Hari Kedua di Palembang: Dari Wisata Sejarah, Religi Hingga Sport Tourism

Ada rasa beda saat menyapa mentari yang terbit dari Timur di kota Palembang. Entahlah, aku ingin sekali menyapa mentari terbit dari berbagai daerah di Indonesia. Sinarnya berhasil membuat tanah air Indonesia terbangun dari tidur pulasnya. Orang-orang di dalamnya sedang bersiap-siap untuk menyambut hari dari berbagai daerah, termasuk aku yang akan menyambut hari ini dari Palembang.

Yap, rencananya hari ini kami akan mengunjungi berbagai destinasi wisata unggulan yang berada di daerah Palembang, yaitu Bukit Siguntang, wisata religi Al-Qur'an Al-Akbar, dan diakhiri dengan tour Jakabaring.

Tepat pkl 07.00 WIB, kami sudah bersiap-siap untuk menjalankan agenda pada hari ini, Jumat (22/11/2019). Rasanya sangat nyaman bangun dari atas kasur hotel Batiqa Palembang. Sebelumnya aku sudah mereview hotel ini di blog. Kamu dapat membacanya di sini. Mandi, sarapan di hotel dan tepat pkl 7.45 WIB kami sudah berkumpul di lobi hotel, kemudian naik bis.

Wisata pertama yang akan kami kunjungi pada hari ini adalah: Bukit Siguntang.

Cerita Sejarah Dari Bukit Siguntang

Pagi Palembang tidak terlalumacet pada waktu itu. Jalanan terasa longgar sehingga perjalanan kami cukup menyenangkan. Dari hotel Batiqa, kami menggunakan dua bis untuk menuju ke Bukit Siguntang. Jarak tempuh dari hotel Batiqa ke Bukit Siguntang kurang lebih memakan waktu 60 menit. Pada awalnya aku mengira tempat ini akan jauh aksesnya sehingga kami akan melewati jalanan yang naik turun. Ternyata tidak, jalanan yang kami lewati masih biasa dan orang-orang bilang daerah Bukit Siguntang merupakan dataran tinggi dari Palembang. Hmm rasanya cukup aneh.

Sesampainya di Bukit Siguntang, aku langsung fokus menatap pepohonan  yang masih asri di daerah sekitar sini. Tanpa basa-basi, kami pun masuk ke dalam pintu masuk Bukit Siguntang dan langsung disambut oleh pengelola situ.

bagian depan Bukit Siguntang

lobi Bukit Siguntang

Begitu masuk ke dalam, suasananya memang terbilang asri dan nyaman. Hijau pepohonan menghiasi sekitaran Bukit Siguntang, serta beberapa bentuk batu yang cukup mempesona membuat tempat ini sangat indah. Tempatnya pun sangat luas sekali. Baru aku ketahui, ternyata luas Bukit Siguntang kurang lebih 14 hektar. Wow, ternyata luas juga yah. Saat masuk ke dalam, aku sudah dipaparkan dengan plang yang bertuliskan nama-nama keturunan kerajaan Sriwijaya.

plang Bukit Siguntang.
Belok ke kanan dari plang tersebut, kami menaiki tangga demi tangga. Di sekitaran jalanan ini dipenuhi oleh pepohonan yang rindang. Kalau dibilang, tempat ini memang seperti hutan yang masih sangat terjaga dan suci. Wajar saja apabila Bukit Siguntang dianggap sebagai tempat yang paling indah di Palembang pada masa kolonial.

jalanan Bukit Siguntang
Setelah menyelesaikan tangga demi tangga, kami langsung dihadapkan dengan juru kunci di sana, yaitu pak Sulaiman. Beliau yang akan menceritakan sejarah serta asal mula nama Bukit Siguntang ini.

Dalam penjelasan beliau, bapak Sulaiman mengatakan bahwa Bukit Siguntang diambil dari bahasa Bukit yang artinya terombang-ambing atau tertuntang-tuntang dalam bahasa Palembang. Tempat ini memiliki ketinggian  27 mdpl. Asal mula Bukit Siguntang disebutkan bahwa bukit ini menjulang tinggi di dekat Sungai Melayu. Bukit ini memang dianggap suci sejak abad 14-17. Seperti yang telah aku lihat di plang sebelumnya, di bukit ini terdapat makam para tokoh keturunan Sriwijaya, yaitu Segentar Alam, Puteri Kembang Dadar, Puteri Kembang Selako, Panglima Bagus Kuning, Panglima Bagus Karang, Panglima Tuan Junjungan, Pangerah Raja Batu Api, dan Panglima Jago Lawang.

