Perjalanan Adibio | Kelana Lara Perjalanan Adibio

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Aku Pengelana

Merampas jiwa, mengitari sanubari rasa, mengarungi luasnya samudera benci. Kau bersemi di ujung musim hujan dengan sisa terik matahari yang menembus pelupuk mata. Hati tidak tahu hendak berkata apa, sedang langkah terus meronta merayakan kemenangan yang aku tidak tahu apa. Tergontai-gontai mengais butiran cinta yang bertebaran di sudut semesta. Aku tidak sedang mencari hormat ataupun rasa takut, hanya hendak mengisi ruang kosong dengan cahaya kasih sayang yang masih berjuntai di antara ruang dan waktu. Mungkin kamu demikian, sedang merasa kosong akan hal-hal fana yang terjadi di dunia, lalu berpikiran bahwa tak ada apapun yang istimewa kecuali rasa yang terus membara di antara hangatnya fajar mentari. Kemudian pada ujung hari termenung kaku hendak merayakan atau merenungi segala hal yang telah dilewati. Entahlah. Aku masih terpaku dengan seonggok harapan yang terbujur indah di atas darah malaikat yang rela berkorban demi terciptanya kedamaian. Barangkali aku akan terus melangkah walau tanpa arah.

Lolongan ayam di pagi hari menyadarkan lamunanku. Hari sudah memasuki dini hari, sedang aku masih asyik dengan duniaku sendiri. Rasanya aku tidak ingin membuka hati melawan dunia. Berdiam saja tanpa tujuan atau tetap memupuk harapan pada luasnya ladang impian. Mimpiku tak lagi indah sejak kehidupan selalu mengajariku tentang bagaimana harus bertahan di atas jeritan Bumi. Bau tanah kering masih menghantui penciumanku. Rasanya aku rindu dengan bau tanah sehabis hujan pada sore hari, lalu senja hadir menemani ujung hari dengan segerombolan pikiran yang harus diolah menjadi sebuah tulisan. Menikmati senja tanpa harus khawatir akan kehabisan kata-kata. Hidup memang selalu mengajari kita tentang menjaga sesuatu, namun aku selalu lupa setelah pelajaran berharga tersebut. Hingga pada akhirnya, tak ada lagi yang harus dijaga, bahkan harapan sekalipun. Aku masih berharap bahwa ada kehidupan lain di  luar angkasa sana agar aku masih dapat berdiskusi tentang apapun bersama makhluk lain. Berbicara kesana kemari sembari menyesap kopi. Ah, keindahan akan selalu menemui kehancuran.

Aku mencoba mengingat langkah kakiku sudah beranjak kemana saja. Sebelum dini hari habis, rasanya sangat sayang bila tidak mengenang segala hal yang telah aku lewati. Menyusuri hijaunya rumput, lalu mata dimanjakan dengan birunya langit dengan hiasan awan yang menenangkan hati dan pikiran. Sedang di depan ombak menerpa sang batu karang sehingga menimbulkan irama yang meneduhkan mata. Air laut menjilati kaki indahku, lantas aku senang dibuatnya. Tidak ada keresahan yang muncul  di dalam diri pada saat itu. Alam selalu mengajariku cara bagaimana menenangkan diri. Berbaur dengan percakapan ghaib antara batu karang dengan butiran pasir. Tenggelam di dalam dekapan semesta. Hingga pada akhirnya, aku tersadar bahwa aku telah tersesat di suatu ruang yang tiada ujungnya.

Indah sekali rasanya mengingat hal tersebut. Seraya menunggu fajar tiba, aku meratapi tanah  kering di luar sana. Tak ada hijaunya sawah di depan mata. Hanya segerombolan debu yang sewaktu-waktu dapat menusuk hidung. Langkahku terhenti di sebuah gubuk tepat di pinggir sungai. Di sini, aku menghabiskan sisa hidupku dengan menikmati akhir yang indah dari tempat tinggal kita. Aku tak tahu bagaimana akhirnya, hanya saja aku sering membayangkan bahwa akhir dari segalanya adalah tak ada sesuatu pun yang dapat dimakan kecuali harapan. Ya, harapan selalu ada dari jutaan tahun sebelumnya. Hingga sampai saat ini aku masih percaya bahwa harapan itu ada.

Filantropi Bumi sudah mendekati akhir. Mungkin inilah saatnya aku harus melangkahkan kaki lagi sebelum aku tetap disini mengenang segala hal yang tidak pasti. Ku tenggak air putih di mejaku. Debu-debu masih menghiasi meja kotak yang ada di ruang tengah. Tak ada niatan akan aku bersihkan, sebab beberapa menit lagi mungkin debu itu akan kembali lagi. Aku keluar rumah, membuka pintu, dan pemandangan yang ada di depan mataku benar-benar sangat indah; aurora hijau mengelilingi langit, bintang-gemintang masih bertebaran dengan cahayanya, sedang matahari belum menampakkan diri. Aku usap dahiku sejenak menghirup udara yang kotor, dan memejamkan mata. Barangkali itu caraku untuk menikmati hidup saat ini.

Semua berawal dari sini, ketika aku sedang mengenang kejadian indah sebelumnya dan berusaha menggapai harapan setelahnya. Ya, barangkali hanya satu yang aku miliki saat ini; harapan.


