Perjalanan Adibio: Perjalanan Rasa | Kelana Lara Perjalanan Adibio: Perjalanan Rasa

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Perkara Runyam di Tengah Malam

Malam telah jatuh tepat saat manusia sudah tidak lagi merasakan peluh. Kerja kerasnya selama satu hari telah terbayar penuh dengan melihat orang-orang yang disayangnya tersenyum sembari berbagi cerita tentang apa saja yang sudah dilakukan seharian ini. Dunia serasa damai, tak ada pertikaian yang berani menghinggapi suasana seperti itu. Sementara pada sudut kota lain, pertikaian nyatanya hinggap kepada sepasang kekasih yang sedang meributkan tentang hubungan mereka akhir-akhir ini. Chat seringkali tak pernah berbalas dengan cepat padahal sang perempuan telah menunggu cukup lama. Si perempuan mengira bahwa kekasihnya sedang chat-an dengan orang lain sehingga si perempuan langsung marah terhadap kekasihnya pada waktu itu. Pertikaian memang tidak pernah indah, namun akan tetap berakhir dengan kedamaian apabila diselesaikan dengan kepala dingin. Malam telah jatuh ketika manusia berdamai dan bertikai--memunculkan sumringah dan gundah di hati.

Malam belum jatuh kepada seorang pemuda yang sibuk menertawakan kertas kosong dihadapannya. Sedari tadi pukul 11 malam si pemuda sudah menggenggam pena di tangan kanannya dan kopi di tangan kirinya, katanya sudah bersiap-siap untuk membuat sebuah mahakarya yang akan menggemparkan dunia melalui aksara. Fokusnya pun sudah tidak main-main. Panggilan dari temannya untuk bermain Mobile Legend pun ia hiraukan. Tak peduli dengan rank nya yang saat ini masih Epic dan teman-temannya sudah Legend. Sangking fokusnya terhadap karya, pikirannya masih tertuju kepada sesuatu yang semu, sementara sang pena telah siap untuk berlaga.

Kini jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Pikirannya masih kosong begitu juga dengan kertas  yang ada dihadapannya. Waktu sudah berjalan selama 3 jam namun tak ada satu  pun aksara yang hinggap di atas kertasnya. Beberapa kali si pemuda tersebut mencoba untuk menggerakkan pena namun ia hentikan sekejap karena tatanan kata yang akan diuraikan masih melayang-layang di udara. Kalimat pun tidak pernah jadi dan ia masih termangu kepada televisi yang menayangkan FTV. 

Ah, andaikata menyusun skrip semudah menyusun obrolan di dalam adegan FTV, tentu aku sudah menyelesaikan karya ini menjadi sebuah cerpen. batin pemuda dalam hatinya.

Nyatanya, ia pun kalah dengan FTV yang berhasil membuat skrip dan menyelesaikannya. Berbeda dengan pemuda ini yang sedari tadi hanya mutar-mutar tak tentu arah, lalu pada akhirnya balik lagi ke tempat yang sama. Tak pernah ada kata selesai di dalam kamus pemuda itu malam ini. Pikirannya masih runyam tentang kata apa yang harus disusun untuk sebuah karyanya. Apakah kata pertamanya harus memakai "pada dahulu kala", "pada suatu hari", atau "malam telah jatuh". Pertanyaan-pertanyaan berdatangan seiring pikirannya yang masih semrawut.

Kini si pemuda tersebut berusaha untuk menangkap suatu hal yang tiba-tiba terlintas di pikirannya. Ia memikirkan bagaimana seandainya apabila manusia dapat melakukan time travel persis seperti yang dilakukan di dalam film Avengers: Endgame?. Mungkin tidak akan ada lagi perasaan seorang laki-laki yang patah hati karena tidak diterima oleh sang pujaan hati. Ia tinggal melakukan time travel menuju 5 atau 6 tahun sebelumnya dan mempelajari apa saja yang membuat sang pujaan hati dapat memberikan kasih sayang kepadanya. Mencari tahu tentang barang kesukaannya, ceritanya di masa lalu, dan apa saja yang harus dilakukan agar tidak ditolak. Setelah tahu tentang semuanya, maka ia tinggal kembali ke masa sekarang dan kembali menyatakan perasaan. 

