Perjalanan Adibio: Perjalanan Rasa | Kelana Lara Perjalanan Adibio: Perjalanan Rasa

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Friksi Menggelitik

Ketika emosi sedang bergema di ruang hati, ketika luapan amarah lebih megah ketimbang gedung-gedung yang ada di ibukota. Tak ada yang lebih buruk daripada termakan emosi diri dan tenggelam di dalam lautan ego. Bertubi-tubi cacian, makian, hingga kata-kata sumpah serapah yang tidak seharusnya diucapkan lambat laun menjadi suatu kebiasaan. 

Marah tidak menyelesaikan masalah, katamu.
Sudahlah, manusia memang besar ego, kamu tidak salah, dia yang salah, kata pemuja benci
Hati-hati pada setiap perkataanmu. Sebab tak ada yang lebih tajam ketimbang lidah yang digunakan sembarangan, kata pemuja cinta.

Perlahan-lahan, ragaku terbang mengudara bersama burung merpati. Melihat dari kejauhan seseorang yang sedari tadi menyesal atas apa yang telah dia lakukan. Mengais-ngais sisa kata-kata yang berserakan, mengumpulkannya menjadi sebuah tulisan, lalu memajangnya di dinding ataupun di dunia maya. Aku tak tahu apa yang sedang ia tuliskan, barangkali kata-kata penyesalan yang begitu mendalam. Entahlah. 

-------------

Di bawah naungan persatuan, di cakrawala bangsa, terjadi pertikaian di berbagai sudut negara. Masalah-masalah selalu membuat resah rakyatnya, terutama bagi sang presiden sendiri. Di setiap harinya, muncul satu masalah yang bisa dijadikan bahan perbincangan bagi semua rakyat. Masalah-masalah tersebut berbagai macam bentuknya, mulai dari masalah mengenai bu Sumiyati yang mencuci di sungai namun bajunya sering kelintir, mengenai tukang jual dawet yang memakai kata 'anying' di setiap promosinya, hingga masalah yang sangat sepele seperti kenapa rambut Atta Halilintar sering berganti warna. Masalah terus berganti seperti warna rambut Atta Halilintar, hingga sampai akhirnya tak ada yang peduli dengan masalah yang terjadi karena sudah terbiasa. Bahkan tak jarang banyak sekali kalimat-kalimat "Ayo bertengkar, saya tidak suka diselesaikan secara kekeluargaan", atau "saya haus akan keributan" terlontar di sosial media. 

Yang fana hanyalah persatuan, pertikaian yang abadi. Begitu jika boleh mengutip dari kata-kata sastrawan terkemuka. Bangsa kita haus akan pertikaian, tidak heran apabila persatuan saat ini menjadi barang langka. Pertikaian itu tidak hanya datang dari skala yang besar seperti negara, bahkan sepasang kekasih yang tinggal di negara tersebut kerapkali mengalami pertikaian. Tak sedikit pertikaian yang terjadi dari sepasang kekasih, hampir setiap hari ada 1697 hati yang tersiksa akibat pertikaian yang terjadi dari sepasang kekasih di negara ini. Sudah terjadi pertikaian di antara rakyat, juga terjadi pertikaian di antara sepasang kekasih. Habis sudah negeri ini dimakan oleh ego masing-masing rakyatnya. 

-------------

Jelas sudah, aku menuliskan serangkaian kata penyesalan yang begitu mendalam. Aku memahami, bahwa ego tak seharusnya menguasai jalan pikiran kita. Ego memakan apa saja yang selama ini telah kita bangun, menghancurkan apa saja yang selama ini kita impikan. Sadarlah, bahwa ego hanya akan membawa kita kepada kehancuran. Tenanglah, bahwa ada yang lebih indah dari mengedepankan ego, yaitu sebuah persatuan. Apa yang kita tanam, itulah yang kita petik. Apa yang kita impikan saat ini, suatu hari nanti akan terwujudkan. Junjung tinggi persatuan, tanamkan rasa persaudaraan. Sebab, manusia tak ada artinya jika hanya memberi makan ego saja.



