Perjalanan Adibio | Kelana Lara Perjalanan Adibio

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Ketika Imajinasi Tak Lagi Indah

Malam ini, aku tak menyempatkan diri ke dalam sebuah jurang imajinasi bersama para bajingan di pinggiran kota. Hampir setiap hari mereka selalu menyudutkan rasa yang tak berbalas, menyumpah serapahi segala yang bagi mereka hanya omong kosong belaka, serta sesekali mengumpat para wakil rakyat yang selalu tidur di kala rapat. Bagi mereka, tidur hanyalah ketika di dalam ruang kelas kuliah serta di kamar saja, selebihnya hanyalah omong kosong belaka. Di pinggiran kota, mereka menyenandungkan lagu-lagu pelipur lara dengan nada-nada khas dari masing-masing orang. Walau terlihat berbeda-beda nadanya, namun dari situ seolah-olah mereka menunjukkan bahwa walau berbeda nada mereka tetap satu jua--dalam irama satu lagu yang sama. Tak peduli siapa, tak peduli apa pangkatnya, sesekali orang-orang yang lewat dihadapannya diajak bersenandung bersama. Mereka tahu, hanya musik yang mampu menyembuhkan diri tatkala merasa lelah setelah beraktifitas seharian penuh. 

Aku masih saja berdiam diri dihadapan kertas kosong sembari memikirkan apa yang harus aku tuliskan untuk hari esok. Ya, aku memiliki kebiasaan untuk sebisa mungkin menyiapkan tulisan untuk bumi ini esoknya, dan esoknya lagi. Hal itu aku lakukan supaya bumi ini tak hanya memakan omong kosong, perpecahan, kemungkaran, serta kebencian saja. Bumi butuh kata-kata yang harus ia cerna agar tetap terjaga dalam kewarasannya. Tanganku baru saja hendak mengambil pena dan mulai menulis di atas kertas kosong. 

Imajinasiku kemana-mana, berterbangan ke daerah satu ke daerah lainnya. Melihat berbagai kejadian yang ada, mulai dari indahnya kebersamaan para bajingan di pinggiran kota hingga wakil rakyat yang sudah tidak merakyat. Lalu tiba-tiba saja, ada yang aneh dengan imajinasiku. Ia terlihat sangat terkejut ketika melihat di depannya ada sosok besar yang membawa borgol, kemudian imajinasiku diborgol dan dimasukkan ke dalam sebuah ruang berukuran 2x3 meter. Apa ini? Tempat apakah ini? Batin imajinasiku dalam hatinya.

Seketika itu juga pikiranku kosong. Imajinasiku terkekang dalam sebuah ruangan. Tatapan mataku entah mengarah kemana, tanganku tak bergerak sama sekali. Di atas kertas hanya masih bertuliskan kata "cinta" tanpa ada imbuhan di depannya. Ada apa ini? Mengapa tiba-tiba saja imajinasiku menuju ke dalam sebuah ruangan gelap tanpa cahaya sedikit pun. Ah, aku benci sekali dengan keadaan ini. Seketika itu juga, kurobek-robek kertas yang ada di depanku, kemudian aku buang di tong sampah. Tak ada tulisan untuk hari ini. Tak ada kata-kata untuk bumi cerna hari ini.

Aku pun berjalan mengitari kota dengan perasaan yang tak karuan. Meniti langkah demi langkah dengan tatapan kosong akibat tak menciptakan sebuah tulisan pada hari ini. Pikirku, sebagai hiburan di kala imajinasi yang terkekang di dalam ruangan gelap, aku hendak mengunjungi para bajingan yang di pinggiran kota sembari menyanyikan lagu-lagu dengan penuh kedamaian. Sesaat setelah hendak sampai di pinggiran kota, tak kulihat sama sekali para bajingan  yang biasanya bernyanyi bersuka ria di pinggiran kota. Aku telusuri lebih dalam, barangkali para bajingan berpindah ke tempat lain demi menciptakan suasana baru, nyatanya tak kutemukan sama sekali. Hingga tak kusangka, aku melihat selembaran kertas yang bertengger di ranting pohon di pojok sana. Aku coba membacanya dan seketika aku terhuyung lemas.

"Kau pikir wakil rakyat hanya tidur saat rapat? tidak. kami sedang memikirkan bagaimana bangsa ini maju dengan baik. Anda jangan semena-mena menuduh kami seperti itu. Ada baiknya anda harus memperhatikan apa yang anda tuliskan di lirik lagu yang anda nyanyikan. Mulai saat ini imajinasi anda akan kami kekang, dan ucapkan selamat tinggal kepada ruang pinggiran kota".

