Perjalanan Adibio: Perjalanan Rasa | Kelana Lara Perjalanan Adibio: Perjalanan Rasa

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Tanah Airku, Indonesia

Di sudut kota, tampak matahari sedang menepi. Barangkali ia tak lagi dibutuhkan oleh manusia hari itu. Dalam raut wajahnya, nampak raut kekecewaan menyelimuti segala ekspresinya. Entahlah, aku tak begitu peduli dengan kekecewaan apa yang sedang ia hadapi, toh ia setiap hari selalu saja mengecewakan para pemujanya—bersembunyi begitu  cepat, padahal orang-orang ingin sekali melihat. Hingga aroma kopiku yang pekat menyergap indra penciumanku di ujung hari, menuai jerah-jerih yang meniti langkah hati yang kian perih. Tak apa, bukankah kopiku terlihat sederhana saat dinikmati bersama lantunan ayat alam hayat?  Lalu tiba-tiba saja langit menggeragap kaget saat ia tahu aku  lebih memilih peduli terhadap secangkir kopiku dibandingkan dengan kekecewaan matahari pada waktu itu. Biarkan saja, aku sedang menikmati secangkir kopiku, juga ketidak pedulianku.

Kecewa. Mungkin sebelum matahari menampakkan kekecewaannya di ujung hari, jauh sebelum itu aku sering sekali menuai kecewa, entah berapa  kali aku tak pernah menghitungnya. Bukankah setiap kita saat menikmati sesuatu maka kita tidak akan pernah menghitungnya? Begitulah kira-kira kekecewaanku. Kecewa dalam KBBI : a kecil hati; tidak puas(karena tidak terkabul keinginannya, harapannya, dan sebagainya); tidak senang: kami—terhadap penyambutannya yang dingin. Aku pernah kecewa, setiap kita pasti pernah kecewa. Entah dalam hal apa, yang ku tahu kecewa merupakan bagian dari mencintai sesuatu, bukan? Jika aku salah, tolong dibenarkan.

Mari, aku tuntun ke dalam ruang ceritaku. Jangan sungkan-sungkan. Hari memang sudah gelap, namun kita tak pernah habis untuk berbagi cerita agar dunia ini tak begitu senyap. Barangkali, kekecewaanku berawal dari seseorang yang kusayangi, sesuatu  yang kucintai, namun mereka sama sekali tidak mengerti  tentang sesuatu yang aku inginkan untuknya. Tak apa, aku tak akan marah, namun maaf jika aku resah. Aku juga tak akan kecewa, kecewa yang menghilangkan rasa sayangku padamu, pada sesuatu. Aku juga tak akan menuntunmu untuk melakukan apa yang aku inginkan, tak akan. Pada akhirnya—gelap menuntunku dalam meniti cahaya, cahaya menuntuku dalam meniti rasa.

Celakanya, aku terlanjur mencintai Indonesia. 

Indonesia, hari ini sedang berulang tahun. 72 tahun merupakan umur yang tak begitu terlihat muda, juga tak terlalu tua untuk  seumuran negara. Bangsa kita telah melalui  banyak hal.  Soekarno-Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan 72 tahun yang lalu. Sumual, Rapar dan Evert Langkai rela begadang pada malam hari  menjelang hari proklamasi demi kemerdekaan Indonesia untuk menjaga keamanan di wilayah sentral Jakarta. Wikana, sosok pemuda yang sangat mendesak Soekarno-Hatta untuk cepat-cepat memproklamasikan kemerdekaan, mencoba membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, untuk cepat-cepat memproklamirkan Indonesia.”Jika tidak mau memproklamasikan, maka esok akan terjadi pembunuhan dan pertumpahan darah”, Ancam Pemuda kelahiran Sumedang itu kepada Soekarno. Dan para tokoh lain yang mungkin sudah disebutkan dalam pelajaran sejarah Indonesia.

Indonesia, dengan penuh perjuangannya berhasil melewati berbagai macam halangan dan rintangan. Hingga sampai saat ini pun, 72 tahun aku masih menyukai Indonesia, masih menyayanginya. Walau jika 72 tahun itu seperti nenek-nenek yang sudah berkeriput, Indonesia masih selalu di hati. Sekali lagi, aku tak peduli akan hal itu—seperti ketidak pedulianku terhadap matahari waktu itu. Indonesia sejauh 72 tahun memang selalu mengecewakanku, mengecewakan rakyatnya. Korupsi menjadi hal yang biasa bagi kalangan orang-orang berdasi, pertumpahan darah antar ras, suku, agama, bahkan supporter tim bola, kemiskinan yang merajalela, demo dimana-mana.

Namun, sekali lagi. Bukankah kita harus siap menerima kecewa saat kita mencintai seseorang atau sesuatu? Tidak hanya menerima indahnya saja, melainkan siap menerima buruknya.

Indonesia, izinkan aku mencintaimu lagi, dan lagi. Lebih dalam, menyelami  disetiap relung hatimu,  menyebrangi disetiap rasamu yang belum sama sekali aku jamah. Barangkali, lautan dan gugusan pulaumu begitu luas untuk kujangkau, maka akan aku jangkau  dirimu dengan beberapa kalimat yang tak seberapa ini. Kelak, suatu hari nanti aku akan menjelajahi seluruh ragamu dan merasakan apa yang kau rasakan, Indonesia.

Bila engkau sakit, jangan ragu untuk menceritakan kepadaku lewat hembusan angin. Aku selalu siap mendengar cerita apa saja tentangmu—baik menggembirakan maupun mengecewakan.

Aku selalu membayangkan, persatuan dan perdamaian menyelimuti di setiap malammu, Indonesia.  Pikirku kau akan kedinginan di setiap malamnya akibat perpecahan dan kehancuran yang terjadi dimana-mana. Tenang saja, alam semesta tak akan membiarkanmu kedinginan. Barangkali ia rela berbagi kehangatan padamu—menceritakan sesuatu yang indah, sehingga melupakan segala masalah. Jika tidak keberatan, aku pun ingin sekali ikut berbagi kehangatan bersamamu, bersama alam semesta. Dalam alunan kedamaian yang diselimuti oleh kegelapan. Dalam malam yang penuh kejam. Dalam senyuman yang selalu menghadirkan kehangatan.

Ku seruput lagi kopiku. Aromanya begitu hangat dan bersahabat. Ah, andai saja kau ada disini, bersamaku bercerita tentang sesuatu yang aku sayangi—bersama orang yang aku sayangi juga. Kuputar saja lagu Pee Wee Gaskins-Dari Mata Sang Garuda untuk menemani malamku.

Dari mata sang garuda
Memandang luas dari langit yang tinggi
Bersatula untuk..
Indonesia, kobarkan semangatmu
Kan kubela sampai akhir hayatku
Jangan pernah menyerah
Sudah terlalu lama kita terlelah
Bangkit dan raih semua mimpi

Pada akhirnya, aku berdamai dengan kejamnya malam. Dan menyadari, bahwa ketidak pedulianku terhadap kekecewaan matahari waktu itu merupakan hal yang sangat kejam, lebih kejam dari malam.


Bukankah kecewa merupakan bagian dari mencintai seseorang atau sesuatu?Jika kita mencintai sesuatu, maka kita siap juga untuk menerima kekecewaan.

Kamu bisa menengok puisiku tentang Indonesia. Puisi ini aku buat pada saat hari sumpah pemuda Puisi Indonesia



Puncak Gn. Sumbing


Salamku, pemuda Indonesia
Adibio

Cerita Terciptanya Suarasa.

Malam itu, saat bintang sedang bersenandung merdu dan juga langit gelap yang terlihat syahdu. Pikiranku terbuahkan sebuah kata yang perlu di eja, lalu mengalamatkannya kepada semesta. Lalu, muncullah sebuah nama yang menurutku sangat cocok dengan perjalananku kala meniti kata-kata yang berserakan di jalanan. 

