Perjalanan Adibio: Travelling | Kelana Lara Perjalanan Adibio: Travelling

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Pendakian Merbabu Via Suwanting

Merbabu mempunyai daya tarik yang sangat tinggi bagi para pendaki untuk menemuinya berkali-kali. Aku yang sudah tidak lama ke Merbabu akhirnya memutuskan untuk kembali mengunjungi tempat indah tersebut. Bagiku, Merbabu adalah gunung terindah d Jawa Tengah ; Melihat sabananya yang hijau, melihat gagahnya merapi yang terselimuti awan, serta kadang menemukan monyet yang berpindah dari ranting ke ranting. Kali ini, aku ingin sekali mencoba jalur Merbabu via Suwanting. Katanya, jalur suwanting merupakan jalur yang dapat membuat para pendaki ingin sekali gantung carier. Waduh. Dan yang kubaca-baca di beberapa blog yang menceritakan tentang jalur suwanting, memang jalur ini terbilang sangat ekstrem, bahkan ada yang bilang kalau jalur ini akan mempertemukan lutut dengan dagu. Wah kebetulan dong kan bisa melepas rindu lutut sama dagu karena jarang ketemu he he. Akhirnya dengan rasa penasaran terhadap review yang muncul soal jalur suwanting, aku berangkat pada hari Jumat (14/09/2018) pkl 4 sore dari Semarang. 

Melakukan Packing

Packing adalah hal terpenting bagi kamu yang hendak bepergian atau melakukan pendakian. Biasanya orang-orang sangat malas sekali terhadap packing, padahal ia ingin bepergian. Memang, packing merupakan hal bikin  malas, namun packing adalah dasar yang harus kamu lakukan sebelum bepergian. Kalau aku  tipikal pendaki yang tidak terlalu suka bawa makanan banyak alias malas masak he he, aku lebih memilih membawa logistik seadanya yang dapat menampung perutku selama melakukan pendakian 2 hari. Seperti membawa mie instant , roti, susu kental manis, biskuit, cemilan, kopi, dan beberapa air putih. Untuk menghemat biaya, biasanya aku membawa botol kosong untuk diisi air di basecamp, dan air tersebut untuk digunakan masak. Karena aku juga tahu bahwa di suwanting menyediakan beberapa mata air di jalur pendakiannya, hal itu lebih membuatku nyaman untuk membuat kopi sepuasnya he he. Peralatan yang lainnya seperti tenda, matras, sb dll tentu sangat penting diperhatikan. Senter dan jas ujan merupakan hal yang biasanya sering dilupakan. 

Perjalanan ke Basecamp

Dari Semarang menuju basecamp aku menggunakan alat transportasi motor. Perjalanan tersebut memakan sekitar 3 jam perjalanan. Basecamp suwanting terletak di dekat Ketep Pass yang berada di kabupaten Magelang. Untuk transportasi umum, aku kurang begitu paham. Namun untuk menggunakan kendaraan roda dua, kamu bisa menuju ke arah ketep pass kemudian nanti di sekitar situ ada plang hijau yang akan menuntunmu ke arah basecamp suwanting. Suwanting sendiri merupakan nama dusun yang ada di daerah situ. Di sekitar basecamp suwanting ada tempat wisata alam seperti ketep pass, top selfie hutan pinus kragilan, dll. Aku yang jalan dari Semarang lewat daerah Kopeng, Salatiga. Sesampainya di basecamp sekitar jam 7. Aku langsung melakukan packing ulang serta registrasi terhadap pengelola basecamp suwanting. Biaya registrasinya cukup mahal, satu orang membayar Rp.17.500, dan itu belum termasuk biaya parkir.

Melakukan Pendakian

Jam menunjukkan pukul 8 malam. Aku dan temanku yang memang hanya berdua memutuskan untuk mendaki pada malam hari. Sebenarnya aku berencana naik bertiga, cuman yang satunya menyusul karena kelelahan. Namun tetap saja, akhirnya kami bertemu di perjalanan.

Jalur dari basecamp menuju pos 1 terbilang masih normal. Keluar dari basecamp kamu akan disuguhi oleh jalanan aspal yang lumayan menanjak dan disebelah kiri ada kebun-kebun milik warga. Sementara sebelah kanan terpampang langsung pemandangan merbabu dan jurang ke bawah. Waktu itu, malam hari sangat cerah, di langit gemintang berkilau sangat cerah menemani pendakianku. Tak terasa setelah melewati jalanan aspal yang cukup terjal, aku mendapati gerbang pendakian suwanting. Dari gerbang pendakian menuju pos 1 jalur masih dikerumuni oleh pohon-pohon sehingga cukup asri apabila melakukan pendakian pada siang hari. Hingga tak terasa sudah sampai di pos 1. Aku dan temanku memutuskan untuk beristirahat sejenak karena dalam peta menuju pos 2 cukup melelahkan he he. Pos 1 diberi nama Lembah Lempong.