Dan aku sempat mengerti, mengapa di sebuah kedai kopi tadi imajinasiku terkekang di sebuah ruangan 2x3 meter.

#TolakRUUPermusikan





Pasar Karetan Dengan Beribu Jajanan Tradisional Serta Pemandangan Alam yang Fenomenal

Tak ada yang spesial pada Minggu pagi. Dahulu, Minggu pagi selalu ditunggu-tunggu oleh anak kecil untuk menetap di depan layar kaca tv sembari menonton kartun kesukaan mereka. Kali ini tak ada yang spesial, tak ada yang istimewa, tak ada yang menggugah selera, melainkan tidur pada hari Minggu pagi hingga siang nanti.

Niatnya ingin melakukan ritual tidur hingga siang nanti, namun aku teringat sebuah ajakan untuk datang ke pasar karetan pada Minggu pagi ini. Ajakan tersebut datang dari seorang pengurus Genpi yang hendak mengajakku untuk mengelilingi area sekitaran pasar karetan atau bahasa singkatnya bisa dikatakan sebagai fun walk. Bagi yang belum tahu, Genpi merupakan Generasi Pesona Indonesia yang berada di berbagai daerah di Jawa Tengah maupun Indonesia, termasuk Semarang. Aku sendiri ikut serta dalam  Genpi Semarang pada saat ini. Nah singkat cerita, ada acara fun walk yang akan diselenggarakan di area sekitaran pasar karetan tersebut pada hari Minggu tanggal 20 Januari 2019. Teringat oleh ajakan tersebut, maka aku memutuskan untuk tidak melakukan ritual tidur hingga siang pada hari Minggu itu.

Setelah mandi dan bersiap-siap, sekitar jam 6 pagi aku naik motor menuju ke pasar karetan. Awalnya aku tidak tahu dimana pasar karetan tersebut berada, sebab sebelumnya aku belum pernah pergi kesana. Akhirnya dengan bermodalkan google maps, aku bergegas menuju ke pasar karetan. 

Pasar karetan terletak di daerah Boja atau lebih lengkapnya di Jl. Sasak 3, Krajan, Meteseh, Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Tempatnya cukup jauh dari rumahku yang berada di daerah Timur Semarang. Namun setelah perjalanan 1,5 jam, akhirnya aku sampai juga di pasar karetan dengan beribu pohon karet yang berada di sekitar situ. Batinku, benar-benar sangat unik konsep yang diusung oleh pasar karetan ini.

pohon karet yang berada di sekitaran pasar karetan

tampak depan dari pasar karetan

lukisan pasar karetan yang ada di depan
Melihat konsep depan dari pasar karetan membuatku sangat kagum terhadap keberadaan pasar ini. Akhirnya tanpa basa-basi aku pun langsung masuk ke dalam pasar karetan dan melihat-lihat apa saja yang ada di dalam pasar karetan. Setelah masuk, aku terpaku melihat berbagai stand yang tersebar dimana-mana dan menyajikan berbagai macam makanan tradisional disitu. Jadi, selain kamu menikmati pemandangan alam dengan beribu pohon karet, kamu juga dapat mengisi perut kamu di pasar karetan dengan makanan tradisional yang dijamin sangat enak dan dapat mengenyangkan perutmu.

Untuk menu-menu yang ada di pasar karetan ada banyak sekali, berikut beberapa menu yang aku dapat dari pasar karetan kemarin:

  • Cengkelek : jajanan pasar
  • Gendhar pecel
  • Wedang ronde
  • Wedang rempah
  • Nasi jagung
  • Nasi gudangan
  • Pecel keong
  • Gemblong bakar
  • Aneka baceman
  • Tahu campur
  • Rawon
  • Bubur klepon
  • Bubur ketan duren
  • Kacang godhog
  • dll
Itu hanya sebagian menu yang aku dapat saat berkunjung ke pasar karetan pada hari Minggu kemarin. Tentu saja, kamu dapat menemukan berbagai menu lainnya saat pergi ke pasar karetan tersebut, karena masih banyak menu yang dapat kamu cicipi sebagai pembuka yang manis pada Minggu pagimu. 

wedang rempah cocok untuk perut di pagi hari

jasuke ditemani bojo galak

para pecinta kopi mana suaranyaaa
Tak sampai disini saja aku dibuat kagum oleh pasar karetan ini. Ternyata, untuk membeli berbagai jajanan yang tersedia di stand pasar karetan ini kamu harus menggunakan girik sebagai alat transaksi di pasar karetan. Kamu dapat menukar uang kamu kepada stand yang menyediakan penukaran girik. Stand tersebut terdapat di depan pintu masuk dan ada juga yang di tengah-tengah pasar karetan, tepatnya di dekat panggung pertunjukkan.