Mengabadikan kata lewat semesta, menuangkan tinta ke dalam sebuah cerita, sehingga membuatku tak terbata-bata--dalam hal mengungkapkan rasa. Begitulah sekiranya tentang apa yang aku bayangkan mengenai perjalanan yang diiringi rasa dan semesta kali ini

Sua yang berarti kita bersua, bertemu, saling menyapa.
Rasa, yang berarti awal dari terbentuknya kata yang akan aku alamatkan kepada semesta.
Suarasa, bersua bersama rasa merupakan hal yang sangat indah, terlebih jika bersua di tempat terbuka seperti alam semesta. Namun ini juga bisa berarti Suara Rasa, Rasa yang memiliki suara yang harus di keluarkan untuk menjadi sebuah kalimat.

Ada baiknya jika perjalanan rasa ini diabaikan melalui kata-kata yang hinggap di dalam sebuah gambar, karena terkadang mengumpulkan kata-kata berserakan di sepanjang perjalanan adalah hal yang sangat indah bagiku. Menyatukannya ke dalam sebuah gambar, lalu menyampaikan sebuah pesan. Dan semoga kau mendapatkan pesan yang aku sampaikan.


Jika berkenan, sila klik bit.ly/suarasa untuk berkenalan lebih dalam via line, juga cek ig : @sua_rasa. 

Terima Kasih.
Mari bersua dengan rasa.

IG : @sua_rasa

Aku adalah......

Aku adalah sisa-sisa melodi yang tak kau iringi dengan musik elegi

Aku adalah sisa-sisa cerita malam mu yang kau hempaskan ke luar angkasa, membiarkan segalanya tak tersisa, hingga membuatku buta akan rasa. Bahkan sisa-sisa pun tak pantas berada dalam kata aku. Lalu, kamu tergoda oleh indahnya bintang-bintang yang terang benderang, mengharap agar bintang tetap menemani di setiap malam mu, menghangatkan tubuhmu, dan merangkai setiap kepingan hati yang terlanjur pecah akibat ulahku. Aku tetap tak lebih dari sisa-sisa, tak tersisa, atau bahkan mati rasa di hadapanmu. Kamu selalu mengais setiap butiran pasir yang menodai setiap langkah kakimu, membiarkan itu tetap larut ke dalam ceritamu, lantas menggodamu dengan berbagai hal yang tak dapat aku perbaiki di  masa lalu. Tatkala sinar senja menutup semesta dengan berbagai retorikanya, kamu sibuk mencari lembayung jingga di setiap sudut kota. Berharap menemukan warna yang kau idam-idamkan saat semesta tak lagi menyapa diriku, menuliskan setiap secercah kata untuk dipersembahkan kepada sang semesta kala jingga menguasai langit. 

Aku adalah sisa-sisa kata-kata mu yang tak tersisa saat dipersembahkan oleh sang semesta

Kudengar, kamu sedang tertarik dengan hingar bingar sang fajar yang sedang menyapa embun. Ataukah itu hanya sekadar ketertarikanmu dalam sekejap?aku tahu, kamu terlalu cepat bosan dalam hal-hal yang baru engkau temukan. Aku tahu kamu, lebih dari yang kamu tahu. Sudahlah, lekas temukan secarik aksara yang menyelinap dibalik tetesan embun kala fajar menari-nari, buatlah ia lebih indah di sekitar serpihan hati yang sedang engkau perbaiki. Namun aku ingatkan, hatimu sudah lebih dari indah walau sedang terpecah belah akibat ulah seorang manusia yang tak tahu arah. Cakrawala maya tak begitu terlihat kala siang hari merajalela, itulah sebabnya kamu tak pernah merangkai kata-kata saat siang tiba. Kamu hanya sibuk mendengarkan lagu-lagu dari Alesana. Katamu, musik keras merupakan hal yang patut di syukuri keberadaannya. Musik keras selalu membuat dirimu bersemangat saat menjalankan aktifitas. Itulah alasan mengapa kamu  sampai saat ini selalu mendengarkan Alesana, bukan? Selain itu merupakan saran dari ku kala itu--saat kita masih berdialog dengan ria di bawah cakrawala langit yang begitu sendu, dinaungi oleh aksara-aksara yang begitu merdu. Aku senang, kamu tenang, dunia begitu gemilang.

Aku adalah rangkaian kata yang kau cerna tanpa makna

Katamu, semesta tak selalu memberikan apa yang kita minta. Memang benar. Semesta tak selalu memberikan apa yang kita minta, namun semesta selalu memberikan apa yang kita butuhkan. Ketenangan, kedamaian, kesunyian itukah yang kamu minta kepada semesta? atau kamu  meminta uang yang tak terhingga? Jika uang yang kamu minta kepada semesta, maka izinkanlah aku memberitahumu lewat desiran angin malam yang sedang menemaniku menulis ini. Kau tahu, uang hanya sekadar alat yang tak lebih untuk memperalat diri kita sendiri. Sedangkan kita adalah manusia yang tak di  peralat oleh siapapun, bahkan dengan uang sekalipun. Kita terlahir bebas, kita mengenal semesta lebih awal ketimbang uang. Itu yang ingin kusampaikan kepadamu jika uang yang kamu minta, semoga desiran angin tak pernah ingkar janji. Namun, jika ketenangan, kedamaian, dan kesunyian yang kamu minta kepada semesta, maka sekali lagi izinkan aku memberitahumu lewat sinar senja yang begitu mesra. Kau tak perlu meminta itu semua, semesta selalu berikan lewat berbagai  cara yang bisa engkau capai dengan sendirinya, dengan caramu, dengan jalanmu sendiri. Maka, ketiga unsur tersebut akan engkau dapatkan dengan penuh keyakinan. Sekali lagi, semoga sinar senja tak ingkar janji, sama halnya dengan desiran angin.

Aku adalah desiran angin dan sinar senja yang mengetuk pintu hatimu

Kita, pernah berbagi cerita. Di bawah langit yang syahdu, ditemani alunan angin yang merdu, juga sinar senja yang sendu. Cerita kita mengenai apa saja,  mulai dari diri kita sampai kepada keluarga masing-masing. Kamu tertawa, aku menangkap tawa tersebut kedalam memoriku. Kamu terdiam, aku mengalunkan kedamaian lewat hatiku ke hatimu. Kamu  tersenyum, aku hanya terdiam, aku tak bisa melakukan apapun saat engkau tersenyum, bahkan hatiku pun ikut terdiam. Aku menjadi budak andaikan kala itu. Andaikan waktu berhenti sekejap, andaikan aku terus berada disana denganmu, andaikan aku tak melakukan hal ceroboh yang membuat perbincangan kita berakhir begitu saja. Ah, aku merasa menjadi manusia yang sia-sia. 

Aku adalah sisa-sisa warna jinggamu yang terlanjur kau tumpahkan ke dalam abu-abu.

Di bawah rentetan aksara yang menuntutku untuk menyampaikan kata kepada semesta, aku sedang mendengarkan lagu favorit kita kala jingga sedang menyapa semesta. Menuai beribu macam penyesalan yang tak kunjung berkesudahan. Meniti segala rasa yang tak pernah tersisa. Menggaungkan semangat yang aku tahu hanya sekadar penghangat semata. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, asal kamu masih berdiskusi  dengan semesta. Harapanku, semoga dengan itu kita dapat dipertemukan kembali lewat kata-kata yang tersirat dan tersurat kepada semesta.

Sekali lagi, aku adalah kalimatmu yang tak sempat engkau selesaikan.