Setelah beristirahat dengan cukup, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan pendakian. Dari pos 1 ke pos 2 harus melewati 4 lembah yang berada di dalam peta : Lembah Gosong, Lembah Cemoro, Lembah Ngrijan, dan Lembah Miloh. Jalur dari pos 1 ke pos 2 memang sungguh ekstrem. Tali yang disediakan pun cukup banyak karena terjalnya jalur yang harus dilalui. Baru dari pos 1 ke pos 2 jalur sudah se ekstrem ini, batinku. Suwanting memang benar-benar istimewa, aku cinta suwanting. Jalan yang ditempuh dari pos 1 ke pos 2 cukup lama karena aku banyak sekali melakukan istirahat. Selain itu, jalurnya juga sangat mantap. Sampai pos 2 sudah pukul 1 dini hari, aku bergegas mendirikan tenda dan memasak makanan serta meminum kopi. Setelah itu lanjut tidur untuk kembali melakukan summit. Di pos 2 ini kamu dapat mendirikan tenda namun lahannya tidak terlalu luas sehingga hanya beberapa tenda saja ada di pos  waktu itu. Namun karena hari sudah malam, aku mendirikan tenda disitu.

Pagi pun menyapa, mentari tak terlalu terlihat juga tak terlalu menghangatkan tubuh. Namun aku mendapati pemandangan yang cukup bagus di pos 2, yakni terpampangnya gunung Sindoro Sumbing serta Merapi di pos 2.


Pemandangan Sindoro Sumbing dari pos 2 pada pagi hari

Pemandangan Merapi dari pos 2

Sembari memasak dan meminum kopi, kami berbincang-bincang hangat kepada sesama pendaki lain. Ada pendaki yang bercerita tentang serunya melewati jalur suwanting, ia sebelumnya pernah lewat jalur ini. Ada juga pendaki yang dengan sukarela memberikan aku kacang rebus dan singkong untuk dibawa saat summit. Wah baik sekali, batinku. Memang, saat di gunung rasa persahabatan sangat terasa sekali, walau baru kenal sekalipun.


Setelah packing dan membawa logistik untuk summit, kami melanjutkan pendakian sekitar pukul 7 pagi. Tenda dan lainnya aku tinggalkan di pos 2, kami membawa satu tas untuk menampung logistik hingga puncak.

Mendaki di pagi hari merupakan suatu hal yang haru disyukuri. Menghirup udara yang sejuk, terkena sengatan matahari yang masih ramah, dan mendengarkan celotehan burung di sepanjang pendakian. Ohya, setelah pos 2 ada mata air yang ditempatkan di drigen warna biru dan dialiri oleh pipa. Mata air tersebut juga akan tersedia kembali sebelum pos 3. Jalur yang ada dari pos 2 ke pos 3 memang benar-benar membuatku ingin menggantung carier, tapi kan nanti kasihan carriernya, digantung tanpa kepastian. Yhaa. Jalurnya memang cukup ekstrem, tanjakan terus menerus tanpa ada bonus sedikit pun. Namun tak terasa kami sampai di pos mata air, sebentar lagi berarti berada di pos 3. Disitu kami istirahat sebentar untuk minum air dan bercengkrama.

Lanjut mendaki, akhirnya kami tiba di pos 3. Pos 3 lahannya memang sangat luas sehingga tempat tersebut sangat ideal untuk dijadikan tempat tenda. Di samping kanan pos 3 sudah terlihat jelas sekali Merapi yang begitu gagah. Di atas pos 3 sabana sudah terlihat sedikit. Setelah pos 3 memang akan dilihatkan oleh 3 sabananya yang dimiliki oleh suwanting.

gambaran jalur yang berdebu

Kabut cuy


Perpaduan sabana dan kabut sebelum sabana 1

Merapi malu-malu dari pos 3

Pemandangan dari pos 3

Dari pos 3 ke sabana 1 tidak terlalu lama, hanya memakan waktu setengah jam. Dan aku sangat takjub saat sudah sampai di sabana 1, semua tampak terlihat hijau! Merbabu berhasil membuatku terhipnotis setelah melewati jalur yang cukup terjal sedari tadi. Aku cinta Merbabu!.

