Pendakian Sindoro Via Kledung

Malam itu, tepat pukul 01.00, kami bersiap-siap untuk memulai perjalanan kami, mencari sebuah arti, dan meniti langkah yang penuh pasti. Ya, kami memulai perjalanan ke gunung sindoro yang terletak di Kledung, Temanggung, dekat dengan perbatasan Wonosobo. Kami memulai perjalanan kami dengan naik motor dari Semarang. Malam yang dingin dengan angin yang tertiup begitu kencang kami lewati untuk menyapa Sindoro waktu itu. Bisa bayangkan bagaimana udara malam yang begitu kejam menerkam diri kami di dalam dunia yang temaram, kami kedinginan di jalan, namun tetap melanjutkan perjalanan menuju basecamp Sindoro.

Sekitar pukul 05:00 kami sudah sampai di basecamp Sindoro. Perjalanan dari Semarang-Kledung cukup membutuhkan waktu yang lama, sekitar 3 jam. Ditambah di tengah perjalanan kami sempat berhenti dulu di alun-alun Temanggung untuk mencari kehangatan, agar badan kami tidak kedinginan. Lantas, sesampainya di basecamp, kami istirahat sebentar untuk memulai pendakian menuju puncak Sindoro. Puncak yang katanya memiliki luas seperti luas 7 lapangan. Pukul 07:00, kami bangun dan bersiap-siap untuk memulai perjalanan. Sebelum berangkat, kami ingin mengabadikan foto dulu di depan basecamp Kledung.
Depan Basecamp Kledung
Perjalanan kami dimulai dari basecamp menuju pos 1. Sebenarnya kami bisa saja menaiki motor untuk menuju ke pos 1, namun kami lebih memilih menikmati perjalanan dengan tenang, dan tentu saja bercengkrama dengan alam. Sesampainya di pos 1 kami istirahat sebentar untuk mengisi tenaga, sekitar 1 setengah jam kami menempuh perjalanan dari basecamp ke pos 1. Setelah sudah puas, kami melanjutkan lagi menuju pos 2. Perjalanan pos 1 ke pos 2 cukup menghabiskan tenaga, jalur yang terbilang tidak terlalu bersahabat dan jarang sekali menemui bonus, membuat kaki kami mau tidak mau harus bekerja keras lebih dari biasanya. Namun langkah demi langkah tetap kita lalui dan sesekali menepis rasa capek di hati. Pos 2 pun sudah kami sambangi, sekitar 2 jam setengah perjalanan. Para pendaki mulai banyak kami jumpai, dan mereka pun ingin mendirikan tenda di pos 3, kami pun rencananya juga begitu. Maka dari pos 2 kami pun mulai lagi ke pos 3

Perjalanan dari pos 2 ke pos 3 kurang lebih menghabiskan waktu 2 jam. Sesampainya di pos 3 kami mendirikan tenda untuk beristirahat sejenak, kala itu jam menunjukkan pukul 16:45, sore sudah tiba, namun senja tak kunjung datang. Aku lebih suka menghabiskan sore ku waktu itu dengan bercengkrama dengan temanku, ditemani dengan alunan angin dan pemandangan gunung Sumbing yang tepat berada di depan kami. Setelah selesai berbincang-bincang, aku dan temanku menuju tenda dan beristirahat, karena jam 02:30 kami akan melanjutkan perjalanan menuju puncak Sindoro.

02:30 menyapa kami, kami bergegas menyambutnya dan melanjutkan perjalanan. Jalur dari pos 3 ke Watu tatah juga lumayan menguras tenaga, terlebih jam segitu cuaca juga masih sangat dingin sekali, maklum jam-jam lebih enak tidur di tenda daripada melanjutkan perjalanan. Namun mau tidak mau kami harus melanjutkannya, menyapa seluruh bagian Sindoro. Dan benar saja, setelah cukup lama kami mengarungi jalur antara pos 3 ke Watu Tatah, kami mendapati pemandangan yang begitu luar biasa.

Perpaduan merbabu,merapi, sumbing dan cahaya sinar mentari yang masih malu-malu

Betapa indah pagi itu, mentari menyambut kami dengan malu-malu. Rasanya aku ingin berkata kepada sang mentari "jangan malu, tunjukkan dirimu, banyak yang menanti kehadiranmu". Disekitar jalur sebelum watu tatah pun banyak sekali spot foto yang harus kami abadikan gambar dalam area tersebut.

Bersama teman-teman

Setelah mengarungi jalur yang begitu menantang, kami pun tiba di watu tatah. Tempat yang sangat bagus untuk mengabadikan foto dengan berlatarkan gunung Sumbing yang begitu gagah. Tanpa basa basi, aku dan teman-temanku menuju watu tersebut dan mengambil foto

Watu Tatah, Gn. Sindoro


Sumbing yang selalu menemani Sindoro tampak gagah sekali. Untung saja aku sudah pernah menyapa ia sebelum menyapa Sindoro duluan. Lalu, setelah puas mengambil gambar disitu, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Sindoro. Cukup lama jalur yang kami tempuh waktu itu, menuju puncak dimana  sisa-sisa tenaga kami yang berjuang untuk menyapa Sindoro. Puncak pun terlihat, kami sungguh bahagia kala itu, bau belerang yang sangat menyengat membuat kami semua spontan menutup hidung kami dengan apapun. Di puncak, kami lalu mengabadikan foto kembali, menyimpan kenangan lewat gambar adalah salah satu cara yang terbaik, selain dengan tulisan.




Selalu ada kebahagiaan yang hadir di setiap gunung yang kami sambangi. Entah kebahagiaan dalam bentuk apa, kami semua tersenyum menikmati ciptaan Tuhan yang begitu indah.

Gn, Sindoro memiliki tinggi 3153 mdpl, retribusi untuk masuk basecamp hanya sekitar Rp. 15.000. Kalian sudah dapat menikmati indahnya gunung Sindoro. Namun ingat, jangan sampai membuang sampah sembarangan, karena sekali lagi, gunung bukanlah tempat sampah, melainkan tempat yang harus kita jaga keindahannya supaya bisa bertahan lebih dari yang kita kira.

Salam,
Adibio
Mahasiswa semester 6 yang sebentar lagi beranjak dan berjalan kedepan, hapus air mata dan cerita saatnya melupakan

Post a comment

0 Comments