Pikirannya masih terbang kemana-mana dan kali ini hinggap ke pembahasan yang agak serius. Sebelumnya pemuda ini sempat bertanya-tanya tentang bagaimana dunia ini jikalau tidak ada agama? Apakah dunia ini akan berjalan damai dan tidak ada pertikaian dimana-mana yang mengatasnamakan agama? Apakah hanya kasih sayang yang tersebar dan tiada kebencian sesama manusia? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang kali ini menguasai pikiran seorang pemuda tersebut. Maklum saja, belakangan ini kerapkali terjadi pertikaian yang mengatasnamakan agama. 

Padahal kalau hematku, namanya agama ya tidak ada yang mengajarkan permusuhan satu sama lain. Sesama manusia ya harusnya saling menyayangi wong kita sama-sama diciptakan dari tanah masa ndak bisa rukun. ungkap si pemuda ketika terjebak di dalam diskusi agama dan manusia bersama teman tongkrongannya.

Lelah, pemuda ini pun terasa berat sekali otaknya. Sedari tadi berpikir namun masih saja kertasnya kosong dan sang pena yang dijadwalkan berlaga pada pukul 11 malam tadi harus ditunda dalam waktu yang tidak ditentukan. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 dini hari dan akhirnya sang pemuda ini terlelap di dalam mimpi. 

Malam jatuh di saat sang fajar sedang menanti-nanti sang pujaan untuk menjemputnya. Direkamnya segala runyam yang terjadi di tengah malam, lalu dilaporkannya ketika sang fajar sudah bertugas di pagi hari. Malam tak pernah jatuh kepada seseorang yang terus berusaha untuk menangkap apa saja yang direkam oleh sang fajar pada tengah malam.

Bangun-bangun, sang pemuda langsung  dapat menuliskan sebuah kalimat yang menurutnya sangat bagus setelah semalaman dipikirkan,

"Tetaplah bermimpi walaupun yang lainnya sudah terlelap dalam mimpi".

gambar dari unsplash.com

Kritis Waktu

Waktu berlalu sedang kita masih menatap masa lalu. Tak tahu hendak kemana layar kapal akan mengadu. Terdiam saja, terombang-ambing oleh sang ombak yang kian gerutu. Kini, cakrawala surgaloka hanya dongeng belaka. Tangisan demi tangisan terus mengalir dan bersatu dengan samudera yang menciptakan ombak begitu deras. Sedang di dalam kapal, segerombolan manusia sedang mengadu nasib hendak menentukan arah mereka kemana. Kini, angin bertiup kencang dari arah barat membawa kabar berita bahwa tak akan ada lagi impian yang tersisa di tengah samudera yang penuh dengan omong kosong belaka. Terjebak, terperangkap dalam sesak langkah sendiri, sehingga menuju ke ruang gelap tanpa ada lentera satu pun yang menerangi. Kau tahu, impian yang tak diperjuangkan dan hanya mengapung di atas samudera adalah impian yang hina.

------

Melangkah tanpa gerak, hanya suara detik jarum jam yang kian gemertak. Waktu kian berjalan, sedang langkahku tetap saja terhenti di suatu jalan, tepatnya jalan Pahlawan. Terpaku dengan dunia yang sudah aku lewati bertahun-tahun dengan pikiran yang entah kemana arahnya. Sedang mata ini menatap beberapa pedagang yang berusaha banting tulang untuk mendapatkan nafkah demi menghidupi anak dan istri. Entah berjualan apa saja, tahu gimbal hingga jagung susu keju (jasuke). Ku biarkan langit malam melunakkan hatiku sejenak untuk memikirkan tentang apa saja yang telah aku lalui bertahun-tahun. Barangkali selama ini aku melakukan hal-hal yang tidak berarti, atau mungkin ada satu hal atau beberapa hal yang mempunyai arti. Ku simpan segala hal yang pernah ku lalui, lalu aku mencoba untuk meresapi semuanya, ditemani hangatnya sinar rembulan.