Aku adalah sang fajar yang tak  sempat engkau sapa di pagi hari


Np Payung Teduh - Kita adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang tak Diikhlaskan

Semarang, 12 Juli 2017
Tertanda.
Budak Andaikan 

Hari Kedamaian, Tanpa Perpecahan.

Pagi datang menerpa bumi. Semesta tersenyum merekah bak bunga mawar nan indah. Cahaya mentari menyinari  alam semesta—itu sebabnya semesta tersenyum ranum. Embun pagi tak begitu menampakkan diri, entah, mungkin ia sedang konflik dengan sang pagi—tak pernah kusangka, kini  pagi sedang menerka-nerka tentang embun pagi yang tak kunjung peka. Tentu saja, pagi itu semua berlomba-lomba untuk membuat sang semesta bahagia, mulai dari cahaya matahari yang bersinar menerangi bumi, udara pagi  yang terasa sangat damai, juga bayang senyum dari gadis yang berbekas dalam mimpi. Ah, lagi-lagi tak bisa kuhindari—senyuman manis selalu hadir dalam tulisan. Dari dekat rumahku,  terurai nada-nada kedamaian yang  menyimpan berbagai kesejukan  datang dari masjid. Di dalam rumahku, tampak  hadir senyum bahagia—merayakan sebuah hari yang begitu indah. Di dalam hatiku, tentu saja, sebuah zat  yang begitu sejuk  mengalun ke dalam nadi-nadi, mengantarkannya ke seluruh bagian tubuhku—tak ada yang kurang, juga tak lebih.  Saat nada-nada kedamaian tersebut kembali  mengalun masuk ke dalam sukmaku.

Allahu Akbar
Allahu Akbar

Allahu Akbar

La ilahaillallahuwallahu akbar

Allahu Akbar
Walillahil ham


Tak kunjung surut, suara tersebut semakin membuatku larut. Ah, barangkali  ini yang dinamakan sebuah kedamaian dalam  keramaian. Tak perlu penjelasan panjang lebar mengenai hati ku yang sejuk kala itu. Rasakanlah, resapilah. Kau akan menemukan dunia mu sendiri, di dalam dirimu. Sekarang merupakan hari dimana seluruh umat muslim di seluruh dunia merayakan idul fitri, hari yang begitu suci, setelah sebulan penuh menahan lapar dan penyakit-penyakit hati. Tak terasa memang, bagaimana waktu mempermainkan kita di dalam lingkarannya, waktu selalu menghukum kita di dalam permainannya, tak peduli kita menang atau tidak—Saat senang, kita selalu lupa waktu. Begitu juga saat sedih. Sebulan berlalu dengan kita berperang melawan hawa nafsu, sebulan berlalu dengan kita yang selalu saja dipenuhi harapan-harapan semu. Ah sudahlah, aku tak mau  membawa dirimu dalam tulisanku kali ini—biarkan aku merayakan kesenangan dengan ketenangan. Namun, apakah kita pantas menyandang gelar pemenang saat ini? Saat sebulan kita berperang melawan hawa nafsu? Apakah kita berhak merayakan hari kemenangan? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul beriringan dengan suara takbiran yang sedari tadi mengantarkan kedamaian.

Lebaran, selalu menjadi tempat pertemuan keluarga besar. Di setiap lebaran, lembaran uang selalu menjadi pusat perhatian. Dan di setiap lebaran, lembaran kisah baru selalu engkau nantikan. Itulah, mengapa banyak sekali orang-orang meng update status di media sosial yang intinya “Pertanyaan kapan nikah selalu menjadi hal yang seram”. Memang, bayangan kita selalu menjadi hal yang terindah, imajinasi masih menjadi anugerah  terindah yang diberikan Tuhan.

Kau yang sibuk berembuk dengan istrimu, tentang mudik ke kampung halaman siapa dulu hari pertama? Ke kampung aku dulu ya? Oh tidak, ke kampung aku dulu saja nanti disana kita bakal dapat opor ayam yang banyak. Hingga pada akhirnya, perdebatan itu menjadi lebar—hingga pada suatu saat nanti akan teringat dan menciptakan tawa yang lebar. Setelah memutuskan ke kampung halaman siapa dulu akan mudik, lalu berkunjung menyalami satu per satu sanak saudara dari mereka, menyiapkan uang THR bagi keponakan-keponakannya, lalu di akhiri pada obrolan-obrolan hangat, ditemani  dengan sajian-sajian makanan lebaran. Di selipi dengan candaan dengan mertua, membuat suasana begitu indah. Tak teringat, bahwa sedari tadi kamu sempat berdebat dengan istrimu tentang kampung halaman siapa. Semua itu sudah terbakar dengan sendirinya, dengan suasana hangat pagi pada hari lebaran.

Sudah, kuhentikan dulu imajinasiku.

Berkumpul dengan keluarga besar merupakan sebuah momen yang patut di hargai pada saat lebaran. Entah bagaimana denganmu menghargai momen itu. Aku cukup berdiam diri mendengarkan obrolan-obrolan orang-orang yang lebih berpengalaman, bercerita tentang masa mudanya, dan sesekali  aku memberikan respon tentang obrolan-obrolan tersebut. Mengambil pelajaran dan pengalaman dari orang-orang berpengalaman merupakan salah satu momen terindah pada saat lebaran. Semakin dekat, kau tak perlu merasa pekat sedang menyelimuti suasana hangat. Bersantailah, Bergembiralah.

Barangkali, keluarga merupakan tempat pertama kita mengenal  kata-kata, sehingga kita bisa merangkainya dan menceritakannya kepada semesta.

Barangkali, keluarga merupakan tempat pertama kita merasakan kasih sayang terhadap  sesama, cinta terhadap lawan jenis—ibu, dan mengenal tentang arti kehidupan

Tentu saja, kita sebagai makhluk  sosial tak serta merta hanya bersosial kepada keluarga kita saja. Dalam hari yang penuh kedamaian ini, momen silaturrahim atau yang biasa kita kenal dengan berkunjung ke rumah-rumah tentangga merupakan momen yang patut di hargai juga. Semakin kita banyak berkunjung, semakin kita akan banyak mendapatkan uang, eh maksud ku mendapatkan doa-doa yang baik. Tanpa perpecahan, seakan  kita menyatu dalam lingkaran yang sengaja dibuat oleh Tuhan untuk kita manfaatkan--Kedamaian yang selalu diidam-idamkan oleh seluruh kalangan manusia. Kita tak pernah tahu kapan kita akan mengenal satu sama lain sebelum kita memulainya. Seperti peribahasa yang  selalu mengatakan “Tak kenal, maka tak sayang”. 

Barangkali, pada hari itu tak mempedulikan tentang hal-hal yang selalu membuat perpecahan. Semua sirna sekejap bersama gelap.

Barangkali, kesulitan kita dapat di tutupi oleh orang-orang di sekeliling kita

Semesta terlihat bahagia kala itu. Ia bahagia karena melihat hari yang diselimuti oleh kesejukan hati. Bahagia kedamaian serta merta berjalan tanpa diikuti oleh perpecahan. Semesta tenang, ia dapat tersenyum dengan lebar kala itu. Di malam hari menuju dini hari yang penuh bahagia, kuputar saja lagu Dialog Dini hari-Hiduplah Hari ini.

Tuhan beri kita suara
Maka bernyanyilah

Senyum di fajar bahagia di senja

Maka bergembiralah


Ditulis setelah berkumpul bersama keluarga besar dengan suasana yang berbeda pada tahun-tahun sebelumnya
Semarang, 29 Juni 2017 00:19
Adibio



Iya, gue nya burem



Kehilangan

Desiran angin menabik kepada zat serotonin, membuncahkan hasrat ku untuk menuangkan kopi pada cangkir  ku yang belum terisi. Tak ada kopi malam ini, tak ada aksara malam ini. Biar mereka bersemayam di tempat tak berpenghuni, menari-nari dan bernyanyi, tanpa  ada satupun nada elegi. 