Pemandangan sabana 1 dan 2

Pose dulu cuy

Pemandangan dari sabana 2

Dari sabana 2, jika cerah kamu dapat melihat tower yang berada di jalur cunthel. Tower tersebut benar-benar mengingatkanku pada pendakian pertamaku ke Merbabu lewat jalur cunthel. Sangat istimewa!.

Tower yang berada di jalur cunthel
Yang istimewa dari suwanting adalah, jalur ini memiliki 3 puncak sabana yang membuat pendaki seringkali terkena php. Namun dibalik php tersebut, sabana merbabu vai suwanting benar-benar memanjakan mata. Hingga akhirnya, tak terasa setelah menikmati hijaunya merbabu sampai juga di puncak triangulasi, puncak dimana akan kamu temui pertama kali saat melalui jalur suwanting. Ohya, Merbabu sendiri memiliki 3 puncak : Puncak Syarif, Puncak Kentheng Songo, dan Puncak Triangulasi. Puncak Syarif dapat kamu temui lewat jalur Cunthel, Wekas dan Thekelan. Sementara Kentheng Songo dan Triangulasi, 2 puncak tersebut saling berdekatan sehingga apabila kamu sempat kamu dapat mengunjungi keduanya secara langsung.

Pemandangan sebelum puncak

Puncak cuy!
Demikian cerita pendakianku kali ini. Sekali lagi, Merbabu bagiku adalah gunung terindah di Jawa Tengah. Menjaga kelestariannya merupakan kewajiban kita semua sebagai para pengunjung agar tidak membuatnya kotor. Saranku, jalur suwanting bukanlah jalur yang rekomended bagi kamu yang baru ingin mendaki merbabu pertama kali.Lebih baik mencoba Selo dulu atau yang lainnya, Suwanting belakangan he he. Salam lestari, Adieb Fadloly!.

Cerita Tambahan

Pas waktu turun dan sampai pos 1, waktu itu aku sampai jam setengah 9 malam. Di pos 1 ada beberapa warga yang sedang nyate di sekitaran pos 1. Disitu, aku dan temanku ditawari sate yang enak, kopi, dan obrolan hangat. Warga sekitar suwanting sangat baik-baik, satenya pun terbilang sangat enak. Dan kebetulan, aku dimintai nomor whatsapp. Namun sampai sekarang belum dihubungi he he.

Estimasi Waktu Perjalanan

Basecamp - Pos 1 (Sekitar 45 menit)
Pos 1 - Pos 2 (Sekitar 2 jam)
Pos 2 - Pos 3 (Sekitar 1,5 jam)
Pos 3 - Sabana 1 (Sekitar 45 menit)
Sabana 1 - Sabana 2 (Sekitar 30 menit)
Sabana 2 - Sabana 3 (Sekitar 30 menit)
Sabana 3 - Puncak Triangulasi (Sekitar 45 menit)

Saran Saat Hendak ke Suwanting

-Membawa uang yang lebih, karena biaya regisnya cukup mahal
-Memakai sepatu, karena jalurnya cukup licin saat sedang turun, apalagi terjal.
-Mempersiapkan fisik yang cukup, karena jalurnya lumayan ekstrem

I'm Pelgading Homeland : Tempat Santai Menikmati Alam di Bandungan, Jawa Tengah

Sore itu nampaknya langit sedang sangat cerah. Terbesit di dalam pikiranku untuk sekadar santai menikmati keindahan alam setelah seharian menjalankan aktivitas penuh. Daripada aku jenuh, akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan di daerah Bandungan. Bandungan sendiri terkenal dengan wisata alamnya sehingga tak jarang banyak sekali wisatawan yang sekadar berkunjung untuk menjernihkan pikiran. Setelah mempertimbangkan, akhirnya aku memutuskan untuk mengunjungi salah satu wisata alam yang bernama Ampel Gading atau biasa disebut I'm Pelgading Homeland. Entah atas dasar apa penamaan tersebut, mungkin maksudnya agar terlihat kekinian, menurutku sih begitu.

Ohya, Bandungan sendiri terletak di daerah Jawa Tengah yang berada di kota Semarang. Bandungan tentu saja berbeda dengan Bandung, namun keduanya sama-sama memiliki cuaca yang cukup nyaman untuk ditempati. Di Bandungan sendiri banyak sekali wisata alam, seperti yang paling terkenal adalah Umbul Sidomukti dan Candi Gedong Songo. Namun, selain kedua tempat tersebut, ada satu wisata alam Bandungan yang terbilang baru sehingga aku tertarik untuk mengunjunginya. Tempat tersebut tentu saja I'm Pelgading atau Ampel Gading. 

