Perjalanan Adibio: Travelling | Kelana Lara Perjalanan Adibio: Travelling

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Berasa Seperti Astronot Saat Menginap di Shakti Capsule Jakarta

Tiada Jakarta kemarin, tiada juga esok hari
Ku lihat manusia berdiam di antara derap kereta besi yang melaju kencang
Luapan rasa tiada terbendung oleh kencangnya waktu
Ku dengar manusia saling beropini satu sama lain di pojok kedai kopi
Fakta dan realita bercampur di antara kata
Kini, Jakarta adalah masa sekarang.
Ia melenyapkan masa lalu dan masa depan.

Perjalanan Jakarta

Entah sudah hari keberapa aku berada di Jakarta. Mungkin hari ke-5 jika aku menghitung dari hari Jumat yang lalu. Memang rasanya sudah lama aku berada di Jakarta dengan segala hiruk pikuk yang berada di ibukota. Banyak manusia melantunkan nada-nada di antara gedung yang menjulang tinggi di berbagai sudut kota. Namun, hanya segelintir manusia yang berhasil menyusunnya menjadi lagu. Entahlah apa sebabnya. Barangkali jikalau dilihat dari atas, orang-orang yang sedang berjalan di bawah akan terlihat seperti semut yang hendak mencoba untuk membangun sarangnya. Sedang di atas sini, manusia hanya meramu nada tanpa berpikir untuk menjadikannya sebuah lagu.

Sekarang adalah hari Selasa. Aku lupa bahwa tempat penginapanku bersama temanku yang bernama Azmi akan habis. Mau tidak mau aku harus berpindah untuk mencari tempat bernaung di antara kejamnya ibukota. Setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan untuk memilih capsule hotel yang berada di Jakarta. Banyak sekali pilihan capsule hotel yang aku cari di traveloka. Namun hati ini pada akhirnya jatuh kepada sebuah capsule hotel yang bernama Shakti Capsule Jakarta. Ya, aku akan mencoba barang beberapa hari untuk menginap di sana. Mencicip hotel yang berbentuk capsule menjadi salah satu impian bagi para traveler, termasuk aku.

Oh ya, dikarenakan aku hanya beberapa hari di Jakarta jadi aku tidak terlalu hafal jalur transportasi umum seperti busway. Untung saja salah satu temanku, Ar rizal, menawarkan diri untuk mengajariku jalur-jalur busway yang akan aku lalui untuk menuju ke Shakti Capsule Jakarta dari Benhil (red:Bendungan Hilir) pada malam hari sebelum keberangkatanku.

"Jal, kalo ke arah Shakti Capsule enaknya naek busway yang mana?" tanyaku pada malam hari sebelum pergi ke Shakti Capsule
"Emang Capsule yang mau lu inepin daerah mana?" tanya balik Ar rizal.
"Ini nih, Jl. Batu Tulis Raya No.8, RT 3/RW 2, Kb. Klp., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta" jawabku sembari melihat google.
"Oalah, itu mah lu nanti naek busway arah grogol 2 abis itu turun, nanti tanyain ke petugas busway arah harmoni mana" Ar rizal menjawab dengan detail.
"Oh okeoke" aku pun pura-pura ngerti.

Pertama Kali Naik Busway

Berbekal pengetahuan dari Ar rizal, esok hari tepatnya pada hari Selasa, aku memberanikan diri untuk menuju halte JCC Senayan, tempat dimana aku akan naik busway untuk pertama kalinya. Jakarta siang hari sama saja panasnya dengan Semarang. Hanya saja di sini panasnya membuatku pusing sekaligus bingung karena aku takut salah naik busway. Selain berbekal pengetahuan dari Ar rizal, aku juga memiliki sebuah gambar peta jalur busway untuk persediaanku nanti.

Setelah masuk busway aku mengamati dengan seksama apakah aku salah naik atau tidak. Setiap pemberhentian halte aku selalu melihat gambar peta jalur busway untuk memastikan. Untung saja, aku tidak salah naik dan akhirnya aku sampai juga di halte Harmoni. Dari sini, aku memesan gojek untuk menuju ke Shakti Capsule Jakarta.