gambar dari google

Polemik Fans Blink 182: Antara Tom DeLonge dan Matt Skiba

Tepat tanggal 1 Juli 2016 lalu, tampaknya menjadi ajang buka puasa bagi fans Blink 182 di seluruh dunia. Band punk rock asal California tersebut merilis sebuah album berjudul California, sesuai nama kota yang telah melahirkan Blink 182. Kota California jelas memiliki peran yang sangat besar untuk sebuah nama Blink 182. Tempat penuh sejarah, tepatnya di Poway, ketika Mark Hoppus memutuskan untuk memenuhi hasratnya untuk memiliki sebuah band. Hasrat tersebut tampaknya terwujud dengan begitu saja. Tak perlu ada konspirasi atau apapun, barangkali takdir telah menggariskan kejadian seperti ini: Anne Hoppus, adik dari Mark Hoppus, memiliki seorang teman yang bernama Thomas  Mathew DeLonge Jr atau biasa dipanggil Tom DeLonge yang kebetulan juga ingin memiliki band. Bulan Agustus 1992, Anne memperkenalkan Tom DeLonge kepada Mark Hoppus. Tak butuh waktu lama, kedua orang yang sampai saat ini memiliki peran penting dalam terbentuknya Blink 182 itu saling bermain bersama selama berjam-jam di garasi, lalu saling bertukar ide untuk menciptakan sebuah karya dan bahkan kedua orang tersebut menulis lagu bersama. Salah satunya lagu yang mereka tulis dan sangat terkenang hingga sekarang adalah Carousel. Sebuah pertemuan yang suci andaikata bisa dibilang.

Rasanya sungguh khidmat mendengarkan album baru Blink 182 yang berjudul California sembari mengenang kembali sejarah terbentuknya band ini. Namun tunggu dulu, dalam album California ini kamu tidak akan menemukan petikan gitar Tom DeLonge yang sangat menusuk telinga serta suara aksennya yang sangat khas. Pada album California kamu akan menemukan nuansa baru dari distorsi gitar serta pekikan suara tinggi dari seorang Matt Skiba, vokalis sekaligus gitaris dari Alkaline Trio. 

Pertama kali mendengarkan, rasanya aku seperti tidak bisa membedakan mana suara Mark Hoppus dan mana suara Matt Skiba. Setelah telinga ini terbiasa dengan kontras dari suara Hoppus dan DeLonge, rasa-rasanya sangat aneh apabila suara Hoppus disandingkan dengan suara Skiba. Kamu akan mendengar suara yang bergonta-ganti dalam lagu Bored to Death, salah satu lagu dari album California. Dalam lagu tersebut pada awalnya Hoppus mengambil alih suara, dengan suara bassnya yang sedikit mendatar. Lalu pada reff Skiba mengambil alih dan langsung mengeluarkan suara tingginya. Itu terlihat berbeda. Namun, dengarkan lagi pada lirik kedua. Skiba langsung menyambar pada lirik selanjutnya setelah reff, lalu kemudian Mark Hoppus mengambil suara tinggi ketika memasuki reff. Pada awalnya, aku sulit membedakan mana suara Hoppus dan Skiba.

California tentu bukan menjadi sajian buka puasa terbaik bagi fans Blink 182. Aku sebagai salah satu fans Blink 182 merasa kehilangan harapan ketika Neighborhoods menjadi album terakhir Blink 182 setelah vakum cukup lama dari tahun 2005-2009. Hingga pada akhirnya Blink 182 memunculkan harapan baru dengan keluarnya album California di tahun 2016, di sisi lain sekaligus memunculkan rasa rindu kepada sosok Tom DeLonge. Memang, pria yang tergila-gila dengan kehidupan luar angkasa tersebut memiliki persona yang sangat kharismatik di atas panggung dengan gayanya bermain gitar yang seolah-olah meninggikan satu bahunya.

Kini, setelah keluarnya album California yang diisi oleh Skiba, banyak sekali yang merindukan sosok Tom DeLonge untuk berada di Blink 182 lagi. Kerapkali ketika Tom DeLonge mengunggah sesuatu di akun Instagramnya mengenai Blink 182 maupun punk, banyak sekali warganet yang meminta Tom DeLonge untuk kembali ke Blink 182 lagi, berkarya bersama dua sahabat lamanya, Mark Hoppus dan Travis Barker. Namun apa daya, saat ini Tom DeLonge sedang sibuk dengan projek yang sesuai ambisinya, yaitu kehidupan luar angkasa, serta band yang bisa dibilang sangat fenomenal, yaitu Angels and Airwaves.

Saat Blink 182 vakum pada tahun 2005-2009, Tom DeLonge memutuskan untuk membuat side project band yang bernama Angels and Airwaves atau biasa disingkat dengan AVA. Tepat tanggal 15 September 2005, Tom DeLonge mengumumkan bahwa ia akan mendirikan band bernama Angels and Airwaves dan ia menjanjikan revolusi rock n roll terbaik dalam generasi ini. Terbukti, setelah album pertama Angels and Aiwaves keluar, We Don't Need To Whisper tahun 2006 dan album kedua keluar pada tahun 2007 dengan judul I-Empire, Angels and Airwaves benar-benar memunculkan suara musik yang khas dan sangat enak untuk didengar telinga. Pertama kali mendengar, aku seperti mendengar ada suara-suara khas luar angkasa yang memang menjadi ciri khas dari Tom DeLonge.

Sampai saat ini, Tom DeLonge masih berkarya bersama AVA dan kabarnya akan mengeluarkan album baru mereka pada tahun ini. Fans Blink 182 tentu mau tidak mau harus mengakui kecerdasan Tom DeLonge dalam membuat lagu bersama AVA. Tom DeLonge meraciknya dengan sangat baik dalam sentuhan luar angkasa yang khas dalam setiap lagu dari AVA, bersama para personil lainnya, David Kennedy, Matt Wachter dan Ilan Rubin. Aku pribadi sebagai fans Blink 182 benar-benar mengagumi sebuah karya Tom DeLonge walau tidak bersama Blink 182. Tom DeLonge benar-benar memenuhi janjinya.

Di sisi lain, Blink 182 tetap berjalan dengan Matt Skiba, Mark Hoppus dan Travis Barker. Mereka kabarnya akan mengeluarkan album baru lagi pada tahun ini dan akan dirilis sebelum konser Vans Warped Tour. Entah apakah masih akan memunculkan rasa rindu kepada Tom DeLonge, namun aku yakin rasa itu akan terus muncul ketika lagu Blink 182 sedang berputar di telingaku. Namun, bukankah sejauh ini, hingga album California rilis, Travis Barker menjadi salah satu sosok yang selalu menghidupkan Blink 182 dengan ketukan drumnya yang sangat khas?.