Semarang, 11 November 2018
Adibio

gambar hanya untuk thubmnail saja, representasi dari santai

Katakan Rindu

Jangan katakan rindu pada saat bintang sedang semu. Sebab pada banyaknya bintang di alam semesta aku menaruh rindu kepadamu.

Jauhnya jarak membentang acapkali membuat intensitas rindu kian tinggi. Hanya saja aku tak sempat menikmati kabut di gunung terlebih dahulu sebelum rindu mencekamku, dingin dan ingin saling beradu ; dinginnya rindu selalu menciptakan ingin untuk bertemu. Barangkali rindu singgah di setiap harinya saat kamu sedang tak mengisi hari-hariku, berduyun-duyun datang menerpa pemikiran kosongku, mengais kata-kata yang berserakan di pojok kamarku. Aku selalu menyebut namamu dengan nama yang berbeda saat sedang rindu. Belajar dari bisikan malam yang merindukan angin, setiap bisikan malam berbeda saat sedang rindu dengan angin. Malam selalu berbisik tentang hal yang indah di alam semesta, tentang dirinya yang dihiasi  oleh bintang-bintang. Rasanya merindukanmu adalah hal terbaik yang aku miliki saat ini, saat kamu sedang jauh dariku. 

Barangkali kata kangen yang kita ucapkan jumlahnya lebih banyak dari bintang di malam hari.

Hari-hariku dilalui tanpa bersamamu. Adalah hal yang menyebalkan apabila menghitung hari-hari saat sedang tidak bersamamu, terasa lama sekali. Ah, memang selalu saja, penghitungan tak membuatku kian tenang, justru membuatku semakin gamang. Sebaliknya, menunggu hari-hari saat bersamamu adalah hal yang menyenangkan bagiku. Tak ada hari-hari yang lebih indah saat menunggu kehadiran seorang kekasih. Ia selalu membayangkan saat nantinya akan jumpa lagi, mengisi waktu bersama, bermain dan bercanda tawa, sedang waktu hanya tersenyum melihat sepasang dua insan saling beradu rasa. 

Waktu tak mungkin begitu kejam mempercepat pertemuan dua insan tersebut. Siapa yang dengan teganya membiarkan sepasang kekasih hanya berbahagia sebentar dan kembali merasakan rindu di dalam kamar? Ah, alangkah egoisnya sang waktu. Nyatanya, sepasang kekasih tersebut terpaksa digiring oleh waktu terhadap pertemuannya yang pertama setelah sekian lama tak jumpa, digiring dengan sangat cepat dan merasakan rindu kembali dengan sangat lambat. Bukankah hal yang paling menyiksa adalah merasakan sesuatu dengan sangat lambat?.

Di tengah-tengah kesibukan malam kota, tepatnya di jantung kota sepasang kekasih sedang menikmati kata-kata dan merangkainya agar dapat dikenang untuk selamanya.

Ruang dan waktu menjadi musuh terbesar saat ini, saat kita sedang berada pada tempat yang berbeda namun merasakan waktu yang sama. Aku berharap teori ruang-waktu benar-benar ada, kita dapat hidup pada beberapa minggu yang lalu dan mengulang kembali kenangan-kenangan yang telah kita lalui. Namun betapa naifnya diriku apabila hal itu benar terjadi, bukankah lebih indah apabila melakukan hal yang lebih baik pada minggu kedepannya? membuat kisah lagi dan menceritakannya menjadi sebuah paragraf? Walau begitu, aku tetap membenci keadaan ruang dan waktu yang sedang menguasai. 

Bodohnya manusia yang menyalahkan waktu jika kebahagiaan saja hanya terpaku dalam satu waktu.