Inilah wujud dari girik
Nah sudah puas dengan berbagai macam jajanan di pasar karetan serta keunikan yang ditampilkan di pasar ini, kamu masih dapat menemui berbagai macam hal menarik di pasar karetan ini. Karena selain menyediakan berbagai jajanan tradisional yang sangat enak, pasar karetan juga menyediakan live musik, spot-spot foto untuk swafoto, bahkan tempat untuk kamu belajar memanah! wow! sangat lengkap sekali. Di sini banyak sekali spot foto yang dapat kamu temukan di setiap ujung pasar karetan. Karena pasar ini terbilang sangat luas sehingga kamu dapat menjelajah semaksimal mungkin.
panggung hiburan pasar karetan

spot foto yang sangat digemari pengunjung

panahan

area camping untuk bersantai

area camping untuk bersantai
Setelah aku sangat puas menjelajah pasar karetan, aku mencoba menggali lebih dalam mengenai pasar karetan melalui internet. Dan ternyata saat aku buka di internet, pasar karetan ini baru saja memenangkan penghargaan Asean Tourism Forum (ATF) yang diselenggarakan di negara Vietnam tepatnya di FLC Grand Halong Bay Resort pada tanggal 18 Januari 2019 lalu. Pasar karetan mendapatkan penghargaan dalam kategori Community Based Tourism Standart ASEAN 2019. Seketika aku sangat bangga terhadap keberadaan pasar karetan ini, terlebih sebagai orang Jawa Tengah yang mempunyai tempat sekeren dan seindah ini. Gokil!.

Puas menikmati pasar karetan dan sekitarnya, aku masih belum berhenti  kagum dengan keberadaan pasar ini. Dengan makanan tradisional yang mengenyangkan serta pemandangan alam yang luar biasa, mungkin pasar karetan bisa menjadi opsi bagi kamu untuk mengisi kegiatan pada hari Minggu pagi. Bagi kamu yang sedang berkunjung ke Semarang atau asli Semarang dan sekitarnya, sempatkanlah berkunjung ke pasar karetan pada hari Minggu untuk sekadar memuaskan lidah terhadap masakan tradisional yang sangat enak, serta menikmati pemandangan alam yang luar biasa Di pasar karetan juga tersedia toliet yang sangat bersih dan sangat nyaman untuk dipakai.

Tidak jadi melakukan ritual tidur pagi hingga siang ini, aku akhirnya melakukan ritual tidur tersebut pada siang hari selepas dari pasar karetan dengan mimpi yang indah.


Bermimpi Mengunjungi Hainan Bersama HIS Travel

Di musim hujan ini tak banyak yang aku lakukan selain tidur, membuka laptop, makan, serta berbagai kegiatan membosankan lainnya. Sempat terpikirkan untuk melakukan perjalanan, namun apa daya, cuaca sedang tidak bersahabat sehingga aku tidak bisa melawannya. Alam tentu akan memberikan waktunya kepada manusia agar dapat menjelajahinya di waktu yang tepat. Yah mau bagaimana lagi, selama musim hujan ada baiknya menunda perjalanan dan berdiam diri di rumah demi keselamatan diri agar tidak gampang terserang penyakit.

Aku buka laptopku sejenak sembari menunggu hujan reda dan keluar mencari makan. Menjelajah dunia internet memang kegiatan yang sangat menyenangkan. Mulai dari A-Z kamu dapat menemukan berbagai macam hal yang kamu inginkan di internet. Sebagai seorang yang menyukai travelling, aku mencari hal-hal yang menyenangkan untuk dikunjungi ketika cuaca telah membaik nanti. Tak sengaja aku melihat tulisan HIS di internet. Aku mencoba menjelajahinya lebih dalam, ternyata HIS ini merupakan HIS Travel yang menyediakan berbagai macam tour travel, mulai dari paket tour China, paket tour Jepang, dan beberapa paket tour lainnya yang terlihat sangat mengagumkan. Bagaimana tidak, dalam HIS Travel ini tertera paket tour dengan harga yang sangat terjangkau sehingga cocok bagi kamu yang sedang ingin berlibur khususnya ke luar negeri.

Aku pun masih penasaran dengan HIS Travel ini. Aku telusuri lebih dalam dan mataku terpaku dengan Hainan yang kerapkali disebut sebagai Hawainya China. Tanpa basa basi aku membuka tab baru dan mencari-cari hal mengenai Hainan tersebut. 