Ternyata dari halte Harmoni ke tempat penginapanku tidak terlalu jauh. Ah, sayang juga membayar Rp.10.000 untuk gojek. Namun tak apa-apa, yang penting aku sudah sampai di tempat penginapanku  yang selanjutnya di ibukota.


pintu depan

Sampai di Shakti Capsule Jakarta

Memasuki lobi rasanya tidak ada yang berbeda dengan penginapan lainnya. Seperti biasa, ada resepsionis, tempat menunggu dan masuk ke dalam lagi ada tempat makan. Saat melakukan check in aku disuruh untuk memberikan no handphone dan alamat email serta tanda tangan. Setelah itu disuruh membayar deposit antara meninggalkan KTP atau membayar Rp.50.000. Aku pun lebih memilih untuk  meninggalkan KTP. Setelah itu, aku diberikan kartu sebagai kunci kamar dan aku sudah tidak sabar untuk melihat capsulenya.

lobi dan resepsionis

ruang makan

ruang makan


kartu kamar capsule

Kamarku berada di lantai 1. Setelah menaiki beberapa anak tangga akhirnya aku sampai juga di tempat capsulenya. Untung saja di luarnya ada musola sehingga aku tidak perlu repot-repot saat hendak solat. Ketika masuk, aku benar-benar terpana melihat beberapa capsule yang tersusun rapi di atas dan bawah. Jumlahnya aku tidak menghitung, yang jelas ada banyak sekali. Capsulenya terlihat seperti tempat tidurnya astronot kalau dilihat dari luar. Untuk membuka pintu capsulenya, aku harus meletakkan kartunya ke tombol yang sudah tersedia. Setelah itu, pintu akan terbuka. 

tatanan kamar


tap kartunya disitu

kamar dari luar


Dalam Kamar Capsule

Karena aku memilih kasur yang di lantai atas aku pun harus menaiki tiga anak tangga terlebih dahulu.. Setelah masuk, aku benar-benar merasa seperti astronot. Lampunya berwarna atas di atap kamar. Di samping kiri terdapat beberapa tombol, yaitu tombol air fan, tombol tv, tombol sleep mode, dan tombol door lock. Selain itu juga ada tombol yang dapat mengubah-ubah warna lampu yang berada di sekitaran kaca, tempat memasukkan kartu untuk power dan tempat untuk ngecas hape. Oh ya, di samping kiri juga terdapat kaca yang berbentuk unik. Tempat ini benar-benar berhasil membuatku berdecak kagum. Kesan pertamaku saat pertama kali ke tempat ini adalah luar biasa.

tombol-tombol capsule


suasana dalam kamar

suasana dalam kamar


lampu warna hijau


lampu warna biru

Keunikan dari capsule ini ternyata tidak berhenti sampai situ saja. Tempat ini menyediakan TV namun untuk mendengarkan suara Tv aku harus memakai headset supaya tidak berisik. Dengan begitu, maka kita akan merasa sangat nyaman saat berada di dalam capsule ini. Headsetnya sendiri sudah disediakan oleh capsule sehingga kamu tidak perlu repot-repot untuk membawanya.

Terus kalau mau naruh koper atau barang-barang lainnya dimana?

Nah mungkin ada beberapa yang langsung bertanya perihal itu setelah melihat tempat capsulenya. Tenang saja, dari pihak hotel sudah menyediakan loker yang cukup besar sehingga kamu dapat menaruh koper ataupun tas-tas besar lainnya ke dalam loker tersebut. Untuk membuka lokernya kamu tinggal menempelkan kartu di loker, nantinya akan ada nomor loker yang sesuai dengan nomor kamarmu.

Kamar Mandi

Kamar mandi di Shakti Capsule Jakarta terbilang sangat nyaman. Tempatnya sangat bersih dan tertata rapih. Hanya saja, kamar mandi untuk cowo berada di lantai 3 dan 5 sehingga aku harus menaiki anak tangga dulu dari lantai 1. Tidak apa-apa, itung-itung sekalian olahraga sebelum mandi. 

tempat ngaca

toilet

toilet

shower


Harga dan Fasilitas Yang Didapatkan

Aku mendapatkan harga sekitar Rp.118.000 an lewat Traveloka. Dengan harga segitu kamu mendapatkan kamar capsule, handuk, sampo dan sabun, air mineral kecil, musola, kamar mandi, loker dan sendal. Untuk sarapan tidak disediakan dengan harga segitu. Namun apabila kamu ingin mendapatkan sarapan maka kamu harus membayar sekitar Rp Rp.150.000. Sebenarnya terdapat double capsule namun aku tidak terlalu memperhatikan. 

Rasanya sangat menyenangkan bisa menginap 2 hari di Shakti Capsule Jakarta. Apabila kamu pergi ke Jakarta, maka ada baiknya kamu mencoba penginapan ini karena bagiku tempat ini sangat nyaman. Sekian cerita perjalananku kali ini, semoga kita dapat berbagi cerita suatu saat nanti di suatu tempat.