Makam Radja Segentar Alam
Sayangnya, bapak Sulaiman tidak  menjelaskan satu per satu terkait keturunan Sriwijaya tersebut. Aku pun mengabadikan keadaan sekitar yang berada di Bukit Siguntang ini. Berikut beberapa gambarnya.

keadaan sekitar Bukit Siguntang

Banyak pohon yang rindang
Puas menikmati suasana Bukit Siguntang, kami pun bergegas menuju bis untuk pemberhentian selanjutnya: Bayt Al-Quran Al-Akbar.

Melihat Al-Quran Terbesar Di Dunia: Bayt Al-Quran Al-Akbar, Palembang

Di hari Jumat yang penuh berkah ini, rasanya sangat cocok untuk mengunjungi salah satu wisata religi yang ada di Palembang. Terlebih wisata ini merupakan wisata yang sangat luar biasa karena terdapat Al-Quran terbesar di dunia! Aku pun semakin tidak sabar untuk segera melihatnya.

Bis yang kami tumpangi akhirnya sampai juga di tujuan. Saat hendak masuk ke Bayt Al-Quran Al-Akbar, kami diharuskan untuk melepaskan alas kaki. Selain itu, bagi perempuan yang tidak berhijab dipinjamkan hijab oleh petugas setempat.

Untuk HTM di tempat ini, bagi yang dewasa harus membayar Rp20.000, sedangkan anak  kecil Rp15.000. Semua registrasi sudah diurus oleh panitia sehingga kami tinggal masuk saja. Saat pertama kali masuk, kami langsung disajikan dengan kopi khas Sumatera Selatan. Sambil minum kopi, kami mendengarkan penjelasan dari Ust. Idris terkait proses pendirian Bayt Al-Quran Al-Akbar.

ngopi dulu cuy


Al-Quran Al-Akbar ini dibuat dari tahun 2002. Dalam proses pengerjaan, ada 16 pengukir Al-Quran. Para pengukir tersebut berasal dari Jawa dan Palembang. Bahkan upaya-upaya yang dilakukan oleh para pengukir tidak sembarangan saat membuat tulisan Al-Quran ini. Mereka sampai berpuasa Senin dan Kamis saat proses pengerjaan berlangsung. Tulisan Al-Quran ini berwarna emas dan merah. Ada beberapa yang bertanya,"kenapa tidak warna hijau saja yang identik dengan warna Islam?". Ust.Idris menjawab bahwa warna emas dan merah identik dengan seni budaya Palembang. Setelah proses demi proses dikerjakan, akhirnya Al-Quran Al-Akbar ini selesai pada tahun 2009 dan diresmikan pada tanggal 30 Januari 2012. Jadi, sekitar 7 tahun dalam proses pembuatan Al-Quran Al-Akbar.

Setelah mendengar penjelasan dari Ust.Idris, kami pun berkeliling melihat mahakarya yang sebesar ini. Aku sangat bangga Al-Quran terbesar di dunia justru berada di Indonesia, tepatnya di Palembang.

Pemandangan dari luar

Dari dalam

Dari dalam
Tidak terasa jam menunjukkan pkl 11.30 WIB. Kami para laki-laki harus menunaikan sholat Jumat terlebih dahulu, lalu setelah itu kami akan makan dan menuju ke destinasi terakhir, yaitu Jakabaring Tour.

Jakabaring Tour: Melihat Bowling World Cup, Mencoba Banana Boat dan Mengelilingi Venue Asian Games 2018

Kami sangat beruntung sekali pada hari ini. Pasalnya dari 16-24 November di Palembang, tepatnya di Jakabaring Bowling Center sedang berlangsung Qubica AMF Bowling World Cup 55th. Sontak hal pertama yang kami lakukan saat berada dalam kawasan olahraga Jakabaring adalah melihat Bowling World Cup. Ini adalah pengalaman pertama kalinya aku melihat bowling dan langsung melihat piala dunianya bowling! padahal mah sebelumnya sama sekali belum pernah melihat bowling, paling banter ngeliatnya di tv atau maen game bowling.