Setidaknya kamu masih dapat menikmati rangkaian kataku saat aku sedang rindu. Dokter manapun tak akan menemukan obat rindu. Untuk itu, aku menulis tentangmu agar dapat kamu baca dan mengobati rasa rindu, barang satu menit.

Jangan katakan rindu pada saat bintang sedang semu, katakanlah setiap waktu. 

Kabut telah mengajariku satu hal penting : Walau rindu terasa dingin dan pekat seperti kabut, namun tetap saja hal itu menciptakan rasa ingin untuk bertemu kembali.




Patah Hati Akan Terobati

Tepat saat benderang lampu kota meredup, bayang senyumanmu masih derup ; membangkitkan malamku yang terasa sunyi.

Semenjak kamu hadir di dalam hidupku, segalanya terasa begitu menyenangkan. Kebahagiaan tak pernah aku definisikan sekian rupa, kesenangan selalu hinggap begitu saja, dan kesengsaraan tak berani menunjukkan wujudnya. Kamu menjelma bagai adagium yang tak sempat aku artikan, hingga pada akhirnya aku menikmati setiap larik kata yang tercipta dari adagium tersebut. Entahlah, sejak kapan aku menyukai susunan kata yang terangkai dengan suasana hati yang tenang, sedang biasanya aku merangkai kata dalam keadaan muram. Patah hati selalu mengajarkanku bagaimana kehidupan hanya tentang yang pergi dan tak kembali, yang hilang dan yang tersisa hanyalah sebuah bayang. Hingga waktu terus menganggapku bagai manusia yang sia-sia, aku belajar tentang arti kata patah hati. Bahwa patah hati hanya tentang memahami kepergian dan tak menyalahkan perpisahan, memaknai kehidupan dengan sebuah tulisan, hingga mengabadikan seseorang yang telah berbagi cerita dengan kita.

Dan saat bintang bercengkrama tanpa arah, saat kabut menunjukkan arah, aku tersadar bahwa melihat dari perspektif lain adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dibanding hanya satu perspektif saja.

Kamu datang membawa secangkir cerita yang penuh tawa, aku mencoba merangkainya menjadi sebuah kalimat demi kalimat hingga cerita kita akan terabadikan. Senyumanmu menghiasi sela-sela larik kata yang sengaja aku buat jeda. Di pelupuk matamu, aku sengaja menaruh rindu agar setiap kali kita bertatapan aku membiarkan rindu menjadi juru bicara perasaan. Memang sulit rasanya beranjak dari kebiasaan muram yang selalu menjadi inspirasiku saat malam, namun aku terus mencoba bagaimana merangkai kata dalam keadaan tenang, seperti saat ini, saat lampu kota mulai meredup.

Aku selalu ingat bagaimana kamu mulai menyunggingkan senyum di bibirmu. 
Aku selalu ingat saat kamu baru saja lupa hal yang baru saja aku ceritakan.
Aku selalu ingat apapun yang kamu lakukan.

Bagi seseorang yang kerapkali menerima patah hati, hal seperti ini tentu saja menjadi sebuah hal baru yang menghiasi hidupnya. Canda tawa yang melebur bersama angin malam, cerita tentang kehidupan, dan bintang yang selalu menghangatkan bumi pada malam hari. Entah sudah berapa kali kamu merasa patah hati, suatu hari nanti akan ada seseorang yang bersedia mengisi hari-harimu. Kehidupan memang sulit untuk ditebak, kapan kamu akan tertawa terbahak-bahak dan kapan tangismu akan tersibak. 

Kamu adalah jeda kalimatku yang terangkai indah dengan tenang. Jika boleh bilang, hadirmu lebih terang dan menghangatkan dibandingkan bintang pada malam hari. Malam-malamku tak lagi berhias dinding ratapan dan bayang-bayang kenangan, karena kali ini lemariku sudah siap  menampung segala cerita yang menyenangkan. Tolong ingatkan aku, bahwa ada satu hari saat hembusan angin dan suara-suara bising kota telah menyadarkan aku bahwa kamu ada di bumi ini, aku bersyukur kepada Tuhan. Terima kasih.