Sungguh kejam, membiarkan seseorang tenggelam dalam kelamnya malam. tanpa diterangi sedikitpun dengan lampu bohlam. Suram. Sangat mencekam

Ku putar saja musik dari Fourtwnty yang selalu menggema ke dalam telinga. Tak ada yang lebih syahdu  dari menelik aksara yang berdatangan tanpa permisi sembari memutar lagu yang kau sukai. Entah berapa malam Ramadhan yang telah kulewati tanpa menulis, tanpa menorehkan kesunyian di dalam keabadian. Aksara selalu asyik berpesta, ia tak pernah menduga bahwa aku sungguh sangat memerlukannya. Sial. Baiklah, mari sejenak berpaling dari konflik kata-kata, hal itu selalu terjadi kala tangan ku mencoba menggapai keyboard pada laptopku, lagi pula aku tak terlalu peduli akan hal itu, toh itu bisa jadi pembuka bagi paragraf-paragraf yang akan aku rangkai--menyerupai serpihan hati yang telah hancur, menyusunnya menjadi sebuah anak tangga, lantas berjalan di atas tangga tersebut.

Jadi, bagaimana kabar hati yang selalu saja tergores sepi? apakah selalu baik-baik saja di pojok gua yang tak sedikitpun cahaya singgah kedalam sana? Aku harap begitu. Tak usah ragu, berdiam dirilah dulu disitu, menyublim segala kenangan masa lalu. Memang, pada bulan Ramadhan hanya mengekang setan saja, bukan juga mengekang segala canda tawa yang telah kau lalui bersamanya. Resapilah segala hal tersebut, kehilangan bukanlah sesuatu yang harus engkau ratap, melainkan harus engkau tatap. Resapilah, pahamilah. Kelak kau akan menemukan makna dibalik semua kehilangan. Bulan Ramadhan telah sampai pada ujungnya, kelak ia akan menertawai mu kala dirimu masih saja terbelenggu oleh godaan setan, juga tentang ratapan bayangan kenang-kenangan. 

Terus melaju, jangan sisipkan ragu. Bahkan yang katanya kemarin engkau ingin mengajaknya buka bersama, itu hanya sekadar angan tanpa pelaksanaan. Ia rindu, namun malu. Dan kamu malu, tapi rindu. 

Lebih baik, merelakan kehilangan tanpa harus menyalahkan keadaan. Sudahlah, jangan jadi korban keadaan. Lekas susun retakan-retakan akibat kehilangan, merangkainya menjadi sebuah jawaban. Jawaban tentang sebuah kepastian--Tentang kabut yang selalu saja menutupi pandangan, padahal menampakkan keindahan. Malam Ramadhan telah mendekati akhir, sadarilah realita yang baru saja lahir, kau akan tertimpa oleh kehilangan lagi, dan lagi. Kehilangan tak pernah lepas dari kehidupan, tahap demi  tahap manusia  selalu terbayang-bayang olehnya. Perasaan selalu lebih dulu bersikap soal kehilangan, sehingga kadang kita terus melantunkan nada-nada elegi berkepanjangan. Berbiasalah. Kelak, kau akan menyadari bahwa tak selalu yang berkilau itu indah~ (Nyanyi  Souljah dulu bosque). Kelak kau akan menyadari, bahwa kehilangan tak selalu menuntun perasaan.

Nyatanya, kau dan dia tak pernah lagi saling bertatapan lebih lama dari biasanya. Mengucapkan kata lebih banyak dari biasanya, juga bersenda gurau lebih lepas dari biasanya. Biasanya=Dulu

Masih melantun lagu-lagu Fourtwnty sedari tadi. Kali ini Hitam Putih yang berputar saat aku hampir mengakhiri tulisan ini.

Bagai langit dan bumi yang tak pernah sealam
Bagai hitam dan putih yang tak pernah sewarna
Hanya kita yang merasakannya
Belajar melepaskan dirinya
Walau setengahku bersamanya
Kuyakin kita kan terbiasa
Walau inti jiwa tak terima.

Kehilangan selalu saja mengajarkan kita bahwa kehidupan bukan hanya tentang berjalan tanpa harus berdiam diri sejenak.

Kehilangan menyadarkan kita bahwa kehidupan begitu seimbang. Tak perlu menyalahkan kehilangan, sebab dengan begitu engkau telah menyalahi kehidupan.

Terinspirasi dari anak kucing di rumah yang kehilangan dua saudaranya, juga ibunya.
Semarang, 20 Juni 2017
Adibio



Lingkaran Persahabatan, Juga Kedatangan sang Kesedihan

Gemerlap cahaya bintang di atas menggantikan tugas sang matahari sedari tadi pagi. Kerlap-kerlip cahaya nya selalu berhasil membuat mata ku sesekali menengok ke atas untuk memastikan kehadirannya. Padahal ah, kau ini siapa? berani-beraninya membuatku untuk memastikan kehadiranmu, tentu aku tak begitu mengagumi, tak lebih. Namun kehadiranmu selalu saja di nanti-nanti oleh orang, termasuk diriku pada saat malam telah tiba. Barangkali, bintang merupakan sesuatu hal yang sangat dinanti saat malam hari, untuk menghiasi langit malam yang tampak gelap. Langit malam ini cukup cerah, angin yang berhembus tak begitu terlihat seakan ia sedang marah. Walaupun terlihat cerah, tetap saja bagiku langit malam sangatlah kejam--selalu menghadirkan senyuman yang tak pernah kuharapkan kehadirannya. Di atas, kehidupan seolah-olah sedang terjadi, hangatnya cahaya bintang yang mencoba menetralisasi kejamnya langit malam membuat kehidupan di bawah menjadi sangat nyaman pada malam hari itu.

Tak terkecuali bagi mereka, para kumpulan orang-orang yang berani berjuang.

Di bawah sini, tepatnya di sebuah rumah yang dinaungi oleh hangatnya cahaya bintang dan kejamnya langit malam, tercipta sebuah kehangatan yang tak kalah hangatnya dari cahaya bintang. Kehangatan yang tercipta dari para kumpulan orang yang berjuang dalam lingkaran persahabatan. Tak perlu lagi aku menjelaskan bagaimana proses mereka saat berjuang dalam lingkaran persahabatan, mungkin saat kau bertanya tentang prosesnya, aku akan bertanya pada sang waktu, tepatnya pada sang waktu yang telah bergulir selama 10 tahun. Mereka saling berbagi kebahagiaan pada saat bertemu kembali, maklum saja sekarang mereka sudah sangat jarang sekali bertemu, berbeda dengan dahulu yang ingin bertemu hanya melangkahkan kaki saja ke kamar sebelah. Bercerita tentang hal apa saja yang mereka temui saat berpisah, tentang kejadian apa saja, tentang hal bodoh sekalipun. Bagi mereka hal bodoh merupakan hal yang sangat lucu, seperti yang dikatakan Fourtwnty dalam lagu Fana Merah Jambu. Berbagi cerita tentu menu utama dalam malam itu, selain menu-menu seperti ayam bakar, sosis bakar, dan lain-lain. 

Wah  siapa lagi nih yang bakal nikah? gila yah syawal udah pada mau nikah ajah
Lu kapan nikah?
Skripsi sampe mana bos?
Calon-calon pengangguran udah siap?
hahahaha  anjir, lakon rabine keri bos
Wisuda dulu bego
Woy jangan lagu dangdut ngapa buset.