Melihat ke belakang sebelum menatap masa depan adalah sesuatu hal yang aku lakukan malam itu. Sebelum pada akhirnya aku menyadari bahwa tak semua manusia mampu memalingkan wajah mereka langsung tatkala menatap masa lalu. Ada juga beberapa manusia yang terjebak dalam masa lalu sehingga mereka tidak bisa memalingkan mukanya ke masa depan. Yang terjadi, ia akan terus menetap di satu tempat, dan tidak akan bergerak sama sekali. Ia akan terlihat seperti orang yang bingung menentukan arah langkahnya ke depan, lalu hanya meratapi masa lalu dengan segelintir kemenangan yang telah ia miliki. Barangkali, aku termasuk ke dalam orang seperti itu. Malam itu, tepat di tengah kota, langkahku mencoba bergerak namun dihentikan oleh pikiranku yang berpijak di masa lalu. Waktu terus berjalan, dan aku dihipnotis olehnya.

Setiap manusia kerapkali menyalahkan waktu, mungkin saja termasuk aku. Ia dengan kejamnya membiarkan manusia meratapi segala penyesalannya. Dan pada akhirnya, banyak sekali manusia yang menyerah pada waktu. Terdiam, merenungi, tidak melakukan apa-apa, dan tetap saja, waktu akan terus berjalan tanpa menunggu manusia semacam itu. Malam itu, tentu saja aku sangat menyalahkan waktu. Bagaimana tidak, aku belum mengarahkan layar kapalku hendak kemana, sedang waktu tidak memberikan kesempatan bagiku. Persetan dengannya, biarkan saja aku terombang-ambing di tengah kejamnya malam tanpa sinar rembulan. Aku tersiksa, terperangkap oleh jebakan diriku sendiri.

Aku tetap berusaha untuk memalingkan wajahku kepada masa depan. Menatap masa lalu terlalu lama tentu tidak baik untuk manusia. Bukankah banyak yang bilang, kalau hidup ini seperti menaiki mobil? Kaca spion hanya berbentuk kecil, sedang kaca di depan sangat besar. Kita harus melihat ke belakang, namun jangan terlalu banyak. Sebab, kamu harus fokus ke depan agar tidak menabrak. Itulah, barangkali perumpamaan yang kerapkali kau dengar di pinggir jalanan. 

Layar kapal sudah berkibar, nahkoda hendak memutar setirnya. Sedang otakku masih saja terpaut dengan masa lalu yang kian menghantui. Bukankah seharusnya menatap masa depan adalah hal yang sangat mudah? Lalu mengapa waktu tetap membiarkan aku terjebak di dalam perangkapnya?. Langkah masih saja bergerak tak tahu arah, mata masih saja menatap para pedagang, sedang tangan mencoba meraih sesuatu, entah apa itu, namun tangan ini terus bergerak di antara angin;hendak mencari sesuatu.

Pikiranku sangat kacau malam ini. Andaikan saja roda pengendali waktu dapat aku temukan. Namun tak kunjung jua. Aku akhirnya menyerah kepada waktu dan berdiam diri mematung, tak tahu apa harus melangkah kemana untuk menuju masa depan.

-------

Waktu begitu kejam, kehidupan kian temaram. Lalu mengapa kau terus berdiam? Bukankah masih ada impian-impian lain yang masih mengambang di tengah samudera sana? Bukankah kamu seharusnya mengibarkan layar kapalmu, merumuskan segala sesuatunya, lalu menjemput impianmu? Lalu mengapa kamu terus mengiba-iba kepada sang waktu, seolah-olah ialah yang lebih mengetahui segalanya ketimbang pikiranmu?. Ah, dunia tetap saja berputar, mengikuti perintah dari sang waktu. 


Semarang, 05 April 2019

Gambar dari google





Dua Jenis Manusia Saat Hujan

Ada dua jenis manusia tatkala hujan: yang satu sedang menatap hujan dari jendela, yang satunya lagi sedang bermain hujan-hujanan dengan mata yang sembap. Keduanya sama-sama pintar dalam menyembunyikan kesedihan.

