Perjalanan Adibio | Kelana Lara Perjalanan Adibio

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Resensi Novel Bumi Manusia: Pribumi Tidak Layak Di Mata Eropa

Berbicara mengenai buku Bumi Manusia tentu  tidak terlepas dari sang maestro sastra Indonesia, Pramoedya Anata Toer. Sastrawan terkemuka yang saat ini sangat melegenda di Indonesia bahkan  di dunia ini masih hidup di antara deretan aksara yang diciptakannya walau raganya sudah tiada. Beliau pernah berkata "orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian". Benar saja, kalimat yang pernah beliau katakan langsung semasa hidup tersebut saat ini benar-benar menginsipirasi semua orang. Beliau menulis, beliau tak pernah hilang dari masyarakat bahkan sejarah sekalipun.

Bumi Manusia merupakan salah satu karya beliau yang sampai saat ini selalu menjadi perbincangan para pegiat sastra di seluruh Indonesia. Bumi Manusia tergabung dalam tetralogi pulau buru yang berisi Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, serta Rumah Kaca. Empat buku tersebut ditulis oleh Pram ketika beliau berada di pulau Buru. Pria kelahiran Blora, 6 Februari 1925 tersebut menyajikan cerita yang menarik mengenai masa kolonial yang ia kemas dengan kata-kata yang lugas serta nyaman untuk dibaca hingga zaman sekarang. Berbagai quote serta gagasan pemikirannya yang cerdas dituangkan dengan bijak lewat tulisan yang secara tidak langsung melawan bangsa Eropa pada masa kolonial.

Di dalam novel Bumi Manusia yang diceritakan oleh Pram terdapat sosok Pribumi yang memiliki derajat tinggi sebagai seorang anak Bupati. Ia biasa dikenal sebagai Minke. Dikarenakan ia adalah seorang anak Bupati, maka ia diperbolehkan untuk menempuh pendidikan di sekolah H.B.S (Hogere Burger School). Bagi yang belum mengetahui, H.B.S merupakan pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa, ataupun Elit Pribumi.

Tidak heran apabila Minke cukup fasih dalam berbahasa Eropa, ia bahkan sangat mengenal sekali budaya Eropa. Namun tetap saja, Pribumi hanyalah Pribumi, di mata orang Eropa seorang Pribumi tidak ada gunanya. Hingga suatu ketika Minke diajak ke sebuah rumah oleh temannya di sekolah, Robert Suurhof, dan ternyata rumah tersebut adalah rumah milik Tuan Herman Mellema yang tinggal bersama gundik yang ia beli, Nyai Ontosoroh, serta menghasilkan dua anak keturunan Pribumi Eropa atau biasa disebut Indo. Dua anak tersebut adalah Robert Mellema serta Annelies Mellema.

Cerita begitu berbeda ketika Minke mengenal keluarga Mellema tersebut. Sebagai seorang Pribumi yang memiliki pendidikan Eropa, ia tahu persis bagaimana kinerja seorang Pribumi seperti Nyai Ontosoroh yang hanya bisa membereskan rumah saja. Nyatanya, anggapan tersebut salah besar. Nyai Ontosoroh, Pribumi yang hanya gundik seorang Tuan Mellema tersebut bisa baca tulis serta mengerti bahasa Eropa dengan bagus. 

Dalam hal ini, Pram benar-benar menggambarkan bagaimana seorang Pribumi yang ia hidupkan di dalam novel Bumi Manusia mengalami hibriditas budaya yang sering kita kenal sebagai percampuran budaya.  Pribumi pada masa kolonial hanya tahu urusan rumah saja tanpa mengerti pendidikan dan semacamnya. Pram, dalam novelnya seakan-akan membuat perlawanan dengan sangat halus lewat seorang Pribumi yang mendalami kebudayaan serta ilmu Eropa, dalam hal ini melalui perantara dari tokoh Minke dan Nyai Ontosoroh. Terlebih Minke merupakan seorang jurnalis yang kerapkali menulis tentang apa saja yang ia alami semasa hidupnya. Lewat tulisan tersebut, Minke kerapkali mengkritik kebijakan-kebijakan bangsa Eropa pada saat masa kolonial.

Sayangnya, Pribumi selalu tidak layak di mata Eropa. Hukum seakan-akan membuat kekuatan seorang Pribumi tidak berdaya walau dengan segenap tenaga melawan kebengisan Eropa. Di akhir cerita Bumi Manusia tersebut Minke harus rela melepas Annelies Mellema, istrinya, yang terjerat hukum Eropa sehingga harus kembali lagi ke Belanda. Hukum pernikahan sah antara seorang Pribumi seperti Minke serta seorang Indo seperti Annelies Mellema tidak ada harganya dihadapan hukum Eropa pada masa kolonial tersebut. Pram benar-benar menggambarkan kisah tragis cinta dari dua orang yang terpisah akibat strata sosial yang mereka dapatkan. Pribumi tidak mendapatkan haknya sama sekali.

Di akhir, Nyai Ontosoroh berkata sangat halus kepada Minke, "Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.".

Membaca novel Bumi Manusia tentu kamu akan dituntun dengan pelik kehidupan pada masa kolonial. Selain itu, ketidak adilan dalam kelas sosial benar-benar digambarkan antara Pribumi dan Eropa. 

Gambar dari gramedia.com

Film Keluarga Cemara: Bukan Hanya Sekadar Drama, Melainkan Nilai-Nilai Berharga Dari Sebuah Keluarga

Awal tahun ini dunia perfilman Indonesia sedang dihebohkan dengan berbagai film yang sangat bagus untuk menjadi hiburan awal tahun. Salah satu film yang membuat aku sangat tergugah untuk menontonnya langsung di bioskop adalah film Keluarga Cemara. Jujur saja, pada awalnya aku tidak terlalu mengikuti serial TV Keluarga Cemara yang hadir pada era 90an lalu, sebab aku memang belum mengetahui serial TV tersebut saat masih di era 90an he he. Namun, saat serial TV tersebut akan dibuatkan menjadi sebuah film layar lebar pada awal tahun ini, aku sangat tergugah untuk menontonnya langsung. Kata hatiku mengatakan, ada sesuatu yang harus aku telusuri lebih dalam mengenai makna dari keluarga. Lewat film Keluarga Cemara, barangkali aku dapat menelusurinya langsung lewat mata dan hatiku.