Obrolan-obrolan yang tak bermutu kala itu, selalu membuat mereka tak peduli terhadap dunia yang sedang mereka hadapi sekarang. Selalu berhasil membuat mereka berpaling dari sisi dunia yang lain, dunia yang dibuat oleh mereka sendiri. Ya, semua melebur di dalam sebuah alunan melodi persahabatan, bergemuruh dalam ikatan persaudaraan, bernostalgia menjadikan segala hal yang tak terlupakan menjadi sebuah kenangan yang abadi. Tertawa, bercanda, malam itu tak pernah lepas dari lingkaran mereka, bersatu padu membuat hangatnya malam itu semakin gila. Barangkali, kesedihan tak sempat mengantarkan dirinya kepada mereka malam itu, terhalang oleh rasa sedih yang lebih mendalam kala menatap pintu lingkaran mereka. Melupakan sejenak segala beban yang terjadi pada mereka di dalam lingkaran tersebut seolah-olah meringankan pikiran yang tak sempat menatap sebuah cahaya dalam kegelapan. Kini, cahaya itu jelas adanya. Ditambah hangatnya cahaya bintang-bintang di langit, juga hangatnya kebersamaan dalam sebuah lingkaran persahabatan. Begitu menenangkan, begitu menyenangkan.

Lingkaran persahabatan macam apakah ini?

Mungkin saja, mereka semua berharap agar momen ini tak pernah terlupakan. Ah tentu saja, kau tak usah berharap akan hal itu. Ingatan manusia selalu tak pernah lepas dari sebuah kenangan. Kebahagiaan yang dirangkai sedemikian rupa seakan membentuk sebuah lorong waktu yang menuntunnya kepada sebuah dimensi kebahagiaan. Mungkin saja, sebagian dari mereka ingin sekali menghapus kata perpisahan dalam KBBI pada malam itu, sehingga tak ada lagi kata perpisahan di antara mereka. 

Namun, tak bisa dipungkiri. Perpisahan tetap datang pada waktunya, kau tak perlu mengusirnya, tak akan bisa. Perpisahan selalu ada pada setiap pertemuan, tak perlu engkau menghapusnya. Jika engkau menghapusnya, maka engkau sudah berbuat jahat kepada sang pertemuan. Perpisahan tetap ada sampai kapan pun. Mereka tentu sudah mengerti akan hal ini, mereka sudah mengalami perpisahan dari waktu ke waktu. Belajar mengenai hal itu, dan membuat sikap tentang perpisahan. Tak perlu ada tangisan di setiap perpisahan, toh mereka sudah biasa mengalaminya.

Lingkaran persahabatan macam apakah ini?

Dan diujung gelak tawa mereka, terhenti sejenak lalu bersalaman satu sama lain. Mengucapkan sampai jumpa dan berharap akan ada pertemuan selanjutnya. Bukan selamat tinggal, karena sampai jumpa terdengar lebih indah daripada kalimat itu.

Aku terus memperhatikan mereka sedari tadi. Begitu hangatnya persahabatan yang mereka ciptakan. Aku yakin setiap pertemuan yang mereka ciptakan selalu indah. Ah, andai saja aku dapat bergabung malam itu, namun aku tahu aku tak akan bisa. Aku sudah tak dapat lagi bergabung saat lingkaran tersebut telah menyatu dan merekat satu sama lain. Aku tak sanggup. Aku hanya memperhatikan mereka saja, dan itu cukup membuatku merasa sedikit senang, walau pada hakikatnya aku masih merasa sedih. Karena takdirku hanya untuk menemani orang-orang yang bersedih, sehingga begitu kejamnya saat aku hadir ditengah-tengah mereka. Aku adalah sang kesedihan yang tak sempat mengetuk pintu lingkaran persahabatan mereka.



Berdiri di Antara Kesenangan dan Ketenangan

Malam selalu menghadirkan senyuman yang tak bertuan, begitu kejam dan membuat mata ini susah memejam. Hadirnya senyuman dalam kesunyian merupakan salah satu hal yang tak pernah aku harapkan dari waktu ke waktu, tak perlu ku jelaskan mengapa, sebab pada jemariku yang sedang mengetikkan kalimat ini tak pernah menanyakan mengapa aku selalu menuliskan kata senyuman ke dalam sebuah paragrafku--ia hanya mematuhi apa  yang di  transformasikan oleh kata hatiku. Lalu, sejenak  ku tuangkan segala kalimatku ke dalam sebuah tulisan yang tak berlagu. Tak pernah memiliki ritme nada dan juga irama. Aku teringat tentang bagaimana hari  ku menjadi sebuah  hari yang merubah  angka di dalam hidupku, tentang hari yang tak pernah menyesal tatkala itu telah tiba, tentang hari yang membuat diriku begitu merenung lebih banyak dari biasanya. Hari saat angka dalam hidupku juga ikut merubah pola pikirku. Juga pada hari, saat aku berkata

"Wah, gue udah berumur segini nih, udah ngapain ajah yah?"

Ya, hari itu pasti  tiba. Saat semua tak lagi harus tentang perayaan, melainkan perenungan. Saat kehidupan tak selalu menyajikan kenyamanan. Saat semua, begitu berada pada titik  antara kesenangan dan ketenangan. 

Perayaan. Ketika tak disadari bahwa teman-teman disekitar kita begitu peduli  terhadap diri kita. Merayakan momen yang berharga dalam hidup kita, entah itu dengan sepotong kue ataupun lemparan telur-telur  yang mengenai kita. Namun, setiap peristiwa itu merupakan sebuah perayaan yang sangat menyenangkan bagi diri kita, mengingat kejadian itu seakan membuat hati kita begitu senang, layaknya suara deburan ombak yang selalu menemani diri kita saat menikmati indahnya pantai. Perayaan yang sungguh mengesankan. Bagi setiap orang, hal seperti  itu sangatlah manis untuk dikenang, hingga nanti  saat sedang bercerita kepada anak-anak kita. Terlebih, teman merupakan suatu hal yang tak pernah dapat  dibeli berapapun harganya, teman merupakan bagian terindah yang telah disimpan dalam laci kenangan yang dibentuk khusus kayunya, sehingga tak mudah rusak, tak mudah lapuk, dan selalu mudah untuk  mendapati laci tersebut, karena di  desain khusus dengan variasi warna yang begitu indah. Jika suatu saat engkau ingin mengingatnya, tentu laci tersebut sudah tak perlu kau  cari susah payah. Begitulah, barangkali perayaan merupakan hal yang sangat mengesankan, tak perlu lagi kita berdiam diri di suatu tempat sendiri seperti orang yang kesepian.

Perenungan. Di dalam remang-remang sinar senja yang begitu indah, suara debur air yang tak begitu keras, juga semilir angin yang berhembus seolah-olah membisikkan sesuatu ke dalam kupingku. Aku duduk, memandangi segala aktifitas yang sedang dilakukan oleh orang-orang disekitarku, mengambil momen dengan foto, bermain balon, dan memancing ikan di  tepi pantai. Memang, pantai yang ku kunjungi terdapat ikan yang dapat dipancing oleh orang yang sedang ingin mencari makan malam. Ya, aku  tentu memilih tidak peduli akan segala aktifitas yang dilakukan oleh orang di sekitarku, aku memilih untuk tersenyum  saat melihat semua itu, lalu kembali  merenungi setiap hal yang sudah terjadi. Setiap langkah kaki yang  selalu mengisi hari-hari, dan juga setiap jiwa yang tak pernah lelah untuk bermimpi. Disini, aku terus mencoba untuk menafsirkan segala bisikan-bisikan semesta kepadaku. Sinar senja yang kutahu sebentar lagi akan meninggalkanku, angin yang berhembus pelan ke arahku, juga suara air yang tak begitu keras, semua mencoba memberikan ku bahasa semesta. Dan sekarang, mataku terpejam sejenak, merekam segala hal yang telah kulewati. Menghembuskan nafas pelan-pelan dan membuka mata kembali. Begitu tenang. Ditemani dengan lembayung jingga yang perlahan tenggelam di bawah cakrawala, seakan segala hal yang selalu kuresahkan tenggelam bersamaan dengan senja. Aku ingin bercerita tentang senja tapi entahlah, senja bagiku terlalu spesial untuk diceritakan, mungkin lain kali. Begitulah, barangkali perenungan merupakan hal yang sangat menenangkan, tak perlu lagi kita berhura-hura di tengah keramaian yang tak pernah kita dapati arti kedamaian di dalamnya.