Barangkali kesedihan tak melulu soal air mata dan rapuh. Di dalamnya, terdapat berbagai macam keindahan warna yang dapat dilihat dari segi yang berbeda, seakan-akan kita akan melihat bahwa kesedihan juga patut dirayakan seperti halnya kebahagiaan. Air mata yang jatuh dari pelupuk matamu dapat menyuburkan tanah kenangan, membasuh rasa lelahmu, dan pada akhirnya akan memunculkan sosok pelangi yang berada di bola matamu, seperti kata Jamrud dalam lagunya. Tak hanya perpaduan hujan serta sinar matahari saja yang mampu memunculkan pelangi, perpaduan air mata dan cahaya mata pun juga dapat memunculkan pelangi. Merayakan kesedihan tentu adalah ritual yang terdengar sangat anomali. Tak pernah ada kesedihan yang menyenangkan; ia selalu membuat hati manusia remuk. Kehilangan adalah salah satu kesedihan yang teramat sangat membungkam raga dan rasa. Ikhlas adalah salah satu cara bagaimana menyikapi sebuah kehilangan itu sendiri. Merelakan yang pergi, berdoa yang terbaik untuknya, dan berharap suatu saat nanti dapat mengenangnya dengan sangat khidmat. 

Kesedihan patut di sama ratakan dengan kebahagiaan. Sudah banyak sekali orang-orang yang mencari kebahagiaan dengan definisi-definisinya masing-masing. Namun, tak ada satu pun di dunia ini yang mencari kesedihan. Kesedihan seakan-akan dilupakan begitu saja. Kebahagiaan selalu dikenang, sedangkan kesedihan selalu dikekang. Hingga suatu hari, saat masa kekangnya sudah habis, kesedihan itu akan keluar dari kandangnya dan mengetuk pintu hati manusia, seraya berkata.

"Saat lelah mencari kebahagiaan, aku disini, di ujung sepi, menanti".

Aku hendak merayakan kesedihan hari ini. Di jantung kota, aku lihat orang-orang sedang sibuk beraktifitas. Hingga akhirnya hujan turun. Orang-orang sibuk berlarian untuk menghindari hujan. Kesana kemari mencari tempat yang dapat dijadikan naungan. Aku pun yang tadinya hendak melantunkan bait-bait kesedihan akhirnya merapat terlebih dahulu di sebuah kedai kopi, kemudian memesan espresso dan menyeduhnya dengan sangat khidmat. Menyeduh kopi ketika hujan tentu merupakan pilihan yang tepat bagi para penikmat patah hati juga perindu suara hati. Ku seduh kopiku secara perlahan, dan tak sengaja aku melihat satu orang berjalan begitu santai di bawah hujan sembari memaksakan sebuah senyuman teruntai di bibirnya. Ia berjalan seakan-akan tak terjadi apa-apa. Dibiarkannya hujan untuk menghapus langkahnya serta segala hal yang telah ia lewati. Aku pun sempat bingung, apa yang ia lakukan di tengah hujan deras seperti ini?.

Kopi espresso masih nikmat seperti biasanya. Sedikit hambar namun berasa melengkapi hatiku yang baru saja patah akibat ulah seseorang. Aku mungkin tak perlu hari perayaan patah hati, sebab, merayakan patah hati bisa kapan saja. Merayakan kesedihan merupakan hal yang menyenangkan bagiku. Berdamai dengan diri sendiri, lalu sesekali merangkai aksara, dan tak lupa menghirup udara serta bersyukur karena Tuhan telah menciptakan kebahagiaan dan kesedihan. Tanpa kesedihan, manusia akan terlampau buruk karena hanya kesenangan tanpa perenungan dalam kehidupan. Tanpa kebahagiaan, manusia akan berdiam diri saja karena terus menerus menitikkan air mata tanpa berjuang untuk kehidupan yang nyata. 

Ku seruput lagi kopiku, dan sesekali memperhatikan keadaan sekitar. Ku lihat di pojok kedai kopi ada seseorang yang menatap hujan dari jendela dengan melamun. Ia sangat khidmat menikmati rintikan  demi rintikan yang jatuh dari bumi. Hanya menatap, tanpa melakukan hal yang lainnya. Entahlah apa yang ia lakukan, aneh sekali. Aku biarkan saja orang itu, tak peduli juga. Aku mulai fokus kepada perayaan kesedihanku dengan menuliskan berbagai kata di atas kertas. Masih teringat jelas sewaktu seseorang yang aku cintai hilang begitu saja tanpa ada kabar. Sesak dalam gelap, berteriak dalam terang. Hancur rasanya kehilangan sesuatu yang kita cintai. Merayakan kesedihan adalah salah satu cara agar dapat kembali mengumpulkan puing-puing hati yang telah hancur. Berdisko sesuka ria dengan kata-kata dan berpesta di ujung pelangi. Sudah selesai aku menuliskan sajak patah hati, aku hendak keluar dari kedai kopi walau hujan masih turun ke bumi. Saat hendak keluar, aku memperhatikan orang di pojok kedai kopi itu yang masih saja menatap hujan dari balik jendela. Sudah berapa lama ia seperti itu? Aneh.