Berbicara mengenai keluarga tentu kita akan dihadapkan oleh sepasang kekasih yang menjelma sebagai orang tua juga anak-anak yang bersuka cita turut meramaikan adanya keluarga. Memang, sebuah kalimat "harta yang paling berharga adalah keluarga" merupakan dorongan bagi kita semua untuk selalu menjaga dan menghargai keluarga kita, selagi masih utuh dan dapat menjalin kebersamaan satu sama lain. Dalam film Keluarga Cemara yang disutradari oleh Yandy Laurens ini, aku sangat kagum dengan Abah yang diperankan oleh Ringgo Agus Rahman. Ringgo memang sangat lihai dalam memerankan peran ayah. Namun dibalik semua itu, tersimpan cerita bagaimana Ringgo merupakan seorang ayah yang benar-benar rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk menghidupi keluarganya. Setelah melewati berbagai macam rintangan yang menimpa keluarganya, Ringgo sebagai abah selalu berusaha melalui caranya agar mampu membuat keluarganya bahagia di tengah-tengah kesengsaraan yang menimpanya. Memainkan peran ayah yang peduli terhadap anak dengan nasihat-nasihat serta kemarahannya yang mencerminkan kepeduliannya terhadap dua anaknya Ara (Widuri Putri Sasono) dan Euis (Adhisty Zara).

Peran Ringgo sebagai abah hampir membuatku menumpahkan air mata pada saat itu.

Dibalik sosok laki-laki yang luar biasa selalu ada wanita luar biasa di belakangnya. Nirina Zubir sebagai Emak mencerminkan bagaimana seorang wanita benar-benar menjadi penenang serta penguat bagi seorang suami yang hidup bersamanya. Nirina dengan kelembutannya serta keteguhannya selalu menenangkan Ringgo dikala Ringgo sedang menghadapi pikiran-pikiran berat mengenai masalah yang dihadapi Keluarga Cemara. Melalui Nirina, Ringgo yang selalu keras kepala dengan keputusan yang diambilnya perlahan-lahan mulai memikirkan apa yang telah ia lakukan, sehingga membuat Ringgo berpikir bahwa sebuah keluarga tidak hanya berbicara soal sosok ayah saja, melainkan ada sosok ibu yang berdiri di belakangnya.

Barangkali, ibu kita memang selalu ada untuk menenangkan kita dikala kita sedang putus asa terhadap dunia. 

Sosok anak memang tidak terlepas dari tanggung jawab orang tua. Peran anak dalam Keluarga Cemara yang dimainkan oleh Adhisty Zara JKT 48 serta Widuri Putri Sasono membuat film ini seakan-akan sangat berwarna dan membuat ceria. Terlebih peran Widuri, putri dari seorang aktor Dwi Sasono yang terlihat sangat menggemaskan dengan leluconnya yang selalu membuat keluarga cemara tertawa. Maklum saja, dalam film ini Ara diceritakan sebagai seorang umur 7 tahun yang baru menginjak sekolah dasar sehingga terlihat masih polos dan sangat lucu. Sedang Euis yang diperankan oleh Zara JKT 48 merupakan seorang anak yang telah menginjak usia 14 tahun dan sudah menempuh pendidikan SMP. Dalam hal ini, anak seusia tersebut tentu memiliki pola pemikiran yang sedang menuju kepada proses pendewasaan. Euis yang cukup membangkang saat mendengar nasihat dari orang tua akhirnya mulai menyadari bahwa nasihat tersebut ada benarnya. Ia bahkan berperan sebagai kakak yang luar biasa di saat ekonomi keluarga sedang merosot serta saat emaknya hendak melahirkan anak ketiga.

Ada saatnya anak-anak harus diajarkan bagaimana memahami pola hidup yang sedang dialami keluarganya walau dengan bentakan sekalipun.

Rating yang aku berikan dalam film ini: 9/10. Tontonlah film Keluarga Cemara selagi masih mengudara di bioskop. Sebab dalam film ini aku benar-benar memahami apa arti dari kalimat "harta yang paling berharga adalah keluarga". Ohya selain filmnya yang bagus, soundtracknya juga bagus karena ada lagu Dialog Dini Hari-Tentang Rumahku he he. 

Sekian ulasan film dariku, semoga bermanfaat.

Sumber foto dari id.bookmyshow.com

Perjalanan di Tahun 2018

Berteman dengan sunyi bukan hanya membantu kamu menjauh dari gelegarnya bunyi kembang api, melainkan mampu membuatmu mempelajari diri sendiri.

Sedari tadi sore aku berkutat dengan laptop dan microsoft word hanya untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan sebelum datangnya malam pergantian tahun baru. Bukan, bukannya aku ingin merayakan tahun baru pada malam harinya, melainkan karena deadline pekerjaanku hari ini sehingga secepatnya harus ku selesaikan. Sebab, bagiku, perayaan tahun baru tidak ada gunanya di saat usiamu sudah menginjak kepala dua. Menikmati kasur serta berteman dengan kesunyian adalah salah satu refleksi diri untuk menyambut datangnya tahun 2019 yang sudah siap menunggu di depan matamu. Sembari beristirahat dari capeknya mengetik tulisan dengan ratusan kata, aku berbaring sejenak untuk membuka instagram story yang telah aku buat sepanjang tahun 2018.