Kemegahan Situs Warungboto Yang Memanjakan Mata

Setiap perjalanan selalu memiliki catatan untuk dikenang di dalam tulisan. Suatu hari nanti kita dapat membacanya sambil mengenangnya dengan riang.

berpose di spot situs warungboto
Selalu ada cerita di setiap perjalanan. Begitu kata hatiku sendiri tatkala mengunjungi berbagai macam tempat wisata sejauh ini. Setiap langkahnya selalu ada kata yang hendak minta dipungut untuk kemudian dijadikan sebuah cerita. Tak peduli seberapa penting peran kata tersebut dalam membentuk suatu paragraf, ia selalu bisa menjadikan otak kita bekerja dengan keras sehingga pada akhirnya akan menghasilkan cerita perjalanan. Begitulah sekiranya yang aku lakukan ketika selesai mengunjungi suatu tempat wisata. Aku mencoba untuk merekam segala hal yang dilihat oleh mataku, lalu mencoba mentransfernya ke dalam otak agar nantinya menuju ke tangan yang akan bergerak menulis sebuah cerita perjalanan.

Pada cerita kali ini, aku akan berbagi cerita perjalananku pada waktu itu ketika berkunjung ke salah satu tempat wisata bersejarah yang ada di Yogyakarta. Tempat tersebut konon merupakan tempat yang dahulu menjadi tempat singgah bagi keluarga kerajaan sehingga tidak heran apabila saat ini tempat wisata tersebut terdapat bekas-bekas kolam, kebun, serta taman. Yap, tempat tersebut tentu kalian sudah tahu namanya karena sudah aku tulis di judul blog ini. Situs Warungboto atau pesinggrahan Rejawinangun.

Menuju Lokasi

Selepas sarapan soto di dekat kampus UGM, aku dan Karina melaju ke Situs Warungboto tepat pada pukul 10.00 WIB, Memang sebenarnya terlalu siang untuk melakukan perjalanan karena matahari kian terik di tengah siang bolong. Berbekal google maps (karena kami tidak ada yang hafal jalanan Yogyakarta) kami menuju ke Situs Warungboto yang terletak di Jl. Veteran, Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta. 

Jalanan Yogyakarta pada waktu itu memang tidak terlalu macet, namun tetap saja rambu-rambu lalu lintas yang cukup lama membuat rasa ini kian dongkol menunggunya. Terlebih rambu-rambu lalu lintas yang berada di pertigaan menuju ke bundaran UGM, dekat Mirota. Untung saja, sembari menunggu rambu-rambu lalu lintas ada alunan musik dari musisi jalanan dengan berbekal angklung, drum set seadanya, serta berbagai macam alat musik penunjang. Walaupun aku tak ikut  menyumbang, setidaknya mereka dapat pahala karena telah menghibur orang di tengah panasnya kota Yogyakarta.

Sampai di Lokasi

Sesampainya di sana sekitar pkl 10.45 WIB. Pada awalnya aku sempat kesasar karena plang Warung Situsboto tidak terlalu jelas. Ternyata aku kebablasan, aku  pun putar arah dan langsung menuju ke parkiran. Sampai di parkiran aku ditagih uang sebesar Rp.3.000 oleh tukang parkir. Ternyata, untuk masuk ke Situs Warungboto kamu hanya perlu membayar uang parkir saja, karena pada saat itu, tepatnya seminggu yang lalu, aku tidak dikenakan HTM. 

tempat parkir

Kesan pertama saat aku melihat bangunan gedung Situs Warungboto adalah: megah. Bangunannya memang sangat megah dan ada ciri-ciri khas kerajaan. Makin masuk ke dalam, bangunan dengan banyak ruang melintang dari sudut kanan hingga kiri. Di tengah-tengahnya ada kolam yang tidak ada airnya karena sedang musim panas. Tangga demi tangga pun kerapkali ditemukan karena untuk penghubung antara ruang satu dengan yang lainnya.


bangunannya cukup luas

bangunan lainnya



Di sisi kanan gedung terdapat ruang yang mirip balkon sehingga kita bisa berada di atas sana. Untuk menuju ke sana pun banyak  sekali ruang-ruang yang akan ditemui. Tak heran apabila pesinggrahan Rejawinangun ini memang tempat untuk beristirahat bagi para keluarga kerajaan.
eksis

pemandangan dari balkon



balkon

tangga menuju balkon

Aku pun berputar-putar dan mencari tempat yang asyik untuk hunting foto. Kalau boleh dibilang memang tempat ini banyak sekali spot foto yang bagus sehingga dapat memanjakan para penikmat fotografer. Ohya, katanya tempat ini ramai karena sebelumnya pernah dipakai oleh putri presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu, untuk foto prawedding bersama Bobby Nasution. Fotonya pun beredar di media sosial dan para warganet sangat antusias untuk mencari tempat Situs Warungboto.

