilangan harapan ketika Neighborhoods menjadi album terakhir Blink 182 setelah vakum cukup lama dari tahun 2005-2009. Hingga pada akhirnya Blink 182 memunculkan harapan baru dengan keluarnya album California di tahun 2016, di sisi lain sekaligus memunculkan rasa rindu kepada sosok Tom DeLonge. Memang, pria yang tergila-gila dengan kehidupan luar angkasa tersebut memiliki persona yang sangat kharismatik di atas panggung dengan gayanya bermain gitar yang seolah-olah meninggikan satu bahunya.

Kini, setelah keluarnya album California yang diisi oleh Skiba, banyak sekali yang merindukan sosok Tom DeLonge untuk berada di Blink 182 lagi. Kerapkali ketika Tom DeLonge mengunggah sesuatu di akun Instagramnya mengenai Blink 182 maupun punk, banyak sekali warganet yang meminta Tom DeLonge untuk kembali ke Blink 182 lagi, berkarya bersama dua sahabat lamanya, Mark Hoppus dan Travis Barker. Namun apa daya, saat ini Tom DeLonge sedang sibuk dengan projek yang sesuai ambisinya, yaitu kehidupan luar angkasa, serta band yang bisa dibilang sangat fenomenal, yaitu Angels and Airwaves.

Saat Blink 182 vakum pada tahun 2005-2009, Tom DeLonge memutuskan untuk membuat side project band yang bernama Angels and Airwaves atau biasa disingkat dengan AVA. Tepat tanggal 15 September 2005, Tom DeLonge mengumumkan bahwa ia akan mendirikan band bernama Angels and Airwaves dan ia menjanjikan revolusi rock n roll terbaik dalam generasi ini. Terbukti, setelah album pertama Angels and Aiwaves keluar, We Don't Need To Whisper tahun 2006 dan album kedua keluar pada tahun 2007 dengan judul I-Empire, Angels and Airwaves benar-benar memunculkan suara musik yang khas dan sangat enak untuk didengar telinga. Pertama kali mendengar, aku seperti mendengar ada suara-suara khas luar angkasa yang memang menjadi ciri khas dari Tom DeLonge.

Sampai saat ini, Tom DeLonge masih berkarya bersama AVA dan kabarnya akan mengeluarkan album baru mereka pada tahun ini. Fans Blink 182 tentu mau tidak mau harus mengakui kecerdasan Tom DeLonge dalam membuat lagu bersama AVA. Tom DeLonge meraciknya dengan sangat baik dalam sentuhan luar angkasa yang khas dalam setiap lagu dari AVA, bersama para personil lainnya, David Kennedy, Matt Wachter dan Ilan Rubin. Aku pribadi sebagai fans Blink 182 benar-benar mengagumi sebuah karya Tom DeLonge walau tidak bersama Blink 182. Tom DeLonge benar-benar memenuhi janjinya.

Di sisi lain, Blink 182 tetap berjalan dengan Matt Skiba, Mark Hoppus dan Travis Barker. Mereka kabarnya akan mengeluarkan album baru lagi pada tahun ini dan akan dirilis sebelum konser Vans Warped Tour. Entah apakah masih akan memunculkan rasa rindu kepada Tom DeLonge, namun aku yakin rasa itu akan terus muncul ketika lagu Blink 182 sedang berputar di telingaku. Namun, bukankah sejauh ini, hingga album California rilis, Travis Barker menjadi salah satu sosok yang selalu menghidupkan Blink 182 dengan ketukan drumnya yang sangat khas?.

Gambar dari google


Back To Top