Dan kini, diriku berdiri diantara ketenangan dan kesenangan. Di malam yang selalu menghadirkan senyuman yang tak pernah kuharapkan, di malam yang selalu menyajikan kesunyian yang teramat menyenangkan, sekaligus menenangkan.



Kamu juga bisa melihat tulisan ku yang lain di Adibio

Jiwa dan Semesta Melebur Merangkai Kata, Bermimpilah!

Waktu begitu cepat berlalu, di sepanjang jalan terbentang angan dan juga pilu, sedangkan diriku juga tak kunjung berpaling dari senyummu. Mungkin, aku ditakdirkan untuk melukis senyummu dalam sebuah kertas kanvas, mengkonversinya dalam sebuah tulisan, lalu menceritakan itu semua di sepanjang jalan, yang selalu menebarkan angan, juga pilu. Kini, aku tak lagi bersahabat dengan hangatnya mentari, sejuknya embun pagi, dan juga masa depan yang tak kunjung berhenti untuk berelegi. Aku bahkan benci terhadap diriku sendiri, membiarkan sembilu merajai di setiap angan-anganku dan juga mimpi-mimpiku,  membasahi kertas ku yang di bumbui oleh mimpiku, lalu tinta-tinta itu berubah menjadi sebuah tawa yang meluap. Seakan, semua yang sudah kulalui hilang oleh hal yang tak seharusnya masuk ke dalam hidupku. Sekali lagi aku benci ini. Benci tak memperjuangkan mimpi.

Sedari tadi, aku membayangkan jiwa ini melayang bersama semesta, menarik luka-luka yang sedang menerpa, juga menanti sisa-sisa rindu yang tak kunjung tiba. Kedamaian menerangi setiap langkahku dalam meleburkan jiwa, tak sedikitpun raga ini terasa hampa, mungkin saja ini merupakan salah satu cara agar mimpiku tak lagi mengingkari janji. Aku selalu percaya bahwa mimpi tak pernah ingkar janji, sama halnya dengan merapi. Dengan jiwa setiap orang yang pemberani, mimpi selalu hadir dan menemani. Walaupun terkadang, kita tak bisa mengerti apa yang akan dikatakan mimpi terhadap semesta. Namun sekali lagi, aku selalu percaya semesta pun akan berkata, merangkai sebuah aksara yang menuntuku untuk mengkonversinya ke dalam paragraf-paragraf. Ya, barangkali kita selalu dibuat bingung oleh rasa kita sendiri. Cobalah, untuk berhenti sejenak dan lihat apa yang telah kau tempuh sejauh ini, agar jenuh tak serta merta menyerang dirimu dan membuatnya menjadi rapuh. Kini, kau perlu menuangkan kopi mu ke dalam cangkir, lalu nikmati setiap seduhannya, dan cobalah sekali-kali memasukan mimpi ke dalam racikan kopimu. Dunia akan tersenyum saat mengetahui mimpimu, juga tentang seseorang yang selalu kau nanti senyumnya.

Sekarang, aku baru saja memulai langkahku, mengurung setiap sendu yang menyelimutiku, mengais kepingan-kepingan mimpi yang selama ini pecah akibat ulahku. Kau tak perlu menangisi setiap hal yang sudah terjadi, biarkanlah itu tetap mengisi hari-hari  yang akan kau tatap kedepannya. Rasakanlah, Tentramkanlah. Kini, aku tak perlu melibatkan senyummu kedalam mimpiku, dunia telah suka rela menyumbankannya sedikit  senyumannya. Maafkan aku. Aku benci mengatakan ini. Namun sekali lagi, mimpi-mimpi itu sedang menuntutku untuk merangkainya menjadi sebuah puisi. Jadi biarkan aku larut dalam kesepian, ditemani lagu-lagu kedamaian, dan tentu saja yang selalu menyertaiku disetiap perjalanan, yaitu senyuman.

Percayalah, hanya orang pemberani yang berani bermimpi. Tanpa harus takut apa yang akan ia alami nantinya, dan juga tetap berusaha untuk mencapai cita-citanya. Barangkali aku terlalu berlebihan dalam hal ini, namun biarkan aku melakukan sesuatu yang sedari tadi aku lakukan--membayangkan tentang bagaimana jiwa dan semesta melebur dan melantunkan nada-nada.

Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia




Semesta Berkata, "Aksara selalu Kembali"

Hembusan angin malam di luar begitu sangat tenang. Langit pun terlihat temaram, juga mataku yang sedari tadi tak bisa memejam. Lantunan musik-musik yang sedari tadi mencoba menghiburku nyatanya gagal, aku tidak terhibur sama sekali bahkan dengan musik favoritku. Mungkin saja, aku tak sedang ingin tenggelam ke dalam alunan melodi, atau lebih tepatnya terjebur kedalam nada-nada elegi. Tidak. Malam ini aku ingin mencoba berkawan lagi dengan aksara-aksara yang belakangan ini tidak bersahabat dengan otakku. Ya, barangkali aksara sedang jera dengan perlakuanku yang seperti kera, melompat kesana kemari tanpa tujuan yang pasti. 

"Bukankah kita sudah berkawan lama? lantas bisakah kita berdamai untuk malam ini saja? oh tidak, aku ingin malam ini dan seterusnya, karena kau butuh aku, dan aku butuh kamu. Dunia tak pernah sadar bahwa gabungan antara kita akan menyadarkan ia bahwa kita merupakan sosok yang sangat kuat suatu saat".

Terasa hampa tanpa kehadiran sosok aksara. Tulisanku tak begitu  nyata adanya, fana, seperti halnya waktu yang sering dibicarakan oleh Sapardi Djoko Damono. Singkatnya, aku sadar bahwa aksara tak pernah mati, ia selalu ada di setiap orang yang berani. Berani untuk menulis. Karena pada hakikatnya, menulis merupakan pekerjaan yang sangat berat, Ah, sudahlah, aku lupa satu hal. Biar kusiapkan secangkir kopi ku untuk malam ini sebelum mulai bercumbu dengan aksara, semoga engkau tak sengsara. Aku harap demikian.

Dan dimensi yang sedari tadi siap menghiasi langit-langit kamarku, aku harap kau bersedia mengisi setiap relung hati yang sempat sunyi, sunyi sebab kian hari hanya janji-janji manis yang tersirat di setiap dinding kamar.

Kopiku sudah siap, tiba saatnya kita bercerita tentang apa saja sebelum mimpi datang menghampiri. Apa saja. Sebab dongeng sebelum tidur selalu menjadi bagian yang indah untuk semua orang. Lantas, aku ingin bercerita tentang sahabatku, ia bernama semesta. Sudah lama aku tak menyapanya, barangkali sekarang ia sedang membicarakanku karena aku terkesan sombong. Maafkan aku, tak sepantasnya aku seperti itu, mencampakkan teman sendiri dan tak berusaha untuk menghampiri barang satu menit. Mungkin aku ingin menceritakan tentang ini pada malam sebelum mimpi datang menghampiri, aku tahu persis bahwa jembatan yang menghubungkan malam dengan mimpi sangat kuat sehingga aku berani berjalan diatasnya dan bercerita mengenaimu, semesta. Jadi, izinkanlah aku menjemputmu di dalam keheningan malam, walau kita tahu, keheningan selalu menyadarkan kita akan sesuatu yang sebenarnya tak pernah kita tahu. Biarlah, persetan dengan hal itu. Kini aku mencoba berkawan dengan aksara untuk menjemputmu, wahai semesta.