Gambar dari google


Kritis Waktu

Waktu berlalu sedang kita masih menatap masa lalu. Tak tahu hendak kemana layar kapal akan mengadu. Terdiam saja, terombang-ambing oleh sang ombak yang kian gerutu. Kini, cakrawala surgaloka hanya dongeng belaka. Tangisan demi tangisan terus mengalir dan bersatu dengan samudera yang menciptakan ombak begitu deras. Sedang di dalam kapal, segerombolan manusia sedang mengadu nasib hendak menentukan arah mereka kemana. Kini, angin bertiup kencang dari arah barat membawa kabar berita bahwa tak akan ada lagi impian yang tersisa di tengah samudera yang penuh dengan omong kosong belaka. Terjebak, terperangkap dalam sesak langkah sendiri, sehingga menuju ke ruang gelap tanpa ada lentera satu pun yang menerangi. Kau tahu, impian yang tak diperjuangkan dan hanya mengapung di atas samudera adalah impian yang hina.

------

Melangkah tanpa gerak, hanya suara detik jarum jam yang kian gemertak. Waktu kian berjalan, sedang langkahku tetap saja terhenti di suatu jalan, tepatnya jalan Pahlawan. Terpaku dengan dunia yang sudah aku lewati bertahun-tahun dengan pikiran yang entah kemana arahnya. Sedang mata ini menatap beberapa pedagang yang berusaha banting tulang untuk mendapatkan nafkah demi menghidupi anak dan istri. Entah berjualan apa saja, tahu gimbal hingga jagung susu keju (jasuke). Ku biarkan langit malam melunakkan hatiku sejenak untuk memikirkan tentang apa saja yang telah aku lalui bertahun-tahun. Barangkali selama ini aku melakukan hal-hal yang tidak berarti, atau mungkin ada satu hal atau beberapa hal yang mempunyai arti. Ku simpan segala hal yang pernah ku lalui, lalu aku mencoba untuk meresapi semuanya, ditemani hangatnya sinar rembulan.

Melihat ke belakang sebelum menatap masa depan adalah sesuatu hal yang aku lakukan malam itu. Sebelum pada akhirnya aku menyadari bahwa tak semua manusia mampu memalingkan wajah mereka langsung tatkala menatap masa lalu. Ada juga beberapa manusia yang terjebak dalam masa lalu sehingga mereka tidak bisa memalingkan mukanya ke masa depan. Yang terjadi, ia akan terus menetap di satu tempat, dan tidak akan bergerak sama sekali. Ia akan terlihat seperti orang yang bingung menentukan arah langkahnya ke depan, lalu hanya meratapi masa lalu dengan segelintir kemenangan yang telah ia miliki. Barangkali, aku termasuk ke dalam orang seperti itu. Malam itu, tepat di tengah kota, langkahku mencoba bergerak namun dihentikan oleh pikiranku yang berpijak di masa lalu. Waktu terus berjalan, dan aku dihipnotis olehnya.

Setiap manusia kerapkali menyalahkan waktu, mungkin saja termasuk aku. Ia dengan kejamnya membiarkan manusia meratapi segala penyesalannya. Dan pada akhirnya, banyak sekali manusia yang menyerah pada waktu. Terdiam, merenungi, tidak melakukan apa-apa, dan tetap saja, waktu akan terus berjalan tanpa menunggu manusia semacam itu. Malam itu, tentu saja aku sangat menyalahkan waktu. Bagaimana tidak, aku belum mengarahkan layar kapalku hendak kemana, sedang waktu tidak memberikan kesempatan bagiku. Persetan dengannya, biarkan saja aku terombang-ambing di tengah kejamnya malam tanpa sinar rembulan. Aku tersiksa, terperangkap oleh jebakan diriku sendiri.

Aku tetap berusaha untuk memalingkan wajahku kepada masa depan. Menatap masa lalu terlalu lama tentu tidak baik untuk manusia. Bukankah banyak yang bilang, kalau hidup ini seperti menaiki mobil? Kaca spion hanya berbentuk kecil, sedang kaca di depan sangat besar. Kita harus melihat ke belakang, namun jangan terlalu banyak. Sebab, kamu harus fokus ke depan agar tidak menabrak. Itulah, barangkali perumpamaan yang kerapkali kau dengar di pinggir jalanan. 

Layar kapal sudah berkibar, nahkoda hendak memutar setirnya. Sedang otakku masih saja terpaut dengan masa lalu yang kian menghantui. Bukankah seharusnya menatap masa depan adalah hal yang sangat mudah? Lalu mengapa waktu tetap membiarkan aku terjebak di dalam perangkapnya?. Langkah masih saja bergerak tak tahu arah, mata masih saja menatap para pedagang, sedang tangan mencoba meraih sesuatu, entah apa itu, namun tangan ini terus bergerak di antara angin;hendak mencari sesuatu.

Pikiranku sangat kacau malam ini. Andaikan saja roda pengendali waktu dapat aku temukan. Namun tak kunjung jua. Aku akhirnya menyerah kepada waktu dan berdiam diri mematung, tak tahu apa harus melangkah kemana untuk menuju masa depan.

-------

Waktu begitu kejam, kehidupan kian temaram. Lalu mengapa kau terus berdiam? Bukankah masih ada impian-impian lain yang masih mengambang di tengah samudera sana? Bukankah kamu seharusnya mengibarkan layar kapalmu, merumuskan segala sesuatunya, lalu menjemput impianmu? Lalu mengapa kamu terus mengiba-iba kepada sang waktu, seolah-olah ialah yang lebih mengetahui segalanya ketimbang pikiranmu?. Ah, dunia tetap saja berputar, mengikuti perintah dari sang waktu. 