tampak belakang
Dari belakang gedung terdapat tempat yang sangat luas sekali, seperti lapangan. Selain itu, di belakang sini juga terdapat pigura gambar yang menceritakan tentang asal mula tempat ini, Situs Warungboto atau pesinggrahan Rejawinangun.

cerita dibalik Situs Warungboto
Hari yang semakin panas tidak menyurutkan kami untuk berhenti mencari tempat foto yang bagus. Maklum saja, tempat ini sangat bersejarah sehingga di setiap sudutnya tentu menyimpan berbagai cerita. Sayangnya, pada awal kami datang ada segerombolan anak SD dari mana yang sedang study tour sehingga Situs Warungboto sangat ramai. Pada awalnya aku sempat mengira kalau tempat ini akan sepi, namun perkiraanku ternyata sangat meleset.

Dari sudut ke sudut kami terus mencari spot foto yang bagus, sampai akhirnya kami pun lelah akan teriknya matahari yang sangat panas. Terlebih, setelah ini rencananya kami juga akan berkunjung ke Jogja Expo Center yang pada hari ini akan ada acara preview pass day Big Bad Wolf, atau pameran buku terbesar di dunia.

Sekian cerita perjalananku kali ini, apabila kamu hendak menuju ke tempat ini, maka ada baiknya kamu harus membawa minuman karena kemarin aku lupa membawanya sehingga tenggorokan sangat kering. Terlebih di dalam sini tidak ada yang menjual minuman.

Gunung Merbabu Via Wekas Dengan Segala Kenangan Di Dalamnya

Sejak pertama kali aku mengenal gunung merbabu yang terlintas di dalam pikiranku hanya satu: surga Indonesia. Merbabu selalu berhasil membuatku jatuh cinta lagi dan lagi tanpa harus takut akan patah hati. Setiap kali berkunjung kesana, hatiku selalu terpaut dengan nyiur angin yang syahdu di sekitaran pos 2 serta beribu bintang yang benderang di langit malam. Tak pernah ada kata bosan untuk mengunjungi merbabu. Meskipun terkadang aku merasa lelah karena harus menapaki jalur merbabu via wekas yang sangat menguras tenaga, namun bagaimana caranya kamu menghentikan orang yang sedang jatuh cinta? menasihatinya saja merupakan pekerjaan yang sia-sia. 

Pertama kali aku mengenal merbabu ketika tahun 2014. Saat itu aku bersama teman kuliahku yang di UII, sekitar empat orang mendaki merbabu via cunthel. Cunthel merupakan jalur merbabu yang terletak di daerah Kopeng, sama seperti Thekelan, Gancik, dan Wekas. Setelah itu, aku benar-benar jatuh hati terhadap merbabu. Dari beberapa jalur yang tersedia, sejatinya aku sudah pernah mencobanya semua kecuali Thekelan dan Gancik. Jalur yang sering aku lewati ketika mendaki merbabu adalah Wekas. Memang, jalur ini berhasil membuatku merasa nyaman. Mata airnya yang melimpah di pos 2, pertigaannya yang sangat terbuka, jembatan setan, serta bukit-bukit yang selalu memanjakan mata berhasil membuat lemari ingatanku mengosongkan tempat khusus untuk merbabu via wekas.

Merbabu via wekas meninggalkan kenangan yang sangat indah bagiku, terutama pada tahun 2015 pada awal tahun. Saat itu aku sedang mendaki merbabu via wekas bersama tiga temanku, Robbi, Tyok dan Dandha. Pendakian tersebut benar-benar sangat menyebalkan karena kami harus melawan hujan yang sangat deras sepanjang pendakian. Bahkan saat mendirikan tenda di pos 2 hujan masih saja turun dengan deras sehingga kami mendirikan tenda seadanya. Setelah itu, di dalam tenda air pun pada masuk ke dalam tenda sehingga kami tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Semalaman kami melawan badai yang kencang. Di pagi hari cuaca pun tidak terlalu bagus karena kabut menyelimuti merbabu. Kami pun memutuskan untuk mendaki sampai pertigaan saja. Pertigaan yang aku maksudkan adalah pertigaan dengan tempat yang sudah terbuka. Apabila ke kiri kamu akan menuju ke tower pemancar, sedangkan apabila ke kanan kamu akan menuju ke puncak. Sampai di pertigaan kami langsung turun lagi dan bersiap-siap untuk pulang.

