Perjalanan Adibio: Travelling | Kelana Lara Perjalanan Adibio: Travelling

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Kemegahan Situs Warungboto Yang Memanjakan Mata

Setiap perjalanan selalu memiliki catatan untuk dikenang di dalam tulisan. Suatu hari nanti kita dapat membacanya sambil mengenangnya dengan riang.

berpose di spot situs warungboto
Selalu ada cerita di setiap perjalanan. Begitu kata hatiku sendiri tatkala mengunjungi berbagai macam tempat wisata sejauh ini. Setiap langkahnya selalu ada kata yang hendak minta dipungut untuk kemudian dijadikan sebuah cerita. Tak peduli seberapa penting peran kata tersebut dalam membentuk suatu paragraf, ia selalu bisa menjadikan otak kita bekerja dengan keras sehingga pada akhirnya akan menghasilkan cerita perjalanan. Begitulah sekiranya yang aku lakukan ketika selesai mengunjungi suatu tempat wisata. Aku mencoba untuk merekam segala hal yang dilihat oleh mataku, lalu mencoba mentransfernya ke dalam otak agar nantinya menuju ke tangan yang akan bergerak menulis sebuah cerita perjalanan.

Pada cerita kali ini, aku akan berbagi cerita perjalananku pada waktu itu ketika berkunjung ke salah satu tempat wisata bersejarah yang ada di Yogyakarta. Tempat tersebut konon merupakan tempat yang dahulu menjadi tempat singgah bagi keluarga kerajaan sehingga tidak heran apabila saat ini tempat wisata tersebut terdapat bekas-bekas kolam, kebun, serta taman. Yap, tempat tersebut tentu kalian sudah tahu namanya karena sudah aku tulis di judul blog ini. Situs Warungboto atau pesinggrahan Rejawinangun.

Menuju Lokasi

Selepas sarapan soto di dekat kampus UGM, aku dan Karina melaju ke Situs Warungboto tepat pada pukul 10.00 WIB, Memang sebenarnya terlalu siang untuk melakukan perjalanan karena matahari kian terik di tengah siang bolong. Berbekal google maps (karena kami tidak ada yang hafal jalanan Yogyakarta) kami menuju ke Situs Warungboto yang terletak di Jl. Veteran, Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta. 

Jalanan Yogyakarta pada waktu itu memang tidak terlalu macet, namun tetap saja rambu-rambu lalu lintas yang cukup lama membuat rasa ini kian dongkol menunggunya. Terlebih rambu-rambu lalu lintas yang berada di pertigaan menuju ke bundaran UGM, dekat Mirota. Untung saja, sembari menunggu rambu-rambu lalu lintas ada alunan musik dari musisi jalanan dengan berbekal angklung, drum set seadanya, serta berbagai macam alat musik penunjang. Walaupun aku tak ikut  menyumbang, setidaknya mereka dapat pahala karena telah menghibur orang di tengah panasnya kota Yogyakarta.

Sampai di Lokasi

Sesampainya di sana sekitar pkl 10.45 WIB. Pada awalnya aku sempat kesasar karena plang Warung Situsboto tidak terlalu jelas. Ternyata aku kebablasan, aku  pun putar arah dan langsung menuju ke parkiran. Sampai di parkiran aku ditagih uang sebesar Rp.3.000 oleh tukang parkir. Ternyata, untuk masuk ke Situs Warungboto kamu hanya perlu membayar uang parkir saja, karena pada saat itu, tepatnya seminggu yang lalu, aku tidak dikenakan HTM. 

tempat parkir

Kesan pertama saat aku melihat bangunan gedung Situs Warungboto adalah: megah. Bangunannya memang sangat megah dan ada ciri-ciri khas kerajaan. Makin masuk ke dalam, bangunan dengan banyak ruang melintang dari sudut kanan hingga kiri. Di tengah-tengahnya ada kolam yang tidak ada airnya karena sedang musim panas. Tangga demi tangga pun kerapkali ditemukan karena untuk penghubung antara ruang satu dengan yang lainnya.


bangunannya cukup luas

bangunan lainnya



Di sisi kanan gedung terdapat ruang yang mirip balkon sehingga kita bisa berada di atas sana. Untuk menuju ke sana pun banyak  sekali ruang-ruang yang akan ditemui. Tak heran apabila pesinggrahan Rejawinangun ini memang tempat untuk beristirahat bagi para keluarga kerajaan.
eksis

pemandangan dari balkon



balkon

tangga menuju balkon

Aku pun berputar-putar dan mencari tempat yang asyik untuk hunting foto. Kalau boleh dibilang memang tempat ini banyak sekali spot foto yang bagus sehingga dapat memanjakan para penikmat fotografer. Ohya, katanya tempat ini ramai karena sebelumnya pernah dipakai oleh putri presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu, untuk foto prawedding bersama Bobby Nasution. Fotonya pun beredar di media sosial dan para warganet sangat antusias untuk mencari tempat Situs Warungboto.

tampak belakang
Dari belakang gedung terdapat tempat yang sangat luas sekali, seperti lapangan. Selain itu, di belakang sini juga terdapat pigura gambar yang menceritakan tentang asal mula tempat ini, Situs Warungboto atau pesinggrahan Rejawinangun.

cerita dibalik Situs Warungboto
Hari yang semakin panas tidak menyurutkan kami untuk berhenti mencari tempat foto yang bagus. Maklum saja, tempat ini sangat bersejarah sehingga di setiap sudutnya tentu menyimpan berbagai cerita. Sayangnya, pada awal kami datang ada segerombolan anak SD dari mana yang sedang study tour sehingga Situs Warungboto sangat ramai. Pada awalnya aku sempat mengira kalau tempat ini akan sepi, namun perkiraanku ternyata sangat meleset.

Dari sudut ke sudut kami terus mencari spot foto yang bagus, sampai akhirnya kami pun lelah akan teriknya matahari yang sangat panas. Terlebih, setelah ini rencananya kami juga akan berkunjung ke Jogja Expo Center yang pada hari ini akan ada acara preview pass day Big Bad Wolf, atau pameran buku terbesar di dunia.

Sekian cerita perjalananku kali ini, apabila kamu hendak menuju ke tempat ini, maka ada baiknya kamu harus membawa minuman karena kemarin aku lupa membawanya sehingga tenggorokan sangat kering. Terlebih di dalam sini tidak ada yang menjual minuman.