Lalu, cerita-cerita kedepannya akan selalu tertuang lewat kalimatku dengan tenang. Tak ada lagi muram, atau malam yang kejam. Setiap hari, kamu akan terabadikan lewat kata-kata.



Di Suatu Tempat Saat Bintang Meredup.

Kabut telah sengaja menutupi sebagian penglihatanku sedari tadi. Sementara aku terus berjalan menelusuri pekatnya malam tanpa ada gemerlap bintang yang menerangi jalanku. Tapak demi tapak telah aku lalui, pendakian gunung selalu menyajikan hal-hal baru yang tak aku sangka-sangka. Setiap langkah menghadirkan beribu pengalaman dan kenangan yang siap untuk disimpan dalam memori ingatan. Barangkali di setiap pendakian tak pernah ada cerita yang ingin dituntaskan, segala cerita selalu berkepanjangan seiring menjalani kehidupan. Senja sedari tadi telah larut bersama ganasnya cakrawala, siluetnya tak nampak sedikit saja, aku tak tahu tentang itu. Mungkin saja, senja selalu pergi agar ia dicari oleh seluruh pengagumnya. Apa kau tak setuju? bukankah setiap hari senja memang begitu, sengaja pergi agar ia dicari?. Mataku terpaku oleh jalanan yang ingin ku lalui di  depan, aku takut jikalau salah langkah, bisa saja aku kehilangan arah dan terjebak bersama halusinasi semesta yang membuatku buta. Peneranganku hanya sebatas senter dan sesekali sinar rembulan yang menelusup masuk ke dalam hutan-hutan, selebihnya aku mengutamakan insting malam hariku. Kau tahu, gunung tak melulu soal ketakutan di tiap pandangan mata, ia terlihat lembut dan manis jika kita berhasil menyatu dengan iringan melodinya. Malam hari pun, gunung nampak bersahabat, semesta nampak lekat. Kita hanya takut akan hal yang belum pernah kita lalui, sama halnya seperti seseorang yang belum pernah mencoba. Ku langkahkan kaki demi kaki, pemandangan di bawah sana begitu menyegarkan pandangan mata--rentetan lampu kota, pendarnya menyilaukan mata. Aku takjub, barangkali aku masuk ke dalam dimensiku sendiri. Setelah itu, aku beristirahat sejenak sembari ditemani oleh pemandangan kota yang indah dan juga angin yang berhembus lumayan kencang. Sayangnya, tak ada bintang di langit sana, barangkali mereka sedang berperang memperebutkan kekuasaan.

Di bawah cakrawala langit malam dan di atas pendarnya cahaya kota yang temaram, diriku berdamai dengan suasana sekitar, seolah-olah menyatu dengan nyanyian semesta. Entah apa  yang aku rasakan, jika boleh aku katakan, saat itu aku sedang belajar berdamai dengan diri sendiri, dengan dibantu oleh semesta. Menikmati setiap alunan angin yang berhembus, hembusan tersebut seolah-olah mengeluarkan alunan musik kesukaanmu. Tanpa kamu minta, semesta tahu apa yang kamu inginkan. Hingga perlahan, ragamu lebur bersama nyanyian semesta, lebih dalam lagi, lebih dalam lagi, lalu tak terasa kau sedang belajar  berdamai dengan diri sendiri--bayangan hitam lenyap, ragamu senyap.