Kesan pertama aku saat melihat Hainan ini benar-benar menghipnotis aku untuk liburan ke Hainan. Bagaimana tidak, baru membuka Hainan di internet yang keluar langsung pemandangan-pemandangan pantai yang indah dengan cuaca tropis yang mirip dengan Indonesia. Perasaanku langsung tergiur untuk mengenal lebih dalam mengenai Hainan ini. Ternyata disana terdapat berbagai macam destinasi wisata seperti wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, wisata belanja, serta wisata tradisi. Dan setelah aku mencari-cari informasi mengenai Hainan ini, salah satu yang terkenal dari wisata disitu adalah wisata pantai yang bernama Pantai Yalongbay yang terletak di daerah Sanya. Pantai Yalongbay memang sangat indah dengan pemandangan alam yang cantik sehingga dapat memanjakan mata para wisatawan.

Tak hanya pantai saja ternyata, setelah aku dalami di Hainan terdapat wisata budaya yang menampilkan budaya-budaya di Indonesia sehingga membuat kita seperti berada di rumah sendiri! wow, sangat mengagumkan tentu saja. Kamu dapat menemui hal tersebut di Desa Bali. Di Desa Bali suasana khas Bali akan terasa kental sekali karena disajikan berbagai macam budaya khas Bali. Mayoritas penduduk di Desa Bali merupakan warga Tionghoa asal Indonesia sehingga tidak usah heran apabila di sana menyajikan berbagai macam budaya Indonesia, khususnya budaya Bali.

Setelah mengetahui berbagai macam keindahan yang disajikan oleh Hainan, aku kembali kepada tab HIS Travel. Tak sengaja aku melihat di situsnya menyediakan paket tour ke Hainan. Aku buka-buka lebih dalam dan ternyata tak hanya paket itu saja, melainkan ada paket tour Jepang dan paket wisata yang lainnya. HIS Travel menyediakan berbagai macam paket tour dengan harga yang sangat terjangkau sehingga membuat kita cukup mudah untuk berlibur ke luar negeri. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai paket tour Hainan dari HIS Travel dan pake tour lainnya, kamu dapat mengunjungi HIS Travel. Sebelum kamu memesan paket tour Hainan dari HIS Travel, alangkah baiknya kamu melihat-lihat informasi detail mengenai Wisata Hainan.

Ah, setelah melihat-lihat tempat wisata Hainan serta informasi Hainan tour dari HIS Travel membuat aku ingin sekali mengunjungi destinasi wisata yang mengagumkan tersebut. Jika diizinkan, suatu hari nanti aku akan menapaki pulau Hanian dengan beribu keindahan serta budayanya yang sangat mempesona.

Aku tutup tab internetku. Hujan masih deras di luar sana. Sedangkan pikiran ini mulai deras dengan liburan ke Hanian.


gambar dari google

Sibuk Memikirkan Perasaan Dan Merasakan Pikiran

Jam dinding berdetak detik demi detik. Berjalan dengan suara jarum yang sangat khas di telingaku malam ini. Sembari menunggu pesanan takdir yang aku pesan dari seorang barista di sebuah kedai kopi, aku sedang melamunkan hal-hal yang sepatutnya tidak aku pikirkan. Berdiam terus berdiam tanpa ada ucap kata yang keluar dari mulut. Sedari tadi pikiran ini melayang-layang tak tentu arah, tanpa komando, tanpa perintah. Semua berjalan apa adanya, tanpa ada paksaan dan segala halnya. Andai kata pikiran ini dapat aku kekang dan aku masukkan ke dalam jeruji besi, mungkin aku tidak akan melamun tak tentu arah seperti ini. Pikiran hanya berdiam diri di pojokan jeruji besi, sembari menyeduh kopi atau menulis selama ia di balik jeruji besi tersebut. Namun tak bisa, pikiran ini selalu memikirkan hal-hal yang di luar dugaan. Sesekali muncul pikiran tentang hari kemarin, saat aku tak sengaja melihat seorang gadis pujaanku yang sedang lewat di hadapanku ketika ia baru saja selesai dari kuliahnya. Jantungku seketika langsung berdegup kencang, bumi ini seakan berguncang, dan tatapan mataku tak lepas dari seorang gadis yang sedang mengenakan kemeja hitam serta tangannya yang dihiasi dengan banyak gelang. Rasanya seperti jatuh hati yang membuat hari-hari akan berjalan indah. Tak peduli apa yang akan terjadi di depan. Yang aku rasakan adalah saat itu--tatap mataku yang tak sengaja di balas tatap mata olehnya.

Takdir yang aku pesan belum juga datang. Jemariku mengetuk-ngetuk meja seraya melihat jam dinding. Jam terus berubah, sementara rasaku terhadap kejadian kemarin sama sekali tak berubah. Entahlah, pikiran ini tak pernah terlepas dari perasaan itu. Barangkali, manusia memang ahli dalam menangkap perasaan senang yang masuk ke dalam sukmanya, atau barangkali sibuk memikirkan perasaan?