Gunung Merbabu Via Wekas Dengan Segala Kenangan Di Dalamnya

Sejak pertama kali aku mengenal gunung merbabu yang terlintas di dalam pikiranku hanya satu: surga Indonesia. Merbabu selalu berhasil membuatku jatuh cinta lagi dan lagi tanpa harus takut akan patah hati. Setiap kali berkunjung kesana, hatiku selalu terpaut dengan nyiur angin yang syahdu di sekitaran pos 2 serta beribu bintang yang benderang di langit malam. Tak pernah ada kata bosan untuk mengunjungi merbabu. Meskipun terkadang aku merasa lelah karena harus menapaki jalur merbabu via wekas yang sangat menguras tenaga, namun bagaimana caranya kamu menghentikan orang yang sedang jatuh cinta? menasihatinya saja merupakan pekerjaan yang sia-sia. 

Pertama kali aku mengenal merbabu ketika tahun 2014. Saat itu aku bersama teman kuliahku yang di UII, sekitar empat orang mendaki merbabu via cunthel. Cunthel merupakan jalur merbabu yang terletak di daerah Kopeng, sama seperti Thekelan, Gancik, dan Wekas. Setelah itu, aku benar-benar jatuh hati terhadap merbabu. Dari beberapa jalur yang tersedia, sejatinya aku sudah pernah mencobanya semua kecuali Thekelan dan Gancik. Jalur yang sering aku lewati ketika mendaki merbabu adalah Wekas. Memang, jalur ini berhasil membuatku merasa nyaman. Mata airnya yang melimpah di pos 2, pertigaannya yang sangat terbuka, jembatan setan, serta bukit-bukit yang selalu memanjakan mata berhasil membuat lemari ingatanku mengosongkan tempat khusus untuk merbabu via wekas.

Merbabu via wekas meninggalkan kenangan yang sangat indah bagiku, terutama pada tahun 2015 pada awal tahun. Saat itu aku sedang mendaki merbabu via wekas bersama tiga temanku, Robbi, Tyok dan Dandha. Pendakian tersebut benar-benar sangat menyebalkan karena kami harus melawan hujan yang sangat deras sepanjang pendakian. Bahkan saat mendirikan tenda di pos 2 hujan masih saja turun dengan deras sehingga kami mendirikan tenda seadanya. Setelah itu, di dalam tenda air pun pada masuk ke dalam tenda sehingga kami tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Semalaman kami melawan badai yang kencang. Di pagi hari cuaca pun tidak terlalu bagus karena kabut menyelimuti merbabu. Kami pun memutuskan untuk mendaki sampai pertigaan saja. Pertigaan yang aku maksudkan adalah pertigaan dengan tempat yang sudah terbuka. Apabila ke kiri kamu akan menuju ke tower pemancar, sedangkan apabila ke kanan kamu akan menuju ke puncak. Sampai di pertigaan kami langsung turun lagi dan bersiap-siap untuk pulang.

Pengalaman yang paling menarik dari pendakian merbabu via wekas tahun 2015 adalah ketika aku hendak turun dari basecamp dengan menggunakan motor. Pada waktu itu aku dan Robbi satu motor dari basecamp. Jalanan dari basecamp ke jalan raya berupa turunan yang cukup tajam. Aku dan Robbi menggunakan motor matic ketika turun. Pada awalnya tidak terjadi apa-apa. Namun di tengah perjalanan tiba-tiba motor yang kami naiki blong remnya dan mesin tidak bisa dinyalakan. Seketika kami pun panik dan bingung harus bagaimana. Di depan banyak sekali anak kecil dan motor kami melaju dengann kencang. Mukaku sangat pucat dan yang aku pikirkan pada waktu itu adalah selamat. Motor melaju kian kencang dan sangat sulit untuk menghentikannya. Hingga pada akhirnya Robbi menabrkan motor tersebut ke sawah milik warga dan aku pun terpental jauh. Seketika itu pula aku amnesia ringan dan lupa dalam waktu beberapa menit.

Di atas adalah sedikit cerita flashback ketika melakukan pendakian merbabu via wekas. Kemarin, aku kembali melakukan pendakian merbabu via wekas. Sesaat setelah sampai basecamp memori ingatan ini langsung bertebaran dimana-mana. Masih teringat dengan jelas tempat dimana aku dan Robbi jatuh di sawah milik warga serta rumah warga yang menolongku kala itu. Di setiap sudut merbabu via wekas, otakku tidak henti-hentinya bekerja untuk mengingat semua kejadian yang ada di sini beberapa tahun lalu. Kini aku akan kembali menapaki jejak kenangan yang sangat indah.

Hari Sabtu tanggal 6 Juli 2019 aku dan enam temanku, Kumoy, Ajat, Harish, Rais, Gogon dan Anam melakukan pendakian merbabu via wekas. Kami sampai di basecamp wekas sekitar pukul 13:00 WIB. Sesampainya di sana kami bergegas melakukan packing ulang dan mengisi perut agar tidak kosong. Lantas kami pun memesan nasi rames di rumah warga dan makan dengan lahap.

Perut sudah terisi, namun tampaknya ada suatu masalah yang mengisi pikiran. Usut demi usut ternyata kami lupa membawa senter. Mau tidak mau kami harus menyewa senter di area basecamp. Untung saja, kami mendapatkan headlamp dan baterai sehingga kami tidak akan melawan gelapnya malam di gunung nanti. Setelah semua barang telah beres, kami bergegas melakukan pendakian tepat jam 14:15 WIB. 

Jalur awal dari  basecamp

Foto dulu sebelum mendaki
Jalur awal lumayan menanjak dengan struktur aspal. Jalur seperti ini merupakan jalur yang membuatku sebal. Namun tidak apa, di sekitar sini banyak sekali sawah milik warga yang ditanami berbagai jenis tumbuhan. Pemandangan ini membuatku melupakan jalur aspal ini. 

Setelah sekian lama aku tidak melewati jalur wekas, banyak sekali perubahan yang telah terjadi di jalur pendakian. Salah satu yang paling terlihat adalah jalur menuju makam yang sudah dialokasikan ke jalur lain. Kali ini jalur belok kanan dan menuju ke Top Selfie. Di sana ada plang yang menunjukkan kalau lurus menuju makam dan belok kanan menuju Top Selfie. Benar saja, perubahan yang terjadi di sini sangat drastis. Tak mau kalah dengan jalur tetangga, yaitu cunthel yang ada top selfienya, kini di wekas pun ada top selfie yang memiliki pemandangan langsung gunung andong.

estimasi waktu pendakian

spot foto

Merbabu pass
Kami istirahat sejenak di sini sembari menikmati pemandangan kabut. Sedari tadi memang kabut menguasai langit sore ini. Tak apa, semoga nanti kabut ini akan mengalah dengan sinar senja. Puas istirahat, kami bergegas menapaki langkah kembali menuju ke pos 1.

