Dua Jenis Manusia Saat Hujan - Perjalanan Adibio Dua Jenis Manusia Saat Hujan

Blog ini berisi tentang travelling, sastra dan juga perjalanan rasa yang berisi tentang catatan kehidupan saya.

Facebook

Motivasi Menulis

Dua Jenis Manusia Saat Hujan

Ada dua jenis manusia tatkala hujan: yang satu sedang menatap hujan dari jendela, yang satunya lagi sedang bermain hujan-hujanan dengan mata yang sembap. Keduanya sama-sama pintar dalam menyembunyikan kesedihan.

Barangkali kesedihan tak melulu soal air mata dan rapuh. Di dalamnya, terdapat berbagai macam keindahan warna yang dapat dilihat dari segi yang berbeda, seakan-akan kita akan melihat bahwa kesedihan juga patut dirayakan seperti halnya kebahagiaan. Air mata yang jatuh dari pelupuk matamu dapat menyuburkan tanah kenangan, membasuh rasa lelahmu, dan pada akhirnya akan memunculkan sosok pelangi yang berada di bola matamu, seperti kata Jamrud dalam lagunya. Tak hanya perpaduan hujan serta sinar matahari saja yang mampu memunculkan pelangi, perpaduan air mata dan cahaya mata pun juga dapat memunculkan pelangi. Merayakan kesedihan tentu adalah ritual yang terdengar sangat anomali. Tak pernah ada kesedihan yang menyenangkan; ia selalu membuat hati manusia remuk. Kehilangan adalah salah satu kesedihan yang teramat sangat membungkam raga dan rasa. Ikhlas adalah salah satu cara bagaimana menyikapi sebuah kehilangan itu sendiri. Merelakan yang pergi, berdoa yang terbaik untuknya, dan berharap suatu saat nanti dapat mengenangnya dengan sangat khidmat. 

Kesedihan patut di sama ratakan dengan kebahagiaan. Sudah banyak sekali orang-orang yang mencari kebahagiaan dengan definisi-definisinya masing-masing. Namun, tak ada satu pun di dunia ini yang mencari kesedihan. Kesedihan seakan-akan dilupakan begitu saja. Kebahagiaan selalu dikenang, sedangkan kesedihan selalu dikekang. Hingga suatu hari, saat masa kekangnya sudah habis, kesedihan itu akan keluar dari kandangnya dan mengetuk pintu hati manusia, seraya berkata.

"Saat lelah mencari kebahagiaan, aku disini, di ujung sepi, menanti".

Aku hendak merayakan kesedihan hari ini. Di jantung kota, aku lihat orang-orang sedang sibuk beraktifitas. Hingga akhirnya hujan turun. Orang-orang sibuk berlarian untuk menghindari hujan. Kesana kemari mencari tempat yang dapat dijadikan naungan. Aku pun yang tadinya hendak melantunkan bait-bait kesedihan akhirnya merapat terlebih dahulu di sebuah kedai kopi, kemudian memesan espresso dan menyeduhnya dengan sangat khidmat. Menyeduh kopi ketika hujan tentu merupakan pilihan yang tepat bagi para penikmat patah hati juga perindu suara hati. Ku seduh kopiku secara perlahan, dan tak sengaja aku melihat satu orang berjalan begitu santai di bawah hujan sembari memaksakan sebuah senyuman teruntai di bibirnya. Ia berjalan seakan-akan tak terjadi apa-apa. Dibiarkannya hujan untuk menghapus langkahnya serta segala hal yang telah ia lewati. Aku pun sempat bingung, apa yang ia lakukan di tengah hujan deras seperti ini?.

Kopi espresso masih nikmat seperti biasanya. Sedikit hambar namun berasa melengkapi hatiku yang baru saja patah akibat ulah seseorang. Aku mungkin tak perlu hari perayaan patah hati, sebab, merayakan patah hati bisa kapan saja. Merayakan kesedihan merupakan hal yang menyenangkan bagiku. Berdamai dengan diri sendiri, lalu sesekali merangkai aksara, dan tak lupa menghirup udara serta bersyukur karena Tuhan telah menciptakan kebahagiaan dan kesedihan. Tanpa kesedihan, manusia akan terlampau buruk karena hanya kesenangan tanpa perenungan dalam kehidupan. Tanpa kebahagiaan, manusia akan berdiam diri saja karena terus menerus menitikkan air mata tanpa berjuang untuk kehidupan yang nyata. 

Ku seruput lagi kopiku, dan sesekali memperhatikan keadaan sekitar. Ku lihat di pojok kedai kopi ada seseorang yang menatap hujan dari jendela dengan melamun. Ia sangat khidmat menikmati rintikan  demi rintikan yang jatuh dari bumi. Hanya menatap, tanpa melakukan hal yang lainnya. Entahlah apa yang ia lakukan, aneh sekali. Aku biarkan saja orang itu, tak peduli juga. Aku mulai fokus kepada perayaan kesedihanku dengan menuliskan berbagai kata di atas kertas. Masih teringat jelas sewaktu seseorang yang aku cintai hilang begitu saja tanpa ada kabar. Sesak dalam gelap, berteriak dalam terang. Hancur rasanya kehilangan sesuatu yang kita cintai. Merayakan kesedihan adalah salah satu cara agar dapat kembali mengumpulkan puing-puing hati yang telah hancur. Berdisko sesuka ria dengan kata-kata dan berpesta di ujung pelangi. Sudah selesai aku menuliskan sajak patah hati, aku hendak keluar dari kedai kopi walau hujan masih turun ke bumi. Saat hendak keluar, aku memperhatikan orang di pojok kedai kopi itu yang masih saja menatap hujan dari balik jendela. Sudah berapa lama ia seperti itu? Aneh.

Lantas aku coba menerjang hujan untuk pergi ke sebuah supermarket, membeli beberapa makanan untuk malam nanti. Seketika saat keluar dari supermarket ada sesuatu yang aneh dalam pandanganku. Ialah sosok manusia yang berada di pojok kedai kopi dengan sosok manusia yang bermain hujan-hujanan tadi saling berhadapan lalu saling berpelukan di bawah derasnya hujan.

Mari sebarkan kesedihan di muka bumi ini. Agar air mata berfungsi sebagaimana mestinya. Agar awan tak sendiri meneteskan air ketika hujan turun. Agar bumi dapat menghapus air matamu dengan senandung manisnya. Agar kamu tahu, ada senyumku yang dapat menjadi pelipur laramu.


Labels: Perjalanan Rasa

Thanks for reading Dua Jenis Manusia Saat Hujan. Please share...!

0 Komentar untuk "Dua Jenis Manusia Saat Hujan"

Back To Top