Terlalu banyak kenangan yang telah aku rangkai dari awal Januari hingga detik ini. Langkah ini sudah semakin jauh menapak tanpa henti. Berbagai perjalanan telah aku lewati, beribu pelajaran telah aku dapati. Hingga terkadang aku lupa bahwa sejauh apapun langkah ini mengayun, selalu ada tempat singgah yang harus dijamah--rumah. Rumah ada untuk langkah yang mengenal lelah, rumah ada untuk mengganti senyummu yang kian pudar, dan rumah selalu ada untuk hati-hati yang sempat terkena patah hati. Sempatkanlah dirimu untuk selalu menyapa orang tua meski kamu sedang terburu-buru hendak melangkah pergi jauh. Ceritakan rencana mimpimu kepadanya, biarkan telinga yang sedari dulu mendengar tangismu kini akan mendengar rangkaian mimpimu yang luar biasa. Biarkan matanya menatap matamu yang sedari dulu terus mengeluarkan air mata di pertengahan malamnya. Hingga kemudian, kamu akan mengayunkan kaki dengan perasaan lega ketika keluar rumah. Sebab, orang tuamu tahu kamu akan menaklukkan dunia dengan caramu. Sebab, orang tuamu tahu bahwa anaknya suatu hari nanti akan menjadi  orang yang berguna bagi masyarakat.

Belajar mengenal rasa tentu belajar berbagi cerita. Tahun ini, aku mengenal tangis dan bengis secara bersamaan. Tahun ini, aku belajar memendam ego dengan segala noda buruk yang membuntutinya. Tahun ini, rasanya aku baru mengenal sebagian rasa yang sama sekali belum aku ketahui sebelumnya. Tahun depan, mari kita belajar apa arti dari rasa.

Waktu terus berjalan tanpa henti, sedang langkahku terhenti tepat di depan senyum manismu. Pertengahan tahun itu, tepatnya saat musim hujan sedang berganti ke musim kemarau, aku membiarkan sang waktu terus berjalan tanpa memikirkannya. Masa bodo terhadap waktu, sedang disini aku ditemani dengan senyummu, senyum yang akan aku kenang hingga suatu saat nanti. Merebahkan aksara di atas hamparan sabana adalah hal terbaikku saat itu, membiarkan waktu terus berjalan adalah hal terburukku saat itu. Bagaimana tidak, inginnya aku menghentikan waktu saat tatapan mataku terbius oleh paras cantikmu yang bersinar terang di antara pekat patah hati yang aku terima pada masa lalu. Lubang nostalgia tertutup begitu saja tanpa memperbolehkan aku menangis mengingat tragedi patah hati. Ya, patah hati memang tidak mengenakkan. Namun, adakalanya patah hati membuatmu ingin kembali menoleh kepadanya. Di temaram lampu kota, tepat di jantung kota, cerita menguar bersama rintik hujan yang turun dari atas bumi. Langit terlihat begitu pucat seakan memaksaku untuk menyelimutinya dengan goresan aksara. Namun sekali lagi, kala itu aku tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitarku, bahkan keadaan semesta yang seringkali aku jaga. Sebab, disini, di tengah kota yang dihiasi gemerlap lampu dan udara yang syahdu, tanganku menemukan jalannya untuk meraih mimpi-mimpi yang sempat kabur.

Andaikan kaki ini tidak melangkah lebih dari biasanya, mungkin, di malam yang sebentar lagi akan berganti tahun 2019, aku masih melukiskan indahnya patah hati tanpa mengerti arti jatuh hati.

Alam selalu mengerti akan manusia yang sedang membutuhkan ruang. Dibiarkannya aku yang sedang berada di dalam ruang hampa dengan beribu pesonanya sehingga aku sedikit melupakan suasana alam. Ya, tahun ini aku hanya sedikit saja menyapa alam dan semesta lewat kabut-kabut dan juga hangatnya sinar mentari. Merapi dan Merbabu masih menjadi favoritku pada tahun ini. Kedua gunung yang saling berdekatan, saling memancarkan kebahagiaan, tidak akan pernah aku lupakan keindahan yang tercipta di dalamnya. Sesekali aku merindukan masa saat bercengkrama dengan alam tanpa mengkhawatirkan hal duniawi lainnya. Tahun ini, rasanya sangat sedikit sekali obrolanku bersama alam. Ah, semoga saja, pada tahun depan, aku dapat meningkatkan intensitas obrolanku bersama alam.

Selain rumah yang menjadi tempat singgah, aku rasa alam adalah tempat singgah terindah untuk menumpahkan segala cerita tentang masalah dunia.

Segalanya akan terlihat tampak buram dari sekarang, masa depan tidak ada yang pernah tahu bentuknya. Sebab, kita berada di masa sekarang dan belajar di masa lalu. Menatap masa depan adalah hal semu yang seringkali dilakukan oleh kebanyakan manusia. Entah bagaimana ceritamu di tahun 2018, 1 menit lagi tahun akan berganti. Mari kita sama-sama mengheningkan cipta untuk saudara-saudara kita yang terkena bencana. Setelah itu, mari tatap 2019 dengan membangun bangsa Indonesia melalui kesadaran kita masing-masing.

Salam hangat,
Adieb Maulana.

fotoku waktu di merbabu

Jejalah Banyumas Bersama Genpi Jateng: Kebudayaan Serta Keramahan Indonesia

Siang itu kota Purwokerto diguyur hujan. Langkah kakiku baru saja menapaki stasiun Purwokerto lalu menengok ke atas langit sana. Purwokerto semakin syahdu dengan rintikan hujan. Sebelumnya aku pernah mengunjungi kota ini pada tahun 2017. Dan sekarang, saat tahun 2018 aku kembali mengunjungi kota ini hanya satu kesimpulan yang bisa aku katakan: Purwokerto memang membuat nyaman.

Stasiun Purwokerto selalu menyajikan perpisahan dan pertemuan secara bersamaan. Bukan hanya stasiun Purwokerto saja, melainkan semua stasiun di seluruh Indonesia. Sembari menangkap perpisahan dan pertemuan yang terekam lewat bayanganku, aku menunggu jemputan dari panitia penyelenggara Tour City Spirit of Slamet. Untuk lebih jelasnya, kali ini aku datang ke Purwokerto untuk menghadiri acara Tour City Spirit of Slamet. Kebetulan dalam acara tersebut ada undangan kepada seluruh Genpi (Generasi Pesona Indonesia) se Jawa Tengah. Aku datang ke acara tersebut untuk mewakili Genpi regional Semarang. Dalam acara tersebut terdiri dari beberapa panitia seperti volunteer serta beberapa perwakilan dari Genpi Banyumas sendiri. Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya aku dijemput oleh dua orang dari perwakilan panitia yang ternyata memakai mobil Volkswagen untuk menjemputku. Wow!. Sangat senang sekali tentunya.