Menuju Lokasi Ampel Gading HomeLand


Apabila kamu berada di Semarang, maka sangat mudah untuk menuju Ampel Gading Homeland. Kamu dapat menggunakan kendaraan motor untuk menuju lokasi tersebut. Dari kota Semarang, kamu bisa menuju ke daerah Bandungan. Setelah sampai Bandungan, kamu tinggal lurus mengikuti jalan sampai kamu melewati pasar Bandungan dan polsek Bandungan. Nah, setelah polsek pelan-pelan saja, nanti di samping kanan jalan ada gang ke atas, gang tersebut mengarah ke villa-villa yang biasa dipakai untuk bersantai ria. Namun tenang saja, sebelum belok kanan tersebut juga ada plang petunjuk menuju ampel gading. Setelah belok kanan, kamu akan melewati jalanan menanjak. Setelah itu ikuti petunjuk yang mengarah ke Ampel Gading. Setelah masuk daerah villa-villa tersebut, banyak sekali petunjuk yang mengarah ke Ampel Gading. Kamu tinggal mengikuti saja.

Jalan yang dilalui pun cukup terjal, sehingga kamu harus berhati-hati apabila menggunakan motor matic karena matic rawan sekali kecelakaan apabila turun dari tanjakan. Kecelakaan tersebut tentu berupa rem blong, karena pada saat turun, rem matic akan panas dan yang terjadi adalah rem blong. Namun tenang saja, pada saat kamu turun, saat sudah sampai di gerbang masuk, kamu akan disuruh berhenti, dan petugas setempat akan menyiram kampas rem motor kamu.

Pada saat menuju lokasi, kamu akan disuguhi oleh pemandangan alam yang luar biasa. Pepohonan hijau saling menyapa kedatangan kamu. Aku begitu takjub dengan keindahan alamnya. Setelah sampai di lokasi parkir, aku berjalan ke atas dan melihat pemandangan yang luar biasa. Banyak sekali kursi untuk kamu duduk sehingga kamu bisa bersantai sambil menikmati keindahan alam. Beginilah keadaan di sekitar Ampel Gading Homeland.

duduk manis sambil menikmati alam

sambil menulis skripsi enak juga

memikirkan kata demi kata untuk dijadikan buku

pemandangan di depan langsung gunung ungaran

Pada waktu itu aku berkunjung pada hari Senin, sehingga para pendatang pun tidak terlalu banyak, bahkan sepi. Di sekitar Ampel Gading ada warung, namun warung tersebut hanya buka pada weekend saja.


Biaya yang Harus Dibayarkan

Kamu cukup membayar Rp 5.000/orang untuk menikmati keindahan alam tersebut. Di tempat ini juga dapat dijadikan sebagai tempat camping, karena disini sangat cocok sekali untuk menikmati sunrise. Untuk biaya camping, kamu bisa tanyakan sendiri pada petugas disana. Ohya, Ampel Gading ini tutup pada jam 5 sore.

Pemandangan di Sekitar Ampel Gading


Sangat syahdu
Bukit hijau menyejukkan mata

Tempat duduknya banyak cuy

Gunung Ungaran terlihat anggun

Tempat ini tentu sangat cocok bagi kamu yang menyukai pemandangan alam. Tidak usah ragu untuk berkunjung ke tempat ini, karena kamu akan disuguhi pemandanga alam yang luar biasa. Ohya, apabila kamu berkunjung ke tempat ini, jangan lupa jaga kebersihan tempat yah, jangan buang sampah sembarangan. Bagi kamu yang membawa motor matic jangan khawatir, karena nanti saat turun kamu akan disuruh berhent di gerbang masuk dan disiram kampas remmu agar tidak panas, dan kamu bisa melanjutkan perjalanan pulang dengan aman.

Satu lagi, setelah kamu membayar HTM, kamu juga akan mendapatkan stiker Ampel Gading! Wow cukup lumayan bukan. Demikian tulisan perjalanan Adibio kali ini, semoga bermanfaat. Salam lestari!

Wisata Alam Kopeng Salatiga Dari Bukit Harapan Cunthel Yang Menawan

Wisata Kopeng Salatiga Via Cunthel

Akhir-akhir ini, tempat wisata menjadi suatu hal yang sangat penting keberadaannya dan tak bisa lepas dari orang-orang yang butuh melepaskan penat disaat seminggu penuh menjalani aktifitas yang menguras tenaga dan pikiran.