Kini, kau tak perlu cemas dengan segala hal yang membuat pikiranmu terkuras. Hilangkan saja, berdamailah dengan dirimu terlebih dahulu--entah dengan cara apapun. Jika sudah, maka selesaikan perpecahan yang terjadi di luar sana, tak perlu berlama-lama, karena ragamu telah berdamai, rasanya sudah pasti tak perlu repot-repot untuk menyelesaikan masalah yang ada di sekitar. Yang salah dari kebanyakan orang sekarang adalah, mereka lupa bahwa masih ada perpecahan yang terjadi dalam tubuh mereka, sehingga saat mereka sedang ingin menyelesaikan masalah di luar sana, justru yang ada bukan masalahnya yang terselesaikan, melainkan perpecahan yang terjadi di dalam tubuhnya menjadi berkepanjangan. Selanjutnya, maka permasalahan yang ingin ia selesaikan akan menjadi runyam, ia pun akan menjadi lebih suram. Dampak yang terjadi bukan hanya untuk dirinya saja, melainkan untuk orang-orang di sekitarnya. Salah sedikit berkata di media sosial akibat belum berdamai dengan dirinya sendiri, hujatan demi hujatan pasti sudah siap untuk di lemparkan. Yang terjadi, perpecahan bukan hanya terjadi di dalam dirinya saja, melainkan di seluruh nusantara. Betapa mirisnya kejadian ini sering terulang berkali-kali di negara Indonesia. Perpecahan dimana-mana, persatuan sudah langka. Indonesia lama kelamaan akan hancur persatuannya kalau begini jadinya. Hanya karena engkau belum bisa berdamai dengan dirimu sendiri, bukan berarti engkau melampiaskannya ke semua orang yang ada di sekitarmu. Menyendirilah terlebih dahulu, rasakan apa perpecahan yang sedang terjadi di dalam dirimu. Rasakan, rasakan, dan selesaikan perpecahan tersebut. 

Berdamailah dengan dirimu sendiri terlebih dahulu, barangkali masih ada peperangan di dalam sana.

Bintang-bintang di langit belum juga menampakkan dirinya. Sudah lama aku ingin melihatnya dari gunung, melihat sirius mungkin,  atau canopus mungkin, atau rigel sekalipun. Aku tak terlalu paham akan bintang, namun aku ingin sekali mendalaminya satu per satu. Aku tak ingin kehilangan terangnya bintang saat senyumanmu sedang memudar, atau mungkin saja terang senyumanmu sudah pindah kepada bintang-bintang. Entahlah. Mataku menyapu sekitar, di atas masih ada jalur tinggi yang harus aku daki sebelum aku mendirikan tenda di sana. Ku mantapkan lagi langkah kakiku, mengayun bersama alunan angin, hingga tak terasa, sedikit demi sedikit diriku merasa damai--entah sesaat atau selamanya, aku tak peduli. Manusia selalu berusaha untuk berdamai dengan dirinya sendiri, percayalah padaku. 

Di atas sini, segala hal yang mencemaskan tak tampak. Hilang bersama kabut. Mengapung entah pada galaksi mana, lalu aku tak peduli keberadaannya. Hingga tak sadar, kecemasan selalu saja menjadi awal dari penghalang kebahagiaan. Kamu tak percaya? Marilah duduk bersamaku di atas sini, menikmati indahnya pemandangan di sekitar alam. Matahari terbit, kicauan burung, rerumputan syahdu, irama semesta, seduhan kopi, selalu belum sempurna tanpa adanya senyuman manismu.


Semarang, 11 April 2018
Adibio




Perpisahan Itu Biasa Saja

Secangkir kopi telah aku teguk. Malam ini nampaknya tak ada yang spesial. Tak ada bintang-bintang di langit, tak ada nyanyian merdu sang angin, juga tak ada hujan yang membasahi bumi. Hanya kopi dan kertas yang mendampingi diriku sejak sang senja telah pergi dari cakrawala. Sedari tadi, aku hanya melamun, tak mengerti harus melakukan apa dengan kertas kosong yang berada di depanku. Pikiranku terbuai oleh berbagai rasa yang harus aku tuangkan di atas kertas, namun apa daya, hatiku selalu saja tak bisa diajak bekerja sama setelah menuai berbagai perpisahan. Ya, aku sedang tak ingin menulis sesuatu di atas kertas tentang perpisahan, aku tak tahu harus mulai dengan kata apa, atau harus mengganti dengan kata apa untuk kata perpisahan. Aku memutuskan untuk membuat secangkir kopi lagi, lalu duduk di teras rumah sembari melamun, entah memikirkan apa.