Bersama mobil Volkswagen, aku dan dua panitia tadi melaju menuju pendopo Sipandji, tempat acara akan dimulai. Diiringi hujan serta aroma tanah yang semerbak, awal perjalananku di Purwokerto sangat syahdu. Setelah sampai di pendopo Sipandji, acara dibuka dengan berbagai sambutan dari beberapa panitia dan pemerintah kota setempat. Setelah semua selesai, aku dan beberapa perwakilan Genpi dari berbagai regional Jawa Tengah menyantap masakan khas Purwokerto lalu setelah itu kami memulai Tour City kami dengan menggunakan mobil VW Sapari dan VW Kodok.

naik vw menuju desa batik papringan

suasana mendung dan syahdu sepanjang perjalanan

di foto dari belakang he he

Menuju Desa Batik Papringan, Banyumas


Tujuan hari pertama kami pada waktu itu adalah menuju ke Desa Batik Papringan, Banyumas. Konvoi dari pendopo Sipandji menuju Desa Papringan, Banyumas, pada waktu itu memakan waktu perjalanan sekitar 45 menit. Sampai di sana, aku terkejut memandangi berbagai macam batik yang dibuat sendiri oleh para pengrajin batik di daerah Papringan tersebut. 


Tampak depak desa batik papringan

Aku dan teman-teman Genpi yang lain masuk untuk melihat-lihat koleksi batik yang dibuat oleh para pengrajin  batik tersebut. Sebagai informasi, Sentra Batik Banyumas yang berada di Papringan ini pada awalnya merupakan pelatihan yang diadakan oleh Bank Indonesia pada tahun 2013. Sejak tahun 2013 hingga sekarang, para pengrajin batik Papringan telah menciptakan berbagai macam varian batik yang dijual dengan berbagai harga, mulai dari Rp. 10.000 hingga Rp. 1.000.000. Batik Papringan bahkan sempat mengikuti acara IMF yang diadakan di Bali pada tanggal 8-14 Oktober 2018. Untuk ciri khas sendiri, Batik Papringan memiliki pakem batik dengan warna yang gelap. Di bawah ini beberapa contoh batik yang dibuat sendiri oleh para pengrajin batik:

Batik Semean Jenggot


Batik Semean Jenggot
Batik Semean Jenggot merupakan hasil buatan para pengrajin batik di desa Papringan Banyumas. Arti dari Semean Jenggot adalah : menyebarkan kebaikan untuk hidup yang lebih baik.

Batik Babon Angrem


Batik Babon Angrem
Selain Semean Jenggot, Batik Papringan juga menciptakan Batik Babon Angrem. Arti dari Babon Angrem adalah: kasih sayang ibu kepada anak.

Batik Alam Papringan

Batik Alam Papringan
Dinamai Alam Papringan karena corak batik tersebut menggambarkan keadaan alam yang berada di desa Papringan, Banyumas.

Setelah puas melihat-lihat koleksi batik yang ada di sentra batik Papringan, kami diajak oleh para pengrajin batik setempat untuk belajar membatik sendiri. Ini merupakan hal baru bagiku sehingga aku sangat tertarik untuk mengikutinya. Menuju ke tempat pelatihan batik, aku terkejut dengan berbagai macam alat untuk membuat batik.

untuk pewarna batik,kalau ga salah namanya malam, aku lupa

canting untuk menggambar batik

ini dikhusukan untuk batik cap

Butuh konsentrasi serta kesabaran yang sangat besar untuk  membuat satu batik. Aku sendiri bahkan sampai coret-coret sangking susahnya menggambar batik lewat canting heuheu. Dari situ aku menyadari bahwa harga batik yang mahal tentu sepadan dengan cara pembuatannya yang sangat susah. Butuh tangan seorang ahli untuk membuat mahakarya batik yang sangat indah. Sebagai warga negara Indonesia, aku sangat bangga dengan adanya berbagai macam batik di berbagai daerah. 

ini hasil batikanku sendiri wkwkwk

Desa Batik Papringan, Banyumas menyimpan berbagai ragam batik unik yang berhasil membuka wawasanku terkait budaya yang ada di Indonesia. Melalui corak batik yang dibuat langsung oleh para pengrajinnya, disitu tersimpan berbagai cerita saat batik sudah selesai dan siap untuk dipakai.

Menuju Ke Kota Lama, Banyumas

Puas melihat dengan keanekaragaman batik dari desa Papringan, Banyumas, kini kami menuju ke kota lama Banyumas. Sesampainya disana, gerimis perlahan membasahi bumi Banyumas seiring kedatangan kami di kota lama Banyumas. Seiring datangnya suara rintik hujan yang turun, kami mendengarkan penjelasan dari tour guide terkait sejarah dari kota lama Banyumas ini.

Diceritakan dari tour guide asli Banyumas, bahwa kota lama Banyumas merupakan salah satu kabupaten dari bedahan Wirasaba atau Purbalingga. Wirasaba sendiri terbagi menjadi 4 bagian yaitu Wirasaba sendiri, Merden, Banjar Pertambakan yang menjadi cikal bakal dari Kabupaten Banjarnegara, dan Kejawar. Bupati pertama Banyumas dipegang oleh Joko Kahiman yang memerintah pada tahun 1582-1583. Lalu setelah itu ada Mertasura I, Mertasura II, kemudian ada Mertayuda I dan Mertayuda II, namun saat masuk ke pemerintahan Mertayuda II mendapatkan gelar sebagai Yudhanegara I. Pada saat rezim Yudhanegara I sampai 5, diceritakan oleh tour guide bahwa selain menjabat sebagai Bupati Banyumas, Yudhanegara 1 sampai 5 juga menjadi senopati-senopati Mataram. Pada saat Yudhanegara III terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Mangkubumi dari Perdikan Sukowati atau Sragen, sehingga Yudhanegara III harus melawan Mangkubumi karena Banyumas berada di bawah Mataram pada saat itu. Setelah berperang akhirnya berujung kepada Perjanjian Giyanti, Mataram sehingga mengalami perpecahan menjadi dua : Kasultanan dan Kasunanan. Setelah itu Mangkubumi ditunjuk sebagai sultan pertama di Yogyakarta dengan gelar Hamengkubuwono I. Sementara itu Yudhanegara III ditunjuk sebagai Pati Yogyakarta pertama dengan gelar Danureja.