Semarang, 05 April 2019

Gambar dari google





Dari Negeri Di Atas Awan Hingga Festival Literasi Patjarmerah

Memang benar kata kebanyakan orang tentang Jogja. Jogja memiliki keindahan tiada tara yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, melainkan hanya dapat dikenang lewat pikiran dan disimpan di dalam hati. Jogja lebih dari sekadar kota yang memiliki makanan khas gudeg maupun bakpia. Lebih dari itu, Jogja menyajikan berbagai macam kenangan yang sewaktu-waktu dapat kamu rekam dan di kemudian hari dapat kamu putar. Tak ada yang lebih indah dari keramaian kota Jogja yang dihiasi dengan kenangan yang terselip di berbagai sudutnya.

Barangkali aku selalu teringat dengan Aditya Sofyan yang selalu mendendangkan lagu Sesuatu Di Jogja dengan sangat merdu. Hari itu, tepat hari Jumat tanggal 1 Maret 2019 aku berencana untuk menginjakkan kakiku di kota Jogja. Sudah beberapa kali aku mengunjungi kota tersebut, namun rasa ketidakpuasan selalu  muncul di dalam hati. Setelah pergi dari kota Jogja, rasanya aku ingin kembali ke kota itu, lagi dan lagi. Seperti yang dibilang oleh Aditya Sofyan dalam lagunya:

Terbawa lagi langkahku ke sana
Mantra apa entah yang istimewa
Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja

Perjalanan

Sore hari dari Semarang, aku berangkat ke Jogja dengan menaiki sepeda motor. Sepanjang perjalanan, langit terlihat sangat mendung dan seakan-akan memperlihatkan bahwa dirinya sedang murung. Tak banyak yang peduli seberapa murungnya langit hingga meneteskan air mata yang begitu banyaknya--hujan. Orang-orang lebih memilih melanjutkan perjalanan atau sekadar meneduh sebentar kemudian melanjutkan perjalanan dengan memakai jas hujan. Anehnya, di saat langit sedang sedih dan meluapkan air matanya, di Bumi ini orang-orang sedang memunculkan rasa romantis mereka ke dalam bentuk puisi. Mungkin, kesedihan memang pantas untuk dirayakan, entah dengan apapun.

Perjalanan selalu mengajarkan kita berbagai banyak hal. Yang sebelumnya muram setelah perjalanan akan melebarkan senyumnya. Yang sebelumnya sedih akan timbul rasa bahagia. Yang tadinya senang akan merasa lebih senang, sebab perjalanan selalu menghadirkan kebahagiaan di dalamnya. Tidak peduli seberapa jauh langkah kakimu mengayun, di setiap langkah kaki akan terbit suatu kisah yang sewaktu-waktu dapat kamu ceritakan hingga akan memunculkan tawa bersama. Begitulah perjalanan, selalu membuat diri kita merasa terlahir kembali dalam keadaan suci.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam lebih, akhirnya aku sampai juga di kota Jogja, yang kata orang penuh dengan kenangan. Sesampainya di Jogja, langit masih terlihat sendu. Tak apa, barangkali aku menginginkan hal seperti ini; menikmati kesenduan di kota yang penuh kenangan. 

Oh ya, biar jelas kenapa aku melakukan perjalanan ke Jogja akan aku ceritakan terlebih dahulu. Aku pergi ke Jogja untuk mengunjugi sebuah acara festival literasi dan pameran buku yang bernama patjarmerah. Patjarmerah merupakan festival literasi yang menyediakan berbagai obrolan-obrolan seru mengenai dunia digital, sastra, fotografi dan lain-lain. Selain itu, di dalam patjarmerah juga ada pameran buku dengan berbagai macam genre dan disediakan dengan harga yang sangat murah! kamu dapat mengintip lebih dalam mengenai patjarmerah melalui akun instagramnya @patjarmerah_id. Acara ini berlangsung dari tanggal 2-10 Maret 2019.

Hari pun sudah mulai memasuki malam. Aku bergegas menuju ke tempat penginapanku yang bernama Bedjo Homestay by Dasinem. Sebelumnya, aku pernah menginap di tempat ini dan sangat nyaman sekali. Aku pernah menuliskan tentang Bedjo Homestay, silakan klik di sini

Alam

Sang mentari muncul dari persembunyiannya. Jam menunjukkan pukul 04:00 WIB. Aku berencana untuk mengunjungi salah satu tempat yang menyuguhkan pemandangan pagi yang sangat indah dengan bukit-bukit serta kabut yang menyelimutinya. Ya benar, aku akan mengunjungi Kebun Buah Mangunan yang terletak di daerah Imogiri. Alam tentu selalu  menghadirkan kesejukan jiwa bagi para pengunjungnya. Tidak heran, saat ini banyak sekali orang-orang yang berbondong-bondong untuk menikmati keindahan alam dengan mengunjungi berbagai tempat yang menyediakan pemandangan alam yang indah seperti gunung dan lain-lain. Barangkali orang-orang saat ini lebih membutuhkan kesejukan jiwa daripada kebutuhan pangan dan lainnya. Entahlah, semakin ke sini orang-orang memang harus membutuhkan kesejukan jiwa agar tidak menjadi gila dengan berbicara seenaknya saja di media sosial tanpa tahu dasar logikanya.

Sesampainya di Kebun Buah Mangunan, aku sangat terkejut dengan hamparan bukit yang diselimuti oleh kabut. Di samping kiriku, mentari telah muncul dengan malu dari persembunyiannya, barangkali mentari malu terhadap banyaknya manusia yang melihatnya. Banyak orang di tempat ini sedang mencari pemandangan alam untuk sekadar foto-foto maupun berkumpul bersama. Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung memotret keindahan alam dari Kebun Buah Mangunan.

sungai diapit oleh hamparan bukit

mentari malu-malu

ramainya orang

Rasa kangenku terhadap pemandangan alam seperti ini terpuaskan sudah. Memang, alam selalu membuat jiwa kita seperti terlahir kembali. Setiap kali bertegur sapa dengan alam, hatiku seperti berkata bahwa hal seperti inilah yang akan aku butuhkan di kemudian hari. Sebab, alam selalu terbuka bagi siapa saja yang datang dengan keadaan senang ataupun susah. 