Jalur menuju pos 1 terbilang belum terlalu terjal. Jam masih menunjukkan pukul 15:00 WIB. Kami pun berjalan santai dan menikmati jalur yang ada. Tak terasa kami sampai di pos bayangan 1.

pos bayangan 1
Langkah demi langkah terus diayun, hembusan nafas sudah semakin terengah-engah. Di atas langit sana kabut semakin menipis dan digantikan oleh sinar senja. Kami pun tiba di pos 1 dan istirahat sebentar untuk menunaikan sholat ashar. Di pos 1 terdapat shelter yang dapat dijadikan tempat duduk. Selesai istirahat kami kembali melakukan pendakian. Dari pos 1 ke pos 2 jalur sudah mulai lumayan terjal sehingga aku harus bersiap-siap untuk menepis segala berita hoax seperti "pos  2 tinggal 5 menit lagi".




Sepanjang jalur menuju pos 2 banyak sekali paralon sehingga kamu harus berhati-hati dalam mengambil langkah. Paralon ini merupakan aliran mata air yang menuju ke pos 2. Semakin kencang suara gemericiknya maka semakin dekat dari pos 2. Jalur terjal di sore hari sangat menguras tenagaku. Untung saja, di atas cakrawala sana senja sedang tersenyum memperhatikanku di bawah sini. Sinarnya membuat rasa lelahku hilang seketika walaupun sebenarnya masih lelah. Beruntunglah bagi siapa saja yang dapat menikmati senja dari atas gunung. Sangat syahdu dan merdu. 



Perlahan-lahan kami melanjutkan langkah untuk sampai di pos 2. Di pos 2 nanti kami akan mendirikan tenda dan istirahat sebelum nanti melakukan summit ke puncak. Jalur pun sudah mulai datar dan rapat oleh tanaman. Apabila sudah seperti itu maka pos 2 sudah dekat. Benar saja, akhirnya kami sampai dengan pos 2 yang sangat luas dengan mata air yang melimpah. Dari sini, aku masih dapat melihat senja yang sebentar lagi akan hilang dari cakrawala.



Sampai di pos 2 kami langsung mendirikan tenda karena cuaca sudah sangat dingin. Waktu itu sekitar pukul 18:00 WIB kami sudah tiba di pos 2. Dua tenda pun dirikan berhadapan agar terlihat hangat. Sayangnya satu tenda kami harus mengalami masalah karena framenya sudah patah. Walaupun begitu temanku yang sangat kreatif, Anam, langsung membetulkan tenda tersebut dengan pasak jeruji dan akhirnya tenda dapat berdiri dengan kokoh. Tenda dan flysheet sudah dipasang, lalu kami memasak makanan untuk dinner. Malam itu kami memasak sosis dan bakso goreng, sop bakso, mie serta nasi. Alhamdulillah, menu malam ini benar-benar sangat menggoda dan menggairahkan nafsu makan.



Sehabis makan rasa kantuk pun menyerang kami. Tepat pukul 21:00 WIB kami bersiap-siap untuk tidur sebelum melakukan summit pada jam 03:00 WIB. Di  atas sana, bintang-gemintang bersinar sangat terang dengan jumlahnya yang tak terhingga. Bagian inilah yang aku sukai dari naik gunung ketika cuaca cerah. Kamu dapat bersantai di luar tenda sembari menatap langit dengan hiasan bintang yang tersebar dimana-mana. Bahkan terkadang kamu bisa melihat bintang jatuh dari bawah sini. Ah, indahnya hotel bintang tak terhingga. Oh ya, sebelum tidur aku menyempatkan diri untuk keluar tenda sejenak dan kencing lalu melihat bintang di atas sana.

Kami pun terbuai dalam mimpi masing-masing dan membiarkan angin berdiskusi di luar sana.

Tepat pukul 02:30 WIB kami bangun dan bersiap-siap untuk melakukan summit. Di luar sana udara sangat dingin sehingga membuat rasa malas semakin tinggi. Sebelum melakukan summit, kami membuat susu, mie dan packing perbekalan makanan untuk dibawa waktu summit. Setelah semuanya beres, kami lalu keluar tenda dan menikmati udara angin pada dini hari. Ah, dinginnya. Kendati demikian, bintang di atas sana masih setia menemani kami di pos 2 merbabu wekas ini.

Jalur dari pos 2 ke pos 3 lumayan terjal. Kali ini banyak pasir yang menghiasi jalur sehingga debu membuat hidung tidak enak. Mendaki pada dini hari bagiku lumayan enak. Rasa dingin perlahan-lahan hilang karena kita bergerak dan tidak terlalu boros air. Untung saja pada waktu itu cuaca benar-benar sangat bersahataban sehingga angin tidak terlalu kencang.

Hal yang paling aku sukai ketika mendaki pada dini hari dan cuaca bagus adalah pemandangan atas dan bawah sama-sama terang. Atas yang aku maksudkan adalah bintang, sedangkan bawah adalah lampu-lampu kota. Dari sini, pemandangan tersebut sudah terlihat dengan jelas. Perlahan-lahan kami melanjutkan pendakian untuk menuju  pertigaan. Sebentar lagi jam menunjukkan pukul 05:00 WIB. Kami pun mencari tempat datar untuk menunaikan sholat subuh.

Dari tempat sholat subuh, pertigaan sudah tidak jauh dan terlihat dari sini. Sesampainya di pertigaan, kami langsung disuguhkan dengan pemandangan sunrise yang sangat indah di samping bukit hijau. Sedang di belakang kami sindoro sumbing menyapa dengan indah seraya melambaikan tangannya dan berucap, "selamat pagi manusia". Ah, di pertigaan inilah pertama kalinya aku merasa jatuh cinta terhadap merbabu via wekas.




Hadirnya mentari berhasil menghangatkan tubuh dan kenanganku di merbabu via wekas. Semua kenangan di sini perlahan-lahan mulai bermunculan dan keluar dari pikiran, hendak terbang kemana dan aku hanya berdiam diri di sini menikmatinya seraya memandangi ciptaan Tuhan yang sangat indah. Mulut tetap tak bisa berkata apa-apa, sedang pikiran sibuk merekam segala kejadian yang berada di sini.

Seusai puas dengan pemandangan yang indah di pertigaan, kami melanjutkan pendakian menuju puncak kecuali aku. Aku sendiri lebih memilih untuk turun lagi ke pos 2 karena merasa capek. Sebelumnya aku sudah melakukan perjalanan ke Yogyakarta sehingga aku tidak ingin memaksakan fisik dari tubuhku.