Kesimpulannya: Yang membuat kota Yogyakarta adalah orang dari Sragen dan Banyumas, heuheu.

Asyik mendengarkan cerita-cerita sejarah dari tour guide setempat, senja datang menyapa tanpa menunjukkan wujudnya. Sedari tadi gerimis rintik-rintik dengan syahdu membasahi bumi Banyumas. 

tampak depan kota lama Banyumas

Taman kota lama Banyumas
.

Menuju ke Camp Area Umbul Bengkok (CAUB)


Puas menikmati sajian budaya serta keramahan kota Banyumas, rombongan kami akhirnya menuju ke tempat ngecamp dimana kami akan bermalam disitu. Tempat camp yang akan kami tuju bernama CAUB atau Camp Area Umbul Bengkok. Dari Kota Lama Banyumas menuju ke CAUB memakan waktu yanga cukup lama, terlebih jalannya lumayan berkelok-kelok dan terkadang ada aspal yang rusak. Perjalanan menuju ke CAUB benar-benar sangat ekstrim  pada waktu itu. Namun walau begitu, sepanjang perjalanan gunung Slamet gagah menampakkan dirinya di depan mataku secara langsung.

Sesampainya disana, ternyata CAUB merupakan tempat camp yang amat sangat tenang dan syahdu. Disini kamu tidak perlu khawatir karena tidak membawa tenda, karena disini sudah menyediakan tenda sehingga kamu hanya perlu memesan jauh-jauh hari agar tidak kehabisan tenda. Untuk harga, apabila kamu memakai tenda dari sini, maka uang yang harus kamu bayar hanya Rp 50.000. Apabila hendak membawa tenda sendiri, maka kamu hanya membayar Rp. 25.000 saja. Selain itu, kamu jangan takut kedinginan walau berada di kaki gunung Slamet, karena CAUB menyediakan sleeping bag yang bisa kamu sewa dengan harga Rp. 10.000. 

Bermalam disini sangat enak dan nyaman, walau udara terbilang dingin, namun disini menyediakan warung-warung yang menyajikan berbagai macam makanan, bahkan ada yang menyediakan jagung bakar serta mendoan khas daerah sana. CAUB bisa jadi rekomendasi kamu untuk sekadar menikmati pemandangan alam saat berada di daerah Purwokerto dan sekitarnya. Di sini juga terdapat kolam renang yang dapat kamu nikmati saat pagi hari. 


tendanya banyak cuy

suasana pagi di CAUB

CAUB tampak dari depan

warung dekat CAUB, disini kalian juga bisa numpang ngecas hape

kolam renang dekat CAUB


Istirahat sejenak di CAUB merupakan refleksi diri yang sangat ampuh setelah seharian mengunjungi berbagai macam wisata budaya kota Banyumas. Hari esoknya sebenarnya akan menjelajahi wanawisata Baturraden. Tapi karena cuaca tidak mendukung, akhirnya tidak jadi dan kami hanya mengunjungi museum taman anggrek dan taman labirin saja. Setelah itu, kami pulang dan makan di omah maen. 

Perjalanan bersama Genpi Jateng merupakan pengalaman yang tak terlupakan dalam hidupku. Kesempatan ini tentu sangat berharga bagiku. Sebagai seseorang yang mencintai Indonesia dengan sepenuh hati, mengenalnya lewat budaya-budaya serta berbagai macam keunikannya merupakan salah satu hal yang harus aku lakukan agar rasa cintaku terhadap Indonesia semakin bertambah dari tahun ke tahun. 


Terima kasih Genpi Jateng,
Salam Lestari.

Friksi Menggelitik

Ketika emosi sedang bergema di ruang hati, ketika luapan amarah lebih megah ketimbang gedung-gedung yang ada di ibukota. Tak ada yang lebih buruk daripada termakan emosi diri dan tenggelam di dalam lautan ego. Bertubi-tubi cacian, makian, hingga kata-kata sumpah serapah yang tidak seharusnya diucapkan lambat laun menjadi suatu kebiasaan. 

Marah tidak menyelesaikan masalah, katamu.
Sudahlah, manusia memang besar ego, kamu tidak salah, dia yang salah, kata pemuja benci
Hati-hati pada setiap perkataanmu. Sebab tak ada yang lebih tajam ketimbang lidah yang digunakan sembarangan, kata pemuja cinta.

Perlahan-lahan, ragaku terbang mengudara bersama burung merpati. Melihat dari kejauhan seseorang yang sedari tadi menyesal atas apa yang telah dia lakukan. Mengais-ngais sisa kata-kata yang berserakan, mengumpulkannya menjadi sebuah tulisan, lalu memajangnya di dinding ataupun di dunia maya. Aku tak tahu apa yang sedang ia tuliskan, barangkali kata-kata penyesalan yang begitu mendalam. Entahlah. 

-------------

Di bawah naungan persatuan, di cakrawala bangsa, terjadi pertikaian di berbagai sudut negara. Masalah-masalah selalu membuat resah rakyatnya, terutama bagi sang presiden sendiri. Di setiap harinya, muncul satu masalah yang bisa dijadikan bahan perbincangan bagi semua rakyat. Masalah-masalah tersebut berbagai macam bentuknya, mulai dari masalah mengenai bu Sumiyati yang mencuci di sungai namun bajunya sering kelintir, mengenai tukang jual dawet yang memakai kata 'anying' di setiap promosinya, hingga masalah yang sangat sepele seperti kenapa rambut Atta Halilintar sering berganti warna. Masalah terus berganti seperti warna rambut Atta Halilintar, hingga sampai akhirnya tak ada yang peduli dengan masalah yang terjadi karena sudah terbiasa. Bahkan tak jarang banyak sekali kalimat-kalimat "Ayo bertengkar, saya tidak suka diselesaikan secara kekeluargaan", atau "saya haus akan keributan" terlontar di sosial media. 