Lantas aku coba menerjang hujan untuk pergi ke sebuah supermarket, membeli beberapa makanan untuk malam nanti. Seketika saat keluar dari supermarket ada sesuatu yang aneh dalam pandanganku. Ialah sosok manusia yang berada di pojok kedai kopi dengan sosok manusia yang bermain hujan-hujanan tadi saling berhadapan lalu saling berpelukan di bawah derasnya hujan.

Mari sebarkan kesedihan di muka bumi ini. Agar air mata berfungsi sebagaimana mestinya. Agar awan tak sendiri meneteskan air ketika hujan turun. Agar bumi dapat menghapus air matamu dengan senandung manisnya. Agar kamu tahu, ada senyumku yang dapat menjadi pelipur laramu.


Ketika Imajinasi Tak Lagi Indah

Malam ini, aku tak menyempatkan diri ke dalam sebuah jurang imajinasi bersama para bajingan di pinggiran kota. Hampir setiap hari mereka selalu menyudutkan rasa yang tak berbalas, menyumpah serapahi segala yang bagi mereka hanya omong kosong belaka, serta sesekali mengumpat para wakil rakyat yang selalu tidur di kala rapat. Bagi mereka, tidur hanyalah ketika di dalam ruang kelas kuliah serta di kamar saja, selebihnya hanyalah omong kosong belaka. Di pinggiran kota, mereka menyenandungkan lagu-lagu pelipur lara dengan nada-nada khas dari masing-masing orang. Walau terlihat berbeda-beda nadanya, namun dari situ seolah-olah mereka menunjukkan bahwa walau berbeda nada mereka tetap satu jua--dalam irama satu lagu yang sama. Tak peduli siapa, tak peduli apa pangkatnya, sesekali orang-orang yang lewat dihadapannya diajak bersenandung bersama. Mereka tahu, hanya musik yang mampu menyembuhkan diri tatkala merasa lelah setelah beraktifitas seharian penuh. 

Aku masih saja berdiam diri dihadapan kertas kosong sembari memikirkan apa yang harus aku tuliskan untuk hari esok. Ya, aku memiliki kebiasaan untuk sebisa mungkin menyiapkan tulisan untuk bumi ini esoknya, dan esoknya lagi. Hal itu aku lakukan supaya bumi ini tak hanya memakan omong kosong, perpecahan, kemungkaran, serta kebencian saja. Bumi butuh kata-kata yang harus ia cerna agar tetap terjaga dalam kewarasannya. Tanganku baru saja hendak mengambil pena dan mulai menulis di atas kertas kosong. 

Imajinasiku kemana-mana, berterbangan ke daerah satu ke daerah lainnya. Melihat berbagai kejadian yang ada, mulai dari indahnya kebersamaan para bajingan di pinggiran kota hingga wakil rakyat yang sudah tidak merakyat. Lalu tiba-tiba saja, ada yang aneh dengan imajinasiku. Ia terlihat sangat terkejut ketika melihat di depannya ada sosok besar yang membawa borgol, kemudian imajinasiku diborgol dan dimasukkan ke dalam sebuah ruang berukuran 2x3 meter. Apa ini? Tempat apakah ini? Batin imajinasiku dalam hatinya.

Seketika itu juga pikiranku kosong. Imajinasiku terkekang dalam sebuah ruangan. Tatapan mataku entah mengarah kemana, tanganku tak bergerak sama sekali. Di atas kertas hanya masih bertuliskan kata "cinta" tanpa ada imbuhan di depannya. Ada apa ini? Mengapa tiba-tiba saja imajinasiku menuju ke dalam sebuah ruangan gelap tanpa cahaya sedikit pun. Ah, aku benci sekali dengan keadaan ini. Seketika itu juga, kurobek-robek kertas yang ada di depanku, kemudian aku buang di tong sampah. Tak ada tulisan untuk hari ini. Tak ada kata-kata untuk bumi cerna hari ini.