Di hadapannya tak tahu apa yang akan terjadi. Sedang disini manusia di kedai kopi tersebut tak henti-hentinya menunggu takdir yang ia pesan seraya memikirkan perasaan yang entah akan bermuara ke pelabuhan yang mana. Dengan secuil senyum yang terlintas di bibirnya, serta pandangan mata bahagia, manusia itu tak henti-hentinya memikirkan sesuatu yang belum pasti, namun sangat membahagiakan hati.

----------

Hujan sedang mesra-mesranya bercumbu dengan tanah bumi. Sedari tadi pagi hingga menjelang senja, rintikan hujan tak henti-hentinya menggaungkan rasa puasnya kepada sang bumi sehabis diizinkan oleh sang Pencipta untuk menumpahkan segala isinya. Orang-orang tak peduli dengan perasaan yang dirasakan oleh hujan ketika itu, yang mereka pikirkan hanya bagaimana caranya supaya dapat membeli pasokan makan sebelum datang hujan, atau berusaha secepat mungkin untuk dapat sampai ke rumah sebelum hujan menyapa. 

Barangkali kamu mau duduk bersamaku di sudut kota ini? Sembari meminum secangkir teh atau kopi lalu berbicara tentang hal apa saja yang terjadi di muka bumi ini? Baiklah, akan aku ceritakan sesuatu hal yang menarik bagiku akhir-akhir ini.

Barangkali sebagian kita pernah merasakan pikiran secara berlebihan. Dengan mendewakan kejadian-kejadian yang akan terjadi di depannya tanpa mengambil keputusan dengan tegas sehingga yang terjadi hanya omong kosong belaka dan pulang dengan tidak membawa apa-apa. Kemungkinan-kemungkinan yang akan mengakibatkan sesuatu rencana akan gagal selalu menghantui dirimu di setiap kamu hendak menjalankan sesuatu yang bagi kamu sangat menyenangkan dan dapat memuaskan hasrat kamu. Terlalu merasakan pikiran dengan segala logika yang menurut kamu adalah segalanya. 

Logika adalah nomor satu, sedang progres hanya omong kosong belaka. 

Di atas sana, awan sedang menari-nari di atas penderitaan kamu yang sedari tadi terlalu sibuk dengan pikiran kamu. Hanya diam saja, termenung, menyalahkan segalanya, hingga akhirnya kamu lelah dengan semua dan persetan. Aku sering mendengar bahwa seorang pebisnis selalu mengambil keputusan tanpa banyak pikiran. Terlalu banyak pikiran, bisnis itu tidak akan jalan sehingga yang terjadi kamu kembali kepada pemikiran kamu sendiri, yang entah bermuara kemana. Sungguh hal yang merugi bagi orang yang hanya ingin mendapatkan keuntungan di awal tanpa mau melakukan berbagai macam proses yang menghadang di depan. Percayalah terhadap mimpi serta langkah yang kamu ambil saat ini. Tatap kedepan, dan lakukan segala proses yang akan dijalani sehingga dapat berada di tempat mimpi kamu berada. Memikirkan terlebih dahulu memang sangat penting, namun terlalu banyak memikirkan tentu akan membuat suasana menjadi genting.

--------

Ah, ya, baru saja takdir yang aku pesan hinggap di atas mejaku. Sudah hampir beberapa jam aku menunggu namun tidak datang-datang jua. Hendak aku seruput takdir tersebut, namun tiba-tiba ada seseorang menghampiriku dengan sangat manis, lalu duduk dihadapanku.

"Maukah kamu berkompromi denganku?"ujar seseorang di depan dengan tatapan mata yang sangat kosong, serta rambut yang cukup berantakan. Entahlah, barangkali ia kekurangan tidur.


Semarang, 20 Januari 2019.




Kenangan dan Kemenangan

Ketika hujan sedang turun membasahi bumi, ingatanku berlarian ke arah kenangan yang telah kita jalani bersama. Aku masih ingat bagaimana kamu mengusap hidung kamu dengan jari-jari lentikmu, aku masih ingat bagaimana tatapan matamu mengarah tepat ke dalam mataku sehingga terekam jelas di dalam memori ingatanku. Hujan tampaknya selalu berhasil menunjukkan kenangan-kenangan semua manusia, atau mungkin hanya aku saja, entahlah. Sebab, setiap kali hujan banyak sekali  manusia-manusia yang dilanda kenangan yang begitu luar biasa, terutama diriku ini, yang sedang mengenangmu dengan dalam.