Yang fana hanyalah persatuan, pertikaian yang abadi. Begitu jika boleh mengutip dari kata-kata sastrawan terkemuka. Bangsa kita haus akan pertikaian, tidak heran apabila persatuan saat ini menjadi barang langka. Pertikaian itu tidak hanya datang dari skala yang besar seperti negara, bahkan sepasang kekasih yang tinggal di negara tersebut kerapkali mengalami pertikaian. Tak sedikit pertikaian yang terjadi dari sepasang kekasih, hampir setiap hari ada 1697 hati yang tersiksa akibat pertikaian yang terjadi dari sepasang kekasih di negara ini. Sudah terjadi pertikaian di antara rakyat, juga terjadi pertikaian di antara sepasang kekasih. Habis sudah negeri ini dimakan oleh ego masing-masing rakyatnya. 

-------------

Jelas sudah, aku menuliskan serangkaian kata penyesalan yang begitu mendalam. Aku memahami, bahwa ego tak seharusnya menguasai jalan pikiran kita. Ego memakan apa saja yang selama ini telah kita bangun, menghancurkan apa saja yang selama ini kita impikan. Sadarlah, bahwa ego hanya akan membawa kita kepada kehancuran. Tenanglah, bahwa ada yang lebih indah dari mengedepankan ego, yaitu sebuah persatuan. Apa yang kita tanam, itulah yang kita petik. Apa yang kita impikan saat ini, suatu hari nanti akan terwujudkan. Junjung tinggi persatuan, tanamkan rasa persaudaraan. Sebab, manusia tak ada artinya jika hanya memberi makan ego saja.



Semarang, 11 November 2018
Adibio

gambar hanya untuk thubmnail saja, representasi dari santai

Bedjo Homestay By Dasinem : Harga Murah dan Pelayanan Ramah

Malam itu kota Yogyakarta sedang sangat syahdu sekali. Desiran angin di sekitar jalan Kaliurang km 7 membuat iringan kata-kata masuk ke dalam pikiranku. Selalu ku rangkai kata dengan sempurna saat kaki ini menginjak kota Jogja. Sayangnya, tak pernah ada kata sempurna untuk menggambarkan keindahan Jogja, engkau selalu dituntut untuk merangkai kata kembali, lagi dan lagi, saat kakimu kembali menginjak di tanah yang penuh dengan bakpia dan gudeg ini.

Di tengah keributan kata-kata tersebut, sejenak aku berpikir untuk mencari tempat tinggal yang di Jogja. Sebenarnya malam ini aku bisa saja menginap di kosan temanku yang berada di jalan Kaliurang km 7 ini, namun esok harinya aku harus menyelesaikan tugasku untuk menulis artikel. Untuk menulis tidak segampang yang kamu kira, butuh keberanian dan persiapan yang matang supaya tangan dan pikiran dapat sinkron sehingga menghasilkan sebuah tulisan. Salah satu hal yang menunjang untuk menulis adalah tempat. Oleh karena itu, ada baiknya aku mencari homestay pada hari kedua agar aku dapat menyelesaikan artikel dengan cepat.

Setelah mencari-cari homestay yang berada di Jogja lewat aplikasi traveloka, akhirnya aku menemukan satu homestay yang cocok yang berada di sekitaran kampus UGM. Selain harganya yang murah, tempat ini juga nampaknya sangat instagramable sekali sehingga aku tertarik untuk memesan disitu. Nama homestay tersebut adalah Bedjo Homestay By Dasinem. Terletak di Pogung Dalangan RT011/050 Mlati, Pogung Kidul, Sinduardi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah cocok, aku pun langsung memesannya lewat traveloka.

tampak depan homestay

tampak depan homestay

Harganya pun sangat terjangkau sekali. Kamu hanya perlu merogoh uang sebesar 91 ribu saja maka kamu dapat menginap di Bedjo Homestay. Ohya sebelumnya homestay ini ada tiga pilihan, yang pertama kamar dormitory, yang kedua kamar single dan yang ketiga ada kamar untuk keluarga. Pada waktu itu aku memesan kamar dormitory sehingga harganya pun cukup terjangkau. Kamar dormitory di Bedjo Homestay terdiri dari 8 kasur yang letaknya atas bawah atas bawah. Kamar mandinya ada dua, shower semua dan tempat untuk buang air besar juga ada dua.
ini ada dua bangku di lantai bawah kamar dormitory

sebelah kiri kursi tersebut ada kamar mandi, aku lupa mengambil foto he he

ini tangga menuju kamar dormitory

dan ini kasur kamar dormitory yang terdiri dari 8 kasur
Kebetulan waktu itu dalam kamar dormitoryku hanya ada dua orang jadi terkesan enak karena tidak terlalu ramai. Setelah membayar registrasi hotel kamu akan mendapatkan handuk dan peralatan mandi seperti shampo, odol, sikat gigi, dan sabun, serta air mineral satu botol. Untuk kamar dormitory sendiri AC dan ada selimut. Dan yang paling penting ada wifinya! he he.

Yang menarik dari Bedjo Homestay adalah kamu dapat menikmati kolam renang sepuasnya!.

nyantai dulu dab



Untuk tempat registrasi sendiri, Bedjo Homestay menampilkan desain yang cukup menarik. Selain itu, pelayanannya pun sangat ramah.
tempat registrasi bedjo homestay

Jika sedang bepergian ke Jogja dan butuh homestay, cobalah Bedjo Homestay sebagai pilihanmu. Sebab selain harganya murah, pelayanannya pun sangat ramah. 

----------

Aku tutup laptopku saat keheningan malam menerpa. Di bawah langit Jogja di atas kasur dari Bedjo Homestay ini aku memikirkan bagaimana caranya besok aku dapat pergi dari kota ini tanpa mengantongi beribu rindu.