Dari pendakian ini aku benar-benar memahami kalimat "Tujuan dari mendaki itu bukanlah puncak, melainkan pulang dengan selamat". Sebenarnya aku ingin sekali ikut menuju puncak bersama temanku. Namun aku tidak mau memaksakan fisikku sehingga aku memutuskan untuk turun lagi ke pos 2. Banyak sekali pendaki yang memaksakan kehendak untuk menuju puncak, padahal puncak itu sendiri sudah ia dapatkan ketika berhasil menguasai diri mereka sendiri. Puncak tidak akan kemana-mana, jadi tidak perlu khawatir. Khawatirlah terhadap jodohmu yang kemana-mana. Ups.

Sekian cerita perjalananku kali ini, semoga bermanfaat untuk yang membaca. Terima kasih karena telah berbagi rasa di blogku. Sampai jumpa, salam lestari!.


Jalan-Jalan ke Desa Wisata Gamplong yang Terkenal Dengan Tempat Syuting Film

Liburan memang hal yang sangat menyenangkan. Setiap kali liburan hati dan pikiran manusia selalu saja tenang walaupun selanjutnya otak akan merasa bingung karena saldo di ATM sudah harus segera diisi. Kendati demikian, rasa puas dan lelah saat liburan akan selalu terkenang sampai nanti sudah tua. Dengan dalih begitu, maka tidak heran apabila selagi masih muda ada baiknya berjalan-jalanlah sejauh mungkin agar di masa tua kamu mempunyai cerita yang sangat bagus untuk cucumu kelak. Banyak yang bilang bahwa travelling merupakan investasi batin yang sangat bagus. Untuk itu aku melakukan travelling selagi masih muda.

Setelah berjalan-jalan ke Pacitan (yang belum aku ceritakan di blog) serta ke gunung Mahameru (lihat ceritanya untuk bagian 1 dan bagian 2), tampaknya rasa keinginanku untuk liburan belum juga pudar. Memang travelling selalu membuat rasa ketagihan di dalam diri muncul secara terus-menerus. Mau tidak mau aku harus memuaskan batin lagi agar rasa penasaranku tidak meronta-ronta dengan sadis. Akhirnya setelah mempertimbangkan beribu hal, maka aku memutuskan untuk traveling kembali ke Jogja, kota penuh kenangan. Memang, kota ini benar-benar sangat sukses menghipnotis para pengunjungnya untuk selalu datang kembali, lagi dan lagi. Kota dengan beribu wisata di dalamnya membuat para wisatawan tak cukup hanya satu hari saja untuk mengunjungi berbagai wisata di Jogja. Aku termasuk orang yang merasa demikian sehingga tak ada rasa bosan untuk kembali mengunjungi Jogja. 

Di cerita travelling kali ini, aku akan mengunjungi sebuah tempat yang baru-baru ini sangat terkenal di kalangan wisatawan. Tempat wisata tersebut terkenal  karena baru saja dibuat untuk tempat syuting tiga film Indonesia, yaitu Bumi ManusiaHabibie Ainun dan Sultan Agung. Setahuku tiga film itu baru saja melakukan syuting di tempat wisata ini. Berkat dijadikan tempat syuting film, tempat wisata ini  sangat diminati oleh wisatawan sehingga banyak pengunjung yang berdatangan untuk sekadar hunting foto. Dengan begitu, maka rasa penasaranku untuk datang ke tempat wisata tersebut semakin tinggi. Tempat wisata ini bernama Gamplong studio alam yang terletak di desa wisata Gamplong.

Perjalanan Menuju ke Lokasi

Desa wisata Gamplong terletak di Dusun Gamplong, Desa Sumber Rahayu, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berjarak sekitar 16 kilometer dari titik nol Yogyakarta, desa Gamplong tentu cukup jauh untuk ditempuh dari kota Jogja. Aku menggunakan kendaraan roda dua untuk menuju ke desa Gamplong. Bermodalkan google maps, aku pun pergi ke desa wisata Gamplong dari daerah UGM. Perlu waktu sekitar 40 menit waktu itu sehingga aku sampai di desa wisata Gamplong. Setelah sampai di tempat, aku pun sudah melihat benteng-benteng yang menjulang tinggi seperti pada masa kolonial. Dari tempat parkir, aku menuju ke tempat loket untuk masuk ke dalam.

Sampai di Lokasi

Tempatnya sudah ramai oleh pengunjung. Aku pun tampak antusias untuk segera masuk ke dalam. Di loket, aku hanya membayar seikhlasnya saja lalu membayar Rp.5.000 untuk permit card karena aku dan pacarku membawa kamera. Memang untuk memasuki desa wisata Gamplong apabila kamu membawa kamera maka kamu harus mempersiapkan uang sebesar Rp.5.000. Namun baru-baru ini akun instagram desa wisata Gamplong, @gamplong_studio memposting bahwa untuk permit card  harus membayar sebesar Rp.10.000 per tanggal 01 Juli 2019. Setelah melalui berbagai administrasi, aku pun bergegas masuk ke dalam.


rumah gubug




Begitu masuk kamu akan menemui pemandangan rumah-rumah gubug yang sangat unik sehingga membawamu kembali ke masa lampau. Rumah dengan arsitektur lama tersebut cukup memanjakan mataku sehingga tak heran aku mengambil beberapa foto di sini. Setelah puas dengan keadaan di rumah gubug, maka aku kembali melanjutkan perjalanan.

Rumah gubug pun ternyata hanya permulaan saja. Setelahnya kamu akan menemui perumahan kumuh yang membuat kamu terbawa suasana di dalamnya. Cuaca panas pun tidak menghalangiku untuk mengambil beberapa foto di sekitar perumahan kumuh karena tempatnya cukup instagramable. 