Pengalaman yang paling menarik dari pendakian merbabu via wekas tahun 2015 adalah ketika aku hendak turun dari basecamp dengan menggunakan motor. Pada waktu itu aku dan Robbi satu motor dari basecamp. Jalanan dari basecamp ke jalan raya berupa turunan yang cukup tajam. Aku dan Robbi menggunakan motor matic ketika turun. Pada awalnya tidak terjadi apa-apa. Namun di tengah perjalanan tiba-tiba motor yang kami naiki blong remnya dan mesin tidak bisa dinyalakan. Seketika kami pun panik dan bingung harus bagaimana. Di depan banyak sekali anak kecil dan motor kami melaju dengann kencang. Mukaku sangat pucat dan yang aku pikirkan pada waktu itu adalah selamat. Motor melaju kian kencang dan sangat sulit untuk menghentikannya. Hingga pada akhirnya Robbi menabrkan motor tersebut ke sawah milik warga dan aku pun terpental jauh. Seketika itu pula aku amnesia ringan dan lupa dalam waktu beberapa menit.

Di atas adalah sedikit cerita flashback ketika melakukan pendakian merbabu via wekas. Kemarin, aku kembali melakukan pendakian merbabu via wekas. Sesaat setelah sampai basecamp memori ingatan ini langsung bertebaran dimana-mana. Masih teringat dengan jelas tempat dimana aku dan Robbi jatuh di sawah milik warga serta rumah warga yang menolongku kala itu. Di setiap sudut merbabu via wekas, otakku tidak henti-hentinya bekerja untuk mengingat semua kejadian yang ada di sini beberapa tahun lalu. Kini aku akan kembali menapaki jejak kenangan yang sangat indah.

Hari Sabtu tanggal 6 Juli 2019 aku dan enam temanku, Kumoy, Ajat, Harish, Rais, Gogon dan Anam melakukan pendakian merbabu via wekas. Kami sampai di basecamp wekas sekitar pukul 13:00 WIB. Sesampainya di sana kami bergegas melakukan packing ulang dan mengisi perut agar tidak kosong. Lantas kami pun memesan nasi rames di rumah warga dan makan dengan lahap.

Perut sudah terisi, namun tampaknya ada suatu masalah yang mengisi pikiran. Usut demi usut ternyata kami lupa membawa senter. Mau tidak mau kami harus menyewa senter di area basecamp. Untung saja, kami mendapatkan headlamp dan baterai sehingga kami tidak akan melawan gelapnya malam di gunung nanti. Setelah semua barang telah beres, kami bergegas melakukan pendakian tepat jam 14:15 WIB. 

Jalur awal dari  basecamp

Foto dulu sebelum mendaki
Jalur awal lumayan menanjak dengan struktur aspal. Jalur seperti ini merupakan jalur yang membuatku sebal. Namun tidak apa, di sekitar sini banyak sekali sawah milik warga yang ditanami berbagai jenis tumbuhan. Pemandangan ini membuatku melupakan jalur aspal ini. 

Setelah sekian lama aku tidak melewati jalur wekas, banyak sekali perubahan yang telah terjadi di jalur pendakian. Salah satu yang paling terlihat adalah jalur menuju makam yang sudah dialokasikan ke jalur lain. Kali ini jalur belok kanan dan menuju ke Top Selfie. Di sana ada plang yang menunjukkan kalau lurus menuju makam dan belok kanan menuju Top Selfie. Benar saja, perubahan yang terjadi di sini sangat drastis. Tak mau kalah dengan jalur tetangga, yaitu cunthel yang ada top selfienya, kini di wekas pun ada top selfie yang memiliki pemandangan langsung gunung andong.

estimasi waktu pendakian

spot foto

Merbabu pass
Kami istirahat sejenak di sini sembari menikmati pemandangan kabut. Sedari tadi memang kabut menguasai langit sore ini. Tak apa, semoga nanti kabut ini akan mengalah dengan sinar senja. Puas istirahat, kami bergegas menapaki langkah kembali menuju ke pos 1.

Jalur menuju pos 1 terbilang belum terlalu terjal. Jam masih menunjukkan pukul 15:00 WIB. Kami pun berjalan santai dan menikmati jalur yang ada. Tak terasa kami sampai di pos bayangan 1.

pos bayangan 1
Langkah demi langkah terus diayun, hembusan nafas sudah semakin terengah-engah. Di atas langit sana kabut semakin menipis dan digantikan oleh sinar senja. Kami pun tiba di pos 1 dan istirahat sebentar untuk menunaikan sholat ashar. Di pos 1 terdapat shelter yang dapat dijadikan tempat duduk. Selesai istirahat kami kembali melakukan pendakian. Dari pos 1 ke pos 2 jalur sudah mulai lumayan terjal sehingga aku harus bersiap-siap untuk menepis segala berita hoax seperti "pos  2 tinggal 5 menit lagi".