Festival Literasi

Memasuki tengah hari, aku bersiap-siap untuk mengunjungi festival literasi dan pameran buku dari patjarmerah. Dari tempat menginapku, tempat acara patjarmerah ini cukup jauh, sekitar setengah jam. Dengan hanya bermodalkan google maps, aku bergegas untuk mengunjungi tempat kediaman patjarmerah.

Sesampainya di kediaman patjarmerah yang berada di Jl. Gedongkuning No. 118, Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, aku tertegun dengan banyaknya orang-orang yang hadir dalam festival literasi dan pameran buku tersebut. Banyak yang beranggapan bahwa minat baca Indonesia sangat rendah, namun dengan banyaknya orang yang hadir dalam acara patjarmerah ini, apakah masih bisa dibilang bahwa minat baca orang Indonesia sangat rendah?.

Jam menunjukkan pkl 12.35. Aku sedang menunggu salah satu sesi obrolan patjarmerah mengenai Perjalanan Bumi Manusia yang akan diisi oleh pembicara-pembicara seperti Muhidin M. Dahlan atau biasa dipanggil Gus Muh yang menulis buku "Ideologi Saya Adalah Pramis", lalu ada mas Whani Darmawan sebagai seorang aktor film Bumi Manusia. Satu lagi ada seorang dari Australia yang menterjemahkan Bumi Manusia sehingga dapat dibaca oleh dunia, beliau adalah Max Lane. Perbincangan antara ketiga pembicara tersebut akan dimoderatori oleh pemiliki Indie Book Corner, yaitu Iwan Bajang.

Dokumentasi Pribadi

Dokumentasi Pribadi

Perbincangan pun berjalan dengan sangat seru. mas Whani Darmawan, aktor film Bumi Manusia yang memerankan sebagai Darsam berpendapat bahwa keberadaan film Bumi Manusia sangat penting bagi generasi milenial untuk mengetahui sang maestro yang sebenar-benarnya dari dunia sastra, yaitu bung Pramoedya Ananta Toer yang melompati ruang dan waktu. Selain itu, mas Whani berkelakar mengenai anak-anak muda yang tidak mengetahui bung Pram. Beliau mengatakan bahwa pernah melihat cuitan di twitter yang berkata,"emang siapa sih Pram? Palingan cuman penulis pemula". Dari cuitan tersebut, mas Whani tentu mengatakan bahwa sangat penting adanya film Bumi Manusia di Indonesia. Dengan adanya film tersebut, maka secara tidak langsung film tersebut akan mengenalkan sosok Pramoedya Ananta Toer dan mengenalkan Pram sebagai seorang sastrawan hebat yang karyanya diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa.

Sementara Gus Muh menceritakan cerita panjang lebar mengenai terciptanya Lentera Dipantara di rumah kos-kosan blimbing sari UGM. Selain itu, Gus Muh menjelaskan mengenai ideologi Pramis. Maksud dari ideologi Pramis tersebut adalah bahwa seseorang melakukan perlawanan dengan caranya sendiri dan akan siap dengan pengasingan yang akan dihadapi. Gus Muh menggambarkan dua tokoh, yaitu Pram dan Minke. 

Pram dan Minke sama-sama seorang penulis kronik, Minke menulis dan mendalami ilmu pengetahuan dengan cara berkeliling Jawa dan meneruskan ke Maluku. Minke seorang sastrawan, begitu juga dengan Pram. Minke aktif di pergerakan di Sarekat Dagang Islam, Pram pun demikian menjadi pimpinan pusat 42 di Lekra dari 46 pimpinan. Minke dibuang di pulau Bacan, begitu juga Pram yang diasingkan di pulau Buru.

Terakhir, Max Lane bercerita tentang pertemuannya dengan Pram yang terjadi pada tahun 1980 an. Beliau bertemu dengan Pram dan pada akhirnya tertarik dengan karya Pram yang berjudul Bumi Manusia. Max Lane akhirnya memiliki pemikiran untuk mengenalkan Bumi Manusia kepada dunia sehingga beliau pun menterjemahkan Bumi Manusia ke dalam bahasa Inggris dan dapat dibaca oleh dunia.

Obrolan patjarmerah tersebut tentu sangat menarik, terlebih berbicara mengenai dunia sastra yang terlihat belum mencolok di bangsa Indonesia. Max Lane bahkan sempat berpendapat bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara yang tidak belajar kurikulum tentang Bumi Manusia. Di luar negeri, sekolah-sekolah bahkan telah mempunyai kurikulum sendiri untuk belajar mengenai Bumi Manusia. Hatiku pun sepintas bergetar. Mungkin minat baca Indonesia masih terbilang rendah walaupun festival literasi seperti ini didatangi oleh banyak orang.

Dokumentasi Pribadi


Dokumentasi Pribadi

Dokumentasi Pribadi

Setelah puas menikmati festival literasi, aku menuju ke Bedjo Homestay dengan pikiran serta kebahagiaan yang serta merta mengikutiku sepanjang jalan. Dua hari di Jogja dengan menikmati alam dan festival literasi sangatlah menyenangkan. Semoga di lain waktu akan ada acara seperti ini lagi, entah di Jogja atau di manapun.

Dari alam hingga festival literasi, dari kesejukan jiwa hingga penenangan pikiran. Entah apa itu bagi kamu,yang jelas bagiku dua hal tersebut benar-benar membuatku sangat senang. Sekian blogku kali ini, semoga ada manfaat yang dapat kamu ambil. Jika bagi kamu dirasa bermanfaat, tolong sebarkan blog ini ke orang-orang terdekatmu. Terima kasih.

Adieb Maulana
Yogyakarta, 1-3 Maret 2019
ditulis di Semarang, 6 Maret 2019.