Aku pun berjalan mengitari kota dengan perasaan yang tak karuan. Meniti langkah demi langkah dengan tatapan kosong akibat tak menciptakan sebuah tulisan pada hari ini. Pikirku, sebagai hiburan di kala imajinasi yang terkekang di dalam ruangan gelap, aku hendak mengunjungi para bajingan yang di pinggiran kota sembari menyanyikan lagu-lagu dengan penuh kedamaian. Sesaat setelah hendak sampai di pinggiran kota, tak kulihat sama sekali para bajingan  yang biasanya bernyanyi bersuka ria di pinggiran kota. Aku telusuri lebih dalam, barangkali para bajingan berpindah ke tempat lain demi menciptakan suasana baru, nyatanya tak kutemukan sama sekali. Hingga tak kusangka, aku melihat selembaran kertas yang bertengger di ranting pohon di pojok sana. Aku coba membacanya dan seketika aku terhuyung lemas.

"Kau pikir wakil rakyat hanya tidur saat rapat? tidak. kami sedang memikirkan bagaimana bangsa ini maju dengan baik. Anda jangan semena-mena menuduh kami seperti itu. Ada baiknya anda harus memperhatikan apa yang anda tuliskan di lirik lagu yang anda nyanyikan. Mulai saat ini imajinasi anda akan kami kekang, dan ucapkan selamat tinggal kepada ruang pinggiran kota".

Dan aku sempat mengerti, mengapa di sebuah kedai kopi tadi imajinasiku terkekang di sebuah ruangan 2x3 meter.

#TolakRUUPermusikan





Sibuk Memikirkan Perasaan Dan Merasakan Pikiran

Jam dinding berdetak detik demi detik. Berjalan dengan suara jarum yang sangat khas di telingaku malam ini. Sembari menunggu pesanan takdir yang aku pesan dari seorang barista di sebuah kedai kopi, aku sedang melamunkan hal-hal yang sepatutnya tidak aku pikirkan. Berdiam terus berdiam tanpa ada ucap kata yang keluar dari mulut. Sedari tadi pikiran ini melayang-layang tak tentu arah, tanpa komando, tanpa perintah. Semua berjalan apa adanya, tanpa ada paksaan dan segala halnya. Andai kata pikiran ini dapat aku kekang dan aku masukkan ke dalam jeruji besi, mungkin aku tidak akan melamun tak tentu arah seperti ini. Pikiran hanya berdiam diri di pojokan jeruji besi, sembari menyeduh kopi atau menulis selama ia di balik jeruji besi tersebut. Namun tak bisa, pikiran ini selalu memikirkan hal-hal yang di luar dugaan. Sesekali muncul pikiran tentang hari kemarin, saat aku tak sengaja melihat seorang gadis pujaanku yang sedang lewat di hadapanku ketika ia baru saja selesai dari kuliahnya. Jantungku seketika langsung berdegup kencang, bumi ini seakan berguncang, dan tatapan mataku tak lepas dari seorang gadis yang sedang mengenakan kemeja hitam serta tangannya yang dihiasi dengan banyak gelang. Rasanya seperti jatuh hati yang membuat hari-hari akan berjalan indah. Tak peduli apa yang akan terjadi di depan. Yang aku rasakan adalah saat itu--tatap mataku yang tak sengaja di balas tatap mata olehnya.

Takdir yang aku pesan belum juga datang. Jemariku mengetuk-ngetuk meja seraya melihat jam dinding. Jam terus berubah, sementara rasaku terhadap kejadian kemarin sama sekali tak berubah. Entahlah, pikiran ini tak pernah terlepas dari perasaan itu. Barangkali, manusia memang ahli dalam menangkap perasaan senang yang masuk ke dalam sukmanya, atau barangkali sibuk memikirkan perasaan?