Sepanjang jalur menuju pos 2 banyak sekali paralon sehingga kamu harus berhati-hati dalam mengambil langkah. Paralon ini merupakan aliran mata air yang menuju ke pos 2. Semakin kencang suara gemericiknya maka semakin dekat dari pos 2. Jalur terjal di sore hari sangat menguras tenagaku. Untung saja, di atas cakrawala sana senja sedang tersenyum memperhatikanku di bawah sini. Sinarnya membuat rasa lelahku hilang seketika walaupun sebenarnya masih lelah. Beruntunglah bagi siapa saja yang dapat menikmati senja dari atas gunung. Sangat syahdu dan merdu. 



Perlahan-lahan kami melanjutkan langkah untuk sampai di pos 2. Di pos 2 nanti kami akan mendirikan tenda dan istirahat sebelum nanti melakukan summit ke puncak. Jalur pun sudah mulai datar dan rapat oleh tanaman. Apabila sudah seperti itu maka pos 2 sudah dekat. Benar saja, akhirnya kami sampai dengan pos 2 yang sangat luas dengan mata air yang melimpah. Dari sini, aku masih dapat melihat senja yang sebentar lagi akan hilang dari cakrawala.



Sampai di pos 2 kami langsung mendirikan tenda karena cuaca sudah sangat dingin. Waktu itu sekitar pukul 18:00 WIB kami sudah tiba di pos 2. Dua tenda pun dirikan berhadapan agar terlihat hangat. Sayangnya satu tenda kami harus mengalami masalah karena framenya sudah patah. Walaupun begitu temanku yang sangat kreatif, Anam, langsung membetulkan tenda tersebut dengan pasak jeruji dan akhirnya tenda dapat berdiri dengan kokoh. Tenda dan flysheet sudah dipasang, lalu kami memasak makanan untuk dinner. Malam itu kami memasak sosis dan bakso goreng, sop bakso, mie serta nasi. Alhamdulillah, menu malam ini benar-benar sangat menggoda dan menggairahkan nafsu makan.



Sehabis makan rasa kantuk pun menyerang kami. Tepat pukul 21:00 WIB kami bersiap-siap untuk tidur sebelum melakukan summit pada jam 03:00 WIB. Di  atas sana, bintang-gemintang bersinar sangat terang dengan jumlahnya yang tak terhingga. Bagian inilah yang aku sukai dari naik gunung ketika cuaca cerah. Kamu dapat bersantai di luar tenda sembari menatap langit dengan hiasan bintang yang tersebar dimana-mana. Bahkan terkadang kamu bisa melihat bintang jatuh dari bawah sini. Ah, indahnya hotel bintang tak terhingga. Oh ya, sebelum tidur aku menyempatkan diri untuk keluar tenda sejenak dan kencing lalu melihat bintang di atas sana.

Kami pun terbuai dalam mimpi masing-masing dan membiarkan angin berdiskusi di luar sana.

Tepat pukul 02:30 WIB kami bangun dan bersiap-siap untuk melakukan summit. Di luar sana udara sangat dingin sehingga membuat rasa malas semakin tinggi. Sebelum melakukan summit, kami membuat susu, mie dan packing perbekalan makanan untuk dibawa waktu summit. Setelah semuanya beres, kami lalu keluar tenda dan menikmati udara angin pada dini hari. Ah, dinginnya. Kendati demikian, bintang di atas sana masih setia menemani kami di pos 2 merbabu wekas ini.

Jalur dari pos 2 ke pos 3 lumayan terjal. Kali ini banyak pasir yang menghiasi jalur sehingga debu membuat hidung tidak enak. Mendaki pada dini hari bagiku lumayan enak. Rasa dingin perlahan-lahan hilang karena kita bergerak dan tidak terlalu boros air. Untung saja pada waktu itu cuaca benar-benar sangat bersahataban sehingga angin tidak terlalu kencang.

Hal yang paling aku sukai ketika mendaki pada dini hari dan cuaca bagus adalah pemandangan atas dan bawah sama-sama terang. Atas yang aku maksudkan adalah bintang, sedangkan bawah adalah lampu-lampu kota. Dari sini, pemandangan tersebut sudah terlihat dengan jelas. Perlahan-lahan kami melanjutkan pendakian untuk menuju  pertigaan. Sebentar lagi jam menunjukkan pukul 05:00 WIB. Kami pun mencari tempat datar untuk menunaikan sholat subuh.

Dari tempat sholat subuh, pertigaan sudah tidak jauh dan terlihat dari sini. Sesampainya di pertigaan, kami langsung disuguhkan dengan pemandangan sunrise yang sangat indah di samping bukit hijau. Sedang di belakang kami sindoro sumbing menyapa dengan indah seraya melambaikan tangannya dan berucap, "selamat pagi manusia". Ah, di pertigaan inilah pertama kalinya aku merasa jatuh cinta terhadap merbabu via wekas.