Dua Jenis Manusia Saat Hujan

Ada dua jenis manusia tatkala hujan: yang satu sedang menatap hujan dari jendela, yang satunya lagi sedang bermain hujan-hujanan dengan mata yang sembap. Keduanya sama-sama pintar dalam menyembunyikan kesedihan.

Barangkali kesedihan tak melulu soal air mata dan rapuh. Di dalamnya, terdapat berbagai macam keindahan warna yang dapat dilihat dari segi yang berbeda, seakan-akan kita akan melihat bahwa kesedihan juga patut dirayakan seperti halnya kebahagiaan. Air mata yang jatuh dari pelupuk matamu dapat menyuburkan tanah kenangan, membasuh rasa lelahmu, dan pada akhirnya akan memunculkan sosok pelangi yang berada di bola matamu, seperti kata Jamrud dalam lagunya. Tak hanya perpaduan hujan serta sinar matahari saja yang mampu memunculkan pelangi, perpaduan air mata dan cahaya mata pun juga dapat memunculkan pelangi. Merayakan kesedihan tentu adalah ritual yang terdengar sangat anomali. Tak pernah ada kesedihan yang menyenangkan; ia selalu membuat hati manusia remuk. Kehilangan adalah salah satu kesedihan yang teramat sangat membungkam raga dan rasa. Ikhlas adalah salah satu cara bagaimana menyikapi sebuah kehilangan itu sendiri. Merelakan yang pergi, berdoa yang terbaik untuknya, dan berharap suatu saat nanti dapat mengenangnya dengan sangat khidmat. 

Kesedihan patut di sama ratakan dengan kebahagiaan. Sudah banyak sekali orang-orang yang mencari kebahagiaan dengan definisi-definisinya masing-masing. Namun, tak ada satu pun di dunia ini yang mencari kesedihan. Kesedihan seakan-akan dilupakan begitu saja. Kebahagiaan selalu dikenang, sedangkan kesedihan selalu dikekang. Hingga suatu hari, saat masa kekangnya sudah habis, kesedihan itu akan keluar dari kandangnya dan mengetuk pintu hati manusia, seraya berkata.

"Saat lelah mencari kebahagiaan, aku disini, di ujung sepi, menanti".

Aku hendak merayakan kesedihan hari ini. Di jantung kota, aku lihat orang-orang sedang sibuk beraktifitas. Hingga akhirnya hujan turun. Orang-orang sibuk berlarian untuk menghindari hujan. Kesana kemari mencari tempat yang dapat dijadikan naungan. Aku pun yang tadinya hendak melantunkan bait-bait kesedihan akhirnya merapat terlebih dahulu di sebuah kedai kopi, kemudian memesan espresso dan menyeduhnya dengan sangat khidmat. Menyeduh kopi ketika hujan tentu merupakan pilihan yang tepat bagi para penikmat patah hati juga perindu suara hati. Ku seduh kopiku secara perlahan, dan tak sengaja aku melihat satu orang berjalan begitu santai di bawah hujan sembari memaksakan sebuah senyuman teruntai di bibirnya. Ia berjalan seakan-akan tak terjadi apa-apa. Dibiarkannya hujan untuk menghapus langkahnya serta segala hal yang telah ia lewati. Aku pun sempat bingung, apa yang ia lakukan di tengah hujan deras seperti ini?.

Kopi espresso masih nikmat seperti biasanya. Sedikit hambar namun berasa melengkapi hatiku yang baru saja patah akibat ulah seseorang. Aku mungkin tak perlu hari perayaan patah hati, sebab, merayakan patah hati bisa kapan saja. Merayakan kesedihan merupakan hal yang menyenangkan bagiku. Berdamai dengan diri sendiri, lalu sesekali merangkai aksara, dan tak lupa menghirup udara serta bersyukur karena Tuhan telah menciptakan kebahagiaan dan kesedihan. Tanpa kesedihan, manusia akan terlampau buruk karena hanya kesenangan tanpa perenungan dalam kehidupan. Tanpa kebahagiaan, manusia akan berdiam diri saja karena terus menerus menitikkan air mata tanpa berjuang untuk kehidupan yang nyata. 

Ku seruput lagi kopiku, dan sesekali memperhatikan keadaan sekitar. Ku lihat di pojok kedai kopi ada seseorang yang menatap hujan dari jendela dengan melamun. Ia sangat khidmat menikmati rintikan  demi rintikan yang jatuh dari bumi. Hanya menatap, tanpa melakukan hal yang lainnya. Entahlah apa yang ia lakukan, aneh sekali. Aku biarkan saja orang itu, tak peduli juga. Aku mulai fokus kepada perayaan kesedihanku dengan menuliskan berbagai kata di atas kertas. Masih teringat jelas sewaktu seseorang yang aku cintai hilang begitu saja tanpa ada kabar. Sesak dalam gelap, berteriak dalam terang. Hancur rasanya kehilangan sesuatu yang kita cintai. Merayakan kesedihan adalah salah satu cara agar dapat kembali mengumpulkan puing-puing hati yang telah hancur. Berdisko sesuka ria dengan kata-kata dan berpesta di ujung pelangi. Sudah selesai aku menuliskan sajak patah hati, aku hendak keluar dari kedai kopi walau hujan masih turun ke bumi. Saat hendak keluar, aku memperhatikan orang di pojok kedai kopi itu yang masih saja menatap hujan dari balik jendela. Sudah berapa lama ia seperti itu? Aneh.

Lantas aku coba menerjang hujan untuk pergi ke sebuah supermarket, membeli beberapa makanan untuk malam nanti. Seketika saat keluar dari supermarket ada sesuatu yang aneh dalam pandanganku. Ialah sosok manusia yang berada di pojok kedai kopi dengan sosok manusia yang bermain hujan-hujanan tadi saling berhadapan lalu saling berpelukan di bawah derasnya hujan.

Mari sebarkan kesedihan di muka bumi ini. Agar air mata berfungsi sebagaimana mestinya. Agar awan tak sendiri meneteskan air ketika hujan turun. Agar bumi dapat menghapus air matamu dengan senandung manisnya. Agar kamu tahu, ada senyumku yang dapat menjadi pelipur laramu.