Keberadaannya sekarang menjadi suatu hal yang dicari-cari, mulai dari wisata alam, wisata kuliner, hingga wisata budaya. Jika dilihat beberapa tahun belakangan, wisata alam menjadi daya tarik wisatawan. Banyak sekali bermunculan wisata alam baru yang berisi spot-spot foto dan tempat-tempat yang cukup enak untuk menenangkan hati dan pikiran.

Sehingga dari hal tersebut, maka cukup tepat untuk menjadikan wisata alam sebagai tempat yang wajib dikunjungi saat hendak menyegarkan otak. Selain hati dan pikiran menjadi tenang, juga cukup bagus untuk menyimpan beberapa galeri foto yang dapat diunggah di media sosial.

Kali ini, aku akan memberikan rekomendasi wisata alam yang cocok untuk kalian yang suka hunting foto berlatarkan pemandangan alam, atau barangkali hanya sekadar ingin menyegarkan otak. Wisata alam tersebut terletak di daerah Salatiga, Jawa Tengah. Tepatnya di Kopeng, desa Cunthel.

Kopeng merupakan tempat dengan sejuta wisata alam yang dapat kamu jumpai di sekitar daerah tersebut. Dengan letaknya yang sangat strategis dikelilingi oleh banyak gunung, yaitu gunung merbabu, telomoyo, dan andong.

Jika cuaca sedang sangat cerah, maka kamu akan beruntung sekali mendapati pemandangan gunung sindoro sumbing dari jalanan Kopeng. Sebab tempatnya yang dikelilingi banyak gunung, maka bisa disimpulkan bahwa Kopeng merupakan tempat dengan suhu cuaca yang lumayan dingin.

Dari Kopeng, kita juga dapat menjumpai berbagai jalur pendakian gunung yang ada di daerah tersebut, seperti jalur pendakian merbabu via Cunthel, Thekelan, dan Wekas, jalur pendakian gunung telomoyo, dan juga jalur pendakian andong. Pada tulisan kali ini, aku akan menuliskan tentang perjalananku di suatu tempat yang berada di sekitaran jalur pendakian merbabu via cunthel.

Di daerah tersebut ada beberapa wisata alam yang wajib kamu kunjungi jika ingin berlibur. Tempat yang akan aku tulis yaitu wisata alam Kopeng yang bernama Bukit Harapan Chuntel atau yang disingkat BHC.

Bukit Harapan Chuntel (BHC) merupakan wisata alam dengan spot-spot foto yang sangat bagus dan juga tempat yang sangat enak untuk bersantai-santai. Terletak di desa Chuntel dan berada di dalam area jalur pendakian merbabu via Chuntel, tempat ini tidak terlalu sulit dijamah oleh kendaraaan roda dua maupun roda empat.

Kita hanya perlu lewat jalur lingkar Salatiga, lalu menuju ke arah Kopeng. Setelah itu, kita menuju ke arah jalur pendakian merbabu via Cunthel. Sebelum masuk di gerbang pendakian, kita akan membayar Rp.1.000 untuk satu motor saja. Setelah itu kita akan masuk dan melihat pemandangan yang luar biasa.

Dari jalan masuk setelah gerbang jalur pendakian tersebut, kita akan menjumpai agrowisata Kopeng, golden sunset Chuntel, jalur pendakian merbabu via Cunthel, dan setelahnya adalah bukit harapan Chuntel (BHC). Aku tidak akan membahas semuanya, aku hanya membahas BHC.

BHC terletak di daerah rumah-rumah desa Chuntel. Parkir untuk wisata alam BHC membayar Rp.2.000 yang terletak di samping masjid. Setelah itu, kita akan jalan sebentar untuk menuju lokasi. Jalurnya tidak terlalu capek, malahan lebih menikmati karena pemandangannya yang sangat indah di sekitar daerah tersebut.

Gambar Keindahan Alam Kopeng Salatiga Via Cunthel

pemandangan sekitar BHC, gunung andong (kiri) dan gunung telomoyo (kanan)

jalur sekitar BHC

Setelah itu, kita akan masuk menuju lokasi. Sebelum masuk, kita harus membayar Rp.3.000 per orang.



naik ke atas masuk ke lokasi

tempat pembayaran HTM


Begitu masuk ke dalam, kita akan disuguhi berbagai macam spot foto dan tempat untuk bersantai ria disini. Bahkan, kata penjaganya, disini kita juga bisa mendirikan tenda dan bermalam disini sembari menunggu sunrise tiba. Tempat bersantainya pun banyak, jadi tidak perlu khawatir. Dan bahkan, disini ada kantin, jadi jangan khawatir jika kelaparan saat sedang hunting foto


Ada ayunan untuk berbagi cerita

tempat duduk untuk bersantai dan mengobrol

masih ada tempat santai lainnya

pemandangan sekitar BHC

Spot-spot foto yang disajikan di sekitar sini tentu sangat menggugah para fotografer. Selain tempat untuk foto, bahkan disini disediakan tempat untuk spot sebagai fotografernya. Jadi tak perlu bingung mencari spot, karena disini sudah disediakan dengan pas dan cocok kalo menurutku. Jikalau ingin mencari spot baru juga tidak masalah.

