Semua Akan Musnah Pada Waktunya

Berawal dari ledakan yang sangat besar, kehidupan muncul dimana-mana. Tersebar di berbagai galaksi yang luas di alam semesta ini. Di setiap sudutnya terpancar sinar kehidupan yang sangat terang, mungkin. Hanya saja sinar tersebut belum tampak terlihat oleh mata manusia. Hingga pada akhirnya kehidupan berjalan jutaan tahun. Di dalamnya terdapat berbagai macam keindahan yang dapat kau petik dan kau simpan di dalam memori ingatan. Tak sedikit juga banyak sekali kehancuran dan kekacauan yang terjadi dimana-mana. Perusakan alam membuat ekosistem tidak seimbang. Manusia hidup dengan arogansi tertinggi mereka hingga melupakan bahwa ada satu unsur yang sangat penting dalam keberlangsungan hidup mereka; alam. Lalu kehancuran tersebut tetap tidak terhentikan atau bahkan sempat diminamilisir hingga beribu tahun kemudian. Dan akhirnya, yang terjadi adalah semua akan mengalami kemusnahann. Sinar terang yang muncul di sudut galaksi barangkali akan redup pada waktunya dan kehidupan di sana sudah mati. Begitu juga dengan yang terjadi di Bumi. Semua akan mengalami kemusnahan.


Berawal dari ledakan besar dan diakhiri dengan kehancuran secara perlahan-lahan

Teringat padaku bagaimana mata ini sangat bersyukur masih dapat melihat matahari terbit di sebelah Timur. Sinarnya tampak indah seakan-akan memberikan harapan kehidupan yang besar dalam jangka waktu yang panjang. Menghirup udara segar di pagi hari tanpa adanya polusi membuat hidung ini terasa nyaman. Walau tidak sering aku melakukan hal tersebut dikarenakan masih tidur pagi. Namun polusi tentu tidak terhindarkan. Memasuki siang hari knalpot-knalpot kendaraan akan menghiasi langit Bumi. Asap beracun dari bis ataupun kendaraan lainnya lambat-laun akan menyatu bersama atmosfir Bumi yang ada sehingga membuatnya akan semakin tipis. Oksigen tentu saja semakin berkurang di setiap harinya. Belum lagi banyak sekali manusia serakah yang membuat ia berpikiran bahwa alam ini hanya miliknya sendiri. Ditebanginya pohon-pohon atau bahkan dibakarnya sehingga pohon pun semakin hari akan berkurang. Tidak hanya di daratan, di lautan pun juga demikian. Kapal-kapal yang hilir mudik membawa sebuah bongkahan batu bara atau sumber daya alam yang lainnya akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi para penghuni di dalam laut. 

Manusia diciptakan untuk menghancurkan bumi atau menyelamatkan bumi?

Selalu terngiang di dalam telingaku tentang kutipan seperti ini "Manusia diciptakan ke Bumi untuk menghancurkannya". Memang, secara tidak langsung kutipan tersebut menjurus kepada kebenaran yang nyata. Hingga sampai sekarang banyak sekali bukti yang nyata. Bukan hewan ataupun makhluk hidup lainnya yang menghancurkan Bumi, justru manusia itu sendiri. Padahal manusia dibekali akal oleh Tuhan sehingga mereka berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Jikalau manusia saja yang memiliki akal masih berpikiran untuk menghancurkan bumi, lantas siapa yang akan menyelamatkan Bumi?.

Musnah tidak bisa dihindarkan. Ia akan terus menghantui bayangan manusia di setiap langkahnya

Dari waktu ke waktu, kita masih dapat menikmati kenikmatan yang tiada tara di dalam Bumi ini. Alam yang indah, suguhan kopi dan gorengan yang nikmat, serta obrolan-obrolan yang indah mengenai indahnya alam semesta ini. Namun lambat laun, waktu akan menggiring kita kepada situasi yang berbeda. Tak ada lagi alam yang indah, hanya ada gersangnya bumi dan pasir yang bertebaran dimana-mana. Tak ada lagi gorengan dan kopi panas, hanya ada beberapa jenis tumbuhan yang masih dapat ditanam. Tak ada lagi obrolan tentang indahnya alam semesta, yang ada hanya obrolan mengenai besok kita akan makan apa. Semua hanya tinggal menunggu waktu saja. 

Menyelamatkan Bumi tentu tidak sulit. Kamu hanya perlu mendekapnya erat-erat di kegelapan malam yang dingin serta menaunginya dengan rasa tenang pada teriknya matahari di siang hari.

Gambar dari google

Post a Comment

0 Comments