Adibio,
4 November 2018


Pendakian Merbabu Via Suwanting

Merbabu mempunyai daya tarik yang sangat tinggi bagi para pendaki untuk menemuinya berkali-kali. Aku yang sudah tidak lama ke Merbabu akhirnya memutuskan untuk kembali mengunjungi tempat indah tersebut. Bagiku, Merbabu adalah gunung terindah d Jawa Tengah ; Melihat sabananya yang hijau, melihat gagahnya merapi yang terselimuti awan, serta kadang menemukan monyet yang berpindah dari ranting ke ranting. Kali ini, aku ingin sekali mencoba jalur Merbabu via Suwanting. Katanya, jalur suwanting merupakan jalur yang dapat membuat para pendaki ingin sekali gantung carier. Waduh. Dan yang kubaca-baca di beberapa blog yang menceritakan tentang jalur suwanting, memang jalur ini terbilang sangat ekstrem, bahkan ada yang bilang kalau jalur ini akan mempertemukan lutut dengan dagu. Wah kebetulan dong kan bisa melepas rindu lutut sama dagu karena jarang ketemu he he. Akhirnya dengan rasa penasaran terhadap review yang muncul soal jalur suwanting, aku berangkat pada hari Jumat (14/09/2018) pkl 4 sore dari Semarang. 

Melakukan Packing

Packing adalah hal terpenting bagi kamu yang hendak bepergian atau melakukan pendakian. Biasanya orang-orang sangat malas sekali terhadap packing, padahal ia ingin bepergian. Memang, packing merupakan hal bikin  malas, namun packing adalah dasar yang harus kamu lakukan sebelum bepergian. Kalau aku  tipikal pendaki yang tidak terlalu suka bawa makanan banyak alias malas masak he he, aku lebih memilih membawa logistik seadanya yang dapat menampung perutku selama melakukan pendakian 2 hari. Seperti membawa mie instant , roti, susu kental manis, biskuit, cemilan, kopi, dan beberapa air putih. Untuk menghemat biaya, biasanya aku membawa botol kosong untuk diisi air di basecamp, dan air tersebut untuk digunakan masak. Karena aku juga tahu bahwa di suwanting menyediakan beberapa mata air di jalur pendakiannya, hal itu lebih membuatku nyaman untuk membuat kopi sepuasnya he he. Peralatan yang lainnya seperti tenda, matras, sb dll tentu sangat penting diperhatikan. Senter dan jas ujan merupakan hal yang biasanya sering dilupakan. 

Perjalanan ke Basecamp

Dari Semarang menuju basecamp aku menggunakan alat transportasi motor. Perjalanan tersebut memakan sekitar 3 jam perjalanan. Basecamp suwanting terletak di dekat Ketep Pass yang berada di kabupaten Magelang. Untuk transportasi umum, aku kurang begitu paham. Namun untuk menggunakan kendaraan roda dua, kamu bisa menuju ke arah ketep pass kemudian nanti di sekitar situ ada plang hijau yang akan menuntunmu ke arah basecamp suwanting. Suwanting sendiri merupakan nama dusun yang ada di daerah situ. Di sekitar basecamp suwanting ada tempat wisata alam seperti ketep pass, top selfie hutan pinus kragilan, dll. Aku yang jalan dari Semarang lewat daerah Kopeng, Salatiga. Sesampainya di basecamp sekitar jam 7. Aku langsung melakukan packing ulang serta registrasi terhadap pengelola basecamp suwanting. Biaya registrasinya cukup mahal, satu orang membayar Rp.17.500, dan itu belum termasuk biaya parkir.

Melakukan Pendakian

Jam menunjukkan pukul 8 malam. Aku dan temanku yang memang hanya berdua memutuskan untuk mendaki pada malam hari. Sebenarnya aku berencana naik bertiga, cuman yang satunya menyusul karena kelelahan. Namun tetap saja, akhirnya kami bertemu di perjalanan.

Jalur dari basecamp menuju pos 1 terbilang masih normal. Keluar dari basecamp kamu akan disuguhi oleh jalanan aspal yang lumayan menanjak dan disebelah kiri ada kebun-kebun milik warga. Sementara sebelah kanan terpampang langsung pemandangan merbabu dan jurang ke bawah. Waktu itu, malam hari sangat cerah, di langit gemintang berkilau sangat cerah menemani pendakianku. Tak terasa setelah melewati jalanan aspal yang cukup terjal, aku mendapati gerbang pendakian suwanting. Dari gerbang pendakian menuju pos 1 jalur masih dikerumuni oleh pohon-pohon sehingga cukup asri apabila melakukan pendakian pada siang hari. Hingga tak terasa sudah sampai di pos 1. Aku dan temanku memutuskan untuk beristirahat sejenak karena dalam peta menuju pos 2 cukup melelahkan he he. Pos 1 diberi nama Lembah Lempong.

Setelah beristirahat dengan cukup, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan pendakian. Dari pos 1 ke pos 2 harus melewati 4 lembah yang berada di dalam peta : Lembah Gosong, Lembah Cemoro, Lembah Ngrijan, dan Lembah Miloh. Jalur dari pos 1 ke pos 2 memang sungguh ekstrem. Tali yang disediakan pun cukup banyak karena terjalnya jalur yang harus dilalui. Baru dari pos 1 ke pos 2 jalur sudah se ekstrem ini, batinku. Suwanting memang benar-benar istimewa, aku cinta suwanting. Jalan yang ditempuh dari pos 1 ke pos 2 cukup lama karena aku banyak sekali melakukan istirahat. Selain itu, jalurnya juga sangat mantap. Sampai pos 2 sudah pukul 1 dini hari, aku bergegas mendirikan tenda dan memasak makanan serta meminum kopi. Setelah itu lanjut tidur untuk kembali melakukan summit. Di pos 2 ini kamu dapat mendirikan tenda namun lahannya tidak terlalu luas sehingga hanya beberapa tenda saja ada di pos  waktu itu. Namun karena hari sudah malam, aku mendirikan tenda disitu.