Spot Foto Terbaik Di Wisata Kopeng Salatiga


tempat untuk memotret gambar

spot untuk foto 1

spot untuk foto 2

Dan ini, hasil foto-foto kemarin di dua spot yang berbeda.

spot foto 1


spot foto 2
Sekian, travel blogku kali ini. Ingat, jika ingin berkunjung kesini jangan lupa membuang sampah pada tempatnya. Dan menjaga kelestarian alam. Jika mau, berkunjunglah saat matahari akan terbenam, maka pemandangannya sangat bagus sekali. Mari majukan wisata Indonesia dengan mengunjungi dan menjaganya.



Tiket Masuk dan Biaya-Biaya Di Wisata Kopeng 

Masuk gerbang jalur pendakian merbabu via chuntel : Rp. 1.000/motor
Parkir BHC :Rp. 2.000
Tiket masuk BHC : Rp. 3.000/orang.

Rute Menuju Kopeng Salatiga Via Cunthel

Lewat jalur lingkar Salatiga, lalu masuk ke arah Kopeng. Kemudian cari jalur pendakian merbabu via chuntel. Masuk situ dan nanti akan menemukan desa Chuntel. BHC ada di sekitar sana. Setelah Golden Sunset Chuntel dan jalur pendakian merbabu via chuntel.

Pesona Ramadhan 2018 : Menyambut Ramadhan dengan Ritual Nyadran di Tempat Wisata Waduk Jatibarang

Rasanya, aku sudah lumayan lama tidak menuliskan blog tentang travelling. Menginjak semester akhir membuat diriku sudah tak terlalu sering berkecimpung dengan dunia travelling. Bolak-balik kampus menjadi aktifitas yang sangat lumrah dikerjakan setiap minggunya. Menyedihkan tentu saja, namun tuntutan lulus harus segera diselesaikan, sebelum semua menjadi sebuah penyesalan. Sudah, aku tak mau membahas panjang lebar tentang aktifitas membosankan itu. Kali ini, aku diberikan kesempatan untuk mendatangi sebuah prosesi tradisi Jawa, yang sering disebut dengan Nyadran. 

Apakah itu Nyadran?

Nyadran merupakan sebuah tradisi Jawa yang sudah turun temurun dari nenek moyang terdahulu. Nyadran pada umumnya adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat yang biasanya dilaksanakan oleh warga desa sekitar untuk mendoakan para leluhur atau orang-orang terdekat yang sudah meninggal. Nyadran biasanya diadakan sebulan sebelum datangnya bulan Ramadhan. Selain itu, nyadran juga diadakan agar tetap melestarikan kebudayaan Jawa yang sudah turun temurun dari nenek moyang. Nah, pada kali ini, aku akan menceritakan sebuah tradisi Nyadran yang dilakukan oleh masyarakat kampung wisata Talunkacang yang berada di kelurahan Kandri, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Tepatnya pada tanggal 26 April 2018, masyarakat kampung wisata Talunkacang mengadakan sebuah kegiatan Nyadran yang diselenggarakan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Suko Makmur Kelurahan Kandri RW 03 dengan dibantu oleh seluruh masyarat setempat. Selain itu, pada kesempatan yang sama Departemen Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip juga melepas ikan di waduk Jatibarang agar dapat berkembang biak disana. Acara tentu terbilang berjalan sangat meriah. Diawali oleh sambutan-sambutan dari ketua Pokdarwis, bapak Majuri yang diwakili oleh pak Sudiyan, sambutan dari Dr. Ir. Pujionowahyu selaku sekre Dep. SDA Undip, hingga sambutan dari ibu wakil walikota ibu Ir. Hj. Hevearita Gunaryanti Rahayu. Kata ibu wakil walikota, 

"Wisata waduk Jatibarang ini memiliki potensi yang sangat tinggi sebagai tempat wisata yang berada di Semarang"

Ibu Wakil Walikota, Bu Ita

Setelah sambutan demi sambutan telah terlewati, prosesi larungan pun segera dimulai. Larungan sendiri adalah bahasa Jawa yang berarti membiarkan hanyut. Dan dalam acara ini, akan menghanyutkan nasi tumpeng dan beberapa jajanan tradisional yang ditaruh di atas tampah. Setelah semua sambutan selesai, maka MC mempersilakan nasi tumpeng tersebut untuk diangkat menuju ke sebuah perahu yang berada di waduk Jatibarang.