Dokumentasi Pribadi

Dokumentasi Pribadi


Dokumentasi Pribadi
Nah setelah puas menikmati perumahan kumuh, baru kamu akan dimanjakan oleh bangunan-bangunan bernuansa khas Eropa. Bangunan-bangunan di sekitar sini sangat bagus sekali dan dapat memanjakan mata kamu. Di sekitar bangunan sini juga terdapat beberapa warung yang menjajakan makanan dan minuman sehingga kamu tak perlu takut akan lapar dan haus. Selain itu, di sekitar sini juga ada mushola dan toilet. Bangunannya benar-benar membuatku sangat takjub, seperti berada di masa kolonial. Aku jadi menerka-nerka dimana tempat terjadinya syuting film Bumi Manusia. Apakah gedung ini merupakan perusahaan Wonokromo milik Tuan Herman Mellema? Apakah rumah dengan desain Tiongkok tersebut merupakan tempat plesiran milik babah Ah Tjong? Ah, terlalu banyak pertanyaan ketika berada di sini.

suasana di dalam desa wisata gamplong

ada rel keretanya guys


numpang narsis sis

hanya untuk properti


rumah merah yang di dalamnya terdapat warung

Di sini pun terdapat kereta yang dapat kamu tumpangi. Namun aku tidak tahu apakah untuk naik kereta tersebut membayar atau tidak. Keretanya hanya berjalan satu jalur dan maju mundur saja seperti Syahrini.

penampakan kereta
Puas sekali rasanya melakukan aktifitas hunting foto di sekitaran tempat ini. Gamplong studio merupakan studio alam yang dibangun oleh Hanung Bramantyo. Tempat ini juga bisa dijadikan sebagai tempat wisata edukasi bagi para pengunjung sehingga tak hanya foto saja yang mereka dapatkan, melainkan pengetahuan. Rasanya sungguh senang bisa dapat mengunjungi tempat sebagus ini. Hanung tentu merupakan sutradara film terkemuka yang ada di Indonesia. Dengan studio yang ia miliki ini, maka ia telah menyumbangkan sesuatu yang baru dalam dunia wisata. Maju terus dunia perfilman dan dunia wisata di Indonesia!.

Harga Tiket Masuk

Permit card: Rp.10.000 per 01 Juli 2019
Bayar seikhlasnya: waktu itu aku membayar Rp.15.000
Parkir: Rp.3.000
Bawa uang lebih karena banyak jajanan di dalamnya.

Kamu dapat mengunjungi instagram @gamplong_studio untuk melihat spot-spot mana saja yang bagus dijadikan foto dan di upload di instagram.

Cerita Tentang Gunung Semeru Part 2

Hari Ketiga: Membulatkan Tekad

Kalimati membuat suasana Semeru terlihat sedikit menyeramkan. Pepohonan di sekitar area camp cukup membuat tendaku hangat kala itu. Hanya saja, bulu tangan kadang-kadang merinding ketika berada di Kalimati. Entah apa benar Kalimati memang menyimpan mistis seperti yang dikatakan para pendaki lain, namun suasana disini memang sangat berbeda dibandingkan dengan pos-pos lainnya di Semeru. Rerumputan yang membentang luas layaknya sabana cukup berhasil membuat Kalimati terlihat sangat syahdu, walau pada kenyataannya hanya itu saja yang aku kagumi sejauh ini dari Kalimati. Di Kalimati selain menemukan sabana yang sangat luas serta pepohonan yang rindang, kamu juga dapat menemukan sumber mata air yang letaknya sangat jauh dari area camp. Jarak yang ditempuh untuk menuju ke mata air berkisar kurang lebih satu jam. Disarankan bagi kamu yang hendak mengambil mata air di Kalimati jangan terlalu malam. Karena saat briefing nanti kamu akan mengetahui bahwa tak hanya pendaki saja yang hendak mengambil mata air di Kalimati.

Sedari jam 7 malam tadi aku sudah berada di dalam tenda dan tidur. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Waktunya para pendaki bersiap-siap untuk melakukan summit ke puncak. Sebenarnya batas pendakian hanya sampai Kalimati seperti yang telah dikatakan oleh petugas registrasi di basecamp. Namun siapa yang berhasil menahan godaan lambaian dari puncak Mahameru yang telah mengayun sedari di pos Jambangan? Semua tentu ingin menapaki kakinya di atas puncak Semeru, atapnya pulau Jawa. Tak terkecuali aku. Pada awalnya aku sempat malas untuk melakukan summit karena aku tidak terlalu menyukai jalur pasir. Seperti halnya di Merapi, aku sama sekali tidak pernah berada di puncak Merapi setelah dua kali kesana. Selain malas, aku juga sempat merasa tidak percaya diri ketika hendak melakukan summit. Bagaimana tidak, puncak Semeru yang sangat gagah dilihat dari Jambangan membuat nyaliku sempat menciut. Apakah bisa langkah kakiku menapaki jalur pasir Mahameru? Apakah aku berhasil melewati semua itu dengan pikiran yang kemana-mana? Setiap pertanyaan selalu saja muncul dan tak ada jawaban sama sekali. 

Di dalam tenda aku masih berusaha untuk membulatkan tekadku melakukan summit. Dengan sepenuh hati serta rasa semangat yang tinggi, maka pada waktu itu, tepat pukul 00.30 WIB aku memutuskan untuk melakukan summit Mahameru, puncaknya para Dewa. Sebelum melakukan summit, aku membuat kopi terlebih dahulu serta memakan roti. Selain itu, aku dan temanku juga mempersiapkan satu tas untuk dibawa summit dengan diisi oleh air mineral dan beberapa makanan untuk di puncak nanti. Setelah persiapan fisik dan mental sudah siap, maka aku keluar tenda dan mencari rombongan lain untuk melakukan summit bersama. Hal itu  aku lakukan karena aku hanya berdua saja dengan temanku. Setelah mendapatkan rombongan, kami pun melakukan summit sekitar jam 01.15 WIB.

Oh ya, aku melakukan summit bersama rombongan dari Tangerang. Mereka terdiri dari enam orang; tiga cowok dan tiga cewek. Namun saat perjalanan baru dilalui beberapa langkah, salah satu cewek dari rombongan tersebut merasa mual dan pada akhirnya ia harus turun ditemani oleh temannya yang cowok. Jadilah aku melakukan summit dengan empat orang rombongan dari Tangerang. Rasanya sangat indah sekali kala itu. Di gunung semua bisa kenal sama siapa saja tanpa harus merasa gengsi atau apapun. Hangatnya obrolan membuat malam itu sedikit terasa tidak dingin walau pada kenyataannya suhu Mahameru berhasil membuat tangaku mati rasa. Namun, kehangatan sesama pendaki membuat Mahameru sangat syahdu kala itu.

Jalur pasir membuat langkah kakiku lebih banyak mundurnya daripada kedepan. Setiap langkah yang aku tapaki terkadang membuat pasir turun ke bawah bersama kakiku yang satunya. Langkah perlahan adalah salah satu metode yang tepat untuk melakukan summit Mahameru. Udara dingin kian menusuk tulang dan pergerakan tubuh harus dilakukan sesering mungkin. Tidak boleh berhenti terlalu lama karena akan membuat pergerakan tubuhmu mati rasa. Tanganku pun sudah mulai merasakannya. Dinginnya membuat tanganku kesusahan untuk menggapai bebatuan dan pasir yang ada di sekitar jalur summit.