Sebelum pada akhirnya, sunyi merajai seluruh isi dimensi kamarku dan menutup  pintu. Aku tak sedang menulis puisi, aku hanya sedang berbagi rasa kepada semesta malam ini. 

Aku sadar, aksara yang pergi selalu datang kembali. Semesta pun mulai berkata. Namun diriku, selalu saja terjebak dalam permainan kata oleh aksara dan semesta.

Semesta Beraksara

Musik, Alam, dan Puisi. Melebur Menjadi Gravitasi


Musik tentu saja merupakan suatu hal yang tak bisa lepas dari kehidupan manusia. Manusia seringkali merasa ada yang kurang ketika melakukan hal apapun tanpa ada musik di sekelilingnya. Contoh saja sekarang, saya sedang menuliskan artikel ini sambil mendengarkan musik, karena saya merupakan salah satu orang yang sulit saat tidak ada musik ketika sedang mengerjakan sesuatu. Seakan-akan musik telah menjadi gravitasi tersendiri bagi diri saya, poros musik yang selalu melantunkan nada kedamaian membuat saya tak ingin melewatkan untuk tetap berada pada porosnya. Karena bagi saya, musik adalah sebuah hal yang sangat indah, tanpa musik dunia ini tak akan ramah, senyumanku pun tak akan bisa merekah, dan tentu saja bumi ini akan lambat laun menjadi lemah.
Mari kita mengesampingkan musik sebentar. Ada sesuatu yang juga telah menjadi gravitasi dalam hidupku, sesuatu yang juga memberikan kedamaian di hati bagi siapa saja yang ingin menikmati tanpa harus membuat mati, dan tentu saja suatu hal yang kerap kali dijadikan tempat inspirasi bagi para penulis puisi. Tak lain adalah alam. Alam pun ikut andil dalam menjadi gravitasi dalam diri ini, melebur menjadi satu bersama musik agar tanah dalam tubuh menjadi subur. Keindahan yang selalu di tampakkannya membuat mata ini tak mampu menolak untuk menoleh ke arah lain. Saya selalu saja menemukan kata-kata dibalik diamnya alam semesta yang menurutku begitu besar, barangkali ia ingin berkata-kata namun takut menggangguku dalam merangkai kata.  Merangkai puisi untuk sang pujaan hati, Tentu saja, siapa yang tak ingin menumpahkan suara hati nya tatkala melihat mahakarya Tuhan yang sungguh menentramkan hati dan pikiran manusia.



Sabana 2 Gn. Merbabu


 

Tahukah kau apa yang pertama kali ada dalam pikiran saya tatkala melihat pemandangan seperti itu? Puisi. Ya, puisi pun telah menjadi gravitasi yang ikut melebur dengan musik dan alam. Hijaunya rumput dan terkadang diselimuti oleh kabut selalu saja menarik mata ini untuk tidak berkalang kabut ke berbagai arah. Selalu saja tertuju pada satu arah dan fokus. Mencari celah tatkala di situ bersemayam sebuah inspirasi, lalu dikonversi menjadi sebuah puisi. Maha Besar ciptaan Tuhan, jangan sampai kerusakan menyebar di seluruh penjuru dunia, karena suatu hal yang bagus akan sangat disayangkan jika rusak tanpa ada yang bertanggung jawab.


Entah sejak kapan musik, alam, dan puisi telah menjadi gravitasi bagi diri saya, namun ketiga elemen tersebut merupakan sesuatu hal yang tak boleh lepas dari kehidupan ku. Barangkali ketiga itu lepas, maka terombang ambing lah diri ini seperti halnya bumi yang kehilangan gravitasi. Seringkali saya menyapa alam semesta, berbincang dengannya sembari menyalakan musik, tentu menjadi suatu peristiwa yang tak terlupakan. Ditambah saya mencoba mengabadikan itu semua lewat puisi yang selalu mengisi relung-relung hati, dan tak lupa pula saya mengabadikannya lewat foto, terlebih saya menggunakan kamera Luna Smartphone yang memiliki dua kamera, depan dan belakang. Di kamera belakang memiliki 13 MP dengan aperture f/2.0  yang sudah dilengkapi dengan fitur autofocus dan Dual LED Flash sehingga foto yang dihasilkan tampak jernih dan tajam. Tentu dengan kualitas seperti itu saya dapat mengambil gambar alam semesta yang sangat indah sekali, ditambah  kamera ini dilengkapi oleh fitur-fitur seperti geo-tagging, touch focus, face/smile detection, panorama dan HDR. Dan tentu saja, kamera depan yang memiliki kualitas 8 MP dengan aperture f/1.8 membuat saya dapat selfie tanpa takut gambarnya pecah ketika di zoom, terlebih saat selfie dengan alam semesta yang begitu menggugah selera saya. Sambil membuat vlog untuk setiap perjalanan yang ditempuh, tentu dengan kamera Luna Smartphone sangat lebih dari cukup. Selain untuk mengabadikan foto, Luna Smartphone juga sangat hemat ketika dipakai untuk mendengarkan musik di tengah-tengah alam semesta, karena kekuatan baterainya mencapai 3.000 mAH.

Rindu, Pertemuan, dan Kenangan

Hujan turun, entah apa yang ingin ku lakukan. Sedari tadi aku hanya mengecek handphone ku, melihat instagram, line, twitter, lalu kembali ke menu awal. Lalu tiba-tiba aku teringat tentang caption instagram yang ada di akunku. Kemudian dalam hati ku berkata "Wah kelihatannya bagus nih untuk di tulis di blog". Lalu aku pun menyalakan laptopku, eh bukan sih lebih tepatnya laptop temanku. Dan kumulai tulisanku dengan caption yang berada di instagramku.

---------------------------------------------------------------------

"Sebenarnya manusia menciptakan rindu untuk menyakiti dirinya sendiri, namun disisi lain ia juga belajar untuk menikmatinya". Begitulah caption yang ku buat saat mengupload sebuah foto di instagram. ig:@adieb_maulana. Barangkali memang rindu merupakan sebuah boomerang yang kita lemparkan begitu saja--melepaskan semua raga dan rasa rindu kita saat bertemu. Namun pada saat boomerang itu berbalik ke arah kita, siap atau tidak siap pasti boomerang itu akan mengenai kita--yang tadi telah melepasnya tiba-tiba berbalik dan menyakiti tubuh kita. Tak menutup kemungkinan bagi orang yang sudah siap untuk menerima kembali boomerang itu--melepas raga dan rasa rindu, lalu kemudian kita dapat menerima kembali apa saja yang telah kita lalui, tanpa sedih, tanpa sakit.

Manusia menciptakan sebuah rindu dari zat yang bernama jarak dan waktu. Setiap manusia menciptakan jarak yang jauh terhadap seseorang, maka di pastikan rindu akan selalu bermunculan tanpa pengecualian. Begitu juga waktu.

Jadi, rumus rindu yang diciptakan manusia adalah, "semakin jauh ia menciptakan jarak, maka semakin banyak rindu yang muncul". Begitu juga soal waktu, "sebuah rindu yang muncul berbanding lurus dengan waktu yang berjalan".