Di hadapannya tak tahu apa yang akan terjadi. Sedang disini manusia di kedai kopi tersebut tak henti-hentinya menunggu takdir yang ia pesan seraya memikirkan perasaan yang entah akan bermuara ke pelabuhan yang mana. Dengan secuil senyum yang terlintas di bibirnya, serta pandangan mata bahagia, manusia itu tak henti-hentinya memikirkan sesuatu yang belum pasti, namun sangat membahagiakan hati.

----------

Hujan sedang mesra-mesranya bercumbu dengan tanah bumi. Sedari tadi pagi hingga menjelang senja, rintikan hujan tak henti-hentinya menggaungkan rasa puasnya kepada sang bumi sehabis diizinkan oleh sang Pencipta untuk menumpahkan segala isinya. Orang-orang tak peduli dengan perasaan yang dirasakan oleh hujan ketika itu, yang mereka pikirkan hanya bagaimana caranya supaya dapat membeli pasokan makan sebelum datang hujan, atau berusaha secepat mungkin untuk dapat sampai ke rumah sebelum hujan menyapa. 

Barangkali kamu mau duduk bersamaku di sudut kota ini? Sembari meminum secangkir teh atau kopi lalu berbicara tentang hal apa saja yang terjadi di muka bumi ini? Baiklah, akan aku ceritakan sesuatu hal yang menarik bagiku akhir-akhir ini.

Barangkali sebagian kita pernah merasakan pikiran secara berlebihan. Dengan mendewakan kejadian-kejadian yang akan terjadi di depannya tanpa mengambil keputusan dengan tegas sehingga yang terjadi hanya omong kosong belaka dan pulang dengan tidak membawa apa-apa. Kemungkinan-kemungkinan yang akan mengakibatkan sesuatu rencana akan gagal selalu menghantui dirimu di setiap kamu hendak menjalankan sesuatu yang bagi kamu sangat menyenangkan dan dapat memuaskan hasrat kamu. Terlalu merasakan pikiran dengan segala logika yang menurut kamu adalah segalanya. 

Logika adalah nomor satu, sedang progres hanya omong kosong belaka. 

Di atas sana, awan sedang menari-nari di atas penderitaan kamu yang sedari tadi terlalu sibuk dengan pikiran kamu. Hanya diam saja, termenung, menyalahkan segalanya, hingga akhirnya kamu lelah dengan semua dan persetan. Aku sering mendengar bahwa seorang pebisnis selalu mengambil keputusan tanpa banyak pikiran. Terlalu banyak pikiran, bisnis itu tidak akan jalan sehingga yang terjadi kamu kembali kepada pemikiran kamu sendiri, yang entah bermuara kemana. Sungguh hal yang merugi bagi orang yang hanya ingin mendapatkan keuntungan di awal tanpa mau melakukan berbagai macam proses yang menghadang di depan. Percayalah terhadap mimpi serta langkah yang kamu ambil saat ini. Tatap kedepan, dan lakukan segala proses yang akan dijalani sehingga dapat berada di tempat mimpi kamu berada. Memikirkan terlebih dahulu memang sangat penting, namun terlalu banyak memikirkan tentu akan membuat suasana menjadi genting.

--------

Ah, ya, baru saja takdir yang aku pesan hinggap di atas mejaku. Sudah hampir beberapa jam aku menunggu namun tidak datang-datang jua. Hendak aku seruput takdir tersebut, namun tiba-tiba ada seseorang menghampiriku dengan sangat manis, lalu duduk dihadapanku.

"Maukah kamu berkompromi denganku?"ujar seseorang di depan dengan tatapan mata yang sangat kosong, serta rambut yang cukup berantakan. Entahlah, barangkali ia kekurangan tidur.


Semarang, 20 Januari 2019.




Kenangan dan Kemenangan

Ketika hujan sedang turun membasahi bumi, ingatanku berlarian ke arah kenangan yang telah kita jalani bersama. Aku masih ingat bagaimana kamu mengusap hidung kamu dengan jari-jari lentikmu, aku masih ingat bagaimana tatapan matamu mengarah tepat ke dalam mataku sehingga terekam jelas di dalam memori ingatanku. Hujan tampaknya selalu berhasil menunjukkan kenangan-kenangan semua manusia, atau mungkin hanya aku saja, entahlah. Sebab, setiap kali hujan banyak sekali  manusia-manusia yang dilanda kenangan yang begitu luar biasa, terutama diriku ini, yang sedang mengenangmu dengan dalam.