Langkah demi langkah pun telah aku kerahkan semaksimal mungkin. Hingga pada akhirnya jarum jam telah menunjukkan pukul 05.30 WIB dan cahaya mentari berhasil mengusir dinginnya Mahameru. Hangatnya menyelimuti relungku dan pada momen ini aku benar-benar sangat bersyukur telah berada sejauh ini, berkad tekadku serta semangatku.

mentari terbit dilihat dari jalur summit semeru

isitirahat sejenak


Banyak sekali pendaki yang menunjukkan rasa kagumnya terhadap keindahan Mahameru serta alam semesta. Tuhan selalu memiliki caranya tersendiri untuk menyapa ciptaanNya pada pagi hari, dan kini aku menyambutnya dari jalur summit Mahameru. 

Sudah sekitar lima jam aku melakukan summit namun belum sampai puncak juga. Memang sih, aku lebih banyak istirahatnya dibandingkan dengan muncaknya. Maklum saja, selain jalurnya yang terjal, aku masih ingin menikmati indahnya Mahameru dari sisi sini, sembari menikmati rasa lelah dan kantuk. Tak jarang angin yang sepoi-sepoi hampir berhasil membuat mataku tertutup. Untungnya, cuaca hari ini sangat cerah.

penampakan jalur summit

gagahnya gunung Semeru
Bendera merah putih berkibar kencang dari pandangan. Para pendaki bilang bahwa puncak ditandai dengan adanya bendera merah putih. Seketika aku pun merinding, berasa belum siap untuk bertemu dengan puncak Mahameru. Langkahku pun sudah tergontai-gontai karena rasa lelah yang luar biasa. Sedikit lagi kakiku akan berada di atas atap pulau Jawa. Perlahan-lahan aku melangkahkan kaki dengan pasti serta suasana hati yang bergemuruh. Hingga pada akhirnya kaki ini berhasil berada di atas atap pulau Jawa. Seketika aku mencium bendera merah putih dan melakukan sujud syukur. Segalanya terlihat indah dari atas sini. Tekad yang bulat berhasil mengantarkanku di puncaknya para Dewa, Mahameru. Rasa terima kasihku atas Tuhan tak ada hentinya. Indonesia, surgaku, bersyukur aku lahir di tanah air tercinta ini. Di puncak, para pendaki tidak bisa menutup rasa haru serta bangganya. Semua merayakannya dengan berfoto ria dan penuh kesenangan. Tak ada penderitaan kala itu, bahkan rasa lelah pun pupus seketika.

gas beracun Mahameru keluar

merayakan rasa lelah

muka sudah tidak terkontrol
Melepas bahagia di puncak Semeru benar-benar sangat melegakan. Setelah semuanya puas, maka aku pun turun dari puncak dengan rasa campur aduk;bangga, sedih, haru bahagia dan lainnya.

Hari Keempat: Meregangkan Rasa

Beribu kata sudah berada di dalam pikiran. Entah bagaimana caranya aku mengeluarkan kata-kata tersebut. Turun dari puncak Mahameru, hati ini masih tidak percaya kalau aku sanggup berada di atas puncaknya para Dewa. Rasa bangga terhadap diri sendiri tentu saja ada. Seandainya aku tidak jadi melakukan summit, maka penyesalan akan terus menghantuiku sepanjang jalan pulang. 

Bukan penyesalan tentu saja yang mengikutiku, melainkan berbagai rasa yang menghantuiku di sepanjang jalan pulang. Tak mengerti rasa apa yang aku rasakan saat ini ketika turun dari Semeru. Melewati Kalimati, Jambangan, Cemoro Kandang, Oro-Oro Ombo serta berhenti lagi di Ranu Kumbolo berbagai rasa tersebut masih menghantuiku di setiap langkah. Memang, aku berencana untuk menginap semalam lagi di Ranu Kumbolo sebelum memutuskan untuk pulang. Rasanya sangat nikmat menikmati keindahan Ranu Kumbolo lagi sembari mengingat puncak Mahameru.

Hari sudah malam kala aku sampai di Ranu Kumbolo. Suasananya masih sama seperti yang aku rasakan di hari pertama kala itu. Pendaki masih terlihat ramai dengan aktifitasnya masing-masing. Para penjual juga masih setia di warungnya untuk melayani para pendaki. Serta gemericik air danau Ranu Kumbolo masih sangat syahdu dengan beberapa kabut yang berada di atas airnya. Terombang-ambing di terjang angin membuat kabut tersebut terlihat seperti kumpulan asap yang berada di atas panggung konser musik. Sedang di atas langit, bintang-gemintang masih terlihat sejuk, seolah-olah melengkapi pemandangan malam ini di Ranu Kumbolo. Ah, indah rasanya meregangkan segala rasa disini, di Ranu Kumbolo.


ranu kumbolo dari sisi kiri
Pagi harinya aku pun bersiap-siap untuk kembali lagi ke basecamp, dengan beban rasa yang sudah berkurang karena telah aku regangkan semalam. Mungkin bagiku Ranu Kumbolo merupakan tempat yang pas untuk mengatur segala rasa yang telah kamu rasakan tatkala sudah sampai di atas puncak Mahameru. Menginap sehari sebelum pulang kembali adalah keputusan yang tepat. Berbincanglah dengan alam di area Ranu Kumbolo, curahkan segala ceritamu selama di gunung Mahameru dan biarkan air membawanya ke dalam imajinasimu.

Semeru, terima kasih telah membuatku mengerti arti pulang.

Cerita Tentang Gunung Semeru Part 1

Kehampaan merajai segalanya. Hingga datang imajinasi yang mengisinya, lantas aku berada di atas awan dengan berbagai macam pikiran yang tak sempat aku terjemahkan.

Entah apa yang aku cari ketika berada di atas awan. Barangkali hanya ketenangan pikiran, tanpa ada sebuah tulisan. Hanya keindahan pemandangan tanpa ada satupun untaian kenangan yang sempat terisi di dalam lantunan paragraf. Hanya sebatas pemuas batin tanpa ada satu pun rasa ingin;ingin mengenang, ingin mengabadikan. Seluas kata yang menerka tentang keindahan sabana, ragaku terenyuh di tengah-tengah percakapan pohon dan danau. Di sana bersemayam ketenangan yang tidak ada batasnya. Sepanjang hati meraba, seluas mata memandang, sebebas langkah kaki mengayun, kata-kata bertebaran tanpa ada sangkar yang mengurungnya. Sedang di sini, aku tetap terpaku kepada keindahan ciptaan Tuhan. Kemegahan Semeru berhasil membuatku jatuh cinta, lagi dan lagi, terhadap negara Indonesia.