Hal ini terjadi padaku ketika baru saja kemarin, aku dan alumni sekolahku dulu bertemu lagi dalam rangka gathering yang di adakan setiap tahunnya. Kebetulan kemarin bertempat di Dieng, Wonosobo. Kami datang dari berbagai kota, ada yang dari Solo, ada yang dari Jogja, Purwokerto, Semarang dan lalu berkumpul di sebuah tempat homestay yang berada di Dieng. Setelah kami berkumpul di homestay tersebut, rasanya aku hanya ingin menghentikan waktu saja dan menikmati setiap hal yang kita lalui, setiap hal yang aku rasa sangat berharga di banding dengan sepatu Adidas Yeezy Pirates Black. Tawa dan cerita selalu membuat homestay tersebut terdengar begitu indah layaknya melodi yang dimainkan oleh anggota Erwin Gutawa. Entah kapan terakhir kami menciptakan jarak, namun di setiap detik yang bergerak rindu di antara kami selalu bermunculan begitu saja, tanpa di suruh, tanpa izin untuk keluar.


Manusia telah berhasil menciptakan rindu, sebuah zat yang terkadang membuat kita senang dan terkadang membuat kita sedih. Galau merupakan hal trend yang sering dilakukan manusia tatkala ia menghadapi sebuah rindu. Lantas dari situ manusia berinisiatif untuk membuat sebuah memori supaya ia tidak terlalu sedih dalam menyikapi hal rindu, setelah pertemuan  yang terjadi. Dan manusia berhasil menciptakan sebuah kenangan. Kenangan merupakan suatu ingatan yang datang dalam berbagai macam bentuk, entah itu dari suatu tempat yang pernah kita lalui, lagu yang pernah di dengar bersama orang-orang yang pernah ia temui, ataupun tulisan yang mengingatkannya tentang suatu hal.

Lantas kenangan tersebut adalah suatu hal yang bisa membuat manusia belajar bagaimana menyikapi rindu dengan baik, yaitu dengan menikmatinya. Bukan malah kita sedih akan segala hal yang terjadi dan berlalu, padahal itu tidak akan pernah kembali lalu kita menuntut sesuatu yang tak mungkin kembali. Seperti hal nya pertemuan ku di Dieng bersama teman-temanku, setelah beberapa hari pertemuan, aku selalu rindu akan hal yang ku lalui bersama teman-temanku di Dieng,namun aku tidak mungkin bisa menuntut itu semua kembali dengan waktu sekejap. Karena aku selalu suka dengan lagu Dewa 19 yang berjudul Hadapi Dengan Senyuman, liriknya adalah, "hadapi dengan senyuman semua yang terjadi biar terjadi"

Ketahuilah, bahwa rindu itu selalu menancap, akan sangat sakit jika kita mencabutnya. Jadi, biarkanlah itu tertanam dalam dirimu dan nikmatilah.

Kembali ke awal, setelah pertemuan ku di Dieng bersama teman-temanku, ada baiknya aku dan teman-temanku menciptakan suatu jarak. Sehingga apabila nanti kita bertemu lagi maka akan banyak zat-zat rindu yang muncul di antara kami.

Seperti rumus rindu, "semakin jauh ia menciptakan jarak, maka semakin banyak rindu yang muncul".


-----------------------------------------------------------------




Lalu, aku kembali menuliskan ceritaku pada layar laptop. Sambil mendengarkan lagu Pee Wee Gaskins sembari menyeruput kopi ku di kala hujan turun.


Semarang, 14 Desember 2016
15:47
Teruntuk semua orang yang pernah ku rindu, terima kasih sudah mengajarkanku apa arti rindu.


Kasih Judul Sendiri

Kasih Judul Sendiri

Terpaku saat ku melihatmu, hanya berdiam diri saja seakan kata-kata yang ingin kuungkapkan hilang dihisap oleh waktu yang sialnya aku tidak bisa merebutnya kembali. Begini, sewaktu itu aku melihat muka manismu seraya dihiasi dengan senyuman indah yang melengkung di bibirmu, ah Tuhan, apa yang sedang Engkau lakukan saat menciptakan makhluk seindah ini yang berada di depan mataku, apakah Engkau sedang bahagia?entahlah aku tidak tahu, yang jelas aku sangat bersyukur kepada Engkau atas terciptanya makhluk yang sekarang berada di depanku ini. tidakkah kau mengerti perasaanku saat melihat nya memperlihatkan senyumannya di depan mataku? ah mungkin kau bisa mewakilkan ku untuk menjawab pertanyaan ku sendiri, karena aku serius!aku tidak bisa mengungkapkan betapa perasaan ku saat itu, bahkan dengan tulisan-tulisan ini. tahukah kau?saat aku melihat senyumanmu itu aku mencoba untuk menulis sesuatu tentangmu didalam blog ini, dan mungkin suatu saat kau akan tersenyum sendiri saat membaca tulisanku ini he he. Terimakasih ya kau telah membantuku untuk  memenuhi isi blog ku ini he he. duh betapa payahnya aku saat melihatmu, aku hanya bisa diam dan berbicara banyak tentangmu di dalam blog ini, payahkah aku?pengecutkah diriku?tentu, aku saja mengakuinya. dan sekarang aku akan mencoba untuk melampiaskan rasa kecewaku atas kepengecutanku dengan menulis di blog  ini, tentu kau tidak keberatan, bukan?.

Begini, kau indah, saat itu aku sadar bahwa segala keraguan yang menepis kalau kamu tidak indah semuanya tiba-tiba menghilang begitu saja, aneh kah?. dan sekarang aku mau bertanya, apakah kau cemburu saat ku bilang bahwa ada yang lebih indah dari mu?oh maaf aku sudah terlanjur bilang he he. Ya, ada yang lebih indah dari dirimu, tetapi jarak indahnya tidaklah terlalu jauh, serius, percaya deh. hal yang lebih indah itu kunamai dengan pancaran sinar di sore hari atau kebanyakan orang menyebutnya dengan kata senja. Ah sudah ya aku tidak bisa menjelaskan kenapa senja bagiku lebih indah darimu. yang jelas bagiku senja adalah suatu keindahan yang bagi siapa saja yang melihatnya akan merasa tenang dan masuk kedalam dunia senja. tidak percaya?coba deh buktikan sendiri!. dan sepertinya bagiku pelangi adalah hal yang lebih indah darimu, ah sekali lagi maaf aku mengatakan ada yang lebih indah darimu he he. sudahlah, aku tidak akan lagi mengatakan hal-hal yang lebih indah darimu.

dan yang terakhir, aku hanya ingin kau selalu tersenyum walau aku tahu senyumanmu itu bukanlah untukku, tetaplah tersenyum agar aku bisa terus melahirkan karya sastra yang tidak begitu indah dimataku tapi bisa jadi indah di mata orang lain. Karena aku tahu semua yang bersatu itu tidak harus bersama, dan yang bersama mungkin saja tidak bisa bersatu.

Karena aku mengutip dari kata-kata orang lain yang aku lupa namanya siapa,"kau tersenyum saat membaca tulisanku, padahal aku menulis ini dengan membaca senyumanmu".

Teruntuk semua keindahan yang pernah hadir didalam hidupku, terima kasih. aku akan membalasnya dengan sedikit puisi dibawah ini :

renggang hatiku
dimana telah datang sinaran dari barat
terkadang resah
saat hitam pekat menyelimuti langit

tahukah kau?
aku terus berlari
hentikan aku?kau tidak bisa
panggilan senja itu suara yang tak terelakkan

wangi angin tetap berhembus
ku tinggalkan jejak kenang indah di tempat itu
kau pasti sungguh terkejut
aku terperangah melihat ke atas tanpa bergerak

entah aku terhipnotis
oleh warna-warna bergelora di atas sana
Tuhan, sedang tersenyumkah engkau saat menciptakannya?
ah terpejam seketika mata ini

bayangan, dimana kau?
tunggu aku!
jangan seenaknya saja kau tinggalkan aku
hanya untuk bermesraan dengan senja
senjaku.....


Back To Top