Nasi Tumpeng dan beberapa Jajanan Tradisional

Pengangkatan Nasi Tumpeng Menuju ke Perahu

Foto bersama sebelum menuju perahu


Setelah nasi tumpeng itu ditaruh ke dalam perahu, maka para rombongan yang naik perahu diikuti dengan speedboat menuju ke tengah waduk untuk menghanyutkan nasi tumpeng tersebut.

Perahu yang mengangkut nasi tumpeng

Larungan sedang dilaksanakan


Larungan pun berjalan dengan sangat lancar. Masyarakat sekitar tentu sangat senang. Karena tujuan dari larungan ini adalah rasa syukur kepada Tuhan agar masyarakat selalu diberi keselamatan dan juga dalam arti agar segala sengkala atau marabahaya jauh dari masyarakat setempat. Usai larungan, para warga dan juga hadirin yang datang di acara tersebut makan bersama. Banyak sekali makanan yang tersedia, dari jajanan tradisional, chiki, hingga nasi tumpeng. Sebelum adanya acara larungan ini, warga setempat sudah melakukan berbagai macam kegiatan, seperti : nyadran kali, nyadran kuburan, sesaji rewanda, dan suronan/barikan. Kegiatan itu semua tentu untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang hanya  menghitung beberapa hari lagi.

Oh ya, aku juga mau menceritakan tentang pokdarwis yang telah menyelenggarakan acara tersebut. Pokdarwis atau singkatan dari Kelompok Sadar Wisata telah mulai membentuk diri dari tahun 2008. Pada tahun 2008, mereka sudah bersosialisasi. Kemudian pada tahun 2010 mereka mengajukan ke dinas pariwisata kota Semarang dengan anggota 30 orang. Lalu pada tahun 2011 mereka menerima SK Pokdarwis. Hingga sampai sekarang, anggota mereka telah terkumpul menjadi 174 orang.

Dalam tulisan kali ini, aku turut mempromosikan wisata waduk jatibarang yang berada di Gunung Pati, Semarang, Jawa Tengah. Karena menurutku, kita sebagai Generasi Pesona Indonesia harus turut ikut andil dalam perkembangan wisata yang ada di daerah kita. Dengan cara menuliskannya di blog, atau memposting hasil foto kita ke berbagai jejaring media sosial, agar wisata tersebut dapat dilihat oleh masyarakat Indonesia, terlebih oleh orang luar negeri.

Yasudah, sekian cerita travellingku kali  ini yang sedikit mengangkat tema tentang kearifan budaya lokal. Karena kita tahu, bahwa budaya harus dilestarikan walau zaman sudah berbeda. Kebudayaan menjadi dasar para masyarakat untuk menjalani kehidupan. Tanpa budaya, masyarakat akan kehilangan identitas mereka.

Suasana Asri Tercipta di Wana Wisata Gonoharjo, Nglimut, Kabupaten Kendal.

Jika otak dan badan kalian sedang tidak sinkron, lebih baik tenangkan saja dahulu. Agak tidak baik apabila otak ingin bekerja  namun badan berkata apa, mungkin kerjaannya akan tidak maksimal dengan apa yang diinginkan. Sebaliknya, badan ingin bekerja namun otak sedang ingin dimanja, tentu membuat konsep yang sudah dibuat menjadi buyar seketika, karena otak tak ingin bekerja. Maka, untuk menyinkronkan kembali kedua unsur tersebut, aku mempunyai satu saran bagi kamu, yaitu dengan melakukan perjalanan menuju ke sebuah tempat yang menurutku sangat ramah, teduh, dan asri. Tempat itu terletak di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, tepat di daerah Nglimut yang dekat sekali dengan Boja. Jika kalian orang Kendal dan sekitarnya, pasti tidak akan asing dengan daerah tersebut. Namun, jika kamu orang luar Jawa Tengah, maka kamu bisa menuju ke kota Semarang dahulu, nanti setelah sampai di kota Semarang kalian bisa mencari daerah yang bernama Gunung Pati, dari situ tidak jauh lagi kamu akan menemukan daerah bernama Nglimut, dan itu sudah termasuk dalam kawasan kabupaten Kendal. Mari kita jelajahi lebih dalam tempat wisata yang akan aku bicarakan.