Aku tak pernah sebingung ini sebelumnya. Namun kali ini, aku hendak bercerita mengenai cerita perjalananku di suatu tempat. Tempat yang sangat diagung-agungkan di tanah pulau Jawa karena ketinggiannya. Atap pulau Jawa, puncaknya para dewa, Mahameru. Pertama kali aku mendengar istilah tersebut tentu hatiku sangat berdebar-debar rasanya. Siapa yang tidak ingin menginjakkan kakinya di atas atap pulau Jawa? Semua orang ingin, dan aku termasuk salah satunya. Setelah berbagai cerita yang mampir di telingaku, akhirnya aku putuskan untuk mengunjungi gunung Semeru pada tanggal 16 Juni 2019.

Pendakianku ke gunung Semeru memakan waktu sekitar 4 hari 3 malam yang dimulai pada tanggal 16 Juni 2019. Di setiap harinya menuai beragam cerita yang berbeda sehingga aku sangat senang apabila kamu ingin membacanya dengan khidmat per harinya. Di dalam cerita kali ini, aku tidak akan berbagi info-info mengenai gunung semeru;biaya masuknya, biaya transportnya, dan biaya-biaya lainnya. Jika hendak mencari semua itu, maka berhenti membaca blogku di sini saja, karena kamu akan sia-sia. Pergilah ke blog lainnya, karena sudah banyak yang berbagi informasi terkait pendakian ke gunung Semeru.

Baiklah, mari akan aku ceritakan mengenai cerita perjalananku ke Semeru. 

Hari Pertama: Mengenal Rindu

Aku masih tidak menyangka aku akan melakukan pendakian ke gunung tertinggi di Jawa. Salah satu seven summit yang dimiliki oleh Indonesia. Pagi memaksaku untuk menyingkirkan rasa prasangka buruk apapun di dalam diriku. Sang fajar hendak memunculkan sosoknya yang begitu gagah di Bumi ini. Aku hendak bersiap-siap untuk mendaki ke gunung Semeru nanti. Packing merupakan salah satu kegiatan yang harus diperhatikan dengan sedetail mungkin. Salah sedikit saja, maka kamu akan lupa banyak hal sehingga akan mengganggu proses perjalananmu nanti. Setelah memastikan tidak ada yang ketinggalan satu pun, aku bergegas menuju ke basecamp gunung Semeru, tepatnya di Ranu Pane. Dari Malang, aku diantar oleh dua sahabatku di pondok dahulu, yaitu Salman dan Rifqi. Kedua temanku tersebut sangat baik sehingga langsung mengantarkanku ke basecamp Ranu Pane dengan sepeda motor. Dengan begitu, maka aku sedikit mengirit ongkos transportasi. Semoga mereka membaca dan sedikit terharu.

Sesampainya di basecamp, berbagai macam administrasi untuk melakukan pendakian gunung Semeru langsung dilakukan. Mulai dari registrasi ulang, briefing, dan lain-lainnya. Setelah semuanya selesai, aku langsung mendapatkan tiket untuk melakukan pendakian ke gunung Semeru. Sebelum memulai petualangan, ada baiknya perut terisi dengan penuh. Mampirlah sebentar ke warung makan yang berada di sekitaran basecamp Ranu Pane.


basecamp ranu pane

Setelah semuanya beres, dari urusan kepala sampai urusan perut, maka aku bersiap-siap untuk melakukan pendakian gunung Semeru. Sampai sini, aku masih tidak menyangka kalau aku akan mendaki gunung tertinggi di Jawa. Memasuki portal "Selamat Datang Pendaki Gunung Semeru" hatiku mulai merasakan getaran yang teramat besar. Seperti gempa lokal yang terjadi di dalam tubuhku. Dengan pasti, langkahku mengayun menapaki  jalur pendakian gunung Semeru. Mataku melihat di pemandangan sekitar jalur pendakian. Sawah masih nampak dari sini, serta bukit yang menjulang tinggi di samping kanan. Berbeda dengan mata yang bergerak bebas kemana saja, pikiran ini terpaku ke satu titik yang mengalir menuju ke hati. Ada getaran yang berbeda ketika sudah memasuki jalur pendakian. Bukan tentang kemegahan Semeru, melainkan kerinduan yang menggebu-gebu.

Melihat pos 1 di depan, badan ini rasanya hendak diistirahatkan dengan nyaman. Di pos 1 masih ada warung. Ku rehatkan sejenak dan kemudian melanjutkan perjalanan. Rindu ini masih menghantui pikiranku di setiap langkah. Rindu semuanya, rindu keluarga, rindu orang yang aku sayangi. Ku kibaskan rasa itu, lalu aku kembali fokus kepada tapak kakiku.

Jalur Semeru terbilang sangat panjang dan cukup melelahkan. Namun, semua itu akan terbayar ketika telinga ini langsung mendengar suara air gemericik serta angin yang sangat syahdu. Ya, ranu kumbolo, keindahan surga Semeru sudah tampak di depan sana. Hati ini semakin bergetar dibuatnya. Suara angin yang syahdu serta goyangan pohon yang diterpa angin seolah-olah melengkapi keindahan ranu kumbolo. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, dan di atas langit sana bintang-gemintang sudah menampakkan dirinya dalam jumlah yang sangat banyak. Ah, aku tidak bisa berkata apa-apa dan terjebak di dalam imajinasiku sendiri. Memang benar kata orang, keindahan ranu kumbolo tidak dapat digambarkan hanya dalam sekali pandangan saja, namun dapat dirasakan dalam waktu yang berkepanjangan. Malam ini, aku bersyukur kepada Tuhan karena telah memperlihatkanku dengan ciptaannya yang begitu indah. Oh, ranu kumbolo.

Di ranu kumbolo, aku bergegas mendirikan tenda bersama temanku. Karena cuaca di sini sangat dingin, maka tangan pun terasa hampir mati rasa. Ranu kumbolo memang terkenal dengan cuacanya yang sangat dingin. Yang paling mengejutkan dari ranu kumbolo adalah, di sini kamu dapat menikmati fasilitas yang telah disediakan oleh pengelola Semeru. Toilet, warung, mushola, api unggun, semua lengkap dan dapat kamu pakai semau kamu. Namun, tentu saja kamu harus merogoh kantongmu untuk menikmati semua fasilitas itu. 