Ketika Imajinasi Tak Lagi Indah

Malam ini, aku tak menyempatkan diri ke dalam sebuah jurang imajinasi bersama para bajingan di pinggiran kota. Hampir setiap hari mereka selalu menyudutkan rasa yang tak berbalas, menyumpah serapahi segala yang bagi mereka hanya omong kosong belaka, serta sesekali mengumpat para wakil rakyat yang selalu tidur di kala rapat. Bagi mereka, tidur hanyalah ketika di dalam ruang kelas kuliah serta di kamar saja, selebihnya hanyalah omong kosong belaka. Di pinggiran kota, mereka menyenandungkan lagu-lagu pelipur lara dengan nada-nada khas dari masing-masing orang. Walau terlihat berbeda-beda nadanya, namun dari situ seolah-olah mereka menunjukkan bahwa walau berbeda nada mereka tetap satu jua--dalam irama satu lagu yang sama. Tak peduli siapa, tak peduli apa pangkatnya, sesekali orang-orang yang lewat dihadapannya diajak bersenandung bersama. Mereka tahu, hanya musik yang mampu menyembuhkan diri tatkala merasa lelah setelah beraktifitas seharian penuh. 

Aku masih saja berdiam diri dihadapan kertas kosong sembari memikirkan apa yang harus aku tuliskan untuk hari esok. Ya, aku memiliki kebiasaan untuk sebisa mungkin menyiapkan tulisan untuk bumi ini esoknya, dan esoknya lagi. Hal itu aku lakukan supaya bumi ini tak hanya memakan omong kosong, perpecahan, kemungkaran, serta kebencian saja. Bumi butuh kata-kata yang harus ia cerna agar tetap terjaga dalam kewarasannya. Tanganku baru saja hendak mengambil pena dan mulai menulis di atas kertas kosong. 

Imajinasiku kemana-mana, berterbangan ke daerah satu ke daerah lainnya. Melihat berbagai kejadian yang ada, mulai dari indahnya kebersamaan para bajingan di pinggiran kota hingga wakil rakyat yang sudah tidak merakyat. Lalu tiba-tiba saja, ada yang aneh dengan imajinasiku. Ia terlihat sangat terkejut ketika melihat di depannya ada sosok besar yang membawa borgol, kemudian imajinasiku diborgol dan dimasukkan ke dalam sebuah ruang berukuran 2x3 meter. Apa ini? Tempat apakah ini? Batin imajinasiku dalam hatinya.

Seketika itu juga pikiranku kosong. Imajinasiku terkekang dalam sebuah ruangan. Tatapan mataku entah mengarah kemana, tanganku tak bergerak sama sekali. Di atas kertas hanya masih bertuliskan kata "cinta" tanpa ada imbuhan di depannya. Ada apa ini? Mengapa tiba-tiba saja imajinasiku menuju ke dalam sebuah ruangan gelap tanpa cahaya sedikit pun. Ah, aku benci sekali dengan keadaan ini. Seketika itu juga, kurobek-robek kertas yang ada di depanku, kemudian aku buang di tong sampah. Tak ada tulisan untuk hari ini. Tak ada kata-kata untuk bumi cerna hari ini.

Aku pun berjalan mengitari kota dengan perasaan yang tak karuan. Meniti langkah demi langkah dengan tatapan kosong akibat tak menciptakan sebuah tulisan pada hari ini. Pikirku, sebagai hiburan di kala imajinasi yang terkekang di dalam ruangan gelap, aku hendak mengunjungi para bajingan yang di pinggiran kota sembari menyanyikan lagu-lagu dengan penuh kedamaian. Sesaat setelah hendak sampai di pinggiran kota, tak kulihat sama sekali para bajingan  yang biasanya bernyanyi bersuka ria di pinggiran kota. Aku telusuri lebih dalam, barangkali para bajingan berpindah ke tempat lain demi menciptakan suasana baru, nyatanya tak kutemukan sama sekali. Hingga tak kusangka, aku melihat selembaran kertas yang bertengger di ranting pohon di pojok sana. Aku coba membacanya dan seketika aku terhuyung lemas.

"Kau pikir wakil rakyat hanya tidur saat rapat? tidak. kami sedang memikirkan bagaimana bangsa ini maju dengan baik. Anda jangan semena-mena menuduh kami seperti itu. Ada baiknya anda harus memperhatikan apa yang anda tuliskan di lirik lagu yang anda nyanyikan. Mulai saat ini imajinasi anda akan kami kekang, dan ucapkan selamat tinggal kepada ruang pinggiran kota".

Dan aku sempat mengerti, mengapa di sebuah kedai kopi tadi imajinasiku terkekang di sebuah ruangan 2x3 meter.

#TolakRUUPermusikan





Pasar Karetan Dengan Beribu Jajanan Tradisional Serta Pemandangan Alam yang Fenomenal

Tak ada yang spesial pada Minggu pagi. Dahulu, Minggu pagi selalu ditunggu-tunggu oleh anak kecil untuk menetap di depan layar kaca tv sembari menonton kartun kesukaan mereka. Kali ini tak ada yang spesial, tak ada yang istimewa, tak ada yang menggugah selera, melainkan tidur pada hari Minggu pagi hingga siang nanti.

Niatnya ingin melakukan ritual tidur hingga siang nanti, namun aku teringat sebuah ajakan untuk datang ke pasar karetan pada Minggu pagi ini. Ajakan tersebut datang dari seorang pengurus Genpi yang hendak mengajakku untuk mengelilingi area sekitaran pasar karetan atau bahasa singkatnya bisa dikatakan sebagai fun walk. Bagi yang belum tahu, Genpi merupakan Generasi Pesona Indonesia yang berada di berbagai daerah di Jawa Tengah maupun Indonesia, termasuk Semarang. Aku sendiri ikut serta dalam  Genpi Semarang pada saat ini. Nah singkat cerita, ada acara fun walk yang akan diselenggarakan di area sekitaran pasar karetan tersebut pada hari Minggu tanggal 20 Januari 2019. Teringat oleh ajakan tersebut, maka aku memutuskan untuk tidak melakukan ritual tidur hingga siang pada hari Minggu itu.