Kenangan menghidupkan manusia atau manusia yang menghidupkan kenangan?

Bertahun-tahun aku hidup di dunia ini, beribu langkah telah aku ayunkan, berbagai macam manusia telah aku temui, kenangan selalu hadir menjelma dengan berbagai bentuk rupa. Di setiap pertemuan dan kesempatan, kenangan selalu datang menghampiri untuk sekadar bertegur sapa kepada manusia yang telah menjejakkan kakinya di bumi ini. Entahlah, mungkin ini hanya imajinasiku saja. Barangkali saat Tuhan sedang menciptakan manusia dengan akal dan ruh yang ditaruh di atas langit sana, Tuhan juga menyelipkan kenangan kepada manusia yang hendak ditiupkan ruhnya untuk berada di muka bumi ini. Sehingga saat kita telah keluar dari perut ibu kita, kita langsung merekam kenangan bagaimana tangis haru orang tua kita saat melahirkan kita. Bagaimana kita berusaha untuk berjalan di atas kaki kita sendiri dengan dibantu oleh orang tua kita. Tentu saja, kita sangat sulit merekam kenangan tersebut sebab saat masih kecil daya kenangan kita belum terlalu besar. Kita dapat mengenang momen tersebut melalui perantara seorang bayi saat kita sudah berumur dewasa.

Apa mungkin kenangan yang menghidupkan manusia?

Hujan masih terus membasahi bumi. Sedang aku disini sedari tadi dihujam dengan berbagai kenangan yang telah aku lewati. Aku tak bisa menangkis begitu saja hadirnya kenangan, terlebih di saat hujan. Seringkali aku beranggapan, bahwa adanya kenangan justru semakin membuat langkah kita akan semakin perlahan untuk berjalan kedepan. Berdiam diri begitu saja dengan asyiknya, sehingga lupa bahwa ada tantangan yang harus dihadapi di depan. Asyik dengan kenangannya tanpa melihat kemenangannya. 

Ah aku baru saja menemukan sesuatu yang baru. 

Barangkali saat hujan tak melulu soal kenangan, melainkan soal kemenangan. Manusia terlalu sibuk dengan apa yang telah ia jalani, sampai ia lupa dengan apa yang harus ia jalani. Kemenangan tentu menjadi sebuah kata yang paling menarik untuk manusia yang sedang berjuang demi sesuatu yang ia inginkan. Memberikan usaha terbaiknya, berdoa kepada Tuhan, lalu berharap kata kemenangan tersebut akan muncul di hadapannya. Setiap kita tentu mempunyai target-target tersendiri untuk meraih kemenangan tersebut. Seperti misalnya, saat ini aku sedang mengalami masa-masa akhir mahasiswa, tentu kemenangan yang aku inginkan adalah sebuah prosesi wisuda. Proses yang dilalui tentu harus menyelesaikan skripsi serta melakukan sidang. Kemenangan terkadang lebih indah untuk dijalani ketimbang kenangan itu sendiri. Di saat hujan, cobalah sesekali mengatur kemenanganmu sendiri agar tak melulu terpendam dalam sebuah kenangan.

Jadi, manusia yang menghidupkan kenangan?

Rintik hujan masih senantiasa membasahi bumi. Di jalanan, orang-orang sedang lalu lalang untuk sekadar membeli makanan atau minuman untuk mengisi perut mereka. Ada juga yang menyediakan jasa ojek payung untuk kebutuhan perut mereka. Sedang aku, di pojok kedai kopi ini sedang berusaha menyusun aksara yang sedari tadi berkeliaran di luar sana kala hujan. Aku ingin mengabadikan apa saja yang telah terekam dalam ingatan. Pikiran ini tak henti-hentinya menangkap segala kenangan yang hadir di masa lalu. Sedang mata ini menuju kepada arah yang mengaburkan pandangan, namun berusaha untuk fokus kepada langkah kemenangan.

Sebab, hidup tak selalu tentang kenangan yang harus diingat, melainkan ada sebuah kemenangan yang harus jadi pengingat.

Gunung Merbabu

Sore Yang Syahdu di Kedai Joko Kopi Ungaran

Langit sedang sangat cerah pada sore itu. Cakrawala jingga hendak menyapa semesta di ujung hari saat manusia sedang sibuk-sibuknya dengan aktifitas. Ada yang pulang bekerja, terjebak dalam macet, baru pulang dari kuliah, serta aktifitas lain kala sore itu. Aku sendiri memutuskan untuk menikmati sore itu dengan secangkir kopi dan mendoan yang tersaji di mejaku. Tak lupa pula, ditemani dengan suasana syahdu dari pinggir sawah serta angin yang bertiup cukup kencang sehingga membuat udara semakin sejuk. Ditambah dengan pemandangan hamparan sawah serta indahnya alam Ungaran yang senantiasa memanjakan mata. Lalu juga ada beberapa orang yang sedang asyik bercengkrama satu sama lain di mejanya masing-masing serta sebagian berlalu lalang di meja kasir untuk sekadar memesan sesuatu. Ya, betul sekali, pada sore itu aku memutuskan untuk menghabiskan hari di sebuah kedai kopi di Ungaran yang bernama, Joko kopi.