Tenda sudah didirikan dan aku tetap saja tidak bisa memejamkan mata. Aku mencoba untuk menghilangkan rasa rindu tersebut dengan berkeliling di sekitar ranu kumbolo. Suasananya cukup bersahabat pada malam itu. Angin tidak terlalu kencang, bintang di atas sangat banyak, serta sinar rembulan yang sangat terang. Di tepi warung ada sudut api unggun yang tersedia. Aku pun bergegas ikut ke dalam kerumunan pendaki yang mengitar api unggun dan mencoba untuk membuka percakapan. Ah, suasana ranu kumbolo jadi semakin lengkap dengan adanya keramah-tamahan antar pendaki.

Rasa kantuk pun sudah tidak bisa ditahan lagi. Setelah asyik bercengkrama sambil memakan pop mie, aku bergegas masuk tenda serta masuk ke dalam mimpi. Rindu ini terus menggebu-gebu di tengah angin yang syahdu. Inikah arti pulang dari sebuah perjalanan?.

Hari Kedua: Memupuk Rindu

Ranu kumbolo terasa sangat dingin. Walaupun begitu, di tengah-tengah bukit telah hadir sosok penghangat yang sangat indah dan mempesona. Para pendaki bersiap-siap untuk memasang kamera terbaiknya agar mendapatkan sosok fajar tersebut. Ini adalah bagian yang paling indah. Ketika membuka tenda, matamu langsung terarah kepada indahnya ranu kumbolo diselimuti oleh cahaya mentari. Cuaca dingin perlahan hilang diimbangi oleh hangatnya mentari. Aku dan temanku langsung berburu foto kesana kemari sebelum nanti melanjutkan pendakian kembali. Inilah beberapa hasil foto di ranu kumbolo.

Ranu kumbolo


samping kiri ranu kumbolo
Setelah puas memburu foto, kamu bergegas membuat sarapan untuk mengisi perut. Memasak adalah salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan di kala pendakian. Kamu dapat bereksperimenn sesukamu tanpa harus dimarahi oleh chef Juna. Perut pun akhirnya sudah terisi, dan kami segera melanjutkan perjalanan kembali. Packing tenda dan barang-barang lainnya, lalu menatap tanjakan cinta dengan penuh keyakinan.

Dilihat dari ranu kumbolo, tanjakan cinta memang sangat terjal. Aku pada awalnya mempercayai mitos yang bertebaran di kalangan pendaki terkait tanjakan cinta. Bagi yang belum tahu, mitos dari tanjakan cinta adalah apabila kamu membayangkan seseorang yang kamu sayangi dan melalui tanjakan cinta tanpa menoleh ke belakang, maka kamu akan mendapatkan orang tersebut. Langkahku pun masih yakin menaiki tanjakan cinta tanpa menoleh ke belakang. Namun hasrat untuk melihat ranu kumbolo dari sini sudah tidak tertahankan. Di setengah perjalanan tanjakan cinta, aku bergegas menoleh ke belakang dan melupakan mitos tersebut. Ternyata tak hanya aku saja, banyak pendaki yang melakukan hal tersebut sehingga terjadilah tawa yang keras dari para pendaki.

Tanjakan cinta sudah aku lewati, setelah itu mata ini benar-benar dimanjakan dengan luasnya Oro-Oro Ombo yang berada di depan. Seketika hatiku semakin bergetar lebih keras dan rasa lelah terbayar sudah. Belum selesai rasa takjub ini akan keindahan ranu kumbolo masih ada keindahan Oro-Oro Ombo yang mempesona. Ah, pantas saja banyak sekali pendaki yang bermimpi ingin menapaki puncak tertinggi Jawa ini.

oro-oro ombo

oro-oro ombo
Di luasnya Oro-Oro Ombo, aku mencoba memupuk rindu yang telah aku kenal pada pendakian hari pertama. Puncak semeru masih belum kelihatan namun puncak rindu seolah-olah hendak keluar dari dalam tubuh. Memang benar, tujuan dari pendakian gunung bukanlah puncak, melainkan pulang dengan selamat. Selalu berhati-hati dan tetap waspada dengan segala kemungkinan, termasuk rasa rindu yang mematikan.

Oro-Oro Ombo sukses membuat wajahku terlihat hitam. Tempatnya yang terbuka dan teriknya matahari benar-benar sangat menguras tenaga waktu itu. Setelah Oro-Oro Ombo, ada tempat yang sangat sejuk yaitu pos bernama cemoro kandang. Di sini, kamu masih bisa menikmati warung yang menyediakan beragam jajanan, termasuk es gorengan.

Setelah istirahat cukup lama di cemoro kandang, aku bergegas melanjutkan pendakian. Di dalam briefing sebelum pendakian, setelah cemoro kandang akan melewati jambangan lalu kalimati. Di jambangan, puncak megah semeru sudah terlihat oleh mata. Bahkan wedhus gembel yang dikeluarkan oleh semeru juga sudah terlihat dari jambangan.

Jambangan

pose dulu guys
Jambangan sukses membuat puncak semeru dan puncak rindu semakin menggebu-gebu. Teringat akan momen-momen indah bersama orang tersayang sebelum menapaki gunung Semeru. Ah, sedang apakah orang-orang tersebut? Apakah rasa rindu mereka sama kuatnya dengan apa yang aku rasakan? Mari, kita sambung rasa tersebut dalam lantunan alam yang sangat syahdu. Biarkan angin menggiringnya ke jambangan dan akan aku hirup sedalam mungkin. Tidak ada yang lebih sakit daripada di serang rasa rindu perlahan-lahan. 

Setelah jambangan, akan ada pos Kalimati.

Kalimati, tempatnya para pendaki mendirikan tenda sebelum melakukan summit. Di sini kamu bisa menemui mata air yang dapat ditempuh dengan jarak yang sangat jauh. Selain itu, kamu masih bisa menjumpai warung serta padang sabana yang sangat luas. Kabarnya, banyak pendaki yang bilang kalau kalimati tidak lebih dingin dari ranu kumbolo, namun menyimpan mistis yang luar biasa. Sesampainya di kalimati, aku langsung mendirikan tenda dan bersiap-siap untuk beristirahat. Jam masih menunjukkan pukul  lima sore, sedangkan nanti sekitar jam 12 malam pendakian akan dilanjutkan lagi dengan melakukan summit ke puncak. 

Di kalimati, rindu yang telah terpupuk di oro-oro ombo aku harap dapat tumbuh dengan sangat baik. Sedang di sini, aku masih mempelajari makna pulang di setiap perjalanan.

suasana di sekitar kalimati

tenda para pendaki di pos kalimati



Bersambung ke part 2......


Back To Top