Wana wisata Gonoharjo yang terletak di Nglimut ini memiliki air terjun, pemandian air panas, dan tentunya pemandangan alam  yang memanjakan mata. Karena kebetulan wisata ini terletak di kaki gunung Ungaran jadi wajar saja jika kamu menuju ke tempat ini akan disajikan dengan pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Hamparan pepohonan hijau, udara yang sejuk, dan bermacam suara alam yang menyegarkan otak dari penatnya kehidupan kota. Kamu tidak perlu khawatir akan transport untuk menuju ke tempat tersebut, karena dengan hanya membawa kendaraan roda dua kamu bisa menuju ke wisata tersebut, akses yang diberikan juga masih terbilang  wajar dan tidak terlalu parah. Untuk transportasi umum aku kurang memahaminya. Setelah kamu melalui berbagai pemandangan yang sejuk, tibalah kamu di tempat wisata tersebut. Di daerah sebelum membayar tiket masuk, terdapat banyak sekali warung yang menjual berbagai makanan dan minuman, kamu tidak perlu khawatir karena kekurangan konsumsi. Untuk masuk ke pemandian air panas dan juga air terjunnya, kamu harus melalui tracking terlebih dahulu. Jalur tracking nya sendiri terbilang tidak terlalu susah untuk dilalui.


Plang Wana Wisata Gonoharjo

Track menuju ke air terjun dan pemandian air panas

Setelah tracking, sekitar 15 menit kamu akan menemukan mini air terjun yang lumayan membuat mata kamu terpana dan hati kamu menjadi lebih segar. Terlebih jika kamu hanya sekadar ingin menenangkan otak. Tempat ini benar-benar cocok sekali untuk menenangkan jiwa. Jika kamu merasa lelah setelah tracking, ada baiknya berhenti sejenak di mini air terjun tersebut dan menikmatinya.

Mini air terjun

Jika sudah puas menikmati suasana sekitar, mari  lanjut pada jalur selanjutya. Dari mini air terjun dibutuhkan kurang lebih 20 menit atau kurang untuk sampai pada pemandian air panasnya. Dengan tracking yang naik namun tidak terlalu menguras tenaga. Dan hati-hati terhadap pijakan kaki kamu, sebab terkadang licin, apalagi jika sebelumnya hujan. Pelan tapi pasti, kamu akan melalui jalur tersebut dengan cepat, ditambah dengan pemandangan sekitar yang tentu akan menghapus rasa capek dan menggantikannya dengan rasa tenang.

Track menuju pemandian air panas

Dan, selang beberapa menit setelah tracking yang lumayan jauh, kamu akan disuguhkan dengan beberapa kolam air panas yang dikelilingi oleh pepohonan yang rindang! Ditambah pemandian air biasa disampingnya, namun dengan ciri khasnya, yaitu pemandangan alam. Bisa dibayangkan betapa tenangnya berenang sembari menikmati pemandangan alam.

Pemandian air biasa dengan pemandangan yang luar biasa


Pemandian air panas


pemandian air panas dibawah terik matahari

Tentu sangat nyaman bukan? berendam di air panas dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Selain badan yang segar, jiwa, hati, dan pikiran pun ikut segar jika kamu mengunjungi tempat ini. Oh iya, ada sesuatu di dekat pemandian air panas ini, yaitu sebuah selang yang mengucurkan air panas dengan suhu yang lumayan, di sebelahnya pun ada tulisan yang berisi tentang keterangan air panas tersebut.

tulisan keterangan tentang air panasnya, bukan untuk yang di kolamnya ya

Kucuran air panasnya. Sepertinya lumayan panas

Sebetulnya, masih ada beberapa kolam air panas lagi  yang tak sempat aku foto. Dan di sekitar pemandian tersebut ada warung yang menyajikan gorengan, kopi, mie instan dan berbagai jajanan lainnya untuk mengisi perut kamu yang sedang kosong. Juga, aku tak sempat mengunjungi air terjunnya, jika kamu sudah pernah, tolong kirimkan fotonya lewat emailku he he. Dan disini  juga ada kamar mandi untuk melakukan bilas setelah selesai berendam. Juga ada musholla di sekitar tempat tersebut.

Wana wisata Gonoharjo ini tentu menjadi tempat yang sangat direkomendasikan untuk dikunjungi. Dan ingat, ketika mengunjungi tempat ini selalu jaga kebersihan di tempat. Karena sampah akan menjadikan tempat ini tidak seindah sebagaimana mestinya. Salam lestari! Jaga bumi ini!.

Harga Tiket Masuk :
HTM : Rp. 10.000
Parkir : Rp. 3.000

Fasilitas :
Musholla
Toilet
Warung

Back To Top