Awal mulanya aku mengetahui kedai Joko kopi dari instagram @jokokopi. Melihat-lihat feeds yang tertera membuat hasrat ini semakin tinggi untuk menuju kesana. Satu yang membuat aku ingin sekali kesana adalah: kedai kopi ini terletak di pinggir sawah!. Sontak aku pun langsung segera mencari lokasi dimana kedai joko kopi tersebut berada. Pikirku sangat syahdu sekali menikmati kopi di pinggir sawah serta ditemani pemandangan alam Ungaran. Setelah dapat lokasinya, aku pun bergegas menuju kedai Joko kopi dengan menggunakan motor.

Joko kopi terletak di Jalan Gedongsongo No. 9 Kelurahan Candirejo, Kecamatan Ungaran Barat, Ngablak, Semarang, Jawa Tengah. Lebih gampangnya, untuk ke kedai Joko kopi jika dari Semarang kota kamu hanya perlu mencari Universitas Ngudi Waluyo. Nanti di sebelahnya ada gang, kemudian kamu masuk kesitu. Ikuti jalan saja nanti di samping kanan jalan ada kedai Joko kopi. Tempatnya yang sangat minimalis dan nyaman membuat pandangan pertamaku terhadap kedai kopi ini adalah: Sempurna!. Tempat kopi ini sangat rekomended bagi warga Ungaran dan sekitarnya.

Memasuki kedai, aku pun langsung memesan kopi serta beberapa mendoan untuk camilan. Kedai Joko kopi terbagi menjadi dua lantai, ada yang indoor dan outdoor. Jika ingin menikmati langsung di pinggir sawah, maka disarankan untuk cepat-cepat agar tidak diambil oleh orang terlebih dahulu tempatnya. Kedai ini juga menyediakan musholla serta kamar mandi, jadi kamu tidak perlu takut apabila kesana saat hendak menjelang maghrib.

Berikut beberapa gambar yang ada di lantai bawah:

spot disamping sawah

kasir yang setia melayani pelanggannya

spot di dalam yang dekat dengan sawah

spot di outdoor bawah

Dan ini untuk yang spot atas. Untuk di atas terbilang lebih asyik (kalo bagiku) soalnya benar-benar lebih menikmati hamparan sawah dengan leluasa.

spot atas indoor

spot atas outdoor
Untuk harga di kedai Joko kopi terbilang murah dan tidak terlalu mahal. Ini penampakan pesanan yang dipesan pada waktu itu.

pesanan waktu itu
Cookies N Cream : Rp.25.000
Flores Robusta Tubruk : Rp.20.000
Mendoan Goreng : Rp.17.000
Roti + pisang bakar coklat : Rp.22.000
Total : Rp.84.000

Rata-rata harga minuman di kedai Joko Kopi sekitar 20 ribu ke atas. Di sini juga ada makanan berat seperti nasi goreng, sehingga apabila kamu sedang lapar, maka tidak perlu khawatir. Sajian kopi serta mendoannya sangat enak sekali, juga pisang bakar coklat dan cookies n creamnya. Sangat manis dan cocok untuk dinikmati di sore hari.

Gimana? tertarik buat ke Joko kopi? Oh ya terakhir aku kesana Joko kopi sedang dalam tahap renovasi. Mungkin sekarang jauh terlihat lebih indah. Sekian sore syahduku di Joko kopi, semoga bermanfaat. Jangan lupa follow aku di instagram @adieb_maulana.

Salam Lestari.

Resensi Novel Bumi Manusia: Pribumi Tidak Layak Di Mata Eropa

Berbicara mengenai buku Bumi Manusia tentu  tidak terlepas dari sang maestro sastra Indonesia, Pramoedya Anata Toer. Sastrawan terkemuka yang saat ini sangat melegenda di Indonesia bahkan  di dunia ini masih hidup di antara deretan aksara yang diciptakannya walau raganya sudah tiada. Beliau pernah berkata "orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian". Benar saja, kalimat yang pernah beliau katakan langsung semasa hidup tersebut saat ini benar-benar menginsipirasi semua orang. Beliau menulis, beliau tak pernah hilang dari masyarakat bahkan sejarah sekalipun.