Kau tahu, tak pernah ada pertemuan yang harus disesali, setiap pertemuan selalu membuahkan kesenangan, kebahagiaan, dan juga kenangan. Pertemuan sengaja diciptakan Tuhan untuk manusia agar saling berbagi rasa, bercanda dan tertawa, dan mungkin saja berduka lara bersama, saling mendengarkan keluh kesah dan kisah resah. Pertemuan tak pernah menghianati  manusia, baginya manusia merupakan hal  yang berharga saat manusia menyambutnya. Hingga sang mentari bersinar terang di langit bumi sampai kembali lagi ditelan bumi, banyak sekali pertemuan yang terjadi di bumi ini, bisa kau bayangkan, pertemuan tak pernah menolak tentang keberadaan manusia, ia sangat ramah menyambut hadirnya manusia. Bukankah mentari dan bumi pun mengalami pertemuan? Tentu saja, bumi ini sangat luas untuk menampung satu kata pertemuan yang bercabang menjadi berjuta kata. Pertemuan bahkan seringkali berkata,

"Adakah ruang untuk aku masuk ke dalam kehidupan manusia?aku ingin mengenal lebih jauh tentangnya, tentang makhluk yang luar biasa"

Hingga manusia mengalami banyak pertemuan. Berbagi cerita dengan siapa saja yang ia sapa, mengenal suka dan duka bersama, bercanda sesukanya, seterusnya hingga mereka saling bahagia satu sama lain. Aku sendiri, baru saja mengalami pertemuan yang sangat luar biasa. Beberapa bulan yang lalu, atau tepatnya dua bulan yang lalu aku mengalami sebuah mata kuliah yang biasa disebut oleh banyak mahasiswa KKN, iya KKN merupakan kepanjangan dari Kuliah Kerja Nyata. Pertemuan itu tentu seperti pertemuan-pertemuan pada umumnya, kita bertemu, bertegur sapa, berkenalan bersama, lalu berbagi rasa satu sama lain. Setiap hari kita bertemu, menuangkan beribu kisah di atas kanvas putih yang telah tersedia di langit malam. Begitu hari mulai tutup, kami berbagi cerita dan menumpahkannya di atas kanvas tersebut. Entah itu kisah suka, maupun duka. Bagi kami, langit malam pun terlihat indah walau tanpa bintang karena kanvas-kanvas yang berisi cerita kami telah terlihat begitu jelas setelah hari demi hari telah kita isi dengan berbagai cerita. Jadi, apabila kami butuh sebuah wadah untuk menuangkan keluh kesah, tinggal menatap langit malam, maka kanvas tersebut akan dengan senang hati membuka dirinya. Walau kami tahu, setiap malamnya selalu saja mendung dan turun hujan. Namun, tak menghalangi kami untuk tetap berbagi cerita di atas kanvas.

Pertemuan itu seperti halnya otak kita yang berpikir tentang batas alam semesta. Tak terduga dan selalu banyak kejutan.

Selain pertemuan dengan beberapa kawan KKN, pertemuan dengan warga masyarakat desa sekitar membuat kanvas kami lebih terisi banyak cerita. Para ibu-ibu PKK yang senantiasa membuat kami tertawa, murid-murid SD dengan tingkah lakunya yang sudah sedikit dewasa, dan seluruh warga desa yang bersedia menopang bahagia dan sedih kami di tempat mereka. Alangkah bersyukurnya kami pada waktu itu, pertemuan yang membuahkan sebuah kebahagiaan. Tak pernah terpikirkan, bagaimana pertemuan selalu menyenangkan.