Pagi pun menyapa, mentari tak terlalu terlihat juga tak terlalu menghangatkan tubuh. Namun aku mendapati pemandangan yang cukup bagus di pos 2, yakni terpampangnya gunung Sindoro Sumbing serta Merapi di pos 2.


Pemandangan Sindoro Sumbing dari pos 2 pada pagi hari

Pemandangan Merapi dari pos 2

Sembari memasak dan meminum kopi, kami berbincang-bincang hangat kepada sesama pendaki lain. Ada pendaki yang bercerita tentang serunya melewati jalur suwanting, ia sebelumnya pernah lewat jalur ini. Ada juga pendaki yang dengan sukarela memberikan aku kacang rebus dan singkong untuk dibawa saat summit. Wah baik sekali, batinku. Memang, saat di gunung rasa persahabatan sangat terasa sekali, walau baru kenal sekalipun.


Setelah packing dan membawa logistik untuk summit, kami melanjutkan pendakian sekitar pukul 7 pagi. Tenda dan lainnya aku tinggalkan di pos 2, kami membawa satu tas untuk menampung logistik hingga puncak.

Mendaki di pagi hari merupakan suatu hal yang haru disyukuri. Menghirup udara yang sejuk, terkena sengatan matahari yang masih ramah, dan mendengarkan celotehan burung di sepanjang pendakian. Ohya, setelah pos 2 ada mata air yang ditempatkan di drigen warna biru dan dialiri oleh pipa. Mata air tersebut juga akan tersedia kembali sebelum pos 3. Jalur yang ada dari pos 2 ke pos 3 memang benar-benar membuatku ingin menggantung carier, tapi kan nanti kasihan carriernya, digantung tanpa kepastian. Yhaa. Jalurnya memang cukup ekstrem, tanjakan terus menerus tanpa ada bonus sedikit pun. Namun tak terasa kami sampai di pos mata air, sebentar lagi berarti berada di pos 3. Disitu kami istirahat sebentar untuk minum air dan bercengkrama.

Lanjut mendaki, akhirnya kami tiba di pos 3. Pos 3 lahannya memang sangat luas sehingga tempat tersebut sangat ideal untuk dijadikan tempat tenda. Di samping kanan pos 3 sudah terlihat jelas sekali Merapi yang begitu gagah. Di atas pos 3 sabana sudah terlihat sedikit. Setelah pos 3 memang akan dilihatkan oleh 3 sabananya yang dimiliki oleh suwanting.

gambaran jalur yang berdebu

Kabut cuy


Perpaduan sabana dan kabut sebelum sabana 1

Merapi malu-malu dari pos 3

Pemandangan dari pos 3

Dari pos 3 ke sabana 1 tidak terlalu lama, hanya memakan waktu setengah jam. Dan aku sangat takjub saat sudah sampai di sabana 1, semua tampak terlihat hijau! Merbabu berhasil membuatku terhipnotis setelah melewati jalur yang cukup terjal sedari tadi. Aku cinta Merbabu!.

Pemandangan sabana 1 dan 2

Pose dulu cuy

Pemandangan dari sabana 2

Dari sabana 2, jika cerah kamu dapat melihat tower yang berada di jalur cunthel. Tower tersebut benar-benar mengingatkanku pada pendakian pertamaku ke Merbabu lewat jalur cunthel. Sangat istimewa!.

Tower yang berada di jalur cunthel
Yang istimewa dari suwanting adalah, jalur ini memiliki 3 puncak sabana yang membuat pendaki seringkali terkena php. Namun dibalik php tersebut, sabana merbabu vai suwanting benar-benar memanjakan mata. Hingga akhirnya, tak terasa setelah menikmati hijaunya merbabu sampai juga di puncak triangulasi, puncak dimana akan kamu temui pertama kali saat melalui jalur suwanting. Ohya, Merbabu sendiri memiliki 3 puncak : Puncak Syarif, Puncak Kentheng Songo, dan Puncak Triangulasi. Puncak Syarif dapat kamu temui lewat jalur Cunthel, Wekas dan Thekelan. Sementara Kentheng Songo dan Triangulasi, 2 puncak tersebut saling berdekatan sehingga apabila kamu sempat kamu dapat mengunjungi keduanya secara langsung.

Pemandangan sebelum puncak

Puncak cuy!
Demikian cerita pendakianku kali ini. Sekali lagi, Merbabu bagiku adalah gunung terindah di Jawa Tengah. Menjaga kelestariannya merupakan kewajiban kita semua sebagai para pengunjung agar tidak membuatnya kotor. Saranku, jalur suwanting bukanlah jalur yang rekomended bagi kamu yang baru ingin mendaki merbabu pertama kali.Lebih baik mencoba Selo dulu atau yang lainnya, Suwanting belakangan he he. Salam lestari, Adieb Fadloly!.

Cerita Tambahan

Pas waktu turun dan sampai pos 1, waktu itu aku sampai jam setengah 9 malam. Di pos 1 ada beberapa warga yang sedang nyate di sekitaran pos 1. Disitu, aku dan temanku ditawari sate yang enak, kopi, dan obrolan hangat. Warga sekitar suwanting sangat baik-baik, satenya pun terbilang sangat enak. Dan kebetulan, aku dimintai nomor whatsapp. Namun sampai sekarang belum dihubungi he he.

Estimasi Waktu Perjalanan

Basecamp - Pos 1 (Sekitar 45 menit)
Pos 1 - Pos 2 (Sekitar 2 jam)
Pos 2 - Pos 3 (Sekitar 1,5 jam)
Pos 3 - Sabana 1 (Sekitar 45 menit)
Sabana 1 - Sabana 2 (Sekitar 30 menit)
Sabana 2 - Sabana 3 (Sekitar 30 menit)
Sabana 3 - Puncak Triangulasi (Sekitar 45 menit)

Saran Saat Hendak ke Suwanting

-Membawa uang yang lebih, karena biaya regisnya cukup mahal
-Memakai sepatu, karena jalurnya cukup licin saat sedang turun, apalagi terjal.
-Mempersiapkan fisik yang cukup, karena jalurnya lumayan ekstrem
Back To Top