Setelah mandi dan bersiap-siap, sekitar jam 6 pagi aku naik motor menuju ke pasar karetan. Awalnya aku tidak tahu dimana pasar karetan tersebut berada, sebab sebelumnya aku belum pernah pergi kesana. Akhirnya dengan bermodalkan google maps, aku bergegas menuju ke pasar karetan. 

Pasar karetan terletak di daerah Boja atau lebih lengkapnya di Jl. Sasak 3, Krajan, Meteseh, Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Tempatnya cukup jauh dari rumahku yang berada di daerah Timur Semarang. Namun setelah perjalanan 1,5 jam, akhirnya aku sampai juga di pasar karetan dengan beribu pohon karet yang berada di sekitar situ. Batinku, benar-benar sangat unik konsep yang diusung oleh pasar karetan ini.

pohon karet yang berada di sekitaran pasar karetan

tampak depan dari pasar karetan

lukisan pasar karetan yang ada di depan
Melihat konsep depan dari pasar karetan membuatku sangat kagum terhadap keberadaan pasar ini. Akhirnya tanpa basa-basi aku pun langsung masuk ke dalam pasar karetan dan melihat-lihat apa saja yang ada di dalam pasar karetan. Setelah masuk, aku terpaku melihat berbagai stand yang tersebar dimana-mana dan menyajikan berbagai macam makanan tradisional disitu. Jadi, selain kamu menikmati pemandangan alam dengan beribu pohon karet, kamu juga dapat mengisi perut kamu di pasar karetan dengan makanan tradisional yang dijamin sangat enak dan dapat mengenyangkan perutmu.

Untuk menu-menu yang ada di pasar karetan ada banyak sekali, berikut beberapa menu yang aku dapat dari pasar karetan kemarin:

  • Cengkelek : jajanan pasar
  • Gendhar pecel
  • Wedang ronde
  • Wedang rempah
  • Nasi jagung
  • Nasi gudangan
  • Pecel keong
  • Gemblong bakar
  • Aneka baceman
  • Tahu campur
  • Rawon
  • Bubur klepon
  • Bubur ketan duren
  • Kacang godhog
  • dll
Itu hanya sebagian menu yang aku dapat saat berkunjung ke pasar karetan pada hari Minggu kemarin. Tentu saja, kamu dapat menemukan berbagai menu lainnya saat pergi ke pasar karetan tersebut, karena masih banyak menu yang dapat kamu cicipi sebagai pembuka yang manis pada Minggu pagimu. 

wedang rempah cocok untuk perut di pagi hari

jasuke ditemani bojo galak

para pecinta kopi mana suaranyaaa
Tak sampai disini saja aku dibuat kagum oleh pasar karetan ini. Ternyata, untuk membeli berbagai jajanan yang tersedia di stand pasar karetan ini kamu harus menggunakan girik sebagai alat transaksi di pasar karetan. Kamu dapat menukar uang kamu kepada stand yang menyediakan penukaran girik. Stand tersebut terdapat di depan pintu masuk dan ada juga yang di tengah-tengah pasar karetan, tepatnya di dekat panggung pertunjukkan.

Inilah wujud dari girik
Nah sudah puas dengan berbagai macam jajanan di pasar karetan serta keunikan yang ditampilkan di pasar ini, kamu masih dapat menemui berbagai macam hal menarik di pasar karetan ini. Karena selain menyediakan berbagai jajanan tradisional yang sangat enak, pasar karetan juga menyediakan live musik, spot-spot foto untuk swafoto, bahkan tempat untuk kamu belajar memanah! wow! sangat lengkap sekali. Di sini banyak sekali spot foto yang dapat kamu temukan di setiap ujung pasar karetan. Karena pasar ini terbilang sangat luas sehingga kamu dapat menjelajah semaksimal mungkin.
panggung hiburan pasar karetan

spot foto yang sangat digemari pengunjung

panahan

area camping untuk bersantai

area camping untuk bersantai
Setelah aku sangat puas menjelajah pasar karetan, aku mencoba menggali lebih dalam mengenai pasar karetan melalui internet. Dan ternyata saat aku buka di internet, pasar karetan ini baru saja memenangkan penghargaan Asean Tourism Forum (ATF) yang diselenggarakan di negara Vietnam tepatnya di FLC Grand Halong Bay Resort pada tanggal 18 Januari 2019 lalu. Pasar karetan mendapatkan penghargaan dalam kategori Community Based Tourism Standart ASEAN 2019. Seketika aku sangat bangga terhadap keberadaan pasar karetan ini, terlebih sebagai orang Jawa Tengah yang mempunyai tempat sekeren dan seindah ini. Gokil!.

Puas menikmati pasar karetan dan sekitarnya, aku masih belum berhenti  kagum dengan keberadaan pasar ini. Dengan makanan tradisional yang mengenyangkan serta pemandangan alam yang luar biasa, mungkin pasar karetan bisa menjadi opsi bagi kamu untuk mengisi kegiatan pada hari Minggu pagi. Bagi kamu yang sedang berkunjung ke Semarang atau asli Semarang dan sekitarnya, sempatkanlah berkunjung ke pasar karetan pada hari Minggu untuk sekadar memuaskan lidah terhadap masakan tradisional yang sangat enak, serta menikmati pemandangan alam yang luar biasa Di pasar karetan juga tersedia toliet yang sangat bersih dan sangat nyaman untuk dipakai.

Tidak jadi melakukan ritual tidur pagi hingga siang ini, aku akhirnya melakukan ritual tidur tersebut pada siang hari selepas dari pasar karetan dengan mimpi yang indah.


Back To Top