Hingga datanglah sosok hitam pekat tersenyum halus, merayu pertemuan untuk segera hilang dalam peradaban manusia. Sosok tersebut diketahui bernama perpisahan.

Bumi ini sangat luas untuk menampung pertemuan, namun tak  bisa dipungkiri bahwa bumi terlalu sempit untuk sekadar diisi dengan pertemuan. Perpisahan hadir untuk menyeimbangkan itu, perpisahan hadir untuk mengajarkan manusia bahwa ada satu kata yang akan membuat hari-harinya menjadi sendu, yaitu rindu.

Perpisahan  ada bagi seluruh manusia yang meracik zat rindunya sendiri menjadi sedemikian rupa. 

Perpisahan tak  pernah disesali, seperti halnya pertemuan. Bukankah perpisahan sudah menjadi sahabat baik pertemuan semenjak dahulu kala?aku tahu itu saat sosok hitam pekat itu tersenyum halus seakan-akan tidak mau menyakiti sang pertemuan. Aku tahu itu, karena bagiku, perpisahan mengajariku banyak hal, tak terkecuali soal bagaimana merelakan tanpa harus rela, melepaskan tanpa harus lepas, dan menangisi tanpa harus menangis.

Jika boleh mengutip judul lagu dari Efek Rumah Kaca, bagiku perpisahan itu biasa saja. Kita tetap akan melewati berbagai perpisahan saat menemui pertemuan. Seperti halnya mentari, ia selalu bertemu dengan bumi dan berpisah dengan bumi di setiap harinya.

Malamku akhirnya sudah menunjukkan pukul  00.00 WIB. Kuputar lagu-lagu  Dialog Dini Hari, lagu oksigen menjadi favoritku saat itu. Lalu bergegas aku menuju kertas kosong tersebut, aku tulis beberapa kata agar kertas itu tidak merasa dihiraukan begitu saja.

Kata Pidi Baiq, "Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. 
Kataku, Perpisahan adalah waktu untuk manusia bergegas menjadi barista sendu, lalu meracik zat-zat rindu setiap waktu. Tak perlu meracik kopi, bagi barista sendu, rindu adalah hal terpahit sekaligus termanis dalam satu waktu.

Adibio,
Semarang, 15 Maret 2018.

bersama pak Kukuh, kepala desa idola kita semua



Waktu Hanya Ilusi

“Jejak-jejak bergemuruh kala datangnya malaikat pencatat kebaikan dan keburukan. Dihindarinya segala hal yang fana, lalu masuk ke dalam waktu yang nyata. Ah, betapa naïf nya dirimu menganggap waktu adalah nyata”. Tukas sang cakrawala jingga. Sembari disapunya langit-langit dari gelap gulita yang hendak menguasainya, cakrawala jingga rela bertuah sejenak kepadaku menjelang datangnya tahun baru. Katanya, agar tahun baruku berbeda dengan yang lainnya. Ah, bisa saja kamu cakrawala jingga, ada atau tanpanya petuahmu itu tahun baruku akan sama seperti yang lainnya ; berubah dari 17 menjadi 18. Tak mungkin ada yang langsung beranjak pada 19, kecuali ia memiliki doraemon.

Memang, semenjak perdebatanku dengan bintang Vega mengenai waktu, aku selalu beranggapan bahwa waktu itu adalah nyata. Entah, atas dasar apa aku berucap seperti itu pada bintang Vega, padahal Uskup Berkeley berpendapat bahwa waktu hanyalah ilusi. Mungkin saja, petuah cakrawala jingga sedikit menyinggungku soal opini yang sembrono mengenai waktu yang nyata. Setelah gema suara dari cakrawala jingga menghilang ditelan oleh pekatnya malam, aku mulai berpikir ulang mengenai perdebatanku  dengan bintang Vega.