Hadirnya mentari berhasil menghangatkan tubuh dan kenanganku di merbabu via wekas. Semua kenangan di sini perlahan-lahan mulai bermunculan dan keluar dari pikiran, hendak terbang kemana dan aku hanya berdiam diri di sini menikmatinya seraya memandangi ciptaan Tuhan yang sangat indah. Mulut tetap tak bisa berkata apa-apa, sedang pikiran sibuk merekam segala kejadian yang berada di sini.

Seusai puas dengan pemandangan yang indah di pertigaan, kami melanjutkan pendakian menuju puncak kecuali aku. Aku sendiri lebih memilih untuk turun lagi ke pos 2 karena merasa capek. Sebelumnya aku sudah melakukan perjalanan ke Yogyakarta sehingga aku tidak ingin memaksakan fisik dari tubuhku.

Dari pendakian ini aku benar-benar memahami kalimat "Tujuan dari mendaki itu bukanlah puncak, melainkan pulang dengan selamat". Sebenarnya aku ingin sekali ikut menuju puncak bersama temanku. Namun aku tidak mau memaksakan fisikku sehingga aku memutuskan untuk turun lagi ke pos 2. Banyak sekali pendaki yang memaksakan kehendak untuk menuju puncak, padahal puncak itu sendiri sudah ia dapatkan ketika berhasil menguasai diri mereka sendiri. Puncak tidak akan kemana-mana, jadi tidak perlu khawatir. Khawatirlah terhadap jodohmu yang kemana-mana. Ups.

Sekian cerita perjalananku kali ini, semoga bermanfaat untuk yang membaca. Terima kasih karena telah berbagi rasa di blogku. Sampai jumpa, salam lestari!.


Jalan-Jalan ke Desa Wisata Gamplong yang Terkenal Dengan Tempat Syuting Film

Liburan memang hal yang sangat menyenangkan. Setiap kali liburan hati dan pikiran manusia selalu saja tenang walaupun selanjutnya otak akan merasa bingung karena saldo di ATM sudah harus segera diisi. Kendati demikian, rasa puas dan lelah saat liburan akan selalu terkenang sampai nanti sudah tua. Dengan dalih begitu, maka tidak heran apabila selagi masih muda ada baiknya berjalan-jalanlah sejauh mungkin agar di masa tua kamu mempunyai cerita yang sangat bagus untuk cucumu kelak. Banyak yang bilang bahwa travelling merupakan investasi batin yang sangat bagus. Untuk itu aku melakukan travelling selagi masih muda.

Setelah berjalan-jalan ke Pacitan (yang belum aku ceritakan di blog) serta ke gunung Mahameru (lihat ceritanya untuk bagian 1 dan bagian 2), tampaknya rasa keinginanku untuk liburan belum juga pudar. Memang travelling selalu membuat rasa ketagihan di dalam diri muncul secara terus-menerus. Mau tidak mau aku harus memuaskan batin lagi agar rasa penasaranku tidak meronta-ronta dengan sadis. Akhirnya setelah mempertimbangkan beribu hal, maka aku memutuskan untuk traveling kembali ke Jogja, kota penuh kenangan. Memang, kota ini benar-benar sangat sukses menghipnotis para pengunjungnya untuk selalu datang kembali, lagi dan lagi. Kota dengan beribu wisata di dalamnya membuat para wisatawan tak cukup hanya satu hari saja untuk mengunjungi berbagai wisata di Jogja. Aku termasuk orang yang merasa demikian sehingga tak ada rasa bosan untuk kembali mengunjungi Jogja. 

Di cerita travelling kali ini, aku akan mengunjungi sebuah tempat yang baru-baru ini sangat terkenal di kalangan wisatawan. Tempat wisata tersebut terkenal  karena baru saja dibuat untuk tempat syuting tiga film Indonesia, yaitu Bumi ManusiaHabibie Ainun dan Sultan Agung. Setahuku tiga film itu baru saja melakukan syuting di tempat wisata ini. Berkat dijadikan tempat syuting film, tempat wisata ini  sangat diminati oleh wisatawan sehingga banyak pengunjung yang berdatangan untuk sekadar hunting foto. Dengan begitu, maka rasa penasaranku untuk datang ke tempat wisata tersebut semakin tinggi. Tempat wisata ini bernama Gamplong studio alam yang terletak di desa wisata Gamplong.