Bumi Manusia merupakan salah satu karya beliau yang sampai saat ini selalu menjadi perbincangan para pegiat sastra di seluruh Indonesia. Bumi Manusia tergabung dalam tetralogi pulau buru yang berisi Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, serta Rumah Kaca. Empat buku tersebut ditulis oleh Pram ketika beliau berada di pulau Buru. Pria kelahiran Blora, 6 Februari 1925 tersebut menyajikan cerita yang menarik mengenai masa kolonial yang ia kemas dengan kata-kata yang lugas serta nyaman untuk dibaca hingga zaman sekarang. Berbagai quote serta gagasan pemikirannya yang cerdas dituangkan dengan bijak lewat tulisan yang secara tidak langsung melawan bangsa Eropa pada masa kolonial.

Di dalam novel Bumi Manusia yang diceritakan oleh Pram terdapat sosok Pribumi yang memiliki derajat tinggi sebagai seorang anak Bupati. Ia biasa dikenal sebagai Minke. Dikarenakan ia adalah seorang anak Bupati, maka ia diperbolehkan untuk menempuh pendidikan di sekolah H.B.S (Hogere Burger School). Bagi yang belum mengetahui, H.B.S merupakan pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa, ataupun Elit Pribumi.

Tidak heran apabila Minke cukup fasih dalam berbahasa Eropa, ia bahkan sangat mengenal sekali budaya Eropa. Namun tetap saja, Pribumi hanyalah Pribumi, di mata orang Eropa seorang Pribumi tidak ada gunanya. Hingga suatu ketika Minke diajak ke sebuah rumah oleh temannya di sekolah, Robert Suurhof, dan ternyata rumah tersebut adalah rumah milik Tuan Herman Mellema yang tinggal bersama gundik yang ia beli, Nyai Ontosoroh, serta menghasilkan dua anak keturunan Pribumi Eropa atau biasa disebut Indo. Dua anak tersebut adalah Robert Mellema serta Annelies Mellema.

Cerita begitu berbeda ketika Minke mengenal keluarga Mellema tersebut. Sebagai seorang Pribumi yang memiliki pendidikan Eropa, ia tahu persis bagaimana kinerja seorang Pribumi seperti Nyai Ontosoroh yang hanya bisa membereskan rumah saja. Nyatanya, anggapan tersebut salah besar. Nyai Ontosoroh, Pribumi yang hanya gundik seorang Tuan Mellema tersebut bisa baca tulis serta mengerti bahasa Eropa dengan bagus. 

Dalam hal ini, Pram benar-benar menggambarkan bagaimana seorang Pribumi yang ia hidupkan di dalam novel Bumi Manusia mengalami hibriditas budaya yang sering kita kenal sebagai percampuran budaya.  Pribumi pada masa kolonial hanya tahu urusan rumah saja tanpa mengerti pendidikan dan semacamnya. Pram, dalam novelnya seakan-akan membuat perlawanan dengan sangat halus lewat seorang Pribumi yang mendalami kebudayaan serta ilmu Eropa, dalam hal ini melalui perantara dari tokoh Minke dan Nyai Ontosoroh. Terlebih Minke merupakan seorang jurnalis yang kerapkali menulis tentang apa saja yang ia alami semasa hidupnya. Lewat tulisan tersebut, Minke kerapkali mengkritik kebijakan-kebijakan bangsa Eropa pada saat masa kolonial.

Sayangnya, Pribumi selalu tidak layak di mata Eropa. Hukum seakan-akan membuat kekuatan seorang Pribumi tidak berdaya walau dengan segenap tenaga melawan kebengisan Eropa. Di akhir cerita Bumi Manusia tersebut Minke harus rela melepas Annelies Mellema, istrinya, yang terjerat hukum Eropa sehingga harus kembali lagi ke Belanda. Hukum pernikahan sah antara seorang Pribumi seperti Minke serta seorang Indo seperti Annelies Mellema tidak ada harganya dihadapan hukum Eropa pada masa kolonial tersebut. Pram benar-benar menggambarkan kisah tragis cinta dari dua orang yang terpisah akibat strata sosial yang mereka dapatkan. Pribumi tidak mendapatkan haknya sama sekali.

Di akhir, Nyai Ontosoroh berkata sangat halus kepada Minke, "Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.".

Membaca novel Bumi Manusia tentu kamu akan dituntun dengan pelik kehidupan pada masa kolonial. Selain itu, ketidak adilan dalam kelas sosial benar-benar digambarkan antara Pribumi dan Eropa. 

Gambar dari gramedia.com

Back To Top