Kenangan menghidupkan manusia atau manusia yang menghidupkan kenangan?

Bertahun-tahun aku hidup di dunia ini, beribu langkah telah aku ayunkan, berbagai macam manusia telah aku temui, kenangan selalu hadir menjelma dengan berbagai bentuk rupa. Di setiap pertemuan dan kesempatan, kenangan selalu datang menghampiri untuk sekadar bertegur sapa kepada manusia yang telah menjejakkan kakinya di bumi ini. Entahlah, mungkin ini hanya imajinasiku saja. Barangkali saat Tuhan sedang menciptakan manusia dengan akal dan ruh yang ditaruh di atas langit sana, Tuhan juga menyelipkan kenangan kepada manusia yang hendak ditiupkan ruhnya untuk berada di muka bumi ini. Sehingga saat kita telah keluar dari perut ibu kita, kita langsung merekam kenangan bagaimana tangis haru orang tua kita saat melahirkan kita. Bagaimana kita berusaha untuk berjalan di atas kaki kita sendiri dengan dibantu oleh orang tua kita. Tentu saja, kita sangat sulit merekam kenangan tersebut sebab saat masih kecil daya kenangan kita belum terlalu besar. Kita dapat mengenang momen tersebut melalui perantara seorang bayi saat kita sudah berumur dewasa.

Apa mungkin kenangan yang menghidupkan manusia?

Hujan masih terus membasahi bumi. Sedang aku disini sedari tadi dihujam dengan berbagai kenangan yang telah aku lewati. Aku tak bisa menangkis begitu saja hadirnya kenangan, terlebih di saat hujan. Seringkali aku beranggapan, bahwa adanya kenangan justru semakin membuat langkah kita akan semakin perlahan untuk berjalan kedepan. Berdiam diri begitu saja dengan asyiknya, sehingga lupa bahwa ada tantangan yang harus dihadapi di depan. Asyik dengan kenangannya tanpa melihat kemenangannya. 

Ah aku baru saja menemukan sesuatu yang baru. 

Barangkali saat hujan tak melulu soal kenangan, melainkan soal kemenangan. Manusia terlalu sibuk dengan apa yang telah ia jalani, sampai ia lupa dengan apa yang harus ia jalani. Kemenangan tentu menjadi sebuah kata yang paling menarik untuk manusia yang sedang berjuang demi sesuatu yang ia inginkan. Memberikan usaha terbaiknya, berdoa kepada Tuhan, lalu berharap kata kemenangan tersebut akan muncul di hadapannya. Setiap kita tentu mempunyai target-target tersendiri untuk meraih kemenangan tersebut. Seperti misalnya, saat ini aku sedang mengalami masa-masa akhir mahasiswa, tentu kemenangan yang aku inginkan adalah sebuah prosesi wisuda. Proses yang dilalui tentu harus menyelesaikan skripsi serta melakukan sidang. Kemenangan terkadang lebih indah untuk dijalani ketimbang kenangan itu sendiri. Di saat hujan, cobalah sesekali mengatur kemenanganmu sendiri agar tak melulu terpendam dalam sebuah kenangan.

Jadi, manusia yang menghidupkan kenangan?

Rintik hujan masih senantiasa membasahi bumi. Di jalanan, orang-orang sedang lalu lalang untuk sekadar membeli makanan atau minuman untuk mengisi perut mereka. Ada juga yang menyediakan jasa ojek payung untuk kebutuhan perut mereka. Sedang aku, di pojok kedai kopi ini sedang berusaha menyusun aksara yang sedari tadi berkeliaran di luar sana kala hujan. Aku ingin mengabadikan apa saja yang telah terekam dalam ingatan. Pikiran ini tak henti-hentinya menangkap segala kenangan yang hadir di masa lalu. Sedang mata ini menuju kepada arah yang mengaburkan pandangan, namun berusaha untuk fokus kepada langkah kemenangan.

Sebab, hidup tak selalu tentang kenangan yang harus diingat, melainkan ada sebuah kemenangan yang harus jadi pengingat.

Gunung Merbabu

Back To Top