Perjalanan Menuju ke Lokasi

Desa wisata Gamplong terletak di Dusun Gamplong, Desa Sumber Rahayu, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berjarak sekitar 16 kilometer dari titik nol Yogyakarta, desa Gamplong tentu cukup jauh untuk ditempuh dari kota Jogja. Aku menggunakan kendaraan roda dua untuk menuju ke desa Gamplong. Bermodalkan google maps, aku pun pergi ke desa wisata Gamplong dari daerah UGM. Perlu waktu sekitar 40 menit waktu itu sehingga aku sampai di desa wisata Gamplong. Setelah sampai di tempat, aku pun sudah melihat benteng-benteng yang menjulang tinggi seperti pada masa kolonial. Dari tempat parkir, aku menuju ke tempat loket untuk masuk ke dalam.

Sampai di Lokasi

Tempatnya sudah ramai oleh pengunjung. Aku pun tampak antusias untuk segera masuk ke dalam. Di loket, aku hanya membayar seikhlasnya saja lalu membayar Rp.5.000 untuk permit card karena aku dan pacarku membawa kamera. Memang untuk memasuki desa wisata Gamplong apabila kamu membawa kamera maka kamu harus mempersiapkan uang sebesar Rp.5.000. Namun baru-baru ini akun instagram desa wisata Gamplong, @gamplong_studio memposting bahwa untuk permit card  harus membayar sebesar Rp.10.000 per tanggal 01 Juli 2019. Setelah melalui berbagai administrasi, aku pun bergegas masuk ke dalam.


rumah gubug




Begitu masuk kamu akan menemui pemandangan rumah-rumah gubug yang sangat unik sehingga membawamu kembali ke masa lampau. Rumah dengan arsitektur lama tersebut cukup memanjakan mataku sehingga tak heran aku mengambil beberapa foto di sini. Setelah puas dengan keadaan di rumah gubug, maka aku kembali melanjutkan perjalanan.

Rumah gubug pun ternyata hanya permulaan saja. Setelahnya kamu akan menemui perumahan kumuh yang membuat kamu terbawa suasana di dalamnya. Cuaca panas pun tidak menghalangiku untuk mengambil beberapa foto di sekitar perumahan kumuh karena tempatnya cukup instagramable. 

Dokumentasi Pribadi

Dokumentasi Pribadi


Dokumentasi Pribadi
Nah setelah puas menikmati perumahan kumuh, baru kamu akan dimanjakan oleh bangunan-bangunan bernuansa khas Eropa. Bangunan-bangunan di sekitar sini sangat bagus sekali dan dapat memanjakan mata kamu. Di sekitar bangunan sini juga terdapat beberapa warung yang menjajakan makanan dan minuman sehingga kamu tak perlu takut akan lapar dan haus. Selain itu, di sekitar sini juga ada mushola dan toilet. Bangunannya benar-benar membuatku sangat takjub, seperti berada di masa kolonial. Aku jadi menerka-nerka dimana tempat terjadinya syuting film Bumi Manusia. Apakah gedung ini merupakan perusahaan Wonokromo milik Tuan Herman Mellema? Apakah rumah dengan desain Tiongkok tersebut merupakan tempat plesiran milik babah Ah Tjong? Ah, terlalu banyak pertanyaan ketika berada di sini.

suasana di dalam desa wisata gamplong

ada rel keretanya guys


numpang narsis sis

hanya untuk properti


rumah merah yang di dalamnya terdapat warung

Di sini pun terdapat kereta yang dapat kamu tumpangi. Namun aku tidak tahu apakah untuk naik kereta tersebut membayar atau tidak. Keretanya hanya berjalan satu jalur dan maju mundur saja seperti Syahrini.

penampakan kereta
Puas sekali rasanya melakukan aktifitas hunting foto di sekitaran tempat ini. Gamplong studio merupakan studio alam yang dibangun oleh Hanung Bramantyo. Tempat ini juga bisa dijadikan sebagai tempat wisata edukasi bagi para pengunjung sehingga tak hanya foto saja yang mereka dapatkan, melainkan pengetahuan. Rasanya sungguh senang bisa dapat mengunjungi tempat sebagus ini. Hanung tentu merupakan sutradara film terkemuka yang ada di Indonesia. Dengan studio yang ia miliki ini, maka ia telah menyumbangkan sesuatu yang baru dalam dunia wisata. Maju terus dunia perfilman dan dunia wisata di Indonesia!.

Harga Tiket Masuk

Permit card: Rp.10.000 per 01 Juli 2019
Bayar seikhlasnya: waktu itu aku membayar Rp.15.000
Parkir: Rp.3.000
Bawa uang lebih karena banyak jajanan di dalamnya.

Kamu dapat mengunjungi instagram @gamplong_studio untuk melihat spot-spot mana saja yang bagus dijadikan foto dan di upload di instagram.
Back To Top