Masih teringat tentunya, awal 2017 lalu aku memulainya dengan petualangan, yakni pendakian gunung andong. Dan sekarang, saat aku mengetikkan tulisan ini aku menyadari  bahwa sepertinya baru minggu kemarin atau bulan kemarin aku memulai tahun 2017. Seperti :

“Lah perasaan baru kemarin dah 2017 mulai”

Waktu memang ilusi, yang nyata hanyalah penyesalan-penyesalan yang kau buat sendiri melalui rayuan sang waktu. Ah, betapa bodohnya hidup di bawah rayuan sang waktu. Ketimbang rayuan sang waktu, aku lebih memilih merayu sang ratu, begitu ujar kata hatiku yang tak sempat merayumu kala itu—saat waktu sengaja mengulur-ngulur perpisahan atau mempercepat pertemuan.

Lantas, setiap jejak-jejak yang tertinggal di 2017 akan menjadi debu-debu yang berterbangan di luar angkasa, menyatu dengan bintang-bintang atau galaksi sekali pun. Jejak langkahku tak pernah terekam secara baik oleh ingatanku, terkadang ada yang terlepas begitu saja sebab waktu yang tak pernah mengerti aku. Cih, memang waktu tak pernah mengerti keadaanku, ia egois, sama seperti dirimu kala meninggalkanku.

Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berlalu. Aku tetap saja mengarungi lautan yang sama. Berputar-putar mencari kehidupan di luasnya lautan. Entah pulau seperti apa yang akan aku diami. Apakah akan ada penduduk sekitar yang akan mengeksekusiku seperti dalam film Pirates Of The Carribean? atau akan ada banyak pohon kelapa yang bisa diminum air kelapanya sembari menikmati pulau tersebut? Entahlah, aku hanya terus berputar-putar mengarungi lautan, sembari belajar bagaimana menjadi seorang pelaut yang handal. Mungkin saja, suatu saat aku akan menjadi bajak laut sekaliber Jack Sparrow. Sang penipu ulung, pengadu domba yang handal.

Tunggu sejenak, suara kembang api di luar rumah mengingatkanku pada hari lebaran. Apakah besok akan ada hari raya part 2? Tidak. Kembang api itu tanda datangnya tahun baru, yang jika dihitung dari saat aku menuliskan ini tinggal 16 menit lagi. Ah ternyata tahun sudah akan berubah menjadi 2018, waktu memang ilusi, dasar!. Aku tak bisa apa-apa saat ditawan olehnya. Harusnya, aku harus melakukan sesuatu saat ditawan, Pram saja dapat menuliskan buku-bukunya di pulau buru.

Dengarkan aku kekasih, akhir tahun tak melulu tentang perayaan. Barangkali kamu butuh kesunyian, datanglah kepadaku. Akan aku ceritakan bagaimana mentari hendak menyapa tahun baru esok hari. Mungkin, embun-embun nan mungil akan senantiasa melingkupi dataran tinggi, atau mungkin kabut lembut menyapu merbabu dan merapi yang sedang bermesraan. Kau akan tahu, kekasih, saat kita bertemu di dalam mimpi akan aku ceritakan itu semua—keindahan mentari menyambut tahun baru.

Cakrawala jingga sedari tadi memang sudah terlelap dalam tidurnya. Katanya, tidak penting merayakan malam tahun baru, lebih baik ia membaca Lelucon Para Koruptor karya Agus Noor, agar nanti saat ia menyambut tahun baru, ia akan menyambutnya dengan penuh tawa. Dan aku, masih saja teringat tentang petuah cakrawala jingga tadi, pikiranku tak bisa lepas olehnya. Bahkan, lagu-lagu Fourtwnty yang biasanya menenangkanku kali ini gagal melakukan tugasnya.

Entahlah, aku hanya sedang ingin mempersiapkan pacul, untuk menggali lubuk hatimu saat engkau tertidur, kekasih. Seperti kata Sujiwo Tejo.


Semarang, 31 Desember 2017.


Back To Top