Jakabaring Bowling Center tampak depan


Bowling World Cup 2019 diikuti oleh 132 atlet bowling dari 76 negara. 132 atlet bowling terdiri dari 74 pebowling putra dan 62 pebowling putri ikut serta beserta 112 ofisial. Aku semakin tidak sabar untuk melihat ke dalamnya. 

Memasuki area dalam, kami harus naik ke lantai dua, karena dari atas kami akan melihat pebowling dari berbagai dunia memainkan kompetisi. Aku sendiri bahkan tidak mengerti bagaimana sistem bermain bowling. Bagaimana mendapatkan poinnya, dari mana bisa dilihat bahwa ia menang, dan tata cara mainnya. Kami rata-rata memang tidak mengerti dan berspekulasi masing-masing.

"Itu kayaknya kalo strike bisa dapet poin kali ya?"
"Kalo 1 kali strike terus sisa 1 gimana"?
"Wah Indonesia menang tuh!".

area kompetisi bowling


Begitulah kira-kira beberapa kalimat yang terlontar dari kami selama pertandingan bowling berlangsung. Setelah puas melihat bowling dalam waktu kurang lebih 45 menit, kami melanjutkan kembali tour Jakabaring. Langit Palembang di atas sana sudah mendung dan angin kencang menyerang pergerakan kami. Tak terasa, air hujan pun turun dan membuat kota Palembang perlahan menjadi syahdu.

Kami berlanjut ke beberapa tempat yang menjadi venue Asian Games tahun lalu. Pertama kami menuju ke venue menembak, lalu kemudian menuju ke Stadion Gelora Sriwijaya. Sayangnya, pas sampai di Stadion Gelora Sriwijaya tidak masuk ke dalam ruang ganti pemain, hanya masuk ke dalam stadionnya. Walaupun begitu, aku sangat senang karena dapat menginjakkan rumput langsung di Stadion Gelora Sriwijaya. Wah luas sekali ternyata! Tahun depan Jatidiri tentu tidak akan kalah dari ini.

Stadion Gelora Sriwijaya

Stadion Gelora Sriwijaya

Setelah dari Stadion Gelora Sriwijaya, kami menuju ke wisma atlet, tempat para atlet beristirahat saat sedang menjalankan kompetisi di Jakabaring Sport City. Wismanya pun sangat luas. Satu kamarnya terdiri dari empat kasur. Wisma atlet ini apabila sedang kosong dapat disewakan untuk umum. Per malamnya sekitar Rp500.000. Apabila sedang ke Palembang, rasanya tidak salah mencoba wisma atlet ini sebagai tempat penginapan. Tapi kalau bisa bereempat supaya harganya murah hehehe.

Pemandangan di dalam wisma atlet

pemandangan dalam kamar
pemandangan di luar wisma atlet
Ini dia kegiatan terakhir yang kami lakukan di Jakabaring Sport City: mencoba wahanan banana boat! Jujur, ini pertama kalinya juga aku mencoba wahana banana boat! hahaha. Jam masih menunjukkan pkl 16.30 WIB dan kami mempunyai banyak waktu untuk mencoba banana boat. Banana boat yang akan kami lakukan terletak di danau Jakabaring sendiri. Wah, enak juga nih sebelum pulang basah-basahan dulu hehehe. (karena hapenya aku taruh di dalam tas, jadi fotonya tidak banyak).

gambar dari instagram @sandiyanto

Ah, Jakabaring Sport City memang terlalu luas untuk dijelajahi. Bagaimana tidak, tempat ini memiliki luas 325 hektar. Terlepas dari itu, area Jakabaring Sport City sangat cocok bagi siapa saja yang ingin berolahraga pada sore hari lalu beristirahat di tepi danaunya. 

Setelah itu, kami kembali ke hotel dan bersiap-siap untuk makan malam. Agenda hari kedua di Palembang sangat menyenangkan. Dimulai dari wisata sejarah, religi hingga sport tourism semuanya memiliki ceritanya masing-masing. Adanya tulisan ini membuktikan bahwa kota Palembang cukup membuatku terpesona dengan keindahan di dalamnya